
Alex adalah orang yang rendah hati dan tidak suka memperpanjang masalah. Melihat Vincent yang menghina dirinya ia tidak menggubris sikap Vincent yang seperti itu.
Di saat berlari, Alex mengikuti irama lari dari Melvis merupakan seorang berpengalaman.
"Apa kau tidak malu menjadi perwakilan namun berlari selambat itu?" Vincent berteriak kepada Alex yang sudah tertinggal jauh dibelakang.
Menanggapi itu Alex tidak membalas melainkan hanya tersenyum.
Sebelumnya, ia dinasehati guru olahraga bahwa ia memiliki bakat yang baik untuk berlari hanya saja masih belum berpengalaman.
Oleh karena itu, guru olahraga menyuruhnya mengikuti kecepatan serta irama pernafasan Melvis dalam berlari sehingga Alex dapat belajar untuk menjaga staminanya.
Tentu saja dalam jangka latihan singkat yaitu empat hari, tidak mungkin guru olahraga mengajari keenam orang yang bertanding secara merata dari awal.
Ia harus membiarkan Alex belajar secara otodidak dengan memperhatikan Melvis secara langsung saat berlari.
Pada putaran kelima, kini Alex menyadari dengan kecepatan yang stabil dan irama pernafasan yang baik ia sama sekali tidak merasakan rasa lelah pada tubuhnya berbeda dengan ketika pemilihan perwakilan sekolah.
Alex menyelesaikan putaran kelima bersamaan dengan Melvis. Di depan mereka terlihat John dengan santai meminum air mineral yang disediakan sekolah.
Berbeda halnya dengan John, Vincent terlihat berkeringat deras dan nafasnya tidak beraturan.
Untuk mengalahkan Alex dan mengejeknya, Vincent berlari sekuat tenaga meskipun ini hanyalah latihan mereka. Melihat hasilnya sekarang, ia merasa malu pada dirinya sendiri. John yang berada di posisi pertama tetap terlihat bugar berbeda dengan dirinya yang sudah kehabisan tenaga.
Setelah menunggu beberapa saat, Helen dan Wika menyelesaikan putaran lalu guru olahraga mendatangi mereka.
"Vincent, mengapa kamu berlari seperti itu pada saat latihan?" Guru olahraga langsung memarahi Vincent setibanya ia di depan mereka.
"Maaf pak." Vincent menundukkan kepalanya dengan malu.
"Tidak ada waktu lagi untuk membuat kesalahan sebelum perlombaan. Apakah kalian semua mengerti?"
"Mengerti pak!" Keenam siswa menjawab bersamaan.
__ADS_1
"Baiklah kalian semua dapat beristirahat selama lima menit. Setelah itu akan saya lanjutkan dengan beberapa peraturan dalam perlombaan marathon."
Guru olahraga menjauh dari mereka lalu membuka buku kecil yang di dalamnya terdapat beberapa peraturan dalam perlombaan marathon. Meskipun sudah menjadi guru olahraga selama beberapa tahun, tentu saja ia harus tetap membuka buku memastikan beberapa hal yang takutnya ia lupakan.
Planet Sihir.
Tengah malam di luar desa Rod sesosok dengan jubah hitam berbicara dengan seorang wanita yang berlutut di depannya.
"Benarkah dia memiliki banyak uang?"
"Benar tuan, sebelumnya dia mengeluarkan koin emas dengan santai di depan kepala desa. Melihat itu saya yakin dia memiliki banyak koin emas yang disimpannya." Wanita itu menjawab sosok jubah hitam di depannya.
"Apa latar belakang anak itu?"
"Saat di hutan, dia mengatakan bahwa dia adalah seorang budak yang ditangkap oleh para elf. Tuannya yang merupakan seorang pedagang budak berniat menculik beberapa elf dari Great Forest namun ditangkap oleh para pasukan elf. Para elf melepaskannya setelah mengetahui bahwa ia hanyalah seorang budak dan memberikan sebagian kekayaan pedagang budak itu kepadanya oleh karena belas kasihan."
"Sialan! Pedagang budak pasti memiliki kekayaan yang besar. Orang itu dapat mengganggu rencana tuan Jack yang agung."
"Apakah saya harus membunuh orang itu tuan?"
"Terimakasih tuan." Wanita itu semakin berlutut menempelkan keningnya di tanah di depan kaki sosok berjubah hitam.
Keesokan harinya pada sore hari, Mathias berlari mendatangi Alex yang sedang bersama dengan Nicholas seusai bekerja di sawah bersama orang tuanya.
"Kak Alex, kak Alex!" Mathias terengah - engah di depan mereka berdua.
"Ada apa Mathias?" Alex heran melihat Mathias dengan panik mendatanginya.
"Nina sakit. Tolong buatkan Nina obat kak. Bukankah kemarin kak Alex mengatakan hebat dalam membuat obat - obatan?"
"Tenanglah Mathias. Memangnya Nina sakit apa?" Alex menenangkan Mathias yang terlihat akan menangis di depannya.
"Sepertinya dia sakit demam."
__ADS_1
"Bukankah itu sakit biasa? Tidak perlu sekhawatir itu Mathias." Nicholas kesal melihat Mathias yang sebelumnya ikut membuat dia khawatir. Meskipun ia paham mengapa Mathias sangat menjaga Nina yang merupakan satu - satunya keluarga Mathias di dunia ini, namun Mathias tidak dapat menjaga ketenangannya hanya karena adiknya sakit demam.
Berbeda dengan Nicholas, Alex langsung khawatir mendengar Nina demam.
"Kapan Nina mulai demam?" Alex bertanya dengan tidak tenang.
"Ketika aku pulang seusai menggembalakan sapi, aku datang ke rumah kakek Gren untuk menjemput Nina. Kakek Gren mengatakan Nina mulai terlihat sakit setelah ia bangun dari tidur siangnya."
"Baiklah, ikut aku ke aula desa untuk mengambil obat yang sudah kubuat." Alex agak tenang mendengar Nina mulai sakit beberapa jam yang lalu. Kemarin, ia sudah membeli obat ponodal di dunia asalnya sebanyak seratus butir seharga dua puluh dollar karena stok pertama yang ia beli telah diserahkan kepada Owen dan Timothi untuk dijual di desa lain.
Setelah mengambil beberapa tablet obat, Alex bersama Mathias dan Nicholas berjalan menuju rumah Gren yang saat ini sedang menjaga Nina.
Mathias berlari mendahului mereka ketika rumah Gren sudah di depan mata. Mengikuti Mathias, Alex terkejut melihat Owen dan Timothi yang berada di dalam rumah Gren.
"Nina! Nina! Aku membawa kak Alex ke sini. Tenang saja kak Alex hebat membuat obat. Kamu pasti cepat sembuh." Mathias mendatangi Nina yang berbaring di tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Huss jangan berisik Mathias. Jangan ganggu Nina beristirahat." Istri Gren memarahi Mathias yang berlari sambil berteriak menuju Nina di tempat tidur.
"Hehehe tidak apa - apa nek." Dengan suara kecil yang manis, Nina menenangkan istri Gren yang merawatnya di samping tempat tidur.
"Alex, apa kau sudah membuat obatnya lagi?" Owen berjalan mendatangi Alex dan Nicholas yang datang bersama Mathias.
"Tenang saja kepala desa. Sesuai janjiku, aku sudah membuat banyak obat yang cukup untuk penduduk di desa ini."
Mendengar perkataan Alex, Owen langsung senang karena selama satu hari ia berada di desa Muru, beberapa orang yang terjangkit penyakit sudah sembuh membuktikan obat buatan Alex tidak hanya manjur kepadanya saja.
"Apakah obat yang dibawa kepala desa dibeli oleh penduduk desa Muru?" Alex bingung melihat Owen dan Timothi sudah kembali ke desa Rod meskipun membawa persediaan sekitar enam ratus butir obat.
"Setelah tiba di sana, kami langsung bernegosiasi dengan kepala desa Muru tentang obat yang kamu buat lalu membagikan obat tersebut kepada penduduk yang terjangkit penyakit. Tadi siang, beberapa warga yang sakit sudah sembuh lalu sesuai perjanjian awal kepala desa Muru membayar obat yang telah kami bagikan. Namun melihat kemanjuran obat itu, kepala desa Muru berniat membeli semua obat yang kami bawa. Mengingat kamu mengatakan akan terus membuat obat, maka aku menjual semuanya dan mendapatkan enam puluh dua koin emas dua puluh perak." Owen mengeluarkan kantong penyimpanan yang merupakan harta berharga di desa Rod. "Semua uangnya ada di dalam."
Alex melihat kantong penyimpanan yang memiliki kemampuan mirip dengan inventory miliknya. Sebelumnya ia telah melihat Timothi dan kelompoknya memakai kantong tersebut untuk mengumpulkan tanaman herbal yang akan dijual kepada para pedagang.
"Kita akan membicarakan uang ini nanti. Sekarang kita harus memberikan obat yang kamu buat terlebih dahulu kepada Nina." Owen mengubah topik pembicaraan mereka agar segera mengobati Nina yang sedang sakit.
__ADS_1
"Tentu saja kepala desa. Kita harus mendahulukan Nina daripada koin emas." Alex mengangguk setuju setelah mendengar perkataan Owen.