
"Manusia biadap! Mengapa kau tahu tentang sumber kekuatanku?." Raja naga dengan sisik berwarna hitam mengaum marah terhadap seorang pria di depannya.
"Aku hanya ingin memecahkan segel dunia ini dan bertualang menjelajahi dunia luar. Tidakkah kau pikir dunia ini terlalu sempit dengan kekuatan yang kita miliki?" Pria itu menghela nafas sedih sambil melihat langit malam penuh bintang di atas mereka.
"Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja. Jika sumber kekuatanku jatuh ke tangan orang yang salah, itu akan menghasilkan banyak bencana."
"Ahh ayolah, lagipula aku tidak akan menggunakannya untuk tujuan yang jahat. Lihatlah dunia ini, aku bahkan tidak pernah mengusiknya dan berniat menguasainya."
Naga itu terdiam mendengarnya.
Memang benar, manusia di depannya adalah makhluk terkuat di dunia ini bahkan melebihi dirinya sendiri.
Dari yang ia tahu selama ini, spesies manusia hanyalah spesies berumur pendek dengan kekuatan yang lemah. Mungkin ada beberapa yang hidup cukup lama hingga mencapai ribuan tahun jika mencapai kekuatan tertentu.
Namun, manusia didepannya ini sudah hidup sangat lama bahkan melewati rentang hidup beberapa generasi keturunannya.
Sejauh pengamatannya, ia belum pernah mendengar manusia ini menciptakan suatu kerajaan ataupun organisasi yang ingin menguasai seluruh dunia dan lainnya.
Meskipun begitu, ia tetap tak berniat memberikan sumber kekuatan ras naga yang dijaganya sejak awal kelahirannya.
Raja naga hitam meraung marah dan menerjang manusia itu tanpa membalas kata-kata sebelumnya.
"Oh ayolah, mengapa kau begitu keras kepala." Manusia tersebut hanya menggelengkan kepala lalu menahan serangan naga di depannya dengan mudah.
Duarrr!!!
Manusia itu terlihat menahan dampak perkelahian mereka sehingga serangan mereka tidak berdampak pada makhluk hidup lain di dunia ini.
Jika manusia itu ingin, ia dapat membunuh naga didepannya dengan mudah meskipun harus mengorbankan seluruh makhluk hidup yang tinggal di dunia ini akibat dampak serangan. Namun bukan itu yang ia inginkan.
Mereka bertarung selama berhari-hari dan menghancurkan beberapa pulau akibat terkena sisa-sisa energi dari tabrakan serangan keduanya.
Pada akhirnya, manusia itu berdiri di atas sang raja naga hitam yang terkulai lemah di tanah dengan tubuh dipenuhi oleh luka.
"Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu. Tujuanku hanya ingin mengambil inti kehancuran saja."
Cit... Cit... Cit...
Kicauan burung membangunkan Alex dari tidurnya.
"Mimpi apa itu?" Alex terduduk di dalam tenda dengan keringat mengalir membasahi pakaian.
Naga hitam yang dilihatnya di dalam mimpi sangatlah besar, ukurannya jauh melebih manusia yang berhadapan dengan naga tersebut.
Anehnya Alex mengingat mimpi barusan dengan sangat detail. Biasanya, ia hanya mengingat potongan-potongan mimpinya sesaat setelah terbangun. Bahkan, tidak lama setelah itu mungkin ia akan melupakan mimpi tersebut.
Membuka sistem, Alex merasakan batasan untuk membuat klon kedua sudah menghilang.
Kini ia dapat membuat klonnya lagi dan memindahkan klon tersebut ke desa Rod.
__ADS_1
Menurut informasi yang masuk ke dalam pikirannya setelah mengupgrade sistem, terdapat sebuah penanda sistem dalam dua puluh empat jam setelah kematian di lokasi terakhir tubuhnya meninggal.
Sebelum waktu dua puluh empat jam habis, ia dapat berpindah ke lokasi tersebut melalui <> dan memilih planet sihir.
Cooldown planet sihir juga tinggal tersisa beberapa menit lagi sehingga ia dapat melakukannya setelah cooldown tersebut berakhir.
"Sekarang aku harus kembali ke duniaku dan meminta maaf kepada semuanya." Alex membiarkan klon kedua tinggal sementara di hutan sedangkan ia langsung mengaktifkan perpindahan ke planet biru.
Alex kembali ke suatu gang gelap di sudut kota Lynden yang merupakan lokasi terakhirnya sebelum ia pindah ke dunia sihir.
Mengecek handphone, Alex melihat banyak panggilan tak terjawab dari kelima temannya yang mengikuti lomba marathon.
Guru olahraganya pun terlihat beberapa kali mencoba menghubungi beberapa jam sebelumnya.
Alex membuka grup keenam peserta lomba lalu mengucapkan beberapa kata maaf serta pesan bahwa ia akan kembali ke hotel nanti malam.
Membuka sistemnya, Alex melihat bahwa koin emas yang ia miliki hampir habis.
<>
Nama : Alexander Leonard
Usia : 17 tahun
Konstitusi : 10 [+]
Vitalitas : 10 [+]
- komunikasi universal : 3/10 [+]
- pembagi tubuh : 10/10 [+]
- pembagi pikiran : 3/10 [+]
- manipulasi mana : 6/10 [+]
<>
<>
<>
<>
Poin system : 0
Koin emas : 37
"Klon pertamaku saat ini berada di kota Xyras. Aku harus meningkatkan kekuatanku agar tidak merasakan perasaan tak berdaya seperti di desa Rod." Alex mengepalkan tangan dengan erat ketika mengingat kelemahannya dalam pembantaian di desa Rod.
__ADS_1
Alex berencana berkeliling kota Lynden untuk membeli barang-barang murah yang berguna bagi manusia di planet sihir.
Jika Alex dapat menjadikan suatu barang menjadi kebutuhan dan gaya hidup dalam kehidupan di planet sihir, maka ia dapat menjadikan itu sebagai pendapatan yang berkelanjutan karena hanya ia yang dapat menyediakan barang tersebut dari dunia asalnya.
Berjalan ke dalam supermarket, Alex melihat-lihat barang sebagai referensi karena barang yang dijual di dalam supermarket bervariasi dan mencakup berbagai kebutuhan.
Setelah mengelilingi dan melihat seluruh isi supermarket, Alex berpikir bahwa barang yang dapat dijadikan sebagai gaya hidup baru di dunia sihir hanyalah buku tulis, pulpen, dan korek gas.
Untuk barang-barang lainnya, Alex berniat menjadikan itu sebagai sesuatu yang langka dan hanya dapat dibeli oleh masyarakat kelas atas serta para bangsawan sehingga Alex dapat memperoleh keuntungan yang besar dengan sedikit usaha.
Melihat tabungannya yang cukup banyak, sekitar enam belas ribu dollar, Alex tidak ragu membeli tiga jenis barang tersebut dalam jumlah yang besar.
Ia mengeluarkan masing-masing seribu dollar untuk setiap jenis barang tersebut sehingga sisa tabungannya saat ini adalah sekitar tiga belas ribu dollar.
Setelah menempatkan semuanya ke dalam tiga kotak inventory sesuai jenis barangnya, Alex berjalan kembali ke hotel untuk bertemu dengan kelima temannya serta meminta maaf atas hal yang ia lakukan.
"Alex, kau telah kembali!" Vincent melihat Alex diseberang jalan depan hotel dan melambaikan tangan.
Kelimanya sedang berjalan keluar dari pintu hotel dan berencana untuk mencari makan malam di suatu tempat.
"Kami ingin melakukan perayaan dengan makan sesuatu yang cukup mewah sekarang. Jika kau belum makan, ayo ikut dengan kami." Ajak Wika dengan senyum cerah.
Alex bingung mengapa mereka tidak menjejali dirinya dengan pertanyaan mengenai ketidakikutsertaan lomba marathon.
"Apakah kalian tidak marah?" Tanya Alex setelah menyebrang jalan.
"Tentang apa? Apakah karena kau menghilang selama perlombaan? Hahahaha tidak perlu khawatir, Jhon berhasil mendapatkan juara dua pada kategori siswa laki-laki. Bahkan Helen mendapatkan juara satu pada kategori siswa perempuan." Vincent tertawa menjelaskan hasil yang mereka peroleh selama perlombaan.
"Tentu saja jika kau ikut sebelumnya, mungkin kita mendapatkan juara satu pada kedua kategori. Tapi jika itu terjadi, mungkin aku akan menjadi juara ketiga." Jhon ikut tertawa berbagi kebahagiaannya.
"Karena dana yang diberikan sekolah masih tersisa cukup banyak, kita harus menghabiskan semuanya. Sekolah tidak akan terlalu cerewet karena kita mendapatkan dua juara pada perlombaan ini." Melvis memutuskan untuk memakai semua dana yang tersisa.
Meskipun kemampuan lari Melvis termasuk hebat dalam kapasitas sekolah, Melvis termasuk rata-rata dalam perlombaan marathon.
Melvis sudah memperkirakan bahwa ia tidak akan mendapatkan juara dalam perlombaan, karena itulah ia ikut senang melihat dua rekannya berhasil mengharumkan nama sekolah mereka.
Meskipun kelimanya tidak mempertanyakan kemana Alex saat itu, Alex tetap menjelaskan bahwa ia menemui beberapa masalah yang sangat penting dan mengharuskannya hadir pada saat itu.
"Apa masalahmu sudah selesai?" Tanya Helen yang sejak tadi diam tidak memperlihatkan kebahagiaan memperoleh juara.
"Selesai?" Alex terdiam merenungi pertanyaan Helen.
"Mungkin bisa dibilang tertunda." Lanjut Alex dengan senyum masam.
Meskipun pembantaian desa Rod telah berakhir, Alex tidak akan membiarkan hal itu berakhir begitu saja. Ia berniat menjelajahi dunia sihir dan mencabut organisasi Gereja Bintang Darah dari akarnya sehingga kejadian seperti di desa Rod tidak terulang kembali.
Melihat wajah Alex yang berubah sedih, kelimanya sedikit khawatir.
"Tidak perlu memikirkan hal-hal lain saat ini. Meskipun yang memenangkan perlombaan hanya Jhon dan Helen, kita harus ikut merayakannya dan menggunakan sisa dana dari sekolah sebaik mungkin!" Vincent memecah suasana dengan berjalan mendahului mereka sambil berteriak.
__ADS_1
"Ayo Alex." Ajak Helen mengikuti Vincent dan yang lain menuju tempat perayaan mereka.