
Tubuh utama Alex saat ini berada di kamar yang dia sewa di penginapan Kasur Emas.
Beberapa saat sebelumnya, kesadarannya yang terdapat di dalam klon kedua menghilang sesaat setelah ledakan terjadi.
Dia tidak yakin apakah klon keduanya selamat dari ledakan tersebut atau tidak. Namun sesaat setelah ledakan itu terjadi, tubuhnya terhempas menabrak sisi lain dinding dengan keras.
Dia merasakan beberapa tulang rusuknya patah, dan hanya bisa menggerakkan kepalanya dalam kondisi berbaring di lantai.
Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, dia lega ketika memeriksa seluruh area yang hancur dan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan dari gumpalan hitam mantan pendeta biru.
Sebenarnya dia ingin memindahkan tubuh utamanya ke lokasi kejadian. Namun jika yang lain menemukannya dalam kondisi tak terluka sama sekali, dia merasa akan sangat sulit untuk menjelaskannya kepada mereka.
Alex tiba-tiba mendapat ide. Bukankah dia dapat menciptakan kembali klon keduanya? Jika dia berhasil membentuk ulang tubuh klon, maka dapat dipastikan klon keduanya telah meninggal dalam ledakan tersebut. Namun jika hal itu tidak berhasil, berarti klon keduanya hanya pingsan saja disana!
"Hahahaha, bagus. Klonku masih hidup. Dengan ini, aku tidak perlu membuat identitas baru dan mendaftar kembali sebagai petualang!"
Namun Alex juga merasa tak berdaya, jika saja dia tak perlu mempertahankan identitas petualangnya, dia hanya perlu menghilangkan keberadaan klon kedua dan membuat tubuh klon baru. "Hahh... Saat ini, aku hanya bisa memakai satu klon dalam beberapa hari ke depan."
*****
Planet Biru.
Pagi ini begitu damai seperti hari-hari biasa tanpa perintah misi dari George.
Dia sedang menopang kepala di atas meja dengan kedua tangan sambil memejamkan matanya. Berkat kedatangannya yang awal, jumlah siswa yang datang dapat dihitung dengan jari. Dia bisa mendapatkan ketenangan tanpa suara bising para siswa perempuan yang bergosip, maupun siswa laki-laki yang memamerkan dirinya di depan siswa perempuan cantik.
Tiba-tiba suara seseorang mengganggunya, "Pagi Dino."
Dino mengangkat kepala, lalu melihat Alex dengan heran. 'Ada apa dengan orang ini?' Dia kembali membaringkan kepala di atas meja tanpa membalas sapaan Alex.
'Hahahaha, lihatlah orang ini. Sudah mengintaiku selama beberapa hari, namun tetap menunjukkan sikap seperti itu dihadapanku!' Kemudian Alex berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Dino. Dia melewatinya dengan santai sambil berbisik pelan, "Chryso Dory."
Dino langsung melompat dari kursinya menampilkan ekspresi wajah yang tidak biasa. Pandangannya mengikuti Alex yang terus berjalan, dan meninggalkan ruang kelas tanpa mempedulikan reaksinya.
Kemudian dia bertatap muka dengan Helen. Dia memberinya kode untuk keluar dari kelas, lalu menceritakan apa yang dia dengar dari Alex barusan.
"Kau yakin tidak salah dengar? Mungkin kau sedang bermimpi?"
"Aku selalu fokus setiap saat. Apa kau berpikir kerjaku hanya tidur saja?"
"Ya!"
Dino menampilkan raut wajah pasrah lalu mengajak Helen untuk menemaninya. "Mari kita temui Alex dulu. Aku ingin memastikannya secara langsung."
__ADS_1
"Hahhh, baiklah."
Disaat mereka mencari Alex, keduanya melihat Alex sedang berbincang dengan Tomi.
Mereka mendekati keduanya lalu berkata pada Tomi, "Maaf Tomi, boleh kami berbicara dengan Alex sebentar?"
Tomi menatap Dino dengan bingung, 'Kami?' Sebelum tersadar kalau ternyata ada Helen di belakang Dino. "Ohh... Oke. Alex, aku mau menaruh tasku di kelas dulu. Akan kulanjutkan laporannya nanti."
"Baiklah, sampai nanti."
Ketiganya melihat kepergian Tomi sampai dia berbelok di tikungan lorong, sebelum Alex membuka suara, "Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan denganku?"
"Bagaimana kamu tahu tentang Chryso Dory?"
"Chryso Dory? Apa itu?"
Mendengar helaan nafas Helen dibelakangnya, Dino mengelak bahwa dia salah dengar. "Tadi kamu mengatakannya dengan jelas ketika berjalan melewati belakang kursiku!"
"Benarkah? Aku tidak ingat pernah menyebutkan itu sebelumnya. Apa yang kau sebutkan tadi?"
"Chryso ukhhh....."
Helen menampar punggung Dino dengan kuat. "Baiklah Alex, mungkin Dino hanya mengigau saja. Jangan pedulikan ucapannya tadi."
'Sepertinya itu sudah cukup untuk mengerjai mereka.' Alex tertawa dalam hati melihat kepergian mereka berdua.
Di sebuah lorong yang sepi, Dino bersikukuh bahwa pendengarannya tidak salah. "Aku yakin Alex mengatakannya tadi. Mengapa kau mempercayaiku?"
Melihat tatapan 'lihatlah orang idiot ini' dari Helen, dia memberikan sebuah pemikiran yang sempat muncul di otaknya beberapa saat lalu. "Bagaimana jika dia merupakan anggota Blackwing? Meskipun selama kita memantaunya dia tidak melakukan sesuatu yang aneh, itu tidak menutup kemungkinan bukan?"
Helen berhenti mendadak yang hampir membuatnya ditabrak Dino dari belakang.
"Ada apa?"
"Aku tidak sepakat dengan ucapanmu. Tapi memikirkan kembali disaat perlombaan marathon sebelumnya berlangsung, Alex meninggalkan perlombaan tersebut dan pergi entah kemana. Kami tidak mengetahui apa yang dia lakukan, bahkan sampai rela meninggalkan tujuan latihan kerasnya selama satu minggu sebelumnya!"
"Lihat! Bukankah ada yang aneh dengan Alex? Kita harus menginformasikan hal ini kepada bos!"
"Apakah itu harus? Aku yakin Alex tidak akan melakukan perbuatan kriminal."
"Jangan khawatir, aku sendiri yang akan mengatakannya kepada bos. Aku yakin ada yang salah dengan Alex!"
***
__ADS_1
Pukul tiga sore, Alex menemui Tina yang merupakan manager supermarket tempatnya bekerja paruh waktu. Karena dia tak perlu khawatir lagi dengan uang, dia berniat mengundurkan diri dari kerja paruh waktunya.
Lagipula jika dia mendapat sebuah misi yang bersamaan dengan jadwal dia bekerja, maka hal itu akan merepotkan.
"Hahhh, lagipula aku sudah mendengarnya dari suamiku kalau kau ingin mengundurkan diri dari sini. Aku juga sudah mencari orang lain yang akan memenuhi jadwal shift kerjamu. Hanya saja, sulit untuk mencari seseorang yang jujur dan disiplin seperti dirimu."
Melihat ekspresi Tina yang kecewa, Alex tersenyum masam, "Maafkan aku bu manager."
"Hahaha, jangan terlalu dipikirkan. Lagipula kau bebas menentukan jalanmu sendiri. Tapi meskipun kau tidak bekerja disini lagi, jangan lupa untuk selalu belanja disini oke?"
Alex ikut tertawa dan mengiyakan gurauan Tina. Keduanya berbincang selama satu jam, sampai jadwal kerja Tina selesai dan keduanya berpisah.
Alex melanjutkan perjalanan menuju gedung Chryso Dory. Pagi ini, dia telah menyimpan semua barangnya di rumah ke dalam inventory, berniat untuk memindahkan barang-barang tersebut ke tempat tinggal barunya di lantai enam.
Alex memasuki lantai pertama dan berjalan menuju lift. Dia berniat untuk menemui George lebih dulu untuk menyapa, dan meminta arahan tentang lokasi kamarnya berada.
Lift berhenti menunjukkan angka lima di samping pintu. Alex keluar dari lift, lalu berjalan menuju ruang kerja George dengan mengikuti arahan yang sudah diberitahukan kepadanya melalui handphone.
'Apakah ini ruangannya?'
***
Di dalam ruang kerja George, Dino dan Helen sedang duduk berdampingan menunggu teh yang sedang disiapkan oleh George.
"Jadi apa yang ingin kalian bicarakan?"
George meletakkan tiga cangkir berisi teh, kemudian duduk di hadapan mereka berdua.
Melihat tatapan Helen yang menunggunya untuk berbicara, Dino dengan pasrah mengatakan apa yang dia pikirkan, "pak George, aku berpikir bahwa kita harus menambah anggota untuk menyelidiki ....."
Tok tok tok...
Ketukan pintu memotong perkataan Dino.
"Oh sepertinya dia sudah datang. Tolong buka pintunya, kau dapat melanjutkan hal itu nanti."
"Baiklah pak George."
Dino berdiri dari kursinya kemudian berjalan menuju pintu. Dia sedang mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepada George, sebelum membuka gagang pintu tanpa mempedulikan siapa sosok di hadapannya.
"Oh, halo Dino. Aku tak menyangka kita bertemu lagi sepulang sekolah."
Dino merasa suara itu familiar. Dia mengangkat kepala menghadap wajah orang di depannya, kemudian suara Dino terdengar menggelegar di seluruh lantai.
__ADS_1
"A-A-Aleeex!!!"