
"Sepertinya mereka menemukan ruang bawah tanah. Kita tidak bisa menjebak mereka lagi dengan tuduhan menghancurkan propertimu."
"Tolong bunuh mereka semua tuan pendeta biru. Jika dibiarkan begitu saja, identitasku akan terbongkar dan tidak diterima lagi di kota ini."
"Itu cukup sulit. Aku sudah mempersiapkan seratus makhluk terkutuk untuk mengantisipasi keadaan ini. Namun aku tidak yakin apakah itu cukup untuk membunuh kelimanya."
"A-Aku akan memberikan seribu emas kepada tuan pendeta biru sebagai tanda terimakasih."
"Hahahaha, kau memang pedagang yang pintar! Baiklah, aku juga akan turun tangan mendukung makhluk-makhluk itu membunuh kelimanya."
Pedagang itu menghela nafas dengan pahit. Keuntungan yang didapatnya selama enam bulan membantu Gereja Bintang Darah adalah dua ribu koin emas.
Dengan kejadian ini, dia telah berjanji untuk menyerahkan lima puluh persen dari uang haram tersebut kepada pendeta biru di depannya.
'Guild petualang sialan! Malam ini tiga tuan emas yang kalian bangga-banggakan di kota Xyras akan binasa!"
*****
Alex dan yang lain mengelilingi sebuah jalan rahasia yang menuju ruang bawah tanah.
Jalan rahasia itu tersembunyi dibelakang sebuah rak lemari obat-obatan, setelah kelimanya menelusuri lantai pertama untuk menemukan jalan yang menuju ke bawah.
Seperti biasa, Jean melemparkan batu cahaya menuruni tangga untuk menerangi jalan mereka.
"Aku akan memimpin di depan."
Christopher melangkah menuruni tangga dengan sebilah pedang bersiaga di kedua tangan, diikuti oleh Mina, Jean, Alex, dan Big Three di bagian paling belakang.
Di ujung tangga, kelimanya menemukan sebuah ruangan luas yang mengeluarkan bau obat-obatan.
Empat batu cahaya menerangi ruangan di keempat sudut dinding ruang tersebut, dan sebuah batu cahaya dengan diameter yang cukup besar menggantung di bagian tengah-tengah langit ruangan.
"Ada jalan di sana!"
Mina menunjuk dinding yang berseberangan dengan mereka. Terlihat sebuah jalan berupa terowongan yang terputus oleh kegelapan hitam.
Grrrr...
"Sesuatu mendekat!"
Kelimanya memasang posisi bertarung ketika mendengar suara geraman dari arah terowongan tersebut.
Mereka mendengar suara langkah kaki berlari yang berasal dari arah terowongan. Tidak hanya satu, mereka mendengar banyak langkah yang menyebabkan suara-suara tersebut saling bergema di dalam ruangan.
Sesosok makhluk dengan seluruh penampilan tubuh hitam pekat mulai terlihat di bagian terowongan yang terkena cahaya dari ruangan, makhluk itu diikuti oleh makhluk-makhluk lain yang serupa dibelakangnya.
Dor!! Dor!!
"Itu makhluk terkutuk. Kita akan kesulitan bertarung di ruangan tertutup, ayo kita kembali ke atas!"
Alex mengeluarkan dua tembakan membunuh makhluk terkutuk terdepan, lalu memperingatkan yang lain untuk kembali ke atas terlebih dahulu.
__ADS_1
Alex merasakan hembusan angin dan melihat tubuh besar yang berlari menyerbu ke arah terowongan.
"Kalian kaburlah lebih dulu. Tanganku sudah gatal sejak tadi."
Mendengar kata kabur dari Big Three, Mina dan Christopher agak tersinggung. Keduanya saling memandang dengan senyum yang tersungging dibibir, lalu mengangguk dan berlari mengikuti punggung besar Big Three.
"Hahh... Mereka sulit diajak bekerja sama."
"Cepatlah Leon, apa kau ingin tertinggal?"
Alex menggelengkan kepala ketika melihat Jean yang juga berlari mengikuti ketiganya.
Tubuh besar Big Three tidak menghalangi kecepatan larinya yang cepat. Sebelum para makhluk terkutuk sampai di ujung terowongan, dia telah sampai terlebih dulu lalu menghentakkan kedua telapak tangannya ke arah tanah. "Dinding paku"
Sebuah dinding naik dari permukaan tanah menutupi seluruh jalan masuk terowongan ke dalam ruangan.
Zleb!!! Zleb!!! Zleb!!!
Alex yang telah mendekati keempatnya mendengar suara daging tertusuk oleh benda tajam dibalik dinding tanah yang baru dibuat Big Three.
"Sekarang!"
Dinding tersebut hanya bertahan dalam waktu tiga detik sebelum mulai menghilang secara perlahan.
Menanggapi teriakan Big Three, Mina mengalirkan mana pada tongkatnya lalu mengarahkan tongkat tersebut ke arah dinding yang mulai menghilang.
"Gelombang pasang."
Wussssssh.....
Alex melihat tiga tubuh makhluk terkutuk dipenuhi banyak lubang akibat benturan dengan sihir Benzir, sebelum mereka beserta kumpulan makhluk terkutuk dibelakangnya terseret oleh sihir air Mina.
"Pertahankan posisi di mulut terowongan. Jangan biarkan mereka lolos agar kita tidak terkepung!"
Tak!!! Tak!!! Tak!!!
"Gawat, mereka juga bermunculan dari arah tangga yang kita lalui tadi."
Jean berteriak memperingati yang lain.
"Kita bertiga akan menghadapi mereka. Big Three, Mina, kalian tetap menahan makhluk terkutuk yang datang melalui terowongan!"
Christopher melesat lebih dulu meninggalkan Alex dan Jean yang masih berdiri di mulut terowongan.
Keduanya saling memandang lalu melesat mengikuti Christopher yang mulai menyerbu musuh.
Alex mengeluarkan tongkat logam sebagai senjatanya. Sehari sebelumnya, tubuh utama telah membeli senjata tersebut dari Benzir untuk mempersiapkan penyerangan ini.
Alex mengalirkan sejumlah mana ke dalam tongkat dan memukul satu kepala musuh terdekat. Kemudian dia menyandarkan kepalanya ke belakang untuk menghindari serangan mendadak dari tinju makhluk terkutuk di kanannya.
Dia bahkan tidak melirik kepalan tangan yang melewati bahunya. Sebagai gantinya, dia mengayunkan tongkat logam, memukulnya ke arah pinggang dan menghempaskan makhluk tersebut ke kumpulan makhluk terkutuk di belakangnya.
__ADS_1
Visi Alex meluncur, dan bagian jalur hempasan makhluk itu menjadi kosong. Makhluk yang terhempas menyeret enam lainnya bersama ke sudut ruangan.
Jean muncul di belakangku beberapa saat kemudian. Belatinya keluar, tapi Alex memberinya isyarat untuk tenang.
Alex mengeluarkan pistol yang disimpannya lalu mengarahkan moncong pistol ke tujuh makhluk terkutuk yang bertumpuk di sudut.
Dor!!! Dor!!! Dor!!!
Pistol itu mengeluarkan empat belas tembakan yang tepat mengenai kepala masing-masing makhluk terkutuk.
Tujuh makhluk terkutuk itu diam tak bergerak memastikan kehidupannya telah berakhir.
Alex mengembalikan pistol ke dalam inventory dan membiarkan tubuh utamanya di sisi lain untuk mengisi kembali amunisinya. Dia tidak ingin menghemat satupun peluru miliknya di tengah-tengah situasi yang hiruk pikuk ini.
Saat Alex mengalihkan pandangan ke kiri, dia terkejut melihat jumlah makhluk terkutuk yang sudah memasuki ruangan.
Berdiri di depan puluhan makhluk terkutuk adalah Christopher, rambut pirangnya berkibar seperti bendera di tengah gerakan cepatnya menebas musuh menggunakan pedang.
Wossssh.....
"Hati-hati!!!"
Dari belakang Alex, Jean berteriak ketika dia melihat sebuah bola api melesat dengan cepat menuju Christopher.
Christopher terlalu fokus menyerang gerombolan makhluk terkutuk di depannya. Disaat dia mendengar teriakan Jean, dia baru menyadari sihir api yang melesat beberapa meter sebelum mengenainya.
"Tembok angin."
Jean dengan sigap mengeluarkan sihir angin yang membatasi Christopher dan bola api di udara. Meskipun begitu, dampak serangan bola api tersebut hanya berkurang setengahnya.
Booom.....
Christopher terpental dari tempatnya berdiri ke bagian tengah ruangan. Dia cukup beruntung karena makhluk terkutuk masih belum memenuhi area tersebut sehingga dia dapat memulihkan diri dari serangan tersebut.
"Apa kau baik-baik saja?"
Alex cukup khawatir dengan keadaan Christopher. Untung Jean bisa memasang penghalang angin tepat waktu. Jika tidak, serangan penuh sihir api barusan cukup untuk melumpuhkan Christopher.
"Tidak terlalu parah. Aku membawa ramuan pemulihan untuk menyembuhkan lukaku. Waspadalah! Sepertinya ada anggota Gereja Bintang Darah yang sedang bersembunyi."
Alex mendengar suara Christopher dari balik asap sisa dampak serangan sihir api tadi. Setelah memastikannya aman, dia kembali mengarahkan tongkat logamnya ke kumpulan makhluk terkutuk.
"Sepertinya seranganku gagal. Itu sangat disayangkan."
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga yang mengarah ke ruang bawah tanah. Mengikuti langkah kaki, suara berat seorang pria terdengar menertawai keadaan mereka.
Ketiganya segera fokus terhadap sosok tersebut. Jubah bertudung dengan warna biru gelap menyelimuti seluruh tubuh dari sosok yang menuruni tangga secara perlahan.
"Pendeta biru!"
Jean mengepalkan tangan dengan keras pada masing-masing pegangan belati di kedua tangannya.
__ADS_1