
Planet Sihir, satu jam sebelum penyerbuan dimulai.
"Bagaimana situasi di daerah kumuh sejak kemarin?"
"Aku tidak melihat orang-orang yang biasanya diutus jika kami terlambat mengirimkan anak kecil."
Sejak kemarin, Jean dengan didampingi Alex memantau daerah kumuh untuk memastikan rencana mereka dapat berjalan lancar malam ini.
Jika keduanya melihat sang utusan datang ke daerah kumuh, mereka akan menangkap orang tersebut dan membawanya secara diam-diam ke guild.
Tentu saja setelah itu rencana penyerangan mereka harus dipercepat agar Gereja Bintang Darah tidak menyadari pergerakan mereka.
"Bagaimana dengan persiapan kalian?"
"Tubuhku adalah senjata terbaikku!"
"Aku membawa tiga buah batu sihir sebagai cadangan."
"Pedangku sudah dipoles dengan tajam!"
Tiga tuan emas menjawab bergantian.
Big Three merupakan penyihir berelemen tanah. Penyihir elemen tanah kurang menonjol dalam pertarungan sihir. Jumlah mana yang diperlukan untuk mewujudkan sihir dalam wujud padat sangatlah besar, sehingga umumnya penyihir berelemen tanah menggunakan sihirnya sebagai pendukung, seperti perlindungan atau membuat perangkap.
Karena itulah dia lebih fokus meningkatkan kekuatan tubuhnya dan memakainya sebagai senjata utama dalam perkelahian.
Mina membawa sebuah artefak berupa tongkat sihir yang dapat dipasang dengan sebuah batu sihir di ujungnya.
Tongkat tersebut dapat menyerap mana yang terkandung didalam baru sihir. Disaat dia mewujudkan sihir melalui tongkat, setengah mana yang dibutuhkan untuk mewujudkan sihir diambil dari baru sihir tersebut, sedangkan setengahnya lagi diambil dari cadangan mananya.
Dia mempersiapkan tiga buah batu sihir di cincin penyimpanannya sebagai cadangan, jika mana didalam batu sihir pada tongkatnya telah terkuras habis.
Christopher adalah ahli berpedang. Meskipun dia juga merupakan penyihir elemen api, dia lebih sering mengalirkan mana pada pedang untuk menebas musuh-musuhnya.
Jean dengan cepat mengeluarkan dua bilah pisau dari belakang pinggangnya, sebelum memutar-mutar pisau tersebut dengan ahli lalu menaruhnya kembali ketempat penyimpanannya dengan indah.
"Eh? Hmmm..."
Alex bingung ketika kelima orang di dalam ruangan mengalihkan pandangan kepadanya seolah menantikan pertunjukan.
Alex berpura-pura memasukkan tangan kedalam kantung penyimpanan, lalu mengeluarkan pistol dari dalam inventory.
Prang!!!
Guci kecil disudut ruangan pecah terkena tembakan Alex. Berkat peredam suara yang diberikan oleh George secara cuma-cuma sebelumnya, suara yang dihasilkan ketika mengeluarkan tembakan tidak membuat keributan yang besar.
Kelima orang lainnya tercengang melihat benda di tangan Alex.
"Hebat, apakah itu artefak serangan?"
__ADS_1
"Benar. Sayangnya artefak ini sangat mahal. Satu serangan itu bahkan seharga satu koin emas. Jadi aku jarang menggunakan artefak ini."
"Tapi benda kecil yang keluar dari artefakmu sangat cepat. Mataku bahkan kesulitan memprediksi gerakannya jika tidak fokus!"
"Ya benar. Seorang peringkat emas bahkan harus selalu fokus dengan artefakmu jika ingin menahan atau menghindari serangannya."
"Benarkah? Aku bisa melihat gerakan benda kecil yang keluar dari artefak dengan jelas."
Mina melihat Big Three dengan pandangan sedikit menghina. "Aku dan Christopher bahkan kesulitan melihat serangan artefak itu. Kau mungkin memfokuskan kesadaranmu ketika artefak Leon melakukan serangan."
Alex terdiam merenung. Jika benar seorang pendeta Gereja Bintang Darah setara dengan petualang emas, maka klaim Mina mengenai seorang petualang emas harus selalu memfokuskan kesadarannya untuk melihat pergerakan peluru yang ditembakkan tidaklah valid.
Pada saat kejadian pembantaian desa Rod, tidak mungkin pendeta Anya yang melindungi Tio dari tembakan pistol saat itu selalu fokus terhadapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam peringkat emas pun terdapat selisih kekuatan yang cukup besar diantara masing-masing petualang.
Alex melihat Christopher menggenggam tangannya dengan erat disaat Mina dan Big Three saling berdebat. 'Sepertinya dia menyadari bahwa kekuatan Big Three jauh diatas miliknya dan Mina.'
"Cukup, hentikan pertengkaran kalian berdua!" Zeff menenangkan keduanya lalu menoleh kepada Alex. "Berapa kali artefakmu itu dapat mengeluarkan serangan?"
"Sembilan puluh sembilan kali lagi. Berdasarkan pengalamanku sebelumnya, aku dapat membunuh empat puluhan makhluk terkutuk dengan jumlah serangan itu."
"Tapi apa kau yakin? Hadiah misi ini hanya dua puluh koin emas per orangnya."
"Pak Zeff tak perlu khawatir. Asalkan aku bisa membunuh banyak anggota Gereja Bintang Darah, aku sudah cukup puas!"
Lima orang di ruangan itu merinding melihat mata Alex yang dipenuhi tekad membunuh. Mereka menyadari sepertinya Alex memiliki dendam yang mendalam terhadap Gereja Bintang Darah.
Kelimanya mengangguk lalu berjalan menuju pintu belakang guild petualang bersama dengan Zeff.
Keenamnya menaiki kereta kuda yang disewa oleh Zeff sehingga informasi mengenai petualang tingkat tinggi yang bepergian dalam sebuah kelompok tidak menyebar.
*****
Satu jam berlalu ketika mereka sampai di dekat lokasi persembunyian alkemis jenius.
Jalanan kota terasa seperti suasana rumah Alex yang berada di tengah hutan.
Bahkan jika suasana sunyi, Alex masih sering mendengar suara serangga yang saling bersahutan di tengah malam.
Berbeda dengan situasi sekarang. Kesunyian yang mencekam di bawah tirai malam membuat keenamnya ikut terdiam di atas sebuah bangunan tertinggi disekitar lokasi tersebut.
"Sepertinya ada yang aneh disini!"
Yang lain mengangguk menyetujui ucapan Big Three.
Alex merasa bahwa suasana yang dikeluarkan Big Three berbeda dari biasanya. 'Dia terlihat berbeda dari tingkah bodohnya yang biasa.'
"Tidak ada gerakan aneh yang terlihat dari gedung itu."
__ADS_1
Mina menunjuk bangunan tiga lantai yang menjadi target penyerangan mereka malam ini.
Bangunan itu merupakan toko milik salah satu pedagang kaya di daerah distrik selatan, yang digunakan untuk menjual ramuan obat-obatan.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan tiga tuan emas, para pelanggan toko tersebut hanya bisa menjelajahi lantai pertama. Para pelanggan bahkan mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat tangga yang mengarah ke lantai dua.
"Tetap saja kita harus waspada!"
"Baiklah, aku akan memantau situasi dari tempat ini. Jika ada yang lolos dari kalian berlima, akan aku urus. Meskipun tubuhku sudah tua, aku tetaplah mantan petualang tingkat emas, hahahaha..."
Tiba-tiba Zeff berhenti tertawa dan suasana yang dikeluarkannya menjadi sangat serius. "Jaga diri kalian masing-masing, kuharap tidak ada korban diantara kalian berlima... Mulailah!"
Kelimanya melompat turun dari atap bangunan, dan saling berpencar sesuai rencana yang telah dibuat.
Alex dan Jean menyelinap memasuki sebuah gang gelap menuju posisi yang sudah ditetapkan di arah jam sepuluh dari target.
Christopher dan Mina memutari bangunan tersebut dan menetapkan posisi di arah jam enam.
Lima menit berlalu.
Duaaaar!!!
Terdengar suara ledakan yang melubangi atap bangunan tersebut.
"Sekarang!"
Alex dan Jean bergegas menuju bagian depan bangunan. Keduanya menghancurkan pintu depan, lalu melemparkan batu cahaya yang dibungkus plastik penuh dengan air sebagai penerangan.
Melewati pintu yang sudah hancur, keduanya waspada dengan senjata yang bersiaga di tangan.
Langkah kaki mereka adalah satu-satunya suara kecuali sedikit kekacauan yang disebabkan Big Three di lantai tiga.
"Aneh, tidak ada siapapun di sini!"
Alex dan Jean telah menyusuri seluruh lantai satu namun tidak menemukan keberadaan anggota Gereja Bintang Darah.
Tak lama, tiga yang lain menemui mereka dengan raut wajah heran.
"Kami tidak menemukan seorangpun di lantai dua."
"Aneh, aku juga tidak melihat orang lain di lantai tiga. Padahal aku sudah menghancurkan banyak barang tadi."
Alex terdiam. Ada apa ini? Apakah penyerbuan mereka diketahui?
"Apakah kau yakin Jean, kalau ini tempatnya?"
"Tentu saja, aku bahkan masih mengingat nama anak-anak yang kubawa ke lantai dua bangunan ini!"
Jean terlihat panik menjawab pertanyaan Christopher. Bagaimana tidak, mereka dapat dikatakan telah merusak properti milik orang lain.
__ADS_1
Alex tiba-tiba merasakan sesuatu saat dia konsentrasi dan memperluas jangkauan kesadarannya. "Tunggu dulu, aku merasakan ada ruang kosong di bawah kita!"