
"Selama dua bulan pertama, aku dan Galus telah menculik lima anak kecil dari daerah kumuh. Meskipun begitu, aku tidak tahu tujuan mereka terhadap anak-anak yang diculik. Kami berdua hanya mengantarkan anak-anak itu ke perbatasan kota Xyras, dan memberikannya kepada pendeta biru bernama Anya." Lanjut Jean setelah menceritakan awal mula dia menyusup ke Gereja Bintang Darah.
mendengar nama Anya, Alex menahan amarah di dadanya. Dia tidak akan melupakan orang itu, pendeta biru yang membantu Tio dalam pembantaian di desa Rod beberapa hari sebelumnya.
"Tiga bulan yang lalu, setelah mereka mengira aku berbakat dalam sihir, pendeta Anya menyerahkan tugas mengirimkan anak-anak yang diculik kepadaku sebagai pembelajaran, sekaligus memperlihatkan kekuasaan serta kebesaran Gereja Bintang Darah kepadaku." Lanjut Jean.
"Itu berdekatan dengan waktu kemunculan wabah pertama di desa pinggiran Great Forest. Mungkinkah pendeta biru Anya memberikan tugasnya kepadamu karena dia terkait dengan itu" Alex menyela dari samping.
"Aku tidak tahu tentang hal itu. Apakah wabah yang kau maksud seperti seseorang yang terkena penyakit demam?" Tanya Jean khawatir.
"Benar, aku melewati banyak desa di bagian tenggara kota Xyras beberapa hari sebelumnya. Dari puluhan desa, hanya tersisa beberapa desa saja yang masih memiliki penduduk. Selebihnya sudah menjadi desa tak berpenghuni."
"Jadi informasi yang diberikan serikat pedagang benar." Zeff bergumam kecil disamping. Tubuhnya sedikit bergetar, ketika membayangkan para penduduk desa yang dijadikan tumbal oleh Gereja Bintang Darah.
Tak berbeda dengan Zeff, Jean juga ikut sedih dan tubuhnya sedikit bergetar menahan amarah. "Maafkan aku karena menjadi bagian dari rencana mereka."
"Tak perlu minta maaf. Lanjutkan saja perkataanmu tadi!" Kata Alex.
"Saat mengirimkan anak yang diculik pada bulan ketiga, aku mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya. Ternyata mereka melakukan sebuah percobaan dengan anak-anak tersebut, untuk membuat sebuah ramuan berisi kutukan yang akan menciptakan makhluk hitam, seperti yang kau lawan tadi di daerah kumuh." Jelas Jean.
Alex mengangguk memahami tujuan penculikan anak-anak.
"Ada seorang alkemis jenius yang merupakan peneliti utama disana. Seharusnya aku membunuh alkemis itu sebelumnya! Kupikir mereka masih memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan percobaan itu." Jean mengepalkan tangannya.
Dia telah menutup hatinya ketika membiarkan anak-anak yang diculik mati untuk percobaan mereka, demi menyusup lebih dalam dan memberikan serangan yang tak dapat diperbaiki oleh Gereja Bintang Darah.
Sekarang dia merasa itu sia-sia, rencana Gereja Bintang Darah telah berjalan dan dia tak menyadari bahwa dia sudah menjadi bagian dalam rencana mereka.
__ADS_1
.Anggota Gereja Bintang Darah sangat berhati-hati mengenai informasi mereka dalam melakukan sesuatu. Bahkan dia yang sudah dianggap sebagai murid abu-abu berbakat, tidak mengetahui percobaan tersebut telah berhasil serta menyebabkan banyak desa menjadi korban.
"Mungkinkah alkemis ini sedang melakukan sebuah percobaan yang berbeda dari sebelumnya." Kata Zeff memecah suasana sedih.
"Apa maksud pak Zeff?" Tanya Alex.
"Bukankah wabah pertama kali muncul sejak dua bulan yang lalu?"
Alex mengangguk menanggapi pertanyaan tersebut.
"Mungkin saja alkemis ini ingin membuat sesuatu yang lebih mengerikan daripada ramuan sebelumnya!"
"Itu mungkin saja! Sejak dua bulan yang lalu, asisten alkemis itu menyuruhku untuk membawa lebih banyak anak kecil sebagai bahan percobaan." Sela Jean.
Ketiganya saling memandang dengan ekspresi khawatir. Jika apa yang mereka pikirkan benar, maka sesuatu yang lebih mengerikan daripada pemusnahan desa-desa di pinggiran Great Forest akan terjadi.
"Dimana tempat penelitian mereka? Kita harus segera membunuh alkemis yang kau sebutkan, sebelum percobaan yang dia lakukan selesai!" Seru Alex.
"Jangan terburu-buru! Untuk menghadapi Gereja Bintang Darah, kita harus membuat rencana yang matang." Zeff menenangkan keduanya terlebih dahulu.
Selama menjadi petualang, dia pernah beberapa kali mengambil sebuah misi yang ternyata berkaitan dengan Gereja Bintang Darah.
Meskipun pada saat itu yang dia temui hanyalah murid abu-abu, banyak rekan kelompok petualangnya yang menjadi korban dalam menjalankan misi tersebut.
Keduanya menganggukkan kepala mereka sebelum dilanjutkan oleh Zeff, "Kalian beristirahatlah untuk saat ini. Aku akan segera menghubungi tiga petualang emas di kota untuk membantu. Sebelum itu, apa yang akan kita lakukan terhadap dua orang itu?" Tunjuknya kepada dua orang yang terikat di lantai.
Awalnya Alex membawa Tio dan Galus untuk diinterogasi. Namun setelah mendengar informasi dari Jean, dia berpikir keduanya tidak berguna sama sekali. Lagipula Jean memiliki status yang sedikit lebih tinggi dibanding keduanya, yaitu murid abu-abu yang berbakat.
__ADS_1
"Hei kalian berdua, tidak perlu pura-pura tak sadarkan diri lagi. Aku tahu kalian mendengarkan percakapan kami sejak tadi!" Alex berbicara dengan dingin.
Melihat keduanya masih tak bergerak, Alex mengeluarkan sejumlah koin emas dari kantung penyimpanannya. "Apakah pak Zeff mempunyai ramuan pemulihan? Aku ingin membeli lima puluh dari guild."
"Untuk apa kau membeli sebanyak itu?" Zeff bingung mendengar permintaan Alex.
"Lagipula kita akan membunuh keduanya. Aku akan menyiksa keduanya sampai sekarat, dan memberikan ramuan pemulihan untuk memulihkan mereka, lalu kembali menyiksa mereka dan mengulangi hal itu terus-menerus sebelum membunuh keduanya."
Zeff dan Jean bergidik melihat senyuman di wajah Alex ketika dia menyebutkan hal itu.
"Tolong! Tolong jangan bunuh aku. Aku bersedia melakukan apapun!" Tio berteriak dengan posisi badan terikat di lantai.
Dia baru saja melangkah menuju ketinggian dunia ini. Dengan mengorbankan kampung halamannya, dia dapat mempelajari sihir yang dia idam-idamkan sejak kecil.
"Tidak mungkin! Anggota Gereja Bintang Darah tidak akan diterima dimanapun mereka berada. Itu kesalahanmu sendiri bergabung dengan organisasi itu." Sela Zeff dari samping.
"Kau sudah dengar itu. Akhir darimu adalah kematian, jadi tidak perlu mengharapkan apapun." Alex tersenyum dingin menakuti Tio.
Di samping Tio, Galus tiba-tiba berteriak dengan keras. "Kalau begitu, bunuh saja aku!"
"Aku memang akan membunuh kalian berdua. Namun sebelum itu, aku akan membuat kalian menderita dan berharap mendapatkan kematian sebagai hadiah."
Melihat senyum diwajah Alex, keduanya bergidik lalu berteriak memohon. "Mohon jangan lakukan itu. Kami akan memberitahu kalian semua yang kami tahu mengenai rencana Gereja Bintang Darah!"
"Apakah informasi yang kalian berikan bermanfaat? Lagipula kalian pasti mendengar percakapan kami barusan. Rin yang kalian kenal ini adalah mata-mata di organisasi kalian. Sebagai murid yang lebih diperhatikan dibanding kalian berdua, kurasa informasi yang dikatakannya tadi melebihi semua yang kalian ketahui." Balas Alex sambil menunjuk Jean dibelakangnya.
Keduanya semakin takut ketika mendengarnya. Memang benar, Tio baru saja bergabung dengan Gereja Bintang Darah sekitar sebulan yang lalu sebagai calon murid.
__ADS_1
Setelah mengorbankan penduduk desa Rod, dia berhasil diangkat sebagai murid abu-abu. Bahkan dia baru saja memperlajari sihir yang diajarkan dan masih belum berada ditahapan mengalirkan mana.
Sedangkan Galus, meskipun dia lebih lama berada didalam Gereja Bintang Darah dibandingkan Jean, dia hanyalah murid abu-abu biasa. Bahkan setelah Gereja Bintang Darah memberinya sumber daya dan mengajarinya tentang sihir, dia hanya dapat menguasai tahapan mengalirkan mana setelah tiga tahun mempelajari hal tersebut.