
"A-aku bertemu dengan seseorang di hutan sebelumnya. Berdasarkan perkataan tuanku, sosok itu memiliki posisi yang lebih tinggi darinya di Gereja Bintang Darah." Tio terlebih dahulu memberikan informasi yang menurutnya berguna.
"Siapa tuanmu?" Tanya Zeff.
"Tuanku adalah seorang pendeta biru yang bernama Anya." Balas Tio.
Zeff mengerutkan keningnya memikirkan sesuatu yang buruk. "Seperti apa penampilan sosok yang kau katakan?"
"Di-dia memakai jubah bertudung yang mirip dengan jubah kami saat ini, namun yang berbeda adalah jubah miliknya memiliki warna hitam yang gelap." Jelas Tio. Dia takut bahwa hanya dengan mengatakan itu ketiganya tidak akan puas.
Disisi lain, Zeff gemetar setelah mendengar jawaban dari Tio. Alex dan Jean tentu saja menyadari perubahan yang terjadi pada Zeff. Alex segera menanyakan apa yang terjadi kepadanya.
"Awalnya aku masih belum yakin setelah mendengar sosok itu memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan seorang pendeta biru. Namun setelah mendengar warna jubah yang dikenakan orang itu, aku merasa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi." Jelas Zeff kepada keduanya.
"Memangnya siapa orang itu?"
"Mungkinkah..." Sela Jean memikirkan sesuatu.
"Benar. Didalam Gereja Bintang Darah, terdapat beberapa tingkatan yang menunjukkan posisi mereka." Zeff mengangguk lalu menjelaskan urutan struktur organisasi Gereja Bintang Darah.
Yang pertama adalah calon murid yang akan direkrut untuk memasuki organisasi. Identitas mereka akan diselidiki terlebih dahulu sebelum organisasi mengulurkan tangannya. Setelah identitas mereka dipastikan aman, mereka akan berada dalam masa percobaan selama satu bulan sebelum dapat ditentukan untuk bergabung ataupun tidak.
Jika calon murid berhasil memenuhi syarat, mereka akan secara resmi bergabung dengan Gereja Bintang Darah dan diangkat menjadi murid abu-abu.
Murid abu-abu juga dibagi menjadi dua kelompok, murid pemula yang baru saja belajar sihir dan belum dapat mengalirkan mana seperti halnya Tio, lalu murid senior yang sudah berhasil dalam mengalirkan mana, contohnya adalah Galus.
Jika seorang murid abu-abu senior berhasil meningkatkan kekuatannya dan menguasai perwujudan sihir, orang tersebut akan diangkat menjadi pendeta biru setelah melalui sebuah upacara.
Satu tingkat di atas pendeta biru ialah diaken hitam, dan di atasnya lagi adalah seorang kardinal darah.
"Menurut informasi yang kudapatkan dari jenderal perisai emas, kardinal darah sebenarnya lebih dari satu orang, dan bukan pemimpin tertinggi dari Gereja Bintang Darah." Kata Jean setelah penjelasan Zeff berakhir.
Keduanya menoleh kearah Jean sebelum Jean melanjutkan, "Aku juga tidak tahu sebutannya, yang pasti dia adalah sosok misterius yang bahkan tidak diketahui pasti memang ada atau tidak."
__ADS_1
Suasana hening memenuhi ruangan tersebut. Kini Alex mendapatkan sedikit gambaran mengenai organisasi musuh yang menghancurkan desa Rod.
Dia lalu bertanya kepada keduanya, "Seberapa kuat Diaken hitam ini?"
"Aku belum pernah menemui mereka secara langsung. Namun dari informasi yang kudapat, Diaken hitam memiliki kekuatan yang setara dengan petualang kelas mithril." Jelas Jean yang disetujui Zeff dengan anggukan.
"Sepertinya keduanya tidak lagi memiliki informasi yang berguna. Dapatkah kalian menyerahkan wanita itu kepadaku? Aku memiliki beberapa urusan dengannya!" Alex meminta untuk membawa Tio sendiri. Untuk Galus, dia akan menyerahkan keduanya kepada mereka untuk diurus.
Melihat ekspresi Alex yang dipenuhi kebencian ketika menunjuk wanita yang terikat di lantai, Zeff dan Jean menyetujuinya dan membiarkan Alex membawa wanita itu.
Alex tidak menceritakan dendam pribadinya terhadap Tio, karena dia saat ini sedang menyamar sebagai Leon sang petualang misterius.
Dia juga menyadari penyamarannya sangat baik, bahkan Tio tidak dapat mengenali Alex melalui penyamarannya.
Zeff memimpin Alex menuju sebuah ruangan rahasia yang berada di bawah tanah guild. "Tidak ada sihir penyadap atau apapun disini. Pakailah sesukamu!"
"Terimakasih pak Zeff." Alex memasuki ruangan tersebut sambil menyeret Tio yang terikat.
Ruangan yang dimasukinya memiliki ukuran cukup luas, dengan beberapa lampu sihir yang tergantung di beberapa titik dinding ruang tersebut. Alex juga melihat beberapa senjata seperti tombak dan pedang di sudut ruangan.
Dia sengaja menggeliat dibawah tali yang mengikat badannya sehingga tali tersebut mengencang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang baik.
Plak!!!
Tamparan keras terdengar menggema di ruangan tersebut. Tio terkejut ketika merasakan pipinya sedikit memar dan memerah akibat ditampar oleh pria didepannya.
"Dasar wanita sampah." Alex melepaskan kacamata hitam, masker kain yang menutupi wajahnya, serta tudung jaket pada bagian kepala.
"Apa kau mengenaliku sekarang?" Alex menendang Tio dengan keras.
"Ahhhh..... To-tolong maafkan aku tuan." Tio menderita akibat tendangan itu. Meskipun dia melihat wajah pria didepannya, dia tidak dapat mengenali Alex secara langsung.
"Apa kau tidak mengingat siapa aku? Bukankah kau bersenang-senang membunuhku pada saat pembantaian di desa Rod?" Alex kembali menampar wajah Tio. Amarahnya memuncak ketika mengingat kembali kematian puluhan penduduk desa yang sangat baik kepadanya.
__ADS_1
Tio sedikit bingung dengan perkataan pria didepannya. Meskipun sedang kesakitan, dia memusatkan perhatian pada wajah Alex berusaha mengingat-ingat seseorang yang pernah dia temui.
"A-Alex?" Tanya Tio kaget. Meskipun warna rambutnya berbeda, wajah pria didepannya sama dengan seseorang yang dia perhatian secara khusus selama satu minggu di desa Rod.
Namun dia tidak mengerti. Bukankah dia sudah membunuh Alex? Dia juga sudah memastikan kematian Alex dengan memberikan mayatnya kepada monster sebagai makanan.
"Benar. Apakah kau terkejut melihatku disini?" Alex tersenyum dingin membuat Tio bergidik ngeri.
"Ta-tapi bagaimana mungkin? Aku sudah membunuhmu dan memastikan....."
"Ada satu hal yang aku rahasiakan dari siapapun hingga saat ini. Karena kau akan mati sekarang, aku akan memberitahumu." Alex mendekatkan mulutnya beberapa centimeter dari telinga Tio.
"Aku memiliki sebuah sihir origin yang unik. Jika aku mati, aku dapat hidup kembali di lokasi yang berbeda. Intinya, aku ini seperti abadi dan sulit dibunuh!" Lanjut Alex dengan suara berat.
Mata Tio melebar mendengar kekuatan milik Alex.
"Ti-tidak mungkin!" Mengapa dunia ini tidak adil, jika saja dia yang memiliki kekuatan itu.
"Tak masalah kau mempercayaiku atau tidak, intinya aku dapat berada dihadapanmu saat ini meskipun kau telah membunuhku sebelumnya."
"Bunuh saja aku! Dasar bajingan si....."
Sraaak!!!!!
Kepala Tio terlepas dari tubuhnya dan menggelinding di lantai sebelum Tio dapat menyelesaikan sumpah serapah.
"Lagipula aku sudah berjanji untuk tidak menyiksamu." Alex mengayunkan pedang yang sebelumnya dia ambil dari sudut ruangan, untuk membersihkan darah yang menempel di pedang tersebut.
Tujuan Alex hanyalah sedikit melampiaskan amarahnya sejak pembantaian yang terjadi di desa Rod.
Dia ingin membuat Tio menjadi putus asa sebelum kematiannya, dengan menunjukkan kekuatan ajaib miliknya yang bahkan tidak dapat diperoleh meskipun bergabung dengan Gereja Bintang Darah.
Alex menoleh ke atas, melihat ke langit-langit ruang bawah tanah dengan tidak fokus.
__ADS_1
"Apa kalian melihatku dari langit? Dengan ini, balas dendam kalian sedikit terbayarkan." Air matanya jatuh ketika mengingat puluhan jasad yang sulit dikenali ketika dia menguburkan mereka semua.
"Kardinal darah atau apapun itu, aku akan membunuh kalian semua dan mencabut Gereja Bintang Darah dari akarnya!" Alex bersumpah sambil menggenggam pedang di tangan kanannya dengan erat.