Berdagang Dengan Dunia Lain

Berdagang Dengan Dunia Lain
Penyerangan (3)


__ADS_3

"Aku akan menangani kumpulan makhluk terkutuk ini. Bisakah kau menghadapinya sendiri?"


Jean membalas dengan anggukan sebelum berlari menuju pendeta biru di bawah tangga.


Dor!!! Dor!!! Dor!!!


Lima makhluk terkutuk yang berusaha menghalangi Jean terkena masing-masing satu tembakan di bagian kepala. Berkat tubuh utama Alex di sisi lain, peluru pada pistol telah terisi kembali.


Alex tak punya waktu untuk melepaskan tembakan kedua pada kelima makhluk terkutuk barusan. Dia kembali memutar tongkat logamnya menahan pukulan musuh dari samping.


Berusaha mengurangi jumlah musuh sebanyak mungkin, Jean tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Alex kepadanya. Dia menebas leher kelima makhluk terkutuk yang terkena serangan pistol Alex untuk memastikan kematian mereka.


"Murid abu-abu Rin. Aku tak menyangka bahwa kau adalah seorang pengkhianat. Sepertinya kau belum mengetahui sucinya visi Gereja Bintang Darah kita."


"Berisik! Pisau angin ganda."


Wossssh.....


Dua bilah angin yang menyatu membentuk sebuah salib keluar dari kedua belati Jean yang bersilangan.


Pendeta biru tak menduganya. Dia mencoba menghindar ke samping kanan namun sedikit bilah angin menyerempet lengan atas tangan bagian kirinya. 'Bukankah murid abu-abu Rin baru saja mempelajari sihir sejak enam bulan lalu? Bagaimana dia bisa mewujudkan sihir dalam waktu sesingkat ini?'


Dia mengeluarkan ramuan pemulihan dan buru-buru meminumnya. "Bajingan terkutuk! Apa kau sengaja menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya untuk menyelinap ke dalam Gereja Bintang Darah? Siapa kau sebenarnya?"


"Sepertinya kau cukup pintar."


Jean tidak menjawab pertanyaan sang pendeta biru dan hanya mengeluarkan ejekan. Melihat Jean yang seperti itu, pendeta biru tersulut emosi lalu mengeluarkan sebuah tongkat sihir dengan sebuah batu hitam diatasnya.


"Domain kegelapan."


Pendeta biru berteriak dengan keras. Berbeda dengan namanya, api mulai berkobar dengan radius lima meter di sekeliling pendeta biru.


Semakin lama seseorang mempertahankan wujud sihir di dunia, semakin banyak jumlah mana yang dibutuhkan. Namun inilah kelebihan sekaligus keburukan dari Gereja Bintang Darah. Dengan batu hitam pada tongkat yang diciptakan melalui sebuah teknik terlarang, mereka dapat mewujudkan sebuah sihir dengan memakai sumber daya eksternal yang dinamakan mana gelap.


Tentu saja hal itu hanya dapat dilakukan oleh anggota Gereja Bintang Darah tingkat pendeta biru atau diatasnya.


Jean melompat mundur untuk menjaga jarak. Dia sedikit bingung, tekanan panas yang dihasilkan dari api di sekitar pendeta biru dapat mengurangi kekuatan sihir anginnya. Bahkan dia yakin serangannya akan meleset dari lokasi yang dia incar!


Dor!!! Dor!!!


"Fokuslah! Musuhmu tidak hanya dia seorang."


Dua tembakan menyelamatkan Jean di tengah lamunannya. Dia menebas dua makhluk terkutuk yang berusaha menyergapnya sebelum berteriak kembali kepada Alex. "Terimakasih."


Benar. Jika dia tidak dapat menyerang pendeta biru, masih banyak musuh disekitar yang dapat dia bunuh!


Jean melompat mundur pada jarak sepuluh meter, lalu mengayunkan belatinya ke arah makhluk terkutuk di kejauhan.


"Pisau angin." "Pisau angin." "Pisau angin."

__ADS_1


Dia menggunakan sihir angin tanpa memperhitungkan cadangan mananya. Dengan ini, dia dapat menyerang musuh di kejauhan tanpa mengalihkan perhatian dari ancaman serangan sihir api sang pendeta biru.


Benar saja. Di tengah kehati-hatiannya, lima bola api seukuran basket ditembakkan berturut-turut ke arahnya berada.


"Badai angin."


Dia menciptakan hembusan angin kuat menuju arah lima bola api tersebut. Dia tahu elemen angin hanya menambahkan keganasan pada elemen api musuh. Namun demikian, dia membuat lintasan yang memotong jalur bola api ke arahnya, sehingga arah tembakan kelima bola api tersebut menyimpang dari jalur yang seharusnya!


Wossssh.....


Alex kagum dengan kecakapan tempur Jean. Dengan memanfaatkan serangan lima bola api tersebut, dia berhasil membunuh tiga makhluk terkutuk setelah mengubah arah lintasan serangan. Itu dapat dikatakan membunuh dua burung dengan satu batu. Bahkan bisa dibilang tiga! 'Pantas saja dia bisa memasuki unit pasukan terkuat sebuah kerajaan besar.'


Setelah memukul satu makhluk terkutuk ke kejauhan, ruang disekitar Alex cukup longgar.


Dia mengalihkan pandangan ke belakang untuk mengecek keadaan Big Three dan Mina.


Christopher sudah mendekati keduanya. Karena banyaknya makhluk terkutuk yang menyebar, dia berusaha menahan kumpulan makhluk terkutuk yang menuju ke arah mereka.


"Cadangan manaku sudah menipis!"


Big Three tiba-tiba berteriak, memperingatkan yang lain di dalam ruangan. Tentu saja dia habis lebih cepat. Berbeda dengan elemen lain, elemen tanah yang merupakan benda padat sangat cepat menguras cadangan mana seseorang.


Dapat dikatakan Big Three sangat membantu mereka dalam menahan serangan dari dua arah selama beberapa saat.


Alex memperhitungkan situasi dengan cepat. Menurut perhitungan kasarnya, jumlah makhluk terkutuk yang dibawa pendeta biru melalui tangga adalah sekitar enam puluh.


Dia beserta Jean dan Christopher masing-masing telah mengalahkan banyak makhluk terkutuk, dan hanya menyisakan setengah dari total diawal.


Telapak tangan Alex dilalap api biru. Dia menyimpulkan bahwa saat ini tidak ada gunanya lagi menghemat cadangan mana miliknya.


Kedua telapak tangannya disatukan membentuk gaya kamehameha, meniru tokoh favoritnya pada sebuah anime yang pernah dia tonton sewaktu kecil di panti asuhan.


Wossssh.....


Meskipun dia tidak berteriak seperti tokoh favoritnya, semburan api biru keluar mengikuti niatnya untuk melepaskan sihir api melalui kedua telapak tangan!


Suhu api yang diciptakan Alex lebih panas dari api biasanya. Itu mulai mengelupas kulit tebal dari sepuluh makhluk terkutuk yang ditargetkan Alex.


Alex tidak membiarkannya begitu saja!


Dia terus menuangkan semburan api biru pada sepuluh makhluk terkutuk yang meronta-ronta di tanah.


Kurang dari dua puluh detik, suara yang terdengar dari mereka hanyalah suara kobaran api yang membakar daging hingga hangus.


"Gelombang pasang... Big Three tidak dapat membuat dinding paku lagi!"


Suara Mina yang khawatir terdengar dari kejauhan.


"Christopher, bantu Jean disebelah sini!"

__ADS_1


Makhluk terkutuk disekitar Alex telah banyak berkurang. Meskipun begitu, jumlah mereka masih tersisa belasan dan posisi mereka tersebar. Hal ini akan membuang banyak waktu jika dia membakar mereka satu per satu.


Christopher tidak mempermasalahkan perintah Alex. Setelah melihat warna pada api Alex, dia mengakui bahwa kendali Alex akan sihir api melebihi dirinya. 'Selain itu bukankah dia mewujudkan sihir tanpa mengucapkan mantranya? Aku dengar teknik itu hanya dapat dipelajari di akademi kekaisaran.'


Alex tidak membuang-buang waktu terhadap tiga makhluk terkutuk yang dihadang Christopher. Dia menembakkan enam peluru tepat di bagian kepala dan membunuh ketiga makhluk tersebut dengan cepat.


"Gunakan teknikmu tadi ke arah terowongan itu."


"Jangan khawatir, itulah tujuanku membantu mereka."


Christopher mengangguk sebelum berlari mendekati Jean yang bertarung seorang diri di sisi lain.


"Big Three, Mina, menyingkir dari mulut terowongan!"


Alex berhenti dibelakang keduanya, yang tengah bersiap untuk menghadapi gerombolan makhluk terkutuk dari arah terowongan.


"Apa yang kau katakan? Sihir airku hanya dapat menahan mereka untuk sementara waktu. Sebentar lagi mereka akan datang dan menjebak kita di tengah ruangan."


"Tidak apa-apa Mina. Serahkan saja pada Alex."


Berbeda dengan Mina, Big Three telah melihat kekuatan sihir Alex beberapa saat yang lalu.


Melihat kepercayaan yang ditunjukkan Big Three terhadap Alex, Mina terpaksa menyingkir dengan perasaan sedikit kesal. Dia sudah menguatkan tekadnya untuk bertarung habis-habisan walau harus terluka.


Alex melangkah dengan mantap ke tengah mulut terowongan, dan berdiri menyamping menghadap lubang terowongan yang gelap. Dia memasang kuda-kuda dan menarik kedua tangannya ke sisi belakang pinggul kanan, lalu mengalirkan mananya pada kedua telapak tangan.


Bzzzzz.....


Api biru mulai berkobar di telapak tangan Alex. Dia mencoba mengendalikan api tersebut menjadi seukuran bola basket, dan terus menuangkan mana kedalamnya sambil menekan ukurannya agar tetap sama.


Langkah kaki makhluk terkutuk mulai terdengar berlari dari arah kegelapan terowongan.


Kemudian dia berkeringat dingin. Disaat dia ingin mendorong tangannya untuk melempar sihir, dia baru menyadari bahwa itu telah menjadi sangat berat.


Dia mencoba mengalirkan mana di kedua lengan untuk meringankan beban. 'Berhasil!'


Alex tersenyum puas lalu menggerakkan tubuhnya sesuai dengan gerakan tokoh anime favoritnya dulu, sambil meneriakkannya dalam hati.


'Ka.....Me.....Ha.....Me.....Ha.....'


Plop!!!


Tak sesuai keinginannya, wujud api yang keluar tetap dalam bentuk bola. Bola itu melayang secara perlahan menuju arah kegelapan terowongan.


'Tunggu... Jika partikel api dalam jumlah besar dipadatkan, bagaimana jika itu menyentuh sesuatu yang dapat mengganggu kestabilannya?'


"Gawat, segera menyingkir dari sini!"


Alex buru-buru membentuk dinding tanah yang tebal untuk menutupi seluruh mulut terowongan, sebelum berlari sambil menyeret Big Three serta Mina bersamanya.

__ADS_1


BOOOM.....


__ADS_2