
Papan kayu yang berada dilantai terbuka, memperlihatkan sebuah tangga menuju ruang bawah tanah yang tersembunyi di dalam rumah tersebut.
Dari dalam, sepasang pria dan wanita keluar secara berurutan, melalui pintu rahasia yang mengarah ke bawah.
"Siapa kau? Mengapa kau menghancurkan rumah kami?" Pria didepan berteriak kepada Alex yang baru saja membuat Tio tak sadarkan diri.
"Maafkan aku. Aku sedang ada urusan dengan orang ini." Alex mengarahkan jarinya kepada Tio.
"Apa yang kau lakukan terhadap adik kami?" Tanya wanita dibelakangnya.
"Hoohhh... Sepertinya kalian satu komplotan dengannya. Apa kalian juga merupakan anggota Gereja Bintang Darah?"
Wajah keduanya berubah mendengar pertanyaan Alex. Pria di depan mengangkat tongkat yang dibawa, lalu memasukkan mana kedalamnya.
"Rin, lakukan seperti biasa. Aku akan mengalihkan akhhh..."
Alex melaju ke arah pria tersebut dan memukulnya tepat diperut sebelum pria itu menyelesaikan perkataannya.
Berkat fisiknya yang kuat, serta mengalirkan sejumlah mana kedalam pukulan tersebut, pria itu langsung jatuh tak sadarkan diri.
"Galus!" Rin melompat menjauh dari Alex, setelah melihat temannya dikalahkan dalam satu pukulan.
"Sialan! Murid baru itu mengacaukan pekerjaan pertamanya. Bahkan dia membawa seseorang yang kuat kesini." Lanjut Rin.
Ketika dia melihat Alex mengumpulkan api ditangan kanan, wajahnya berubah terkejut lalu dia berkata dengan terburu-buru. "Tunggu! Tunggu! Sebenarnya aku sedang menyusup ke Gereja Bintang Darah. Tidak perlu ada pertarungan serius!"
Alex menghilangkan sihir yang sebelumnya diciptakan, dan bertanya dengan waspada, "Mengapa aku harus mempercayaimu?"
"Aku akan memberikan semua informasi yang telah kuperoleh, selama beberapa waktu aku menyusup ke Gereja Bintang Darah. Tentu saja aku akan menjelaskannya langsung kepada ketua cabang guild petualang kota ini, kau juga dapat mendengarkannya disana."
"Berikan beberapa bukti agar aku dapat mempercayaimu!" Desak Alex.
"Aku baru saja memasuki Gereja Bintang Darah sejak enam bulan yang lalu. Tingkatanku di Gereja Bintang Darah adalah murid abu-abu. Lihatlah ini!" Wanita itu mengalirkan mananya pada pisau yang dipegang lalu berteriak "Pisau angin!"
Wushhh...
Pisau itu melepaskan angin tajam yang melesat menuju dinding kayu rumah. Meskipun angin itu tidak memotong melewati papan, terdapat goresan tajam yang membekas di papan tersebut.
"Walaupun tidak seterampil dirimu, aku juga berada di tingkatan perwujudan sihir! Dengan kekuatan itu, aku seharusnya menjadi pendeta biru di Gereja Bintang Darah. Namun aku tidak menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya karena berhati-hati terhadap anggota yang lain." Lanjut wanita itu.
Alex menurunkan kewaspadaannya setelah mendengar penjelasan wanita tersebut.
Lagipula jika wanita itu berbohong dan berniat melarikan diri, dia dapat memantaunya dengan mudah menggunakan klon pertama yang berada di kejauhan.
__ADS_1
"Baiklah aku akan mempercayaimu saat ini. Lemparkan kedua pisaumu kesini!"
Wanita itu melemparkan kedua pisaunya ke lantai dekat kaki Alex. "Ngomong-ngomong, namaku yang sebenarnya adalah Jean. Rin hanyalah nama samaranku di Gereja Bintang Darah."
"Mari kita bawa kedua orang ini ke guild petualang!" Alex tidak menanggapi ucapan Jean. Dia hanya mengangguk sedikit, lalu mengajak Jean untuk membantunya membawa Tio serta Galus ke guild petualang untuk diinterogasi.
"Sebelum itu, kau harus memulangkan anak-anak yang disembunyikan di ruang bawah tanah. Ada empat anak yang belum kami serahkan disana." Kata Jean, membiarkan Alex seorang diri memulangkan mereka.
Dia beralasan bahwa meskipun dia sedang menyamar, dia tetap melakukan penculikan terhadap anak-anak yang membuat orangtua mereka berduka.
Selain empat anak dibawah, dia juga terlibat membantu anggota Gereja Bintang Darah dalam kasus penculikan dua puluh anak yang hilang sebelumnya.
Dia terpaksa melakukan hal tersebut untuk mendapatkan kepercayaan anggota tingkat tinggi Gereja Bintang Darah, sebelum menunjukkan kemampuan aslinya dalam mewujudkan sihir.
Setelah berhasil menyusup lebih dalam, maka dia akan mendapatkan informasi yang lebih berharga, seperti menemukan markas pusat Gereja Bintang Darah atau yang lainnya.
"Tenang saja. Jika aku berniat melarikan diri, aku akan kabur sejak tadi. Elemenku adalah angin, aku juga memiliki sepatu artefak yang dapat mempercepat langkahku. Aku yakin dapat melarikan diri darimu sejak tadi jika itu yang aku inginkan." Jean menunjukkan sepatunya.
Alex melihat sepatu milik Jean memang serupa dengan sepatu yang dipakai Tio sebelumnya. Dia yakin jika Jean lari darinya, dia akan kesulitan mengejar.
Namun ada sesuatu yang tidak diketahui Jean tentang Alex.
Ketika melihat api yang diciptakan Alex, dia mengira Alex merupakan penyihir dengan elemen api. Meskipun sangat jarang, di dunia sihir terdapat beberapa orang yang memiliki lebih dari satu elemen.
Dia mempelajari sihir melalui percobaannya dengan catatan hasil penelitian seorang profesor, yang dirangkum oleh guru fisika sekolahnya mengenai sub-materi.
"Aku tidak dapat mempercayaimu sepenuhnya. Kau sembunyilah diruang bawah tanah, aku akan mengeluarkan empat anak itu dan memanggil tim patroli untuk memulangkan mereka!" Dengan satu-satunya jalan keluar yaitu pintu kayu dilantai, Alex dapat dengan mudah mencegah Jean melarikan diri, jika kata-kata sebelumnya ternyata bohong.
"Haahhh... Baiklah jika itu maumu." Jean pasrah dengan perintah Alex.
Dia memimpin Alex menuruni tangga, memasuki sebuah ruang luas yang menyembunyikan empat anak didalamnya.
Di dalam ruangan, terdapat sebuah kotak jeruji besi yang besar, dengan empat anak yang tertidur didalamnya.
"Anak-anak, bangunlah!" Jean membuka kotak jeruji tersebut, lalu membangunkan keempatnya.
Setelah anak-anak bangun, Jean menceritakan bahwa dua orang yang bersamanya sudah dikalahkan oleh kakak laki-laki dihadapan mereka.
"Kakak ini akan membawa kalian pulang kembali untuk bertemu dengan kedua orangtua kalian!" Jelas Jean sambil tersenyum.
"Bagaimana dengan kak Rin?" Tanya seorang anak laki-laki memanggil Jean dengan nama samaran di Gereja Bintang Darah.
"Jangan khawatirkan aku. Bukankah kalian ingin bertemu orangtua kalian?"
__ADS_1
Keempat anak itu menjawab dengan anggukan kepala.
Dibelakang Jean, Alex memperhatikan keempat anak itu tidak takut ketika mereka melihat keberadaan Jean.
Alex semakin diyakinkan dengan situasi yang dilihatnya, namun tentu saja dia tetap akan mengurung Jean diruang bawah tanah untuk berjaga-jaga.
Setelah mengeluarkan keempat anak tersebut dari ruang bawah tanah, Alex mengeluarkan lonceng seukuran telapak tangan, yang dipakai untuk memberikan peringatan kepada anggota patroli lain.
Ting-ting-ting-ting...
Belum lima menit Alex membunyikan lonceng, beberapa warga yang terbangun datang berkerumun kearahnya. Dikerumunan tersebut, Alex juga melihat Ron beserta sejumlah anggota tim patroli.
Alex menceritakan semua yang terjadi, mulai dari penculikan seorang anak yang sebelumnya dia tinggalkan untuk mengejar Tio, sampai mengalahkan dua orang yang kini tak sadarkan diri dan terikat di tanah.
Tentu saja ada beberapa hal yang dia sembunyikan. Seperti Jean yang saat ini disembunyikan dibawah tanah, serta keterkaitan kasus penculikan ini dengan organisasi Gereja Bintang Darah.
Dia berpikir untuk membiarkan Zeff, sang manager guild cabang kota Xyras, untuk terlebih dahulu menerima informasi mengenai keterkaitan Gereja Bintang Darah.
Dia juga akan membiarkan Zeff yang memutuskan, apakah akan mengumumkan informasi tersebut kepada publik atau tidak.
"Mengapa kita tidak membunuh kedua orang ini?" Teriak seorang pria ditengah kerumunan. Matanya memerah mengingat kedua anaknya yang menghilang tiga bulan lalu.
"Tunggu dulu. Aku yakin nak Leon mempunyai rencana terhadap keduanya." Ron menenangkan orang tersebut dari amarah.
"Paman Ron benar. Aku akan membawa keduanya ke guild petualang untuk diinterogasi. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu kepada kalian. Namun jika kedua orang ini menceritakan tujuan penculikan, mungkin aku dapat menemukan markas mereka." Meskipun Alex tidak mengatakan untuk menyelamatkan kedua puluh anak lainnya, orang tua yang kehilangan anaknya mengerti maksud dari perkataan Alex.
Mereka mengerti bahwa sangat kecil kemungkinannya, untuk menemukan anak mereka kembali, begitu pula dengan Alex.
Karena itulah Alex tidak memberikan sebuah janji, yang mungkin semakin menyakiti perasaan orangtua korban jika dua puluh anak lainnya tidak ditemukan.
Kerumunan bubar meninggalkan Alex dan Ron, bersama Tio dan Galus yang tak sadarkan diri di tanah.
"Apakah nak Leon akan membawa keduanya sendirian?" Tanya Ron.
"Paman Ron tenang saja. Aku dapat membawa keduanya secara bersamaan."
"Baiklah kalau begitu. Aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bantuan nak Leon. Besok pagi, aku akan datang ke guild petualang untuk menyampaikan keberhasilan misi ini."
"Terimakasih paman Ron. Sampai jumpa besok pagi." Balas Alex.
Ron pergi dari sana, meninggalkan Alex yang berdiri sendiri memandangi bulan purnama yang dikelilingi bintang-bintang.
Dia menghela nafas sebelum mengangkat Tio serta Galus keatas pundaknya, lalu membuka pintu rahasia, dan berjalan menuruni tangga yang menuju ruang bawah tanah untuk menemui Jean.
__ADS_1