
Planet sihir.
"Sembuh aku benar - benar sembuh." Owen berdiri meregangkan tubuhnya di samping tempat tidur.
Di sudut ruangan, Alex tengah berpikir mengapa belum sehari sejak kepala desa meminum obat darinya ia bisa sembuh dari penyakit itu.
Hal yang tidak diketahui Alex adalah planet sihir dimana klon Alex berada saat ini memiliki jumlah partikel mana yang melimpah yang tersebar di udara, sehingga tubuh manusia yang tidak mempelajari sihir pun tanpa sengaja tetap akan dibasuh oleh kandungan mana di udara yang akan memperkuat fisik maupun jiwanya. Hal ini berbanding terbalik dengan planet biru tempat Alex berasal yang minim akan partikel mana.
"Alex, aku sangat bersyukur dengan obat yang kau buat itu. Hanya dengan dua pil obat saja, ternyata aku sudah sembuh. Atas rasa terimakasihku, aku akan membayar dua pil itu seharga setengah dari harga ramuan obat yang dijual pedagang. Meskipun ini termasuk murah, tolong terimalah harga ini."Owen menawarkan lima puluh koin perak kepada Alex sebagai rasa terimakasihnya.
Jika Owen mengikuti saran Alex yang akan menjual obatnya seharga tiga koin perak per pil, maka Owen hanya akan membayar dua pil saja dengan total harga enam koin perak.
Namun Alex berpikir lain. Ia berniat menjual obat ponodal yang dibawa dari dunia asalnya dengan harga murah. Dengan cara ini, ia berharap penjualan obat akan tetap stabil dan akan menjadi salah satu cara untuk memperoleh koin yang dapat meningkatkan sistemnya.
"Kepala desa tidak perlu khawatir tentang itu. Aku tetap hanya akan menerima biaya enam koin perak sesuai dengan pil obat yang kepala desa makan. Aku adalah orang yang memenuhi kata - kataku." Alex menolak tawaran Owen.
"Tolong terima Alex. Aku tidak bisa memberikan rasa terimakasihku selain dari lima puluh koin perak ini."
"Jika begitu, aku ingin kepala desa membantuku dengan sesuatu." Alex berniat menjual obatnya melalui Owen.
"Apa itu?"
"Apakah kepala desa dapat membantuku menjual obat ini kepada desa tetangga yang sudah terkena wabah?"
__ADS_1
"Hmmm, untuk desa Muru yang berdekatan dengan desa kita, mungkin ini bisa sangat membantu mereka. Sudah tiga hari sejak aku pergi ke sana. Jika aku berangkat hari ini, mungkin masih belum ada korban jiwa. Tapi apakah obat yang sudah kau buat memiliki stok yang cukup?"
"Kepala desa tenang saja. Aku akan memberikan sebagian stok dari obat yang sudah kubuat. Selama kepergian kepala desa, aku akan terus membuat obat ini sehingga kepala desa tidak perlu khawatir jika wabah itu menyebar disini." Alex memberikan sebuah karung goni yang berisi sekitar enam ratus obat ponodal dari dunia asalnya.
Sebelumnya Alex membeli obat ponodal dari beberapa toko selama perjalanan pulangnya dari sekolah untuk menambah jumlah persediaannya. Ia awalnya ingin membeli lagi dari supermarket tempat ia bekerja. Namun memikirkannya lagi, ia tidak ingin membuat orang yang ia kenal di sana memikirkan hal aneh tentangnya jika terus membeli obat dalam jumlah besar.
Jika dihitung, total pengeluaran Alex untuk membeli semua obat itu mencapai sekitar seratus dua puluh dolar. Pengeluaran sebanyak itu tentu saja mengharuskan Alex untuk mengambil sedikit dari tabungan yang sudah ia kumpulkan sejak ia bekerja.
Tentu saja Alex memikirkan timbal baliknya. Jika ia menjual obat seharga sepuluh koin perak per butirnya, ia akan mendapatkan total enam ribu koin perak jika stok pertama obat yang dibelinya berhasil habis.
Timothi sebelumnya memberi tahu Alex jika para pedagang membeli beras dari desa mereka seharga satu perak per karung yang memiliki kisaran berat lima puluh kilogram per karungnya dalam satuan berat di dunia asal Alex. Para pedagang ini akan menjual beras itu di kota dari kisaran harga satu koin perak dua puluh tembaga sampai satu koin perak lima puluh tembaga per karungnya.
Meskipun Alex menghabiskan pendapatan enam ribu peraknya dengan membeli beras dan menjual kembali beras itu di dunia asalnya dengan harga satu dolar per kilogram, Alex akan menghasilkan uang sekitar dua ratus ribu dolar.
Setelah menjelaskan dosis penggunaan obat dan harga obat per butir kepada Owen, Owen yang ditemani Timothi langsung berangkat menuju desa Muru untuk menyelamatkan penduduk disana sekaligus membayar Alex yang telah mengobati penyakit Owen.
Planet Biru.
"Cepat selesaikan sarapan kalian dan langsung mulai pemanasan. Waktu kita sangat singkat." Guru olahraga terlihat kesal melihat enam siswa di depannya memakan makanan yang terlihat enak.
Guru olahraga sangat bersemangat memikirkan makanan enak yang disediakan sekolah bahkan hanya memakan sedikit sarapan yang sudah disiapkan oleh istrinya. Ia tak menyangka bahwa anggaran yang dibuat sekolah hanya untuk makanan para siswa yang mengikuti lomba marathon.
Ketika ia bertanya tentang hal itu kepada kepala sekolah, dengan santainya kepala sekolah berkata, "Bukankah istrimu memasak makanan yang enak untukmu? Jangan membuat istrimu kesal kepadamu karena kau tidak menghabiskan makanan yang dibuatnya."
__ADS_1
Guru olahraga yang sebelumnya ingin berdebat hanya bisa terdiam dan melampiaskan rasa kesalnya kepada keenam siswa yang terlihat menikmati makanan di depannya.
Setelah menghabiskan makan pagi dan melakukan gerakan pemanasan yang dipimpin oleh guru olahraga, guru olahraga mengintruksikan para siswa berlari lima keliling putaran lapangan sepak bola.
"Hei Alex, ku rasa kau hanya beruntung sebelumnya dapat berada di tim ini." Vincentius Botuna salah satu di tim tiba - tiba muncul di depan Alex.
"Apa maksudmu?" Alex bertanya bingung.
"Masih banyak anggota klub lari yang lebih hebat daripadamu. Kau hanya beruntung saat itu." Vincent terang - terangan menghina Alex.
"Apa yang kau lakukan? Sekarang kita berlatih di tim yang sama. Buktikan dirimu dengan menjadi juara untuk membuat klub kita bangga." Melvis yang merupakan ketua klub lari menegur sikap Vincent karena tidak ingin anggota di tim ini bermusuhan.
"Hmmmph." Vincent mendengus tidak senang.
Vincent merupakan salah satu anggota klub lari bersama Jhon dan Melvis. Semua anggota klub lari mengikuti seleksi perlombaan dari tingkat daerah dan berharap mengikuti final perlombaan marathon terutama beberapa anggota klub lari yang sudah memasuki tahun terakhir mereka di SMA.
Sangat disayangkan bahwa dari siswa tahun ketiga di klub lari, hanya Melvis yang berhasil lolos dan bisa mengikuti perlombaan nasional bersama dengan Jhon sang ace di klub lari yang baru menginjak tahun ke dua di SMA.
Setelah mengetahui bahwa sekolah mereka mendapatkan tiket emas yang memungkinkan dua siswa laki - laki dan dua siswa perempuan untuk langsung mengikuti perlombaan tingkat nasional, para anggota yang sebelumnya gagal sangat bersemangat dan berlatih sekeras mungkin untuk menjadi perwakilan sekolah.
Vincent awalnya sangat senang ketika ia berhasil menjadi perwakilan. Namun saat mengetahui bahwa perwakilan siswa laki - laki lain tidak diisi oleh teman satu klubnya, ia merasa kesal sekaligus sedih memikirkan teman - temannya yang telah berjuang keras bersamanya.
Vincent tidak terlalu memikirkan perwakilan siswa perempuan karena siswa perempuan di klub mereka hanya melakukan lari sebagai sarana kesehatan dan tidak bermaksud memperkuat daging dan otot seperti halnya siswa laki - laki.
__ADS_1
Hal inilah yang membuat Vincent membenci Alex karena telah menyingkirkan tempat untuk teman - temannya meskipun itu hanya satu posisi.