
Elisa tertawa sinis, "Pengkhianat? Apa maksudmu dengan pengkhianat? Bukankah kalian yang bodoh dengan membiarkanku menyusup ke guild petualang dengan begitu mudahnya?"
Zeff menggertakkan giginya dengan kesal. Dia sudah menduga ada orang dalam guild yang memberikan informasi kepada Gereja Bintang Darah sebelumnya.
Seingatnya, orang-orang yang mengetahui rencana penyerbuan alkemis jenius semalam, selain dia dan lima orang yang melaksanakan misi tersebut adalah keempat resepsionis di depannya.
Setelah mendengarkan seluruh situasi penyerangan dari Big Three dan lainnya, dia memiliki sebuah dugaan. Bagaimana jika ada anggota Gereja Bintang Darah yang menyusup diantara mereka?
Mengapa sang alkemis jenius tidak ditemukan di tempat persembunyiannya? Mengapa terdapat seratus makhluk terkutuk yang menunggu mereka di ruang bawah tanah bangunan tersebut seolah-olah Gereja Bintang Darah sudah mengetahui penyerangan tersebut?
Melihat luka yang didapatkan Alex dan keempat lainnya selama penyerbuan tersebut, dia ingin menyangkal bahwa ada yang berkhianat diantara kelimanya. Jadi dia memastikannya terlebih dahulu dengan keempat resepsionis yang mengetahui rencana penyerbuan alkemis jenius semalam.
Benar saja... Dia tidak menyangka Elisa yang sudah bekerja selama lima tahun disini ternyata merupakan seorang anggota Gereja Bintang Darah yang menyusup!
"Selain itu perkataanmu tadi membuatku menjadi sangat kesal. Mengapa kau mengotori nama tuan Jack yang agung? Dasar keparat!"
Tekanan yang dikeluarkan Elisa semakin berat seiring dengan emosinya yang memuncak. Disampingnya, Aya dan dua resepsionis yang lain sudah tergeletak pingsan di lantai.
Zeff menggertakkan gigi dengan kuat menahan tekanan tersebut. "Siapa kau sebenarnya?"
"Aku? Hahahaha, aku adalah pelayan setia tuan Jack yang agung, diaken hitam Elisa. Bahkan artefak guild tidak dapat mendeteksi tingkat kekuatanku yang sebenarnya selama ini. Kalian sungguh bodoh!"
Mata Zeff melebar mendengar posisi Elisa yang tinggi di Gereja Bintang Darah. Menurut informasi yang dia dengar, diaken hitam memiliki tingkat kekuatan yang sebanding dengan petualang tingkat mithril.
"Apa yang kalian rencanakan disekitaran Great Forest selama beberapa waktu ini?"
"Hahahaha... Apa kau pikir aku bodoh? Aku tidak peduli untuk membuka identitas diriku yang sebenarnya. Tapi apa menurutmu aku tidak merasakan dua orang yang bersembunyi sejak tadi?"
Wussssssh... Tang!!!
Dari arah satu-satunya pintu ruangan, dua bayangan melesat dengan cepat menuju Elisa.
Satu sosok menyerang Elisa dengan sebilah pedang dan sosok lain membawa ketiga resepsionis yang pingsan menjauh dari sana.
"Mundurlah Odorin!"
Mendengar teriakan rekannya yang berada disisi Zeff, wanita yang bertarung dengan Elisa bergegas mundur dan bergabung dengan mereka.
Kemudian pria yang berteriak tadi menangkupkan kedua tangannya ke tanah. "Penjara tanah."
Lantai di sekitar Elisa bergetar, lalu dari bawah tanah, muncul sebuah penjara yang mengurung Elisa dengan sekejap mata.
"Kita dapat tangkapan yang bagus. Sepertinya keberuntunganku sedang tinggi sehingga bisa menemukan seorang diaken hitam disini."
"Jangan gegabah Melbach. Cepat bunuh dia selagi terperangkap di dalam penjaramu!"
"Apa maksudmu? Penjara buatanku sangat kokoh. Dia tidak akan bisa keluar tanpa ijinku. Kau tidak perlu khawatir....."
Tang!!!
Odorin menangkis serangan diam-diam yang mengarah ke Zeff di dekatnya. "Dasar Melbach bodoh. Jangan menganggap remeh diaken hitam!"
"Hahahaha, sepertinya wanita disana adalah yang paling merepotkan." Sesosok bayangan muncul diluar penjara yang dibuat Melbach.
"Ba-bagaimana kau keluar dari penjara yang kubuat?"
"Tenanglah Melbach. Diaken hitam ini memiliki sihir bayangan yang merupakan bagian dari sihir hitam."
"Kau tahu banyak juga ya. Hahhh, sayang sekali Zeff. Padahal aku berniat membunuhmu hari ini, tapi sepertinya itu sedikit sulit dengan kedua petualang tingkat mithril itu disini."
Elisa memperhatikan Odorin dengan serius. Beberapa detik pertempuran mereka membuatnya memahami kekuatan fisik dari wanita tersebut. Meskipun dia belum memastikan kekuatan penuh Odorin, instingnya mengatakan bahwa dia harus mundur saat ini.
"Melbach, segera segel ruangan ini sepenuhnya!"
__ADS_1
Sebelum Melbach bereaksi atas perkataan Odorin, sosok Elisa berubah menjadi bayangan yang menyatu dengan lantai dan melesat meninggalkan ruang bawah tanah.
"Sial, dia berhasil kabur."
"Ayo kita kejar wanita sialan itu!"
"Tidak perlu. Jika pengguna sihir bayangan berhasil melarikan diri, akan sangat sulit untuk menangkapnya kembali."
Odorin memperhatikan kondisi Zeff dan berjalan mendekatinya. "Kau baik-baik saja Zeff?"
"Tidak perlu mengkhawatirkanku Odorin. Walaupun tubuhku sudah tua, aku tetaplah mantan peringkat emas. Selain itu, mari kita rawat ketiga wanita ini."
Odorin dan Melbach mengangguk lalu membawa ketiga resepsionis yang pingsan ke lantai tiga. Setelah mereka diberikan perawatan yang tepat, Zeff mengajak keduanya membahas hal tadi di ruang kerjanya di lantai dua.
Beberapa jam yang lalu, Melbach dan Odorin sebenarnya sudah tiba di kota Xyras melalui sihir ruang dari seorang Numbers. Namun setelah mendengar pemikiran Zeff mengenai adanya kemungkinan pengkhianat dari guild, ketiganya sepakat untuk tidak menginformasikan kedatangan Melbach dan Odorin, serta membuat sebuah rencana untuk menjebak sang pengkhianat tersebut.
Jebakan tersebut berjalan dengan baik dan mereka berhasil mengungkapkan pengkhianat yang menyebarkan informasi. Namun diluar dugaan, pengkhianat itu ternyata adalah seorang diaken hitam yang memiliki kekuatan tinggi serta sihir yang unik.
"Bagaimana dengan kelima orang yang kau sebutkan sebelumnya? Apa ada kemungkinan salah satu diantara mereka merupakan anggota Gereja Bintang Darah?"
"Jika mereka kembali kesini setelah menyelesaikan tugas yang kuberikan, kita dapat menghilangkan kecurigaan terhadap mereka. Lagipula tidak mungkin Elisa membiarkan bawahannya kembali ke sarang harimau nanti."
Odorin dan Melbach mengangguk menyetujui ucapan Zeff. Kemudian ketiganya melanjutkan untuk menyusun rencana mereka kedepannya.
***
Satu jam setelah meninggalkan guild, Alex dan Jean telah tiba di dekat rumah yang merupakan tempat persembunyian anggota Gereja Bintang Darah.
"Apa kita harus menyerangnya sekarang juga?"
"Kau takut dengan para penjaga yang berpatroli?"
"Bukan itu, aku hanya khawatir para warga yang berkeliaran disekitar bangunan ini terkena serangan acak."
Alex setuju dengan pendapat Jean. Namun mengingat rencana mereka untuk melakukan serangan rahasia, dia mengerti dengan keputusan yang dibuat oleh Zeff.
Kemudian dia mengeluarkan pistol dari inventory miliknya. "Aku akan membunuh lima murid abu-abu secepat mungkin. Selama waktu itu, jangan biarkan pendeta biru mengeluarkan serangan yang membahayakan warga sekitar."
"Baiklah, serahkan saja padaku."
Tok tok tok...
Seorang pria membuka pintu rumah dan bertatap muka dengan Alex. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa benar ini rumah Levoz?"
"Benar, aku adalah Levoz. Ada apa kau mencariku?"
"Ohh... Aku hanya ingin membunuh pendeta biru dan lima murid abu-abu di rumah ini."
Dor!!!
Sebuah peluru melubangi kepala murid abu-abu Levoz.
"Apa yang kau lakukan kepada Levoz?"
Seorang wanita berteriak dari dalam rumah ketika melihat Levoz bersimbah darah di lantai.
"Dia pendeta biru Siren!"
Jean melesat dari belakang Alex dan mengayunkan belatinya ke leher Siren. Siren yang berhati-hati setelah melihat kondisi Levos, berhasil menghindari serangan tersebut dengan selisih yang tipis.
Kemudian dia berteriak kepada empat murid abu-abu yang bersembunyi. "Apa yang kalian tunggu? Cepat keluar dan bantu aku menyingkirkan kedua bajingan ini!"
__ADS_1
Seorang wanita berlari dengan cepat menuju Alex dan mengarahkan sebilah pisau kepadanya. "Matilah kau iblis jahat."
Alex merasa kasihan dengan wanita ini. Melihat tingkat kekuatannya yang tidak berbeda jauh dengan manusia biasa, dia merasa bahwa wanita ini belum membunuh banyak orang. Berdasarkan informasi dari Jean, bahkan terdapat orang-orang baik di Gereja Bintang Darah yang pada dasarnya dicuci otak sehingga pandangannya terhadap dunia berubah.
Menghilangkan perasaan masam dihatinya, Alex menembakkan sebuah peluru yang tepat mengenai bagian diantara kedua pelipis wanita tersebut.
Dor... Brak!!!
Wanita itu terseret beberapa langkah akibat momentum berlari sebelumnya. Darah mengalir deras dari lubang yang tercipta di kepalanya dan mewarnai bagian lantai tersebut menjadi merah kehitaman.
'Setidaknya kau bisa mati tanpa merasakan sakit sedikitpun.' Alex memejamkan matanya dan mengarahkan pistol ke atas.
"Apa yang kau lakukan kepada Vina?"
Dor!!!
Pria yang berusaha menyelinap menyerang Alex dari atas langsung mengalami nasib yang sama dengan wanita sebelumnya.
Di dekat Jean, Dua murid abu-abu mendekati pertarungan untuk membantu Siren dengan mengalihkan perhatian Jean.
"Jangan memunggungi aku dasar bodoh."
Dor!!! Dor!!!
Kedua murid abu-abu tersebut langsung tergeletak di lantai tanpa menyadari apa yang baru saja terjadi.
"Apa... Apa yang telah kau lakukan kepada mereka?"
Pendeta biru Siren menjaga jarak dari Jean dan menanyai Alex yang telah membunuh bawahannya dengan sekejap mata.
"Apa maksudmu? Aku baru saja membunuh lima murid abu-abu. Ada yang salah dengan itu?"
"Dasar bajingan!"
Pendeta biru Siren mengalirkan mana ke kedua tangannya kemudian menangkupkan kedua telapak tangan ke depan.
"Jangan biarkan dia mengeluarkan sihirnya!"
Mendengar teriakan Jean, Alex langsung mengarahkan pistolnya ke kepala Siren dan mengeluarkan tiga tembakan.
Dor... Dor... Dor...
Siren tidak mengamati bagaimana cara Alex membunuh kelima murid abu-abu sebelumnya. Berkat peredam suara pada pistol Alex, suara tembakan yang dikeluarkan bahkan tidak terlalu bising.
Namun karena instingnya yang tinggi, dia berhasil mengindari ketiga peluru yang ditembakkan dengan selisih tipis.
Srekkk!
Peluru ketiga berhasil menyerempet pelipis kiri Siren sehingga membuyarkan konsentrasinya.
"Sialan, kau memakai artefak serangan!"
"Ada masalah dengan itu?"
Alex tersenyum sinis dan kembali mengeluarkan lima tembakan beruntun.
Dor... Dor... Dor...
Di sela-sela perhatian Siren terhadap tembakan Alex, Jean menyelinap ke samping Siren dan mengalirkan mana ke kedua belati miliknya.
"Terima ini, pisau angin ganda!"
"Ti-tidaaaak....."
__ADS_1
Zrassshh.....