Berdagang Dengan Dunia Lain

Berdagang Dengan Dunia Lain
Lomba Marathon?


__ADS_3

Benzir telah kembali bersama rombongannya ke kota Xyras meninggalkan tujuh ratus karung beras yang telah Alex beli di desa Rod.


Berkat permintaan Alex, Owen tidak jadi menjual sisa lima puluh karung beras di gudang sehingga Alex baru saja mendapatkan stok baru sebanyak tujuh ratus lima puluh karung.


Untung saja ruang inventory telah bertambah sehingga Alex dapat menyimpan semua itu di dalam.


Kelebihan inventory lainnya setelah diupgrade adalah Alex tetap dapat menyimpan suatu benda di dalam satu kotak berukuran 1000 m³ bahkan jika kotak tersebut sudah berisi sebelumnya.


Tentu saja syaratnya adalah benda yang dimasukkan harus tetap muat jika berada di ruang dalam kotak tersebut.


Karena kelebihan itu Alex hanya menggunakan dua slot kotak inventory untuk menyimpan semua beras yang baru saja ia dapatkan.


Di suatu tempat sepuluh kilometer dari desa Rod.


"Apa yang terjadi di tempat itu! Bahkan mereka telah menyelamatkan dua desa di dekatnya." Sesosok berjubah hitam berteriak marah dan menendang seorang wanita yang berlutut di depannya.


"Ma-maafkan saya tuan. Saya tidak menyangka orang yang kami temui sebelumnya adalah seorang alkemis yang hebat." Tio gemetar menahan sakit akibat tendangan sosok itu.


"Kau bodoh! Mengapa informasi penting seperti itu baru kau beritahu. Rencana tuan agung tidak boleh terlambat, bawa beberapa makhluk terkutuk ke desa Rod dan musnahkan seluruh desa. Alkemis itu tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama dan mengganggu rencana tuan agung lebih lanjut."


"Baik tuan."


Di hadapan Tio, muncul puluhan makhluk terkutuk yang sebenarnya merupakan mantan manusia korban dari kutukan penyakit ciptaan Gereja Bintang Darah.


Satu Minggu setelah seseorang meninggal akibat wabah, mayat itu akan berubah warna menjadi hitam dan dibangkitkan kembali menjadi makhluk terkutuk yang dapat dikendalikan oleh sosok hitam di hadapan Tio menggunakan beberapa cara.


Tio meninggalkan sosok berjubah hitam dengan membawa puluhan makhluk terkutuk menuju arah desa Rod.


"Pendeta Anya!"


"Iya tuan diaken." Wanita berjubah biru muncul di hadapan sosok hitam dengan berlutut.


"Aku ingin kau mengamati anak dari desa Rod ini. Pastikan dia menjalankan pekerjaan dengan baik!"


"Baik tuan diaken."


"Selanjutnya dia akan berada di bawahmu jika menjalankan tugasnya dengan baik. Jika terjadi sesuatu yang buruk, singkirkan dia untuk menghapus jejak kita. Pergilah!"


Wanita berjubah biru menghilang meninggalkan sosok hitam sendirian di tengah hutan. Sosok itu kemudian berlutut serta berdoa kepada makhluk yang disembahnya.


"Oh tuan Jack yang agung, akan kupersembahkan darah manusia hina untuk membasuh dunia yang kotor ini. Berikanlah berkatmu agar pekerjaan yang sedang kami perbuat dapat berjalan lancar."


Sosok itu berlutut dan berdoa selama lima menit sebelum menghilang dari tempat tersebut.


Pagi hari sebelum perlombaan marathon, Alex sedang berkumpul bersama kelima temannya mempersiapkan diri sebelum perlombaan dimulai.


"Berapa nomormu?" Tanya Vincent kepada Alex ketika mereka sedang sarapan.


"Seratus dua puluh empat."


"Bukankah jumlah pesertanya sama? Apakah berarti kau nomor terakhir?" Jhon bertanya sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Sepertinya itu sebagai petunjuk bahwa kau akan menjadi yang terakhir Alex, hahahaha." Vincent menyahut perkataan Jhon dengan tawa.


"Ayolah, ini hanya sebuah angka sebagai penanda kita. Lagipula bukankah Alex bahkan lebih baik daripada kita semua dalam berlari?" Wika tidak setuju dengan perkataan Vincent.


"Kalian semua tenanglah! Kita sedang makan saat ini." Melvis memarahi mereka karena selalu berbicara dan bercanda saat keenamnya berkumpul bersama untuk makan.


"Ya ya ya ketua." Jawab Vincent dengan senyum geli.

__ADS_1


Saat mereka sedang asik sarapan, Alex tiba-tiba berdiri dari tempat duduk dan menunjukkan wajah terkejut serta khawatir.


"Ada apa Alex." Tanya Vincent di sampingnya.


"A-aku harus pergi. Maaf teman - teman, sepertinya aku tidak dapat mengikuti perlombaan nanti."


Melvis dan lainnya bingung mendengar ucapan Alex yang tidak masuk akal. Bukankah perlombaan akan dimulai dua jam lagi?


Hal penting apa yang membuatnya bisa meninggalkan perlombaan nanti? Apakah semua latihan yang telah ia lakukan tidak berarti apa-apa?


"He-hei Alex kau mau kemana?" Vincent berdiri dan berteriak memanggil Alex yang sudah berlari menuju luar restoran.


"Maaf semuanya." Alex tidak berniat menjelaskan apa yang akan ia lakukan.


Lomba marathon ini juga penting bagi Alex untuk memperoleh banyak uang. Ia bahkan telah meningkat konstitusi serta vitalitas demi meningkatkan peluang menjuarai lomba tersebut.


Namun kehidupan warga di desa Rod lebih penting baginya. Mereka telah menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap Alex bahkan jika Alex merupakan tamu di desa.


Sebagai orang yang telah kehilangan keluarga sejak kejadian satu tahun lalu, Alex merasakan kembali perasaan memiliki sebuah tempat untuk kembali berkat kebaikan yang ditunjukkan penduduk desa Rod terhadapnya.


Alex mencari lokasi yang gelap serta tidak terjangkau oleh pantauan cctv di kota Lynden.


Menemukan tempat yang dirasa tepat, Alex mengarahkan kesadarannya dengan maksimal untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikan dirinya.


Setelah semua dirasa aman, Alex membuka sistem lalu menekan <> dan segera berpindah menuju klonnya di desa Rod yang tengah terjadi kekacauan.


Planet sihir.


Klon Alex berjalan menuju kamarnya setelah menyelesaikan makan malam.


"Ahhhhh!!"


Baru saja berbaring di tempat tidur, Alex mendengar teriakan banyak warga dan juga suara kerusuhan yang terjadi di sekitar aula desa.


"Tidak, jangan sentuh ibuku!"


Tidak jauh dari posisi Alex saat ini, Gustaf sedang menghalangi makhluk hitam yang ingin menyerang kedua orangtua di belakangnya.


Ibu Gustaf terlihat memiliki lubang berdarah di bagian perut. Ia sedang terisak-isak sambil memeluk mayat dari ayah Gustaf yang tidak lagi menyerupai manusia akibat serangan dari makhluk terkutuk yang memiliki fisik kuat.


"Lari Gustaf!" Teriak Alex ketika makhluk terkutuk menerjang maju ke arah mereka.


Bukk!!!


Gustaf terhempas beberapa meter di dekat Alex akibat dampak dari pukulan kuat dari makhluk tersebut.


"Larilah nak!" Ibu Gustaf berkata dengan senyum pasrah setelah melihat kematian suaminya yang mengerikan.


"Tidak ibuuu!"


Alex berlari menuju Gustaf yang terlihat ingin menyelamatkan ibunya dari kematian. Ia mendorongnya ke tanah lalu menampar pipi Gustaf dengan keras.


"Apa yang kau lakukan? Apakah kau ingin mati sia-sia?" Bentak Alex.


"Tapi ibu dan ayahku..."


"Diamlah sebentar dan ceritakan apa yang baru saja terjadi nanti!" Perintah Alex untuk menenangkan pikiran Gustaf yang sedang kacau setelah melihat kematian kedua orangtuanya.


Di belakang makhluk terkutuk yang sedang memukul-mukul mayat kedua orang Gustaf, muncul satu makhluk serupa dari dalam rumah salah satu warga dengan menerobos dinding rumah yang terbuat dari papan kayu.

__ADS_1


'f##k, makhluk apa mereka ini? Sepertinya mereka sangat kuat.' Alex mengutuk di dalam hatinya.


Alex mengeluarkan pistol dari dalam inventory. Melihat kerusuhan yang terjadi, tidak perlu mempedulikan apakah seseorang melihat kemampuan miliknya.


Makhluk yang muncul dari dalam rumah menolehkan kepalanya ke arah Alex dan Gustaf lalu berlari menuju mereka.


"Mati kau ba####an!" Teriak Alex menarik pelatuk pistol di tangan.


Dorr!!!


Makhluk itu jatuh terseret beberapa meter akibat dampak terkena tembakan dari Alex yang tepat mengenai kepala ketika berlari menerjang arah mereka.


"Itu tidak langsung membunuhnya?" Alex khawatir melihat makhluk yang ia tembak terlihat ingin kembali berdiri dengan susah payah.


Berbeda dengan manusia biasa, makhluk terkutuk memiliki fisik yang kuat sehingga satu tembakan dari pistol Alex tidak langsung membunuh makhluk tersebut.


Alex tidak ingin membuang-buang peluru yang tersisa empat belas di dalam pistol.


Ia berlari menuju makhluk terkutuk lalu menginjak tubuh makhluk tersebut dengan kuat untuk mencegahnya kembali berdiri.


Alex membungkukkan tubuh lalu mengayunkan pukulan bertubi-tubi ke arah kepala yang sebelumnya sudah terluka akibat terkena tembakan.


Berkat fisik yang bertambah kuat mengikuti nilai vitalitasnya yang meningkat, pukulan Alex saat ini melebihi kekuatan pukulan juara tinju dunia.


Disertai dengan amarah, Alex menghancurkan tengkorak setelah belasan pukulan sehingga darah hitam makhluk tersebut memercik ke pakaian serta wajah penuh amarah Alex.


Melihat kawannya dihabisi oleh Alex, makhluk terkutuk yang sedang memukuli mayat orang tua Gustaf berteriak sambil berlari menuju Alex.


Alex bernafas tak karuan setelah membunuh satu makhluk terkutuk.


Bukan karena ia lelah, melainkan ini pertama kalinya ia melakukan hal yang sangat sadis sehingga membuatnya sedikit syok serta pusing ketika mencium aroma darah amis yang memercik di sekujur tubuh.


Bam!! Bukk!!! Buk!!! Buk!!!


Alex terpental beberapa meter akibat pukulan makhluk terkutuk.


"Aku tidak menyadarinya!" Dalam posisi berbaring, Alex menolehkan kepala ke arah makhluk terkutuk yang menerjang.


Mengarahkan pistol ke kepala makhluk terkutuk, Alex menarik pelatuk dan mengeluarkan sebuah tembakan yang tepat mengenai kepala.


Sama seperti sebelumnya, tembakan Alex melukai kepala makhluk terkutuk dan membuatnya sekarat. Namun makhluk tersebut tidak langsung mati bahkan terlihat ingin berdiri dan kembali menyerang Alex.


"Tak perlu menghemat peluru dalam keadaan seperti ini." Karena tubuhnya susah bergerak, Alex mengeluarkan satu tembakan lagi.


Dorr!!! Peluru kedua kembali mengenai kepala makhluk yang tengah berjuang untuk bangkit berdiri.


"Apakah itu sebuah artefak serangan?" Suara seorang wanita yang dikenal Alex terdengar dari lokasi ia berada sebelum terkena pukulan makhluk kedua yang ia bunuh.


"Ti-Tio, apa yang kamu lakukan?" Di samping Tio, Gustaf bertanya dengan nafas tercekik karena tubuh serta lehernya ditahan oleh tiga makhluk terkutuk.


"Apa yang kulakukan? Tidakkah kau melihatnya barusan? Aku dapat mengendalikan makhluk ini sesuka hati. Aku bahkan memerintahkan mereka untuk menghancurkan desa ini, hihihihi."


Tio tertawa seperti orang gila tidak seperti bayangan Gustaf tentang Tio yang ia sukai selama ini.


"Mengapa kau melakukan itu? Kedua orangtuaku mati karena mereka!" Mata Gustaf memerah mengingat kematian kedua orangtuanya.


"Hmm? Mengapa? Desa ini terlalu terbelakang. Aku ingin mengubur dan menjadikan desa ini sebagai pupuk agar aku dapat tumbuh dan melambung tinggi."


Tio lalu melanjutkan memberi perintah kepada makhluk yang sedang menahan Gustaf. "Tidak perlu membuang banyak waktu. Segera patahkan lehernya lalu..."

__ADS_1


Bang!! Bang!! Bang!!


Di samping klon Alex yang berbaring, tubuh utama Alex muncul lalu mengambil pistol dari tangan klon dan menembakkan masing-masing satu tembakan kepada tiga makhluk yang menahan Gustaf.


__ADS_2