Berdagang Dengan Dunia Lain

Berdagang Dengan Dunia Lain
Menyeleksi Siswa Sekolah


__ADS_3

<>


Nama : Alexander Leonard


Usia : 17 tahun


Konstitusi : 5 [+]


Vitalitas : 6 [+]


Skill :


- pemahaman bahasa : 3/3 [+]


- klon : 3/3 [+]


- berpikir cepat : 3/3 [+]


<>


<>


<>


<>


Poin system : 0


Koin emas : 499


Siang hari, Guru olahraga mengumumkan sesuatu yang tak terduga. "Di pelajaran kali ini, kalian harus lari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak lima putaran."


"Apaaa?" Teriak siswa di lapangan secara bersamaan.


"Tapi pak, sekarang sangat panas." Keluh siswa perempuan bernama Mika.


"Tak ada keluhan. Dalam waktu seminggu, sekolah kita akan memilih dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan untuk mengikuti perlombaan marathon tingkat nasional dalam kategori pelajar. Kelas bapak kali ini akan menyeleksi bakat-bakat tiap kelas dan bapak akan memilih empat orang yang ikut mewakili sekolah kita."


Dalam tiga tahun berturut-turut, sekolah mereka selalu memiliki siswa yang masuk dalam sepuluh besar dalam perlombaan tersebut yang memungkinkan mereka mendapat tiket emas untuk membawa empat siswa mereka langsung mengikuti perlombaan tingkat nasional tanpa seleksi dari masing-masing daerah.


Tahun ini, ketua dan salah satu anggota klub lari berhasil lolos mulai dari perlombaan tingkat daerah dan dipastikan mengikuti perlombaan mendatang.


Dengan empat tiket emas lagi, sekolah kali ini akan mengirimkan enam siswanya termasuk ketua dan satu anggota klub lari dalam perlombaan lari tersebut.


Memastikan para murid dalam posisi siap, guru olahraga memegang stopwatch di tangan kanannya lalu berteriak, "Mulai!"

__ADS_1


Masing-masing murid berlari dengan segera mengelilingi lapangan sepak bola.


Beberapa siswa tergiur dengan ucapan guru yang menginformasikan jumlah hadiah masing-masing juara kepada mereka. Tentunya salah satu siswa itu merupakan Alex.


Alex terlihat mengerahkan kemampuan berlarinya semaksimal mungkin yang mengejutkan guru olahraga dan siswa lain di kelas.


'Hmm. Alex bukan? Staminanya cukup baik, tapi dengan teknik berlari seperti itu dia akan cepat kelelahan.' Pikir guru olahraga melihat Alex yang sudah mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak satu puataran.


Tak berselang lama, Alex membuat mereka terkejut lagi melihatnya masih tidak mengurangi kecepatan dalam berlari setelah menyelesaikan putaran keempat.


'Tidak mungkin. Darimana stamina Alex ini berasal? Padahal tubuhnya terlihat kurus dan tak bertenaga.' Pikir guru itu terkejut.


Pada putaran kelima, Alex merasakan kelelahan di seluruh tubuhnya. Nafasnya terdengar tak beraturan disertai keringat yang bercucuran di seluruh tubuh.


"Hahhh.. Hahhh.. Sepertinya ini semua berkat meningkatkan vitalitasku. Tapi tentunya itu tidak membuatku langsung sekuat superman seperti di film." Alex berjuang sekuat tenaga meskipun tubuhnya sudah berteriak untuk beristirahat.


Dia sempat memikirkan untuk mengorbankan seratus koin emas dan meningkatkan vitalitasnya, namun hal pemikiran tersebut langsung ia tolak.


Dia harus berhati-hati dalam meningkatkan kekuatannya agar orang lain tidak melihatnya sebagai orang aneh. Dia juga tidak boleh mengorbankankan koin emas yang tersisa tanpa berpikir panjang dan harus memikirkan cara untuk memperoleh sebanyak mungkin koin emas ke depannya.


Guru olahraga menandai waktu sesaat setelah Alex menyelesaikan putaran kelimanya. Walaupun Alex tetap yang pertama di kelas ini, tetapi waktu diputaran kelima jauh lebih lama dari empat putaran sebelumnya.


Guru olahraga berpikir meskipun mungkin Alex tidak masuk dalam dua siswa laki-laki tercepat dalam seleksi di sekolah ini, dia tetap harus memasukkan Alex ke dalam tim dan mengeluarkan yang terakhir dari dua siswa laki-laki nanti.


Tapi marathon bukanlah lari seratus meter. Tempo berlari harus stabil dan disesuaikan dengan pernafasan pelari sehingga stamina tetap terjaga pada saat berlari.


"Teknik berlarimu tidak bagus Alex. Di perlombaan nanti, aku ingin melihatmu tampil dengan baik." Guru olahraga tanpa sadar menyuarakan pemikirannya kepada Alex bahwa ia akan menjadi salah satu peserta. Guru olahraga berniat melatih Alex selama seminggu ke depan agar teknik berlarinya menjadi lebih baik lagi.


"Baik pak." Mendengar itu Alex bersemangat memikirkan uang hadiah dari perlombaan.


Dia berniat berlatih sebaik mungkin agar menjadi juara tanpa meningkatkan vitalitasnya.


Di kelas, beberapa siswa terlihat mengelilingi Alex "Woahhh Alex. Aku tak menyangka kau sangat hebat dalam berlari." Tomi siswa yang terkenal humoris di kelas menepuk-nepuk pundak Alex dengan bangga.


"Hahaha, aku juga baru sadar." Alex malu mendengar pujian teman sekelasnya.


"Aku yakin kau akan mewakili sekolah kita nanti. Kalau kau juara, jangan lupa mentraktir kami ya. Hahahaha."


Mendengar perkataan Tomi, ketua kelas bernama William menegurnya. "Hei Tomi, apa kau lupa bagaimana keadaan Alex?"


"Eh?" Tomi bingung sesaat lalu menyadari sesuatu. "Maaf.. Maaf, aku tidak bermaksud buruk."


"Tidak apa-apa. Kalau memang nanti aku juara aku akan traktir sesuatu. Lagipula sesuai perkataan pak guru hadiahnya sangat besar." Alex tidak mempermasalahkan perkataan Tomi tadi.


"Oke baiklah Alex. Aku semakin berharap kau akan menjadi juara."

__ADS_1


Para siswa tertawa mendengar ucapan Tomi.


"Tapi bukankah tadi Helen juga sangat cepat?" Ujar seorang siswa perempuan bernama Vivi.


"Benarkah? Aku tidak memperhatikannya." Tanya Mika.


"Aku berhenti di putaran ke dua dan memperhatikan yang lainnya. Helen berhasil menyelesaikan lima putaran dan mengalahkan sebagian siswa laki-laki." Vivi jarang melakukan aktifitas fisik yang menyebabkan ia cepat lelah. Dia berhenti di putaran ke dua lalu kaget setelah melihat beberapa siswa sudah selesai menyelesaikan lima putaran. Sesaat setelah dia memperhatikan beberapa siswa laki-laki yang telah menyelesaikan lima putaran, dia dikejutkan lagi dengan melihat Helen yang dicatat oleh guru olahraga telah menyelesaikan lari juga.


"Wow hebat. Ngomong - ngomong di mana Helen?" Mika kagum dengan Helen yang mengalahkan sebagian besar siswa laki-laki di kelas


Mereka memperhatikan sekeliling kelas dan tidak melihat keberadaan Helen.


"Yahh seperti biasa ia menghilang dari kelas." Tomi menggelengkan kepalanya karena itu merupakan kebiasaan Helen yang sering tak terlihat jika sedang dibutuhkan di kelas.


"Alex, apa kamu bekerja hari ini? Kami berencana belajar bersama di rumah William. Apa kau mau ikut?." Tomi mengajak Alex untuk belajar bersama mempersiapkan ujian akhir mereka di SMA.


Walaupun teman sekelas Alex jarang berinisiatif mengajaknya berbicara, Tomi adalah pengecualian. Dia sesekali akan berbicara dengan Alex tanpa memandang kondisi hidup Alex yang sulit.


Ayah Tomi meninggal saat dia kecil yang membuat ibunya harus bekerja keras memenuhi kebutuhan Tomi dan kedua adik perempuannya.


Tomi kagum dengan Alex yang tidak putus asa dengan keadaan hidupnya yang serba sulit sehingga dia kadang akan mengajaknya berbicara meskipun teman - temannya tidak melakukannya.


"Aku tidak bekerja hari ini. Namun aku sudah punya rencana nanti malam." Alex menolak ajakannya.


"Benarkah? Apa yang kau lakukan nanti malam?" Tanya Tomi penasaran.


"Baiklah, baiklah, Alex juga mempunyai kehidupannya sendiri. Jangan terlalu mengusik kehidupan pribadinya." William sang ketua kelas menghentikan Tomi. "Tapi Alex, jika kau membutuhkan sesuatu atau menghadapi masalah, jangan sungkan memberitahu kami." Lanjut William memberitahu Alex.


"Hmm. Kalau begitu aku ingin menanyakan sesuatu kepada kalian." Alex memikirkan sesuatu setelah mendengar pernyataan William.


"Apa itu?"


"Apa kalian tahu suatu tempat yang bisa disewa dengan harga murah?"


"Untuk apa? Apa kau ingin pindah?" William sebagai ketua kelas tentu tahu tempat tinggal Alex yang berada di tengah hutan. Dia berpikir Alex ingin pindah karena jarak tempat tinggalnya dengan sekolah terbilang cukup jauh.


"Bukan itu. Aku berpikir ingin buka usaha menjual makanan." Beberapa saat lalu di planet sihir, klon Alex membeli kebutuhan sehari - hari dari kepala desa seperti beras, sayuran, dan lainnya.


Alex terkejut mengetahui bahwa harganya sangat murah. Dia membeli satu karung beras seharga satu koin perak, Lima ekor ayam seharga satu koin perak, dan sejumlah sayuran dengan total harga empat puluh koin tembaga, lalu klon Alex memasukkan semua itu ke dalam inventory. Tentu saja setelah ayam itu dipotong dan dibersihkan.


Alex mempunyai beberapa rencana untuk menghasilkan uang di dunia ini maupun di dunia sihir.


Di sini, dia akan membuka usaha dalam hal makanan dengan bahan - bahan yang dibeli dari dunia sihir.


Di dunia sihir dia mempunyai beberapa pemikiran, namun pertama dia akan menjual obat - obatan yang dibeli dari dunia ini kepada penduduk desa maupun pedagang yang akan mendistribusikannya kepada desa di sekitar desa Rod.

__ADS_1


__ADS_2