Berdagang Dengan Dunia Lain

Berdagang Dengan Dunia Lain
Artefak Penyelamat Jiwa


__ADS_3

Tubuh utama Alex melesat menuju Gustaf dan membawanya menjauh, sementara klonnya meminum ramuan pemulihan untuk memulihkan luka-lukanya.


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."


"Apa kau baik-baik saja?" Alex khawatir dengan keadaan Gustaf yang batuk keras dan kesulitan bernafas.


Gustaf tidak ingin menjadi beban Alex sehingga ia mengangguk kepala dengan susah payah agar Alex dapat fokus kepada bahaya di depannya.


Alex kembali mengalihkan pandangan ke arah ketiga monster yang sedang berjuang untuk bangkit berdiri.


"Bukankah kau berkata dapat mengendalikan mereka? Apa yang terjadi pada mereka jika aku membunuhmu?" Alex melontarkan pertanyaan dengan dingin kepada Tio yang terlihat panik di samping ketiga monster.


"Ti-tidak, jangan lakukan itu. Jika kau membunuhku mereka akan semakin mengamuk diluar kendali!"


"Benarkah? Mari kita buktikan apakah ucapanmu itu benar atau tidak." Alex tidak mempedulikan perkataan wanita busuk dihadapannya. Ia mengarahkan pistol ke kepala Tio lalu mengeluarkan satu tembakan dengan akurat.


Bang!!!


Tio memejamkan mata karena tidak mengetahui jenis serangan yang dikeluarkan artefak di tangan Alex.


Yang ia ketahui ialah ketika artefak di tangan Alex mengeluarkan suara keras, sasaran yang dituju akan terluka akibat serangan yang dikeluarkan.


Takkk!


Peluru yang melesat tertahan suatu dinding transparan berwarna merah yang tiba-tiba muncul di depan Tio.


"Ohhh... Ohhh... Ini adalah perlindungan surgawi dari dewa kami hahahaha. Kau tidak akan bisa membunuhku sekarang!" Tio tertawa kegirangan.


Mengerutkan kening karena kesal, Alex tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi? Jika Tio mengatakan itu adalah perlindungan surgawi mereka, maka dinding itu bukanlah sihir buatan Tio. Apakah perlindungan surgawi yang dikatakannya benar-benar ada?


"Kalau begitu, aku tidak perlu membunuhmu. Cukup membunuh makhluk-makhluk ini."


Dengan dingin Alex melesat menuju tiga makhluk terkutuk yang sudah terluka.


"Sialan. Kalian cepat bunuh dia!"


Salah satu dari makhluk itu sudah berdiri dan bersiap untuk menghadapi Alex.


Alex tidak berpengalaman dalam seni bela diri. Jika berkelahi, ia selalu bertarung dengan gaya jalanan dimana tidak ada gaya yang berlebihan maupun peraturan dalam menyerang.


Klon Alex yang tengah memulihkan diri mengambil balok kayu di tengah kekacauan dan langsung ia simpan ke dalam inventory.


Tiga meter dari makhluk terkutuk saat tengah menerjang, Alex mengeluarkan balok kayu dari dalam inventory lalu melayangkannya ke arah kepala.


Brakk!


Makhluk itu berhasil menggeser sedikit kepalanya ke kiri sehingga balok kayu yang dipegang Alex patah akibat menghantam bahu makhluk terkutuk.


Tentu saja serangan itu tidak sia-sia.


Makhluk itu terjerembab kebelakang akibat dampak serangan dan terlihat sedikit darah hitam yang keluar dari bahunya.


'Jika terlalu lama, dua lainnya dapat kembali pulih. Akan berbahaya jika aku melawan ketiganya sekaligus.' Alex kembali mengarahkan pistol ke arah makhluk itu.


Bang!!!


'Tujuh.' Alex menghitung dalam hati jumlah peluru yang tersisa.


Alex langsung berlari menuju dua makhluk yang belum memulihkan diri lalu menembak salah satunya.


'Enam.'


Alex melanjutkan dengan sekuat tenaga memukuli bagian kepala makhluk yang tersisa.


Melihat Alex sudah membunuh dua dari tiga dan terlihat akan membunuh yang terakhir, Tio berusaha kabur dari sana karena sebelumnya ia hanya membawa tiga makhluk untuk mengawal.


'Sialan! Jika tahu akan seperti ini aku tidak akan menyebarkan semua makhluk terkutuk ke seluruh desa.' Tio mengutuk dalam hati.


"Kau kemari!" Tio menemukan satu makhluk di kejauhan.

__ADS_1


Makhluk itu berjalan mendekat dengan tubuh bersimbah darah penduduk desa.


"Buat orang itu sibuk selama beberapa saat!" Perintah Tio mengarahkan jarinya ke arah Alex yang berhasil membunuh makhluk ketiga setelah belasan pukulan kuat di kepala.


Tio langsung kabur dari sana berusaha mengumpulkan banyak makhluk untuk membunuh Alex.


Alex melihat satu makhluk berlari ke arahnya setelah membunuh yang tadi.


'Kali ini aku harus mencoba menghemat peluru yang tersisa.'


Klon Alex sudah memulihkan diri berkat ramuan pemulihan yang ia beli dari Benzir.


Dengan dua tubuh yang saat ini memiliki status serupa, Alex berdampingan dengan klon untuk menghadapi satu makhluk terkutuk dengan tangan kosong.


Alex menahan laju tubrukan dengan klon lalu mengunci kedua lengan makhluk terkutuk dari belakang.


Makhluk terkutuk mengangkat kaki menendang klon lalu membungkukkan badan mengangkat Alex yang mengunci dari belakang.


Bukk!!!


Alex terjatuh ke tanah secara terbalik lalu segera menghindari injakan kaki makhluk terkutuk yang mengincar kepalanya.


'Fisiknya hampir sama denganku yang memiliki nilai vitalitas sepuluh. Dia lebih unggul dalam perkelahian karena tidak mempedulikan keselamatannya.'


Alex menjauh untuk mencari benda kuat yang dapat membantunya dalam perkelahian.


Di samping rumah yang berlubang, Alex menemukan tiga alat pertanian dari logam berupa garpu untuk menggaruk tanah padat.


Ia memasukkan ketiganya ke dalam inventory dan segera berlari membantu klon yang sedang membuat makhluk terkutuk sibuk.


Dengan masing-masing tubuh memegang garpu pertanian, Alex dan klonnya menyerang makhluk terkutuk dari arah berlawanan dengan mengayunkannya sekuat tenaga.


Bam!!!


Serangan Alex berhasil memukul pinggang makhluk terkutuk yang teralihkan akibat menahan serangan garpu milik klon dengan kedua tangan.


Keduanya langsung berlari menghujani makhluk tersebut dengan pukulan bertubi-tubi di sekujur kepala serta tubuhnya.


Buk! Buk! Buk!


Setelah beberapa pukulan, makhluk itu berhasil dibunuh secara brutal tanpa mengeluarkan pistol dari inventory.


Mengangkat tubuh dengan lelah, Alex berjalan menuju Gustaf yang sudah bernafas dengan stabil meskipun masih mengalami luka-luka.


"Alex?" Gustaf bertanya dengan bingung melihat dua tubuh serupa dihadapannya.


Klon satu menjelaskan, "Ini kembaranku, Leon."


"Oh begitu. Terimakasih kalian berdua telah menyelamatkanku." Gustaf berkata dengan sedih.


"Apa yang terjadi?"


"Aku juga tidak tahu darimana makhluk-makhluk itu berasal. Dua dari mereka menerobos rumahku dan memasuki ruangan kedua orangtuaku. Mendengar keributan, aku keluar dari kamar menemui orangtuaku dan melihat dinding kamar sudah hancur. Di luar rumah, kau juga melihat apa yang terjadi kepada orangtuaku. Ayahku..."


"Itu sudah cukup Gustaf." Klon menenangkan Gustaf yang mengingat kematian kedua orangtuanya.


"Tapi aku tidak berguna. Jika aku sekuat dirimu, seharusnya aku bisa menyelamatkan ibu tadi."


"Tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Sekarang kita harus menyelamatkan penduduk yang masih hidup. Jika ingin menyalahkan seseorang, salahkan Tio yang menyebabkan semua ini."


Gustaf menganggukkan kepala dengan tekad. Ia menggantikan kesedihan akan kematian kedua orang tua dengan dendam membara terhadap seseorang yang dulu pernah ia cintai.


Mereka bertiga berlari mengikuti teriakan minta tolong terdekat di tengah kekacauan desa Rod.


Alex dipenuhi amarah ketika melihat mayat penduduk desa yang berbaring di jalan maupun di dalam rumah.


Andre, Arnold, William, dan Stevi beserta masing-masing keluarga mereka sudah kehilangan nyawa akibat ulah kejam makhluk terkutuk yang dikendalikan Tio.


'Sial!!! Sialan!!! Tio, aku tidak akan memaafkanmu!' Nafas Alex memburu memendam amarah terhadap Tio setelah melihat kematian warga desa.

__ADS_1


Di tikungan, ketiganya melihat Owen dan Timothi tengah dikerumuni lima makhluk terkutuk.


Bang!!! Bang!!! Bang!!! Bang!!! Bang!!! Bang!!!


Alex tak segan menghabiskan sisa peluru di dalam pistol dengan menembak masing-masing dua tembakan yang langsung membunuh tiga makhluk terkutuk.


Alex dan klon mengeluarkan garpu dari dalam inventory lalu menyerang masing-masing satu makhluk yang tersisa.


"Kepala desa, Timothi, kalian baik-baik saja?" Dua makhluk terkutuk terhempas menjauh dari Owen dan Timothi sehingga Alex dapan memastikan keadaan mereka.


"Alex! Bukankah kau membeli ramuan pemulihan? Tolong bantu ayahku." Timothi melihat Alex datang dan langsung meminta pertolongan untuk menyembuhkan Owen.


Mengalihkan pandangan ke arah Owen, Alex meringis melihat tangan kiri Owen telah terlepas dari tempatnya serta tak henti mengucurkan darah.


Alex langsung mengeluarkan ramuan pemulihan dan menyiram sedikit untuk menghentikan pendarahan lalu menuangkan sisanya ke dalam mulut Owen.


"Rupanya kau selamat Alex." Owen setengah sadar melihat Alex membantunya memulihkan luka.


"Kepala desa istirahat saja dan pulihkan luka. Aku akan menjaga tempat ini dengan sekuat tenaga."


"Tidak mungkin aku dilindungi olehmu sedangkan penduduk lain sedang meminta pertolongan. Sebagai kepala desa, aku harus melindungi seluruh desa ini sampai darahku berhenti mengalir!" Owen menggelengkan kepala.


Timothi menangis melihat Owen yang melindunginya dari serangan lima makhluk terkutuk.


"Timothi, kemarilah." Panggil Owen dengan suara lemah.


Timothi mendekati Owen dengan perlahan.


Owen mengulurkan tangan terlihat ingin memberikan sesuatu kepada Timothi. "Terimalah cincin penyimpanan ini. Di dalamnya berisi sesuatu yang penting bagimu."


"Ayah?" Timothi bingung dengan ucapan Owen.


"Sepertinya aku tidak dapat memastikan keselamatanmu dengan keadaanku saat ini, mendekatlah dan perlihatkan kalungmu."


Timothi menurut dan menunjukkan kalung yang sejak kecil selalu ia pakai di leher.


Owen mengeluarkan sebilah pisau dan sedikit mengiris ibu jari Timothi.


"Itu sakit ayah" Timothi meringis menahan rasa sakit pada luka yang diiris Owen


"Tenanglah!" Owen mengulurkan ibu jari Timothi dan menorehkan darah dari luka tersebut ke kalung di leher Timothi.


Mengulurkan tangan beberapa centimeter dari kalung, Owen mengalirkan mana miliknya dan mengaktifkan formasi sihir yang tersembunyi di dalam kalung milik Timothi.


Kalung tersebut bersinar keperakan sehingga Owen menghela nafas dengan tenang. "Hahhh baiklah, sekarang sudah aman. Kau harus menjaga dirimu dengan baik nak?"


"Apa ini? Apa maksud ayah?" Timothi bingung melihat kalung yang dipakai selama ini mengeluarkan cahaya.


"Tidak perlu bertanya saat ini. Semua yang ingin kau ketahui ada di dalam cincin itu."


Timothi semakin tidak paham maksud perkataan Owen.


"Berjanjilah, jangan pernah berjalan di jalan yang sama dengan Gereja Bintang Darah. Jika bisa, tidak perlu membalaskan dendam desa ini. Aku ingin kau menjalani hidupmu dengan normal dan bahagia."


Mendengar perkataan Owen serta keadaan dimana kalungnya mengeluarkan cahaya perak, Timothi membuat dugaan yang mustahil.


"Ayah, jangan bilang kalung ini adalah artefak?"


"Jangan memikirkan itu. Berjanjilah sekarang!" Owen menaikkan suaranya melihat kalung Timothi semakin bersinar terang.


"Y-ya ayah, aku berjanji akan selalu menjadi orang yang benar." Timothi meneteskan air mata berjanji kepada Owen.


"Tapi aku akan membalas perbuatan yang dilakukan Gereja Bintang Darah terhadap desa kita. Aku akan membunuh semua anggota organisasi itu dan menaburkan abunya di jalan agar tubuh mereka diinjak-injak oleh orang yang berlalu-lalang." Lanjut Timothi mengepalkan tangan.


Owen menggelengkan kepala lalu berkata dengan senyuman hangat, "Aku bangga bisa menjadi ayahmu."


Zinggg!


Sinar keperakan padam bersamaan dengan menghilangnya Timothi sebelum ia dapat membalas perkataan Owen.

__ADS_1


__ADS_2