
Planet Biru.
"Coba katakan sekali lagi?"
"Aku ingin membeli lima ribu peluru MP-30."
Alex mengeluarkan senjata laras panjang yang dia dapatkan dari para perampok di bank. Setelah mencari informasi dari beberapa sumber, akhirnya dia mengetahui nama jenis serta spesifikasi senjata yang dia dapatkan.
"Apa kau sudah gila?"
Suara George menggelegar di dalam ruangan.
"Kumohon pak George, aku sangat membutuhkannya sekarang."
George menatap tajam Alex. Kemudian dia mengangguk kepada Bilson yang datang bersama Alex.
Bilson mengerti maksud dari gerakan George. Dia menatap mata Alex lalu bertanya, "Apa tujuanmu membeli peluru sebanyak itu?"
"Aku ingin menyelamatkan nyawa orang banyak."
"Dia jujur." Bilson mengangguk lalu melanjutkan, "Bisa kau jelaskan secara rinci?"
"Hal ini menyangkut rahasia terdalamku. Tapi yang pasti, aku akan menggunakannya untuk menyelamatkan sebuah kota yang memiliki ratusan ribu nyawa didalamnya."
George melihat Bilson mengangguk lagi dan mengatakan kalau Alex tidak berbohong. Hal itu membuatnya sangat terkejut. 'Kota mana yang sedang terancam bahaya?'
"Jelaskanlah lebih rinci lagi. Jika tidak, aku hanya akan memberikan seribu peluru kepadamu!"
"Maaf pak George, aku tidak bisa memberi tahu kalian lebih lanjut. Yang pasti, aku tidak akan menjual peluru-peluru itu kepada orang lain. aku sendirilah yang akan menggunakan semua peluru tersebut untuk menyelamatkan warga di kota itu."
George berteriak kesal melihat Alex yang keras kepala. "Baiklah jika itu maumu. Tapi aku hanya akan memberimu seribu peluru saja!"
Alex hanya bisa menghela nafas dan menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
*****
Planet Sihir, beberapa jam setelah kepergian Alex dari kota Xyras.
Dua sosok berdiri di atas bukit memandang ke sebuah desa yang berjarak lima kilometer jauhnya.
Meskipun matahari di langit belum menunjukkan tanda-tanda menghilang, seluruh areal desa diselimuti oleh bintik-bintik hitam yang menyatu membentuk sebuah tirai kegelapan. Kegelapan itu bahkan melewati batas-batas desa yang dibangun menggunakan pagar bambu.
Bukan hanya klon keduanya yang pergi kesana, tubuh utama yang bertugas mengumpulkan pundi-pundi emas di kota Xyras juga turut hadir dalam penyerangan ini.
Dia terpaksa mengecat rambut tubuh utama agar memiliki penampilan yang serupa dengan klon keduanya. Hal ini dilakukan karena dia mewaspadai mata-mata di dalam kota Xyras yang masih tersembunyi.
Bahkan resepsionis guild petualang saja ternyata merupakan seorang diaken hitam! Tidak ada salahnya dia berhati-hati, supaya Gereja Bintang Darah hanya menandai sang petualang Leon sebagai target balas dendam.
Alex memejamkan mata dan menghela nafas untuk menenangkan diri. Rencana yang dia buat sangat brutal untuk dirinya sendiri, yaitu untuk membiarkan tubuh utamanya sendirian menyerbu ke tengah-tengah ribuan makhluk terkutuk.
Dengan ini, bahkan jika tubuh utamanya mati disana, klon keduanya yang berjarak lima kilometer dari tempat itu akan berubah menjadi tubuh utama. Kemudian dengan memanfaatkan skill klon yang bisa digunakan dua kali sehari, dia akan menciptakan tubuh baru sebagai cadangan penyerang selanjutnya.
__ADS_1
Tentu dia cukup gila untuk membiarkan dirinya merasakan rasa sakit sebelum kematian. Tapi demi menghilangkan ancaman terhadap kota Xyras yang kini ia tinggali, Alex rela menanggung rasa sakit tersebut!
"Jumlah peluruku hanya sekitar seribu lebih. Aku harus menggunakannya sebaik mungkin." Alex berlari ringan menuju ribuan makhluk terkutuk, meninggalkan klon keduanya sendirian di atas bukit.
***
Sinar lembut rembulan telah menggantikan pancaran matahari terbenam.
Satu kilometer dari kulit terluar gerombolan makhluk terkutuk, Alex berjalan mengendap-endap untuk memberi serangan rahasia.
Berkat penerangan yang lemah serta pepohonan rimbun yang menghalangi tubuhnya, dia bisa mendekat hingga dua puluh meter dari makhluk terkutuk lapisan terluar.
'Lebih jauh lagi dan mereka akan menyadari keberadaanku.'
Bersamaan dengan angin kencang yang berhembus, Alex melompat zig-zag menuju puncak pohon tertinggi disekitarnya.
Setelah memastikan kalau tidak ada anggota Gereja Bintang Darah disekitar tempat itu, dia mengeluarkan senjata MP-30 dan membidik kerumunan musuh.
Bang!!!
Satu makhluk terkutuk jatuh sebagai bahan percobaan Alex.
Berkat peredam panjang di moncong senjata MP-30, suara yang dikeluarkan telah jauh berkurang.
Sepanjang pertemuannya dengan makhluk terkutuk, dia mengetahui bahwa makhluk tak berakal ini hanya mematuhi perintah sederhana dari tuannya.
Dugaan Alex juga tepat sasaran. Para pengendali makhluk terkutuk ini hanya memberi perintah kepada mereka untuk berkumpul disana dan membunuh siapa saja yang menyerang.
Bang... Bang... Bang... Bang...
Alex melanjutkan tembakan setelah memastikan rencananya berjalan dengan baik.
Secara bersamaan, klon keduanya di kejauhan berulang kali mengisi amunisi senjata MP-30 yang habis, yang disimpan tubuh utamanya di dalam inventory.
Wussssssh.....
Pada tembakan ke dua ratus dua puluh empat, hembusan angin kencang membuat pelurunya meleset mengenai tanah.
"Sepertinya itu sudah cukup untuk saat ini."
Lapisan sepuluh meter yang semula dipenuhi makhluk terkutuk kini telah dipenuhi oleh tubuh-tubuh tak bernyawa mereka. Karena jaraknya dengan makhluk terkutuk yang masih hidup semakin melebar, Alex berpikir jika beberapa tembakan selanjutnya mungkin ada yang meleset, seperti yang baru saja terjadi.
Tak ingin menyia-nyiakan pelurunya yang saat ini tersisa sekitar delapan ratus, dia memasukkan MP-30 ke dalam inventory lalu mengeluarkan sebuah pedang sepanjang delapan puluh centimeter yang dia beli sebelum meninggalkan kota.
Statistik kekuatan fisiknya yang tinggi memungkinkan Alex menutup jarak dalam satu lompatan dari puncak pohon.
Mengalirkan mananya ke dalam pedang, Alex menebas leher musuh terdekat sesaat setelah kakinya menginjak tanah.
Zrassshh!!!
Melihat seseorang yang membunuh rekan mereka, makhluk terkutuk disekitarnya langsung berlari mengerumuni Alex.
__ADS_1
Disinilah tiga pikiran dalam satu tubuhnya dimanfaatkan dengan baik.
Wossssh... Wossssh... Wossssh...
Tangan kiri Alex menembakkan rentetan bola api mengenai sisi kiri musuh, sekaligus menghalangi pendekatan mereka. Dengan pedang di tangan kanan, dia berulang kali menebas leher musuh di depannya.
Srekkk...
Situasi itu tidak bertahan lama. Sebuah cakaran berhasil mengenai pinggang kanan Alex dan menggoreskan luka kecil yang terlihat dibalik pakaiannya.
Alex menciptakan sebuah dinding tanah untuk menghalau mereka sementara, lalu memampatkan api dalam jumlah yang besar membentuk bola seukuran basket.
Dinding tanah hanya bertahan lima detik sebelum menghilang. Meluncurkan bom api di tangannya ke depan, dia mengalirkan mana ke kakinya lalu melompat mundur menjauhi efek gelombang kejut ledakan.
Bommm!!!
Ledakan itu berhasil menewaskan belasan musuh. Tidak ingin menyia-nyiakan puluhan musuh yang terhempas dan terluka akibat gelombang kejut ledakan, dia segera berlari dan mengayunkan pedangnya, menebas rapi kepala musuh yang tak berdaya.
***
"Hah... Hah... Mereka terus berdatangan seperti ngengat!"
Pakaian Alex sudah basah oleh campuran darah merahnya serta darah hitam makhluk terkutuk.
Meskipun kualitas tempurnya jauh diatas mereka, tidak mungkin dia bisa menahan serangan dari semua sisi.
Selama satu jam ini, Alex sudah berulang kali menciptakan bom api yang menewaskan hampir dua puluh musuh dalam tiap ledakannya.
"Sepertinya kematianku sudah dekat."
Dengan nafas tersengal-sengal, Alex mengayunkan pedangnya berputar tiga ratus enam puluh derajat, kemudian menciptakan karpet api yang membentang sejauh lima meter disekelilingnya.
Dia mengembalikan pedang di tangannya ke dalam inventory dan mengeluarkan MP-30 dari dalam.
Meskipun pandangannya mulai buram, dia berusaha berdiri tegak dan mengeluarkan rentetan tembakan yang mengincar titik vital musuh.
Tembakan berakhir dengan cepat. Selagi kesadarannya masih terjaga, dia memasukkan kembali MP-30 di tangannya ke dalam inventory, tidak ingin kehilangan barang mahal tersebut.
"Hah... Hah... Hah... Itu sudah cukup. Sebelum mati, setidaknya aku ingin merasakan ledakan yang kuciptakan selama ini."
Seringai Alex terlihat buas di tengah kobaran api yang dia ciptakan.
Melihat kerumunan makhluk terkutuk yang mulai bergegas ke arahnya, dia menarik sisa cadangan mana terakhirnya dan memampatkan sihir api secara terus menerus membentuk sebuah bola.
Buk... Buk... Buk... Buk...
"Hei sialan, aku sedang membuat kembang api untuk kita nikmati bersama. Tolong jangan memukulku secara berlebihan!"
Meski begitu, makhluk tak berakal itu tidak mempedulikan ucapan Alex dan terus memukulinya dari segala sisi.
"Aku tak bisa menahan api ini lagi. Uhuk... Uhuk..." Alex mengeluarkan batuk darah dari mulutnya sebelum melanjutkan, "Buka mata kalian lebar-lebar dan lihatlah keindahan seni yang kuciptakan ini."
__ADS_1
Duaaaar!!!!!