Berdagang Dengan Dunia Lain

Berdagang Dengan Dunia Lain
Penyerangan (4)


__ADS_3

Suara ledakan disertai getaran kecil melanda ruang bawah tanah tersebut. Karena dinding tanah yang dibuat Alex sebelum meninggalkan mulut terowongan cukup tebal, dinding tersebut hanya mengalami retakan besar sebelum itu benar-benar menghilang.


Alex, Big Three, dan Mina berjalan perlahan ke arah mulut terowongan setelah mereka memastikan semua sudah aman.


Kegelapan hitam telah tergantikan api yang menyelimuti seluruh jalan terowongan. Potongan tubuh makhluk terkutuk terlihat berserakan disepanjang terowongan tersebut, dengan api yang masih menggerogoti daging dengan ganas.


"Apa yang baru saja kau lakukan?"


Ekspresi Mina terlihat datar karena tidak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Itu adalah sihir pamungkasku, hahahaha." Alex menjawab dengan tawa kering.


"Selain itu, bukankah sebelumnya kau juga menggunakan sihir elemen tanah?


"Ohh... Itu benar, maafkan aku karena menyembunyikannya dari kalian."


Big Three hanya menghela nafas dengan tanggapan Alex.


"Bagian ini sepertinya sudah selesai. Ayo kita bantu Christopher dan Jean menyelesaikan yang tersisa!"


Alex dan Mina menanggapi Big Three dengan anggukan sebelum ketiganya berlari menuju sisi lain ruangan tersebut.


*****


Sambil mempertahankan serangan bola api dari pendeta biru, Christopher dan Jean berhasil menyingkirkan beberapa makhluk terkutuk disekitar mereka.


Alex menghitung jumlah makhluk terkutuk yang tersisa saat ini hanya berjumlah sepuluh saja.


Dia mendekati keduanya lalu mengayunkan tongkat logam yang dialiri mana dan memukul kepala salah satu makhluk terkutuk sekuat tenaga.


Bam...


Alex menghiraukan darah hitam yang memercik ke tubuhnya lalu menendang tubuh makhluk lain menjauh. "Aku akan membantu. Semua makhluk terkutuk dari terowongan sudah berhasil diatasi."


Keduanya lega melihat kedatangan Alex. Meskipun jumlah makhluk terkutuk yang tersisa sedikit. Mereka harus menanggung serangan yang dikeluarkan oleh pendeta biru.


Christopher mengeluarkan dua botol ramuan pemulihan dan menyerahkan salah satunya kepada Jean. "Minumlah."


Jean tidak menolak pemberian Christopher. Dengan kondisi tubuhnya yang dipenuhi luka, dia harus memulihkan keadaannya agar dapat membantu semaksimal mungkin.


"Mina, padamkan api yang mengelilingi pendeta biru ini. Aku akan mendekatinya dan menyerang secara langsung."


"Jangan langsung menyerang. Aku akan mencobanya dulu dan melihat bagaimana hasilnya nanti."


Big Three mengangguk paham dengan jawaban Mina. Jika ternyata sihir airnya tidak berguna, maka menyerang pendeta biru secara langsung adalah langkah yang ceroboh.

__ADS_1


Mina mengeluarkan batu sihir ketiga dari cincin penyimpanan dan mengganti batu sihir kedua yang terpasang pada tongkatnya.


Kemudian dia menghentakkan tongkat sihir ke tanah sambil berteriak dengan keras. "Gelombang pasang. Kendalikan."


Berbeda dengan serangan di terowongan sebelumnya, gelombang yang dia buat kali ini tidak langsung menerjang maju ke arah musuh.


Dia mengendalikan gelombang tersebut untuk mengelilingi seluruh area luar kobaran api yang membara disekitar pendeta biru, sebelum mengayunkan tongkatnya seirama dengan gelombang air yang berhamburan untuk memadamkan kobaran api.


Atau itulah yang keduanya pikirkan. Wajah mereka terkejut melihat kobaran api yang muncul kembali tidak sampai tiga detik setelah api sebelumnya padam.


"Dia menciptakan sihirnya kembali setelah api sebelumnya padam."


Mina menggeram dengan frustasi. Dia mengulang kembali sihir sebelumnya untuk memadamkan api yang baru muncul. Lagipula setengah dari jumlah mana yang dia butuhkan untuk sihir tersebut diambil dari batu sihir pada tongkatnya.


Setelah tiga kali gagal, Big Three menghentikan percobaan keempatnya. "Tahan dulu. Zeff pernah memberitahuku kemampuan anggota Gereja Bintang Darah yang menggunakan teknik terlarang. Jika kau mencoba menghabiskan cadangan mananya, maka kau akan kalah."


Big Three memberitahu informasi yang dia dengar dari Zeff. Gereja Bintang Darah melakukan sebuah sihir terlarang yang mengumpulkan jiwa manusia dan mengekstraknya kedalam suatu wadah. Mereka dapat menggunakan wadah tersebut sebagai pengganti cadangan mana yang dibutuhkan untuk mewujudkan sihir mereka.


Dibandingkan memakai batu sihir yang membagi dua jumlah mana yang diperlukan pemakai, teknik terlarang itu dapat memasok seluruh biaya mana yang diperlukan!


Namun karena cara yang diperlukan untuk membuat wadah teknik tersebut, seluruh kerajaan serta kekaisaran melarang penggunaan teknik itu dan menjadikannya sebuah teknik terlarang.


"Buatlah sebuah gelombang besar dan pertahankan airnya selama mungkin setelah apinya padam. Secepat mungkin aku akan mengalahkannya disela-sela waktu yang ada."


Sshhhhh.....


Pendeta biru tentu tidak diam saja membiarkan keduanya membuat sebuah rencana. Mina membuat sebuah penghalang air untuk menahan tiga bola api yang ditembakkan pendeta biru.


"Aku mungkin dapat mempertahankan airnya selama sepuluh detik sebelum manaku habis."


"Itu sudah cukup."


Meskipun sihir air memerlukan mana yang lebih sedikit dibandingkan sihir tanah, volume air yang dihasilkan Mina jauh lebih besar daripada tembok paku yang dibuat oleh Big Three selama mempertahankan terowongan.


Mina juga menyesuaikan jumlah batu sihir yang dia bawa dengan cadangan mananya. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, cadangan mananya akan terkuras habis setelah mana yang terkumpul di dalam keempat batu sihirnya sepenuhnya kosong.


"Gelombang pasang....." Mina menciptakan gelombang air yang besar sesuai dengan kemampuan maksimal yang bisa dia kendalikan lalu berteriak, "Kendalikan!"


Ssshhhhh.....


Big Three mengalirkan sejumlah kecil mana pada kedua kakinya lalu melesat maju di tengah kabut air yang tercipta.


"Peluru api."


Tiga bola api ditembakkan berturut-turut ke arah Big Three. Big Three menyilangkan kedua lengannya menutupi bagian wajah ketika melihat jalur serangan tersebut.

__ADS_1


Zrash... Zrash... Bommm!!!


Big Three tidak berhasil menghalau bola api ketiga dengan kedua lengannya. Dia tetap melaju sambil menggeram menahan rasa sakit pada bagian perutnya yang mulai mengalami luka bakar.


Big Three muncul di depan pendeta biru beberapa saat kemudian. Dia mengayunkan lengannya yang kekar menuju bagian perut pendeta biru tersebut.


Bukkk.....


Pendeta biru berhasil menghalau tinju Big Three dengan tongkat sihirnya. Meskipun begitu, kedua lengannya mengalami rasa sakit yang tajam akibat dampak benturan tersebut.


Disinilah keunggulan Big Three terlihat. Fisiknya yang kuat memungkinkannya untuk mengambil keuntungan dalam pertarungan jarak dekat.


Dia memutar dan menarik kembali tinjunya, melayangkan pukulan yang bertubi-tubi ke arah pendeta biru di depannya.


Dash... Dash... Dash... Dash...


Walaupun fisik pendeta biru lebih lemah, dia tetap dapat menghalau semua serangan Big Three.


Pepatah mengatakan, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Hal ini juga berlaku terhadap penyihir. Tubuh seorang penyihir juga bertambah kuat seiring dengan tingkatan mereka dalam pengendalian mana.


Tentu saja rasionya berbeda untuk setiap orang. Seperti halnya Big Three. Selain berlatih sihir, dia juga melatih tubuhnya dan menjadikan serangan fisik sebagai senjata utama dalam pertarungan.


Rasa sakit yang dirasakan pendeta biru mulai bertambah seiring dengan pukulan bertubi-tubi dari Big Three.


Kemudian Big Three memutar tubuhnya dengan cepat dan melayangkan tendangan ke bagian perut pendeta biru.


Pendeta biru tidak berhasil menahan tendangan tersebut. Dia terpental ke sudut ruangan dan mengeluarkan batuk darah dari mulut serta hidungnya. "Uhuk... Uhuk... Hahahaha, kau melakukan kesalahan. Kau malah mengeluarkanku dari jangkauan sihir air wanita itu!"


Pendeta biru berteriak histeris, melontarkan frustasi akibat luka yang ditimbulkan oleh serangan kuat Big Three.


"Domain kegelapan."


Dia kembali menciptakan kobaran api yang membentuk seperempat lingkaran di sekelilingnya.


"Ini kekalahan kalian! Aku tahu wanita itu sudah kehabisan mana. Aku akan membunuh kalian semua dan....."


Dor!!!


Sebuah peluru melesat mengenai bahu kanan pendeta biru.


"Ahhhhh..."


Pendeta biru berteriak kesakitan sehingga konsentrasinya buyar. Aliran mana yang dia salurkan melalui tongkat sihir berhenti, sehingga kobaran api yang baru saja dia buat beberapa saat lalu padam.


"Sepertinya kedatangan kami tepat waktu. Semua makhluk terkutuk yang tersisa sudah berhasil kami habisi."

__ADS_1


__ADS_2