
Di depan gerbang desa, Tio tertawa melihat Alex yang berjalan pasrah dengan beberapa makhluk terkutuk disekitarnya.
"Perjuanganmu sia-sia dengan menyelamatkan kedua anak itu. Setelah aku memastikan nyawamu menghilang, aku akan memerintahkan makhluk-makhluk ini untuk kembali menyerang desa dan membunuh semua penduduk yang tersisa."
"Apa tujuanmu melakukan ini?" Alex bertanya dengan dingin.
"Bukankah aku sudah memberitahu kalian sebelumnya? Aku..."
"Kau bergabung dengan organisme Gereja Bintang Darah bukan?" Tanya Alex memotong perkataan Tio.
Tio kaget mendengarnya lalu memasang senyum jahat. "Kau mengetahui terlalu banyak hal! Aku akan menyelamatkan hidupmu saat ini dan memberikanmu kepada tuanku agar kau dapat disiksa lebih lama sebelum kematianmu, hihihihi."
"Tidak perlu melakukan itu. Ancaman sepertinya harus dihilangkan sesegera mungkin untuk menghindari situasi yang tak terduga." Seseorang dengan jubah biru muncul dari balik gerbang dan memerintahkan Tio untuk segera membunuh Alex.
"Tuan pendeta biru." Tio membungkukkan badannya melihat sosok tersebut meski tidak mengenal siapa dia.
"Kau melakukan keputusan yang baik di desa tadi. Aku diperintahkan tuan diaken untuk mengawasi pekerjaanmu. Setelah ini selesai, kau akan diangkat sebagai murid abu-abu yang berada dibawahku. Kau dapat memanggilku Anya." Anya memuji keputusan Tio untuk memakai sandera.
Dengan kekuatannya yang lemah, ia dapat membuat keputusan yang licik untuk mengalahkan lawannya tanpa membuat banyak makhluk terkutuk menjadi korban.
"Terimakasih tuan Anya." Tio senang mendengar pujian tersebut.
"Baiklah selesaikan orang ini! Kita akan langsung kembali ke tempat tuan diaken dan membawa kepala orang ini sebagai bukti."
"Baik tuan."
Tio melanjutkan dengan memberi perintah kepada makhluk terkutuk, "Bunuh orang itu."
Meskipun sudah pasrah dengan hidupnya, Alex tentu saja berniat setidaknya membawa satu atau dua makhluk terkutuk untuk mati bersamanya.
Alex mengeluarkan garpu pertanian dari inventory lalu membalas serangan makhluk terkutuk secara tanpa mempedulikan pertahanan.
Pendeta biru Anya kaget melihat Alex dapat mengeluarkan sesuatu dari kekosongan dan menggelengkan kepalanya. "Sayang sekali anak ini sudah memiliki dendam yang kuat terhadap organisasi kita, anak ini memiliki sihir origin yang sangat unik dan dapat menjadi petinggi di Gereja Bintang Darah jika kita tahu tentangnya sejak awal."
Alex berhasil membunuh dua makhluk terkutuk sebelum tubuhnya tidak dapat bergerak lagi akibat terluka parah.
"Suatu hari Gereja Bintang Darah akan menghilang dari dunia ini. Terkutuk kalian semua!" Alex berteriak marah melihat serangan kematian dari makhluk terkutuk.
"Omong kosong. Penggal kepalanya segera dan tinggalkan semua makhluk terkutuk disini! Aku akan membawamu langsung kepada diaken." Anya menggeram marah akibat ucapan Alex.
"Baik tuan Anya." Tio menuruti perintah Anya dan segera memerintahkan makhluk terkutuk untuk memisahkan kepala Alex dari mayatnya.
__ADS_1
Di dalam rumah kepala desa, sepuluh orang sedang berkumpul untuk merencanakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Alex tiba-tiba berdiri dan terlihat kekhawatiran muncul di wajahnya.
Serangan terakhir makhluk terkutuk ternyata tidak langsung menghabisi nyawanya, ia berada dalam kondisi kritis dengan nafas kehidupan yang hampir padam.
Sebelum makhluk terkutuk memenggal kepalanya, Alex mendengar perintah Anya yang membiarkan puluhan makhluk terkutuk disana untuk menelusuri desa dan membunuh penduduk yang masih hidup.
"Kita harus pergi sekarang juga!"
"Ada apa kakak?" Nina bertanya dengan khawatir di samping Alex.
"Tidak apa-apa Nina." Alex mengelus kepala Nina.
Ia menolehkan kepalanya kepada Owen dan memasang wajah serius. "Kita harus pergi sekarang kepala desa."
Owen tidak tahu apa yang terjadi pada Alex, namun ia percaya dengan kata-kata Alex melihat keseriusan di wajahnya. "Baiklah, kita pergi sekarang juga!"
Gustaf, Mathias, Nina, dan lima penduduk lainnya tidak mempertanyakan keputusan kepala desa dan selalu menurutinya selama ini.
Mereka bergegas keluar dari rumah lalu Alex berkata, "Kita harus pergi lewat gerbang belakang desa!"
"Ikuti saja kata-kata Alex saat ini!" Sela Owen mempercayai Alex sepenuhnya.
Ditengah berlari, Owen memimpin di depan lalu Alex menghampirinya dan berbisik pelan, "Mereka telah membunuh klonku. Ada yang melindungi Tio dari bayangan, ia dipanggil pendeta biru Anya."
Owen mengerutkan keningnya mendengar informasi tersebut. "Apakah kau dapat mengetahui situasi tentang klonmu?"
"Ya, aku juga mendengar Tio dan pendeta biru ini akan segera pergi. Namun, mereka memerintahkan puluhan makhluk terkutuk yang tersisa untuk segera membunuh semua penduduk yang masih hidup." Jelas Alex sambil berlari.
Owen menganggukkan kepalanya. Ia kagum dengan kemampuan lain dari sihir origin milik Alex dan memuji keputusan yang dibuat Alex dalam waktu singkat.
Jika mereka bertahan di dalam rumah kepala desa, tidak akan lama rumahnya bertahan dari serangan puluhan makhluk terkutuk yang menyerbu.
Alex dan Owen dapat berbicara dengan santai karena kekuatan mereka melebihi delapan lainnya, keduanya harus memperlambat lari mereka untuk menyamakannya dengan yang lain.
Kekuatan fisik Owen sebenarnya masih berada dibawah Alex. Namun ketika menyerang makhluk terkutuk, ia mengalirkan mana kedalam tongkatnya untuk memperkuat serangan yang diberikan.
Itulah yang membuat serangan Owen dapat membunuh makhluk terkutuk lebih cepat dibandingkan serangan Alex.
Karena lari penduduk yang tersisa cukup lambat, mereka bertemu puluhan makhluk terkutuk pada saat sudah sampai diluar gerbang belakang desa.
__ADS_1
"Kalian semua larilah! Aku akan mencoba menahan mereka selama beberapa saat." Owen berhenti di tengah pelarian dan membalikkan badannya untuk bersiap menghadapi puluhan makhluk terkutuk.
Meskipun enggan, penduduk desa yang tersisa mau tak mau menuruti perintah dari kepala desa mereka.
Mereka berjanji akan membuat desa Rod kembali di tempat baru mereka nanti dan membuat sebuah patung Owen sebagai penghormatan dan pengingat akan pengorbanannya demi keberlangsungan desa Rod.
Setelah melewati gerbang belakang desa, mereka kaget melihat suatu tumpukan putih yang menutupi jalan untuk melewati gerbang tersebut.
Gerbang kayu yang sudah rusak parah kini digantikan dengan tumpukan karung beras sehingga makhluk terkutuk akan kesulitan melewatinya.
Memeriksa sekitar, mereka sadar ternyata hanya ada delapan diantara mereka. Alex tetap tinggal dibalik tumpukan tersebut tanpa ada satupun yang menyadari sebelumnya.
"Tidak... Kakak Alex" Mathias dan Nina berteriak menangis memanggil Alex.
"Kalian berdua dengarkan Gustaf dengan baik. Gustaf, jika terjadi apa-apa kepada mereka berdua, aku akan menghantuimu dan membuat hidupmu tidak tenang."
Gustaf sedikit kesal mendengar perkataan Alex. Meskipun demikian, ia kagum sekaligus terharu dengan tindakan yang Alex lakukan. "Segera temui kami nanti. Aku akan mulai memanggilmu bos di pertemuan kita selanjutnya."
Gustaf menyesal telah bersikap kasar selama ini terhadal Alex demi cintanya kepada wanita busuk seperti Tio.
Ia berusaha menenangkan Mathias dan Timothi dan berkata kepada keduanya bahwa Alex serta Owen akan selamat dan datang ke tempat yang akan mereka tuju nanti, meskipun ia tidak tahu kemana delapan orang saat ini akan pergi.
Dibalik tumpukan karung beras tersebut, Alex berjalan santai menuju Owen dan berdiri disampingnya.
"Dasar anak nakal!" Owen tersenyum kecut melihat Alex meskipun ia sudah mendengar percakapan dibelakangnya tadi.
"Aku bukan penduduk desa ini jadi aku tidak harus mematuhi perintah kepala desa." Alex membalas dengan senyum cerah.
"Apa kau tidak takut?" Tanya Owen.
"Mungkin sedikit." Alex mengangkat kedua bahu, "Namun aku merasakan perasaan yang lebih besar untuk membunuh sebanyak mungkin makhluk ini setelah memasrahkan hidupku."
"Hahahaha, sama denganku. Rasa takutku menghilang saat ini dan hanya digantikan dengan keinginan untuk membunuh mereka sebanyak mungkin." Owen menyeringai melihat puluhan makhluk terkutuk yang mendekat.
Alex juga mengeluarkan masing-masing garpu pertanian ditangan kanan serta tangan kirinya.
"Kepala desa ingin berlomba?"
"Hahahaha, tentu saja. Berteriaklah menghitung jumlahnya saat berhasil membunuh satu demi satu makhluk-makhluk ini."
Mereka berdua melesat menuju puluhan makhluk terkutuk yang berlari dengan seringai di kedua wajah.
__ADS_1