
<>
Nama : Alexander Leonard
Usia : 17 tahun
Konstitusi : 5 [+]
Vitalitas : 6 [+]
Skill :
- pemahaman bahasa : 3/3 [+]
- klon : 3/3 [+]
- berpikir cepat : 3/3 [+]
<>
<>
<>
<>
Poin system : 0
Koin emas : 499
Mendengar ucapan Alex, William dan lainnya tertegun.
"Kau tidak lanjut ke perguruan tinggi?" Tanya Tomi.
"Sebenarnya aku memang berpikir untuk lanjut ke perguruan tinggi, meskipun nilaiku rata - rata dan mustahil untuk mendapatkan beasiswa, aku sudah bekerja sejak lama dan mengumpulkan tabungan untuk biayanya. Tapi beberapa saat yang lalu aku melihat suatu kesempatan, jadi aku berubah pikiran dan berniat memulai usaha dengan tabungan yang sudah kukumpulkan." Mendengar penjelasan Alex, Tomi tertegun seakan memikirkan sesuatu.
"Apa kau yakin Alex?" Meskipun jarang berbicara dengan Alex, sebagai ketua kelas tentu saja William khawatir dengannya.
"Mungkin awalnya sulit. Tapi aku yakin akan berhasil."
"Baiklah, aku juga tidak berhak mengatur masa depanmu." William mendesah pasrah melihat keyakinan Alex. "Hmm, begini saja. Orang tuaku baru saja membangun barisan ruko di jalan Merpati. Karena ada beberapa toko yang belum disewa, aku akan berbicara dengan orang tuaku untuk membiarkanmu memakainya selama tiga bulan. Selama waktu itu, kau harus berpikir matang - matang tentang masa depanmu. Setelah tiga bulan, kau bisa lanjut berjualan dengan menyewa toko kami atau berhenti lalu belajar selama libur sebelum ujian masuk perguruan tinggi."
Mendengar perkataan William, Alex terkejut dan melihatnya dengan cahaya yang berbeda.
Ketua kelas yang selama ini jarang berbicara dengannya ternyata punya sifat kepedulian yang tinggi terhadapnya. Mungkin selama ini ialah yang berburuk sangka terhadap teman sekelasnya dan tidak berinisiatif untuk berteman dengan mereka.
__ADS_1
"Betulkah itu, meskipun aku yakin usahaku akan berhasil. Tapi aku akan mengikuti nasihatmu."
"Hahahahah kau benar - benar percaya diri Alex." William tertawa menepuk pundak Alex.
Mika dan Vivi terkesan setelah mendengar percakapan Alex dengan William. selama ini mereka tidak peduli dengan Alex karena keadaannya yang sulit.
Pernah beberapa kali mereka memulai percakapan dengan Alex. Bagaimanapun, Alex terlihat cukup tampan meskipun badannya terlihat kurus.
Namun setiap mereka berbicara dengan Alex, hal itu terbukti cukup sulit melihat Alex kurang mengikuti arus zaman tidak seperti pria lain sehingga arah pembicaraan mereka pun berbeda.
"Aku baru sadar ternyata kau sangat hebat Alex. Kalau kau nanti sukses dan aku kesulitan mencari pekerjaan, jangan lupakan aku. Aku juga bersedia jika kau nanti ingin menikahiku." Vivi memutar matanya mendengar pernyataan Mika yang terbuka.
Mereka tertawa bersama dan melanjutkan percakapan mereka menunggu guru selanjutnya memasuki kelas. Sedangkan Tomi yang biasanya humoris kali ini terlihat diam seakan memikirkan sesuatu.
Sepulang sekolah, Alex pergi ke supermarket tempat ia bekerja paruh waktu untuk membeli persediaan obat yang rencananya ia jual di dunia sihir.
"Sore Dion." Alex menyapa pegawai yang bertugas kali ini.
"Yo Alex, kau ingin membeli sesuatu?" Dion melihat Alex sekilas lalu lanjut melihat handphonenya yang ia sembunyikan di bawah meja.
"Apakah manager ada di dalam?" Tanya Alex.
"Oh manager sedang ada di dalam. Kau bisa masuk dan menemuinya." Dion tetap memainkan handphonenya tanpa melihat Alex.
Sesaat sebelum mengetuk pintu, seorang wanita berusia tiga puluhan dengan penampilan formal keluar dengan wajah lelah.
"Oh Alex, bukankah jadwalmu besok?" Tanya wanita tersebut.
"Iya bu Tina, aku ingin berbicara sebentar dengan bu Tina. Apa bu Tina ada waktu?"
Tina memeriksa jam tangannya lalu berkata, "Baik. Ayo masuk ke dalam."
Di dalam, Tina duduk berhadapan dengan Alex dan menunggu Alex mengatakan apa yang ingin ia katakan kepadanya. Tina sedikit khawatir jika ia mendengar Alex akan berhenti bekerja paruh waktu di sini. Jika itu terjadi, terpaksa ia lembur malam ini untuk mengubah jadwal para pekerja yang tersedia sembari menunggu penambahan pekerja baru yang akan memenuhi kuota jumlah pekerja.
"Aku pernah mendengar kalau suami bu Tina berjualan?" Tanya Alex setelah melihat managernya yang terlihat diam menunggunya berbicara.
"Sebenarnya bukan berjualan. Ia membeli barang - barang hasil produktor secara langsung dan menyalurkannya ke beberapa tempat. Keuntungannya sangat besar. Kalau kau ingin belajar itu aku dapat membicarakannya dengan suamiku." Tina sebenarnya terkesan mengetahui kehidupan Alex yang sulit namun tidak terlihat patah semangat. Jika Alex ingin belajar dari suaminya, ia akan memaksa suaminya untuk mengajari Alex.
"Bukan itu maksudku. Hmmm, apa dia juga membeli persediaan kebutuhan pokok dalam jumlah besar?"
"Sepertinya hal - hal itu juga ia distribusikan."
"Jadi seperti ini, dalam waktu dekat aku berniat menjual beras dalam jumlah besar, apakah suamimu dapat membelinya?"
"Kau dapat bicara langsung dengannya. Aku akan memanggilnya sebentar. Tenang saja, ia sudah di depan menjemputku pulang." Tina berdiri dan berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Tina tidak menanyakan dari mana Alex mendapatkan stok beras. Mungkin saja stok beras dalam jumlah banyak menurut pandangan Alex hanya sedikit dalam pandangan suaminya. Ia juga tidak berpikir Alex melakukan sesuatu yang ilegal. Selama hampir tiga tahun bekerja di sini, Alex tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk seperti mencuri barang - barang di toko maupun hal buruk lainnya meskipun ia tahu kondisi Alex sangat sulit.
"Hi Alex, perkenalkan aku Bilson. Aku pernah mendengar tentangmu dari Tina." Seorang pria berusia tiga puluhan mengulurkan tangannya kepada Alex.
"Hi pak Bilson, aku Alex. Maaf telah mengganggu waktumu." Alex menjabat tangan pria itu dan tersenyum.
"Tidak. Tidak. Aku sudah mendengarnya barusan dari Tina. Hal yang menghasilkan uang tidak akan mengganggu waktuku sama sekali jadi jangan merasa sungkan." Bilson tertawa sesaat sebelum pinggangnya dicubit oleh Tina.
Alex menahan tawa melihat kelakuan bosnya yang terlihat berbeda saat bersama dengan suaminya.
"Alex, ada yang ingin kupastikan terlebih dahulu." Tiba - tiba suasana Bilson berbeda dari beberapa saat lalu.
Melihat Bilson yang serius Alex dengan hati - hati mendengarkan.
"Aku tidak akan menerima barang - barang yang bermasalah. Kau tahu maksudku kan?" Bilson menatap lurus mata Alex.
"Tentu saja pak Bilson. Bapak dapat yakin, barang yang kujual kepada pak Bilson kudapatkan secara jujur. Aku tidak mencurinya atau melakukan hal yang buruk."
Melihat Alex sesaat, Bilson melanjutkan, "Baiklah, aku percaya kepadamu. Maaf mengatakan itu. Kau tahu, aku memiliki Tina dan anak kami yang masih kecil. Jadi aku tidak akan melakukan sesuatu yang ilegal meskipun mendapat untung dari itu."
Tina tersenyum mendengar peryataan suaminya.
Di depan mereka berdua, Alex terdiam seolah memikirkan sesuatu. Kemudian ia menganggung setelah memastikan keduanya dapat dipercaya, "Aku ingin menunjukkan sesuatu. Tapi apa kalian dapat merahasiakannya?"
"Apa itu?" Tanya Bilson penasaran.
Alex berdiri dari tempat duduknya dan mengarahkan tangannya ke arah lantai di samping bangku yang ia duduki. Sesaat kemudian, tiba - tiba satu karung berwarna putih muncul di atas lantai mengejutkan baik Bilson maupun Tina yang masih duduk di bangku mereka.
"Aku memiliki kekuatan untuk.."
"Berhenti.. Berhenti.." Bilson berdiri memotong perkataan Alex.
Ia melihat keluar ruangan sebentar dan setelah memastikan tidak ada orang ia kembali ke dalam ruangan berdiri berhadapan dengan Alex.
"Apakah kamu orang bodoh?" Bilson memarahi Alex dengan suara pelan.
"Apa maksud.."
"Tidak kau memang bodoh." Lagi - lagi Bilson memotong perkataan Alex dan menghela nafas.
"Tina, apa kau bisa meninggalkan kami sebentar?" Bilson berkata kepada Tina di sampingnya.
"Eh, oh baiklah." Melihat mata tegas suaminya, Tina berjalan keluar ruangan. "Dan tolong rahasiakan apa yang kau lihat tadi." Lanjut Bilson sebelum Tina membuka pintu.
Tina terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1