
<>
Nama : Alexander Leonard
Usia : 17 tahun
Konstitusi : 10 [+]
Vitalitas : 10 [+]
Skill :
- komunikasi universal : 3/10 [+]
- pembagi tubuh : 10/10 [+]
- pembagi pikiran : 3/10 [+]
- manipulasi mana : 6/10 [+]
<>
<>
<>
<>
Poin system : 0
Koin emas : 457
"Pak Albert, Bisakah saya meminjam buku yang bapak katakan sebelumnya selama beberapa hari?" Alex datang ke ruang guru untuk meminjam buku dari guru fisika.
"Alex? Tidak biasanya kau tertarik dengan hal-hal seperti ini. Namun sayang sekali, David sudah terlebih dahulu meminjamnya sejak istirahat pertama." Jelas Albert dengan senyum masam.
"Kalau begitu, bisakah pak Albert menuliskan rumus yang ditemukan untuk menghasilkan sub-materi?"
"Tentu saja... Tunggu sebentar! Aku akan menuliskan penjelasannya juga agar kau dapat memahaminya dengan baik." Albert mengambil secarik kertas lalu menulisnya selama beberapa menit.
"Terimakasih pak Albert." Alex menerima kertas yang diberikan dan berterimakasih dengan tulus sebelum keluar dari ruang guru.
"Apakah urusanmu sudah selesai?" Tomi menunggu Alex di depan ruang guru.
"Ya... Bukankah sebelumnya kau bilang akan mengantar adikmu pulang lebih dulu sebelum pergi ke toko?" Tanya Alex dengan bingung.
"Adikku memberi pesan agar aku tidak menjemputnya hari ini. Dia sedang ada janji dengan temannya." Tomi menunjukkan layar handphone miliknya kepada Alex.
"Baiklah, ayo kita langsung berangkat."
Keduanya menuju parkiran sekolah mengambil sepeda motor mereka, lalu segera berangkat menuju tempat yang dipinjam Alex dari William untuk memulai usaha.
Sesampainya disana, keduanya bertemu seseorang yang sedang menunggu di depan toko, dengan dua buah kotak di sebelahnya.
"Leon, kau sudah datang?" Tanya Alex kepada orang tersebut.
Orang di depannya hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Alex.
__ADS_1
"Alex, siapa dia?" Tanya Tomi penasaran karena penampilan misterius orang ini.
Selain memakai jaket hoodie, orang ini juga memakai masker dan kacamata hitam. Tomi yakin bahkan kenalan orang ini akan kesulitan mengenalnya dengan penampilan tersebut.
"Dia Leon, mitra usaha kita. Dia akan menyediakan stok daging ayam dan sapi setiap harinya." Jelas Alex.
"Ohh... Kenalkan Leon, aku Tomi. Teman sekelas Alex yang ikut bekerja dengannya." Tomi mengulurkan tangan mengenalkan diri kepada orang di depannya.
Leon hanya mengangguk singkat tanpa membalas jabatan tangan dari Tomi.
"Hahaha... Tidak usah pedulikan sikapnya, dia memang seperti itu. Mari kita bawa kotak penyimpanan daging ini ke dalam." Alex mengalihkan suasana dengan mengajak Tomi membantunya membawa kotak penyimpanan daging ke dalam toko.
Di dalam toko, Tomi mengecek isi kotak yang dibawanya. "Wah... Alex, bukankah ini sudah jadi? Kita tidak perlu memotong-motong dagingnya lagi menjadi kecil dan menusuknya dengan tusuk sate!"
Kotak penyimpanan di sebelah kiri Tomi berisi tiga ratus tusuk sate daging ayam, sedangkan di sebelah kanannya berisi dua ratus tusuk sate daging sapi, serta tulang-tulang sapi dengan banyak daging yang masih melekat, yang nantinya akan dijadikan sup tulang.
"Benar, aku sudah membuat perjanjian dengan Leon dan membayarnya setiap bulan. Disaat aku berhalangan, kau hanya perlu menerima daging ini dari Leon saja!" Jelas Alex.
"Satu hal lagi, Leon itu bisu. Jadi maklumi saja dengan sikapnya yang seperti itu." Lanjut Alex sebelum kembali ke depan toko untuk menemui Leon.
Tomi terkejut dan merasa kasihan dengan Leon, dia menganggukkan kepala lalu mulai melakukan persiapan sebelum mereka mulai berjualan.
Saat melakukan persiapan sekaligus memeriksa semua peralatan mereka, Tomi terkejut melihat belasan karung beras yang ditumpuk di sudut ruangan.
"Itu adalah stok beras kita. Ngomong-ngomong, barusan aku memberi Leon salinan kunci toko ini supaya dia bisa langsung membawa daging ke dalam, dan tidak perlu menunggu kita seperti tadi." Alex kembali ke dalam setelah menemui Leon.
"Apakah itu baik-baik saja?" Tomi khawatir jika Leon mempunyai niat buruk, seperti mencuri barang-barang di dalam toko.
"Aku kenal Leon dengan baik, tidak perlu khawatir." Alex meyakinkan Tomi.
Sebelumnya, Alex memikirkan beberapa cara untuk mengeluarkan daging sate yang sudah dia siapkan tanpa menunjukkan kemampuan inventory kepada Tomi.
Menurutnya, cara inilah yang paling baik agar Tomi tidak curiga kepadanya yang selalu dapat menyediakan daging segar.
Alex mulai bersiap dengan menyalakan arang terlebih dahulu, sedangkan Tomi memasak nasi dengan dua buah rice cooker, serta membuat sup tulang sapi .
Setelah arang menyala, Alex menaruh beberapa tusuk sate di atasnya lalu menyuruh Tomi untuk mengambil bumbu kacang yang telah mereka siapkan sebelumnya.
"Selagi tidak ada yang datang, ayo kita makan lebih dulu untuk merasakannya!" Daging sate di atas panggangan telah matang bersamaan dengan nasi di dalam rice cooker.
Keduanya menyendok nasi ke dalam piring dan mengambil beberapa tusuk sate yang sudah dilumuri bumbu kacang, lalu menuangkan sedikit kuah sup tulang sapi di atas nasi.
"Ini sangat enak! Aku tidak menyangka hanya dengan bahan-bahan tadi kita bisa membuat makanan seenak ini." Tomi makan dengan lahap setelah mengomentari cicipan pertama.
Berbeda dengan Tomi, Alex makan dengan biasa.
Beberapa hari ini Alex sudah melakukan banyak percobaan untuk memastikan perbandingan bumbu yang dibutuhkan. Hal itu menyebabkan selama empat hari terakhir, Alex selalu makan sate ayam dan sapi hasil percobaannya.
Meskipun makanan tersebut sangat enak, namun lidah Alex sudah agak bosan karena disuguhi makanan yang serupa dalam beberapa hari terakhir.
"Wah... Ternyata kalian benar-benar disini!" Suara seorang wanita terdengar disaat mereka menyelesaikan makanan mereka.
Alex terkejut melihat tiga orang yang berjalan ke arah dagangan mereka.
Ketiganya adalah teman sekelasnya yaitu Mika, Vivi, dan sang ketua kelas William.
"Maaf Alex, mereka memaksaku untuk memberitahu tempatmu berjualan." William menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Alex tidak mempermasalahkannya. Lagipula dengan ketiganya datang kesini, mereka mungkin menjadi pelanggan pertama yang membeli sate.
"Aku mau sate ayam. Beri diskon sama temanmu oke?" Mencium aroma sate yang sedang dipanggang, Mika langsung tergiur dan membelinya. Tentu saja sebagai teman, dia berharap ada diskon.
Alex tidak mempermasalahkan diskon kepada teman karena dia membeli semua bahan dari planet sihir dengan sangat murah. Namun sebelum Alex mengiyakannya, Tomi terlebih dahulu menolak Wika.
"Tidak ada diskon pertemanan! Kalau semua kenalanku nanti datang dan meminta diskon, kami akan rugi."
"Cih, padahal Alex terlihat ingin membiarkannya." Wika pura-pura kesal.
Melihat perdebatan Wika dan Tomi, ketiga lainnya hanya tersenyum. Namun akibat mencium aroma sate yang menggugah selera, perut William tiba-tiba menggeram.
Brrrrrr...
"Hahahaha... Asap ini sungguh curang! Aroma satenya menyebar kemana-mana. Baiklah tidak perlu berdebat lagi, aku yang akan membayar nanti. Alex, Tomi, tolong sediakan tiga porsi oke?"
William memesan sate daging sapi sedangkan Wika dan Vivi memesan sate daging ayam.
"Kenapa tidak ada daftar harga untuk sup tulang sapi?" William bertanya dengan bingung ketika melihat Alex menyediakan satu mangkok sup tulang sapi di masing-masing porsinya.
"Ini disediakan secara gratis. Biasanya, hanya yang membeli sate daging sapi mendapatkan beberapa potong tulang di dalam supnya. Namun kali ini aku juga akan memberikannya kepada Wika dan Vivi." Alex menjelaskan sambil tersenyum cerah.
Wika dan Vivi mengucapkan terimakasih kepada Alex. "Lihat Vivi, betapa baiknya Alex. Tidak seperti orang disana."
Tomi yang mendengar ucapan sarkas dari Wika hanya memutar matanya dengan pasrah.
Harga yang dipatok Alex untuk satu porsi sate ayam adalah tiga dollar sedangkan sate sapi lima dollar.
Meskipun William merasa harga ini sama dengan para pedagang lainnya, namun dagangan Alex memiliki kelebihan tersendiri yaitu menyediakan sup tulang secara gratis kepada para pelanggannya.
Di depan William, telah tersedia sepiring nasi, sepuluh tusuk sate daging sapi, dan semangkuk sup tulang sapi dengan beberapa potong tulang.
Pada suapan pertamanya, William menampilkan wajah yang terkejut karena lidahnya merasakan rasa perpaduan yang sempurna antara daging sapi dan bumbu kacang.
Nasi yang disirami sedikit sup juga menambahkan citarasa yang saling melengkapi dengan daging sate.
Terlebih lagi, William tahu betul bahwa daging yang dimakannya ini adalah daging segar!
Dia adalah seorang pecinta makanan yang sering mencicipi berbagai makanan enak. Berbeda dengan daging sapi yang sudah dibekukan selama beberapa hari, daging segar yang baru diolah dari sapi hidup memiliki tekstur yang lebih lembut dan tidak kolot.
Selain itu, William juga dapat merasakan sedikit perbedaan rasa antara daging segar dan yang tidak dengan lidahnya yang tajam.
"Ini sangat enak!" William meminum teh hangat dengan puas setelah menghabiskan seluruh makanannya.
Disampingnya, Mika dan Vivi hanya mengangguk karena masih menikmati makanan secara perlahan.
Alex dan Tomi tersenyum puas melihat ketiga temannya memuji masakan yang mereka buat.
Belum sempat kelimanya berbincang-bincang, sepasang kekasih mendatangi dagangan Alex.
"Sate ayamnya satu, sate sapi satu."
"Mohon ditunggu!" Balas Alex dengan senyum.
"Mari kita pergi! Tidak baik juga mengganggu waktu mereka bekerja." William mengajak Mika dan Vivi setelah keduanya menghabiskan makanan.
Mika dan Vivi mengangguk menyetujui saran William. Setelah William membayar sebelas dollar, ketiganya menyemangati Alex dan Tomi agar sukses berdagang lalu pergi dari sana.
__ADS_1