
Sesuai dosis yang disarankan, Alex memberikan Nina setengah butir obat setelah istri Gren menyuapi Nina bubur yang baru saja dibuat.
"Nina pasti cepat sembuh setelah minum obat kakak" Alex tersenyum sambil mengelus rambut Nina yang berbaring di tempat tidur.
"Terimakasih kakak Alex." Nina menjawab dengan lemah.
Melihat Nina sudah memakan obatnya, Owen langsung berbicara kepada semua orang di kamar itu, "Mari kita ke ruang tengah. Ada beberapa hal penting yang ingin kubicarakan."
Mendengar perkataan ayahnya Timothi mengerutkan kening, tetapi setelah melihat ayahnya menganggukkan kepala ke arahnya, Timothi langsung mengerti maksud tujuan dari ayahnya.
Di ruang tengah, Alex, Timothi, Nicholas, dan Gren duduk berhadapan dengan Owen. Istri Gren ditinggalkan di kamar untuk menjaga Nina, sedangkan Mathias tidak diijinkan untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Melihat semua orang sudah duduk Owen bertanya lebih dulu kepada Alex. "Alex, benarkah yang kau katakan sebelumnya stok obat itu sudah mencukupi untuk seluruh penduduk desa ini?"
"Benar kepala desa, bahkan kita dapat menjualnya lagi kepada desa lain yang membutuhkan."
Kepala desa tenang setelah mendengar itu, melihat Gren dan Nicholas yang duduk di sebelah Alex, Owen melanjutkan, "Ini adalah sesuatu yang penting dan kuharap kalian berdua dapat merahasiakannya."
Gren dan Nicholas menganggukkan kepala setelah melihat sikap serius dari Owen.
Owen menceritakan situasi di beberapa desa yang ia dengar kepada Gren dan Nicholas lalu memberikan informasi yang sama dengan sebelumnya ketika ia menceritakan wabah penyakit yang mematikan kepada Timothi dan Alex di aula desa.
"Apa yang terjadi kepada mereka yang belum minum ramuan obat hingga saat ini?" Gren bertanya dengan penasaran.
Owen menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Gren. "Jangankan hingga saat ini. Dalam waktu satu minggu, jika korban yang terjangkit penyakit belum sembuh maka ia akan meninggal. Penduduk desa lain sudah banyak yang meninggal akibat penyakit itu."
__ADS_1
Gren dan Nicholas terkejut mendengar jawaban Owen. Mengingat sekilas, mereka membelalakkan mata lalu menolehkan kepala ke arah kamar tempat Nina sedang beristirahat.
"Benar sekali. Kondisi Nina saat ini sesuai dengan ciri - ciri penyakit tersebut. Tidak hanya itu, penyakit ini juga menular jadi ada kemungkinan kita yang berada di dalam ruangan tadi akan menderita penyakit ini." Lanjut Owen setelah melihat Gren dan Nicholas yang sepertinya memahami bahwa Nina sudah terkena penyakit itu.
"Jadi kita harus berbuat apa kepala desa?" Nicholas langsung panik mendengarnya. Ramuan obat biasanya hanya dibeli oleh kalangan bangsawan dan orang kaya karena harganya yang mahal. Berbeda halnya dengan warga biasa yang menghiraukan hal tersebut karena biasanya mereka akan sembuh dalam dua atau tiga hari jika mereka terjangkit demam. Walaupun mungkin kedua orangtuanya bisa membeli ramuan obat, namun mereka tidak memiliki stok di rumah dan ia juga belum tahu kapan pedagang akan berkunjung ke desa mereka.
"Untuk itulah aku menceritakan ini kepada kalian berdua. Disini Alex ternyata dapat membuat obat yang menyerupai pil untuk menyembuhkan demam. Aku beserta Timothi sudah menjualnya kepada desa Muru dan sudah terbukti berhasil menyembuhkan penyakit tersebut."
Gren dan Nicholas melihat Alex dengan takjub setelah mendengar perkataan Owen.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tetap akan meminta biaya obatnya." Alex tersenyum geli melihat tatapan keduanya.
"Tentu saja, tapi untuk seorang teman harganya tentu lebih rendah bukan?" Nicholas becanda kepada Alex.
"Tidak perlu untuk itu. Karena hal ini menyangkut seluruh desa, aku akan memakai perbendaharaan desa kita untuk membeli obat yang dibuat Alex." Owen menyela pertanyaan Nicholas kepada Alex lalu menunjukkan kantong penyimpanan yang berisi uang hasil penjualan obat di desa Muru. "Gren, tolong ambilkan kantong kulitmu yang sudah tidak terpakai."
Owen mengambil kantong yang diberikan Gren lalu menuangkan isi kantong penyimpanan miliknya ke dalam kantong kulit tersebut.
Kantong kulit itu langsung terlihat penuh diisi oleh enam puluh dua koin emas dan dua puluh perak yang dihasilkan dari penjualan obat di desa Muru.
Melihat Owen yang mengulurkan kantong kulit kepadanya, Alex agak malu menerima semua hasil penjualan obat. "Kepala desa dapat mengambil dua koin emas dan dua puluh perak sebagai rasa terimakasihku karena berhasil menjual semua obatnya."
Mendengar itu Owen pun tersenyum karena inilah yang ia tunggu, "Kali ini tentu saja itu merupakan bantuanku sebagai rasa terimakasih karena obatmu sebelumnya."
"Tapi...."
__ADS_1
"Bagaimana dengan ini, bukankah kau mengatakan stok obatmu masih bisa dijual ke desa lain?" Sela Owen sebelum Alex selesai berbicara.
"Iya kepala desa, dan aku akan terus membuatnya sehingga stoknya akan selalu ada."
"Bagus. Karena tidak mungkin bagiku untuk terus meninggalkan desa, Timothi akan menjual obatmu di desa lain ditemani Nicholas dan Gren. Tapi karena mereka bertiga membantumu menghasilkan uang, kau juga harus memberi mereka bayaran seperti keinginanmu tadi. Apakah menurutmu itu baik?" Hal inilah yang membuat Owen menceritakan penyakit mematikan beserta obat yang dibuat Alex kepada Gren dan Nicholas. Meskipun ia ingin membantu desa lain yang terkena wabah selain desa Muru, tentu ia sebagai kepala desa tidak dapat berlama - lama meninggalkan desa.
Alex berpikir sesaat lalu setuju. Jika ia menjual obat kepada pedagang, ia harus menunggu mereka datang ke desa Rod dan harus menjelaskan hal - hal rumit untuk membuktikan bahwa obat yang dijualnya dapat menyembuhkan demam.
Gren dan Nicholas yang duduk di samping Alex langsung setuju setelah mendengar bahwa Alex akan membayar mereka. Mengingat sebelumnya Alex ingin memberikan dua koin emas dan dua puluh perak kepada Owen sebagai ucapan terimakasih semakin membuat mereka bersemangat.
Nicholas diberitahu agar menyampaikan kepada orangtuanya bahwa ia diberikan pekerjaan oleh kepala desa sebagai perwakilan desa untuk kerjasama dengan desa lain bersama Gren dan Timothi. Hal itu bertujuan untuk merahasiakan informasi dari penduduk desa yang tentu saja dapat menimbulkan kepanikan.
Mathias dan Nina akan tidur di rumah Gren selama Nina sakit sehingga mereka memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka agar tidak menggangu Nina yang sedang beristirahat di kamar.
Di depan rumah Gren, Nicholas pulang berjalan berlawanan arah dengan Alex, Owen, dan Timothi.
Saat hanya tinggal mereka bertiga, Alex membuka suaranya. "Aku ingin membuat kesepakatan yang menguntungkan dengan kepala desa."
"Apa itu?" Tanya Owen sambil berjalan.
"Sebagai rasa terimakasihku untuk penduduk desa ini sekaligus membantu kesulitan akibat wabah, aku akan menjual obatku di desa ini seharga lima koin perak. Sebagai gantinya, aku ingin membeli semua stok beras diluar persediaan makanan yang tersedia di gudang desa. Apa kepala desa setuju dengan itu?"
"Untuk apa kau membeli banyak beras? Timothi yang berjalan di samping Owen bertanya.
"Aku mempunyai rencana dengan membeli banyak beras yang tersedia. Semakin banyak maka semakin baik."
__ADS_1
"Aku setuju dengan persyaratanmu tetapi kami tetap harus menjual sebagian kecil kepada pedagang yang akan datang. Jika mereka mendapatkan sedikit barang dari desa kita, takutnya mereka tidak akan datang lagi dan berdagang dengan desa." Owen sebagai pemimpin di desa tentu saja memperhitungkan hal - hal untuk masa mendatang. "Tapi dimana kau akan menyimpan beras itu?" Lanjut Owen.
"Kepala desa tenang saja. Besok pagi, aku akan datang ke gudang dan membeli stok beras yang bisa dijual kepadaku. Aku juga akan menunjukkan sesuatu kepada kalian berdua di sana." Alex merasa Owen dan Timothi bisa dipercaya sehingga esok pagi ia berniat menunjukkan kemampuan inventory kepada mereka berdua.