
Planet Biru.
Alex menatap matahari pagi yang muncul di ufuk timur dari balkon kamarnya di lantai enam.
"Hai Alex, apa tidurmu nyenyak?"
Beberapa meter jauhnya dari posisi Alex, Helen berteriak sambil melambaikan tangan.
"Tentu saja. Tempat ini sungguh bagus."
"Bagaimana kalau kita turun ke lantai satu dan sarapan?"
Alex memberi isyarat oke dengan tangan kanannya.
Membuka pintu kamarnya, Alex tidak hanya menemukan Helen di koridor. Terlihat Dino yang sedang bersandar ke dinding sambil memejamkan matanya dengan kedua tangan terlipat di dada. "Kalian berdua sangat berisik! Apa kalian tidak sadar kalau itu akan mengganggu yang lain?"
"Tidak masalah. Lagipula hanya kita bertiga yang tinggal di lantai enam sekarang."
"Apa dua kamar yang lain kosong?"
"Bukan begitu. Sebelumnya kamar yang kosong hanyalah kamar yang kau tempati saat ini. Dua kamar lainnya diisi oleh Catherine dan Veronica yang biasanya tidur di asrama sekolah khusus perempuan."
Ketika Helen dan Dino membawa Alex ke kamarnya, Alex terkejut mengetahui bahwa ruangan yang akan dia tempati sangat luas. Dino mengatakan kalau di gedung ini, tempat tinggal para anggota dari lantai enam hingga sepuluh memiliki lima kamar untuk masing-masing lantainya.
Karena Alex masih harus merapikan barang-barang yang dia bawa, mereka tidak berbicara banyak pada malam sebelumnya.
'Catherine? Veronica? Bukankah itu nama perempuan?' Alex memandangi Dino dengan kagum.
Memperhatikan tatapan aneh dari Alex, Dino tiba-tiba memikirkan sesuatu dan menyadari apa yang Alex pikirkan. "Jangan anggap aku seperti itu. Meskipun sebelumnya aku adalah satu-satunya laki-laki disini, aku belum pernah berbuat yang aneh kepada mereka."
"Belum? Maksudnya kau ingin berbuat sesuatu sebelumnya?"
"Apa yang kalian bicarakan disana? Cepat masuk ke dalam lift!"
"Ba-baik Helen! Alex, jangan bicarakan itu lagi disini."
"Hahaha, tenang saja. Mulutku dapat terkunci dengan harga yang murah."
Setelah menyelesaikan sarapan, ketiganya berangkat bersama menuju sekolah mereka. Jarak markas Chryso Dory dan sekolah hanya berkisar dua kilometer, sehingga mereka tidak perlu menaiki bis ataupun kendaraan lainnya.
Kelas pertama diisi oleh guru biologi. Meskipun Alex tidak berniat melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, dia tetap mendengarkan penjelasan guru di depan. Lagipula, siapa tahu ilmu yang diterimanya hari ini dapat bermanfaat kedepannya.
***
__ADS_1
Sepulang sekolah, Alex kembali ke markas untuk mengambil sepeda motor bututnya.
Benzir sudah berjanji menyediakan stok buku kepadanya hari ini. Untuk itu, dia harus pergi ke bank dan mengambil uang dari tabungannya.
Setelah mengambil nomor antrian, Alex mencicipi makanan ringan yang disediakan secara gratis oleh pihak bank.
Kriuk... Kriuk...
'Hmm... Ini lumayan enak. Karena tidak ada yang memakannya, aku akan membawa ini ke tempat dudukku.' Dia membawa piring berisi makanan ringan ke bangkunya tanpa mempedulikan pandangan dari orang lain.
Disaat menikmati makanan ringan, Alex terganggu dengan sejumlah orang yang berpakaian serba hitam serta mengenakan topeng menerobos pintu masuk bank.
"Kalian semua tiarap! Tiarap!"
Dor... Dor... Dor...
Pria di depan menembakkan senjatanya ke atas untuk menakuti kerumunan orang di dalam bank.
"Kyaaa... Rampok, ada perampokan!!!"
"Kubilang tiarap! Jika kalian terus berteriak, aku akan melubangi tubuhmu saat ini juga."
'Apa ini? Mereka merampok bank secara terang-terangan di pusat kota, apa mereka menghiraukan petugas kepolisian?'
Mengikuti yang lain, Alex merapatkan tubuhnya ke lantai dan menangkupkan kedua tangan di atas kepala.
Di sudut matanya, Alex memperhatikan seorang wanita mengendap-endap mendekati seorang perampok yang agak jauh dari rekan-rekannya.
Kemudian wanita itu mengunci leher sang perampok dengan tangan kiri. Dengan tangan kanannya, dia menodongkan pistol ke kepala perampok itu dan berteriak, "Turunkan senjata kalian. Jika tidak, aku akan membunuh orang ini!"
"Hohoho wanita cantik, berani juga kau melawan kami. Bunuh saja orang itu kalau kau mau. Tapi jika kau melakukannya, kami akan membunuh sepuluh orang disini sebagai gantinya."
Alex merasa bahwa dia tidak bisa tinggal diam lagi. Sebelumnya, dia berniat tidak melakukan apapun dan menyerahkan kasus ini pada kepolisian. Lagipula dia dilarang untuk secara aktif bermain pahlawan seperti di dalam film.
Tetapi jika dia diam saja ketika ada orang lain yang mungkin kehilangan nyawa di depan matanya, hati nuraninya akan bermasalah.
Karena ada cctv di dalam bank, Alex tidak berniat menunjukkan kekuatan yang melebihi batas manusia normal. Diam-diam dia memasukkan tangan ke dalam tas, lalu mengambil pistol dari dalam inventory miliknya.
Kemudian dia mengeluarkan tiga tembakan berturut-turut tepat mengenai tiga lengan perampok yang sedang fokus terhadap wanita tadi.
"Akhhhhh....."
"Ada apa?"
__ADS_1
Dua orang rekan yang menjaga pintu depan bergegas datang ketika mendengar suara teriakan teman-temannya.
Tanpa berbasa-basi, Alex langsung menembak masing-masing kaki kanan keduanya.
Bukk!!!
Keduanya terjerembab ke depan mencium lantai keramik yang licin.
Kemudian Alex menghampiri kelima perampok yang sedang menahan sakit di lantai, dan mengambil semua senjata mereka. Seperti sebelumnya, dia berpura-pura memasukkan senjata itu ke dalam tas untuk mengelabui cctv, sebelum menyimpannya ke dalam inventory.
Ketika dia berniat mengambil senjata perampok yang sedang ditahan oleh wanita tadi, wanita itu malah meneriakinya dengan ganas. "Jangan mendekat. Sebutkan identitasmu dulu!"
Alex tidak mempedulikan ucapan wanita itu. Lagipula dia sudah menyelamatkan wanita ini dan orang-orang di dalam bank. Bukannya wanita ini berterimakasih, dia malah mendengar ocehan ganas dari wanita tersebut.
"Menjauhlah, jika tidak aku akan menembakmu!"
Tangan Alex berhenti tepat menyentuh senjata perampok yang ditahan wanita tersebut. Urat-urat di dahinya menonjol karena menahan amarah di dadanya. Dia menenangkan diri sambil menyimpan senjata itu ke dalam tas secara perlahan, sebelum berkata dengan santai, "Apa kau seorang polisi?"
"Itu benar. Lebih baik kau mematuhi....."
"Itu bagus. Segera hubungi kaptenmu dan tunjukkan kartu ini kepadanya."
Alex memotong ucapan wanita itu dengan tidak sabar. Dia menunjukkan kartu identitas Chryso Dory kepada polisi wanita di depannya, agar situasi tidak menjadi merepotkan.
"Apa ini? Kau pikir dengan kartu ini kau bisa bebas begitu saja? Warga sipil dilarang untuk membawa senjata apapun alasannya. Apalagi kau mengambil semua senjata milik perampok ini. Kau harus ikut denganku untuk dimintai keterangan!"
"Bukankah aku sudah menyelamatkan semua orang? Lagipula para perampok ini juga masih hidup. Aku hanya mengincar tangan mereka saja sebelumnya."
"Aku tidak peduli. Aku akan menjelaskan semuanya kepada kapten untuk memberikan hukuman yang sesuai kepadamu."
Krekk!!!
Wanita itu memukul leher perampok yang dia kunci sejak tadi dan membuatnya pingsan. Karena dia tidak membawa borgol, dia memakai tali yang kuat untuk mengikat kedua tangan serta kaki enam perampok yang tergeletak di lantai.
Selama wanita itu mengikat para perampok, Alex memperhatikan tidak ada satu orangpun yang mendekatinya serta mengucapkan terimakasih. Dia malah melihat sedikit ekspresi takut muncul ketika dia bertatap mata dengan mereka.
Wajar saja. Tidak seperti planet sihir, dunia ini terlihat jauh lebih damai. Setidaknya di permukaan.
Jumlah orang yang pernah bersentuhan langsung dengan kriminalitas tidak sampai satu persen dari total masyarakat.
Alex kembali memperhatikan polisi cantik yang sedang mengikat para perampok. 'Aku tidak sabar melihat perubahan sikapmu nanti ketika tahu bahwa kaptenmu saja menghormatiku.'
Dia berusaha menenangkan emosinya terhadap sikap keras kepala wanita di depannya.
__ADS_1