Berdagang Dengan Dunia Lain

Berdagang Dengan Dunia Lain
Satu Hari Sebelum Lomba Marathon


__ADS_3

<>


Nama : Alexander Leonard


Usia : 17 tahun


Konstitusi : 5 [+]


Vitalitas : 6 [+]


Skill :


- pemahaman bahasa : 3/3 [+]


- klon : 3/3 [+]


- berpikir cepat : 3/3 [+]


<>


<>


<>


<>


Poin system : 0


Koin emas : 557


"Tuan, ada tiga orang menuju arah kita dengan mengendarai kuda." Seorang pria kekar berumur tiga puluhan menghampiri salah satu gerbong kereta yang mereka jaga.


Pedagang yang duduk di dalam gerbong membuka jendela sedikit untuk mengintip tiga orang yang dikatakan oleh penjaga yang disewanya.


"Biarkan mereka datang. Mereka berasal dari desa Rod." Pedagang itu mengenali Timothi yang merupakan anak dari kepala desa Rod.

__ADS_1


"Baik tuan." Pria kekar itu memberi isyarat kepada yang lain untuk membiarkan ketiganya datang ke rombongan mereka.


Setelah sampai menuju rombongan pedagang, Gren terlebih dahulu berbicara karena merupakan yang tertua di antara mereka bertiga. "Apa yang terjadi kepada kalian?"


Mendengar pertanyaan Gren, pedagang yang berada di dalam gerbong berjalan keluar untuk menemui mereka bertiga, "Kami menemui beberapa masalah selama perjalanan."


"Tuan Benzir!" Gren, Timothi, serta Nicholas serempak mengenali pedagang yang selalu datang ke desa mereka dalam periode tertentu.


"Nak Timothi, kalian mau kemana." Tanya Benzir yang hanya mengenali Timothi diantara ketiganya.


"Kami ingin kembali ke desa Rod. Kami baru saja menjual obat - obatan di desa Swalluw untuk mengobati penduduk yang terkena wabah." Jelas Timothi kepada Benzir.


Benzir tidak mempermasalahkan perdagangan antar desa di sepanjang pinggiran Great Forest.


Bahkan diperjalanan kali ini, ia membawa banyak ramuan obat dan bertujuan membantu semua desa meskipun mereka harus berhutang kepadanya. Jika banyak penduduk desa yang meninggal akibat wabah, tentu saja dia sebagai pedagang akan rugi di masa depan.


"Kami juga sedang menuju desa Rod. Mari kita bepergian bersama." Benzir mengajak ketiganya untuk mengikuti rombongan mereka dalam perjalanan menuju desa Rod.


Di sepanjang perjalanan, Benzir menceritakan kejadian yang telah menimpa rombongan mereka kepada mereka bertiga.


Ketika rombongan Benzir menginjakkan kaki di desa, Benzir beserta rombongan dikejutkan karena tidak menemukan satupun penduduk yang tersisa di manapun. Setelah beberapa saat mencari, mereka pun memutuskan untuk pergi karena tidak menemukan satupun tanda kehidupan di sekitar desa.


Beberapa menit setelah pergi dari desa Muru, rombongan Benzir dihadang oleh tujuh makhluk menyerupai manusia yang memiliki warna hitam pekat. Makhluk - makhluk itu memiliki fisik yang kuat namun tidak memiliki kecerdasan serta pengalaman bertarung.


Para petualang yang disewanya berhasil membunuh mereka namun tentu saja terdapat tiga korban dalam peristiwa tersebut.


Setelah kejadian itu, Benzir menyadari ternyata makhluk - makhluk hitam itu hanya mengincar ramuan obat yang ia bawa setelah memeriksa barang bawaan di gerbong kereta.


Benzir pun memikirkan kemungkinan makhluk hitam tersebut dikendalikan oleh seseorang meskipun ia sedikit bersyukur karena berkat hal tersebut rombongan mereka berhasil selamat dari makhluk hitam yang memiliki fisik melebihi petualang yang ia sewa.


"Aku tidak pernah menemukan makhluk seperti yang dikatakan tuan Benzir ketika berada di Great Forest." Timothi pertama kali membuka suara setelah mendengar cerita dari Benzir.


Sebagai orang tertua diantara ketiganya Gren pun ikut berbicara, "Seumur hidupku aku juga belum pernah melihat makhluk yang mirip dengan deskripsi tuan Benzir."


Benzir mengerutkan keningnya dan membuat sebuah kemungkinan setelah mendengar penduduk yang sudah lama tinggal di pinggiran Great Forest belum pernah melihat makhluk hitam itu.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan membicarakan hal itu nanti dengan kepala desa kalian. Mari kita mempercepat perjalanan kita." Benzir memutuskan untuk mempercepat perjalanan setelah memikirkan sebuah kemungkinan yang membuatnya khawatir. "Kyle, tingkatkan kecepatan rombongan. Kita harus tiba di desa Rod dalam satu jam." Perintahnya kepada pemimpin petualang yang ia sewa.


Planet biru.


Alex, Helen, Wika, Vincent, Melvis, dan Jhon sedang berada di bandara menunggu penerbangan mereka menuju kota Lynden tempat diadakannya perlombaan Marathon tingkat nasional dalam kategori pelajar.


Pemerintah kota Sevenright membiayai tiket pesawat serta penginapan seluruh peserta asal kota mereka yang berjumlah sembilan orang sehingga mereka berenam berangkat bersama tiga peserta lainnya yang berasal dari sekolah lain di kota Sevenright.


"Dalam perlombaan besok kita harus menunjukkan kemampuan terbaik kita, terutama kau Alex." Ujar Vincent yang sudah mengakui kemampuan Alex beberapa hari belakangan ini. Dalam tiga hari terakhir latihan, Alex selalu berada di posisi pertama bahkan mengalahkan Melvis maupun Jhon sang ace klub lari sekolah. Vincent yang awalnya kesal kepada Alex pun akhirnya mengakui bakatnya dan merekapun menjadi lebih akrab.


"Hari ini kita tidak perlu melakukan latihan berat agar stamina kita maksimal ketika mengikuti perlombaan esok hari." Timpal Melvis sang ketua klub lari sekaligus pemimpin kelompok yang ditunjuk oleh kepala sekolah.


"Jadi apa kegiatan kita saat berada di kota Lynden nanti." Tanya Wika mengingat jarak antar kota Sevenright dan kota Lynden hanya kurang dari dua jam perjalanan menggunakan pesawat dan mereka akan tiba siang hari di sana.


"Sekolah memberikan biaya makan kita berenam selama kita di kota Lynden. Aku akan memberi info di grup kita untuk berkumpul beberapa saat sebelum jadwal makan. Di luar itu, kalian bebas menentukan kegiatan masing - masing, namun saranku kalian harus melatih pikiran serta mental kalian sebelum perlombaan dimulai." Ujar Melvis yang diberikan tanggung jawab menyimpan biaya perjalanan dari sekolah.


Kelimanya mengangguk mendengar itu lalu melanjutkan kegiatan masing - masing menunggu kedatangan pesawat mereka.


Sesampainya di bandara kota Lynden sembilan orang peserta dari kota Sevenright menaiki sebuah bus menuju hotel yang disediakan pemerintah kota Sevenright.


Di dalam bus, Vincent yang ingin duduk di samping Alex bingung melihat Helen sudah terlebih dahulu duduk di sana. Dengan perasaan malu Vincent pun menuju bangku Wika yang ia sukai secara diam - diam.


"Kenapa kau tidak duduk dengan Wika?" Alex melihat Helen dengan bingung.


"Tidak masalah, aku hanya ingin di sampingmu saja." Helen tidak menoleh menjawab pertanyaan Alex melainkan terus memainkan handphone di tangannya.


'Apa Helen menyukaiku? Sepertinya sejak aku memiliki sistem wajahku semakin tampan.' Alex merenung dengan sebelah alis terangkat.


Mengingat perkataan bosnya dua hari lalu, Helen penasaran akan bakat bawaan milik Alex karena bosnya tidak menyebutkan hal itu kepada dirinya dan Dino meskipun telah diberi misi untuk mengawasi Alex. Dengan kehadiran Helen yang sesekali tidak di sadari orang sekitar, mungkin saja ia dapat melihat Alex menunjukkan bakat secara diam - diam jika ia berada di samping Alex selama perjalanan menuju hotel.


"Ada yang tahu makanan enak di kota Lynden?" Jhon yang termuda di antara mereka berenam angkat bicara.


"Aku pernah ke kota Lynden sebelumnya. Di dekat hotel tempat kita menginap, ada restoran Laris Manise yang memiliki menu enak - enak." Wika teringat perjalanan dengan kedua orangtuanya ke kota Lynden beberapa bulan yang lalu.


"Baiklah, jam dua belas nanti, kita berkumpul di lobi hotel lalu bersama menuju restoran yang kau sebutkan. Tentu saja kita harus memakai dana yang disediakan sekolah dengan baik." Melvis memutuskan sebagai ketua kelompok.

__ADS_1


Keenamnya tertawa bersama dan melanjutkan pembicaraan mereka sepanjang perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap.


__ADS_2