
Ada kebahagiaan, ada kesedihan, ada tawa, ada tangis, ada suka, ada duka, ada kaya, ada miskin, ada atas dan ada bawah. Roda kehidupan selalu berputar, jika kita pernah diatas maka kita juga bisa berada dibawah. Allah tak pernah tidur, Allah Maha Adil, manusia hanya bisa berencana tapi Dialah penentu segalanya. Sebaik baiknya rencana manusia adalah rencana-Nya. Tidak ada yang bisa meminta atau menebak jalannya takdir, manusia hanya bisa mengikuti kemana garis hidup akan membawanya.
Begitupun dengan Metha, dia ingin menikah sekali seumur hidup, sayangnya perceraian menjadi salah satu jalan hidupnya. Kepahitan yang ditorehkan Ryan, tentu masih membekas dihatinya. Kecewa, luka, putus asa, menjadi saksi hidup bahwa dia pernah berada di titik terendah hidupnya. Namun dibalik semua itu, ada hikmah yang tersimpan. Allah tak akan menguji manusia di atas kemampuannya, dan itu benar, setelah bagai kehidupan yang dia alami, muncullah pelangi. Kedatangan Evan membawanya dari keterpurukan dan keputus asaan, sosok pria yang dia kenal dari kecil, yang menemaninya hingga dewasa, nyatanya adalah orang yang Allah kirimkan untuk menjadi pendamping hidupnya saat ini.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Pagi ini Metha sengaja tidak bangun untuk memasak, dia hanya memandang wajah tampan suaminya yang masih terlelap. Siapa sangka pria itu mencintainya sejak lama, dan sekarang dia memberikan cinta dan kasih sayang yang besar untuknya. Ada sedikit penyesalan dihatinya, kenapa dia tak menyadari perasaan Evan sejak lama? Tapi sudahlah, semua adalah jalan dari Allah, yang terpenting sekarang dia sudah bahagia
"sudah puas memandangi wajah tampanku, honey?"
Metha tersenyum lalu mengecup bibir indah suaminya
"sudah" jawabnya sambil melingkarkan tangan diperut Evan
"kau mau menggodaku nona?"
"tidak, emh aku ingin makan sarapan buatanmu" ucap Metha manja
"aku tidak salah dengar sayang? Kau mau aku memasak?" tanya Evan heran
"hm, itupun kalau kau tak keberatan" jawab Metha dengan mata berkaca kaca, Evan yang melihatnya menjadi tidak tega
__ADS_1
"baiklah, aku akan memasak untuk ratuku ini, kau ingin makan apa?"
"tomyam" Evan menelan ludah, dia pandai dalam segala hal, tapi tidak untuk yang satu itu, apalagi masakan Thailand,
"tomyam? Mi Thailand?" tanya Evan ragu
"iya" jawab Metha semangat
"Apa bisa diganti mi goreng saja sayang?" tawar Evan
"kita bukan anak SMA lagi sayang, mi goreng mah makanan sehari hari kamu dulu, ish...kamu mah, mau ga sih masakin aku?" sewot Metha, Evan merasa aneh dengan istrinya, dia menjadi lebih sensitif,
"baiklah, aku segera datang membawa pesananmu"
"sayang, ini pesananmu" ucap Evan memasuki kamar sambil membawa nampan berisi semangkuk tomyum dan segelas air putih
"terima kasih papa" jawab Metha, Evan terdiam mendengar ucapan istrinya, dia terbengong
"kau memanggilku apa tadi?"
"papa" jawab Metha tersenyum
__ADS_1
"papa?" Evan masih mencerna ucapan Metha, dia sedikit bingung namun sedetik kemudian, Evan segera meletakkan nampan itu dinakas dan memeluk istrinya
"sayang apa kamu.....????" tanya Evan dengan nada bergetar, apa mungkin dugaannya benar?
Metha tersenyum, dia memberikan sebuah alat kepada Evan, Evan menerimanya dengan gugup dan terlihat dua garis, yang artinya positif
"sayang kamu hamil?" tanyanya tak percaya
"iya, aku hamil, anak kita, aku ga mandul sayang, aku hamil anak kamu, anak kita" Metha meneteskan air mata, dua tahun menikah dengan Ryan dan tak kunjung diberi momongan membuatnya takut akan hal itu, meski pemeriksaan mengatakan dia normal dan baik baik saja, tetap saja, ada kekhawatiran sendiri dalam diri Metha. Namun semua terpatahkan dengan adanya bayi yang sekarang hidup dirahimnya. Evan segera berjongkok dan menghadap perut Metha, dia mencium perut datar itu berkali kali.
"terima kasih sayang, terima kasih sudah mau hadir dikehidupan kami, papa sangat menyayangi mamamu dan juga kamu" Evan berdiri dan memeluk Metha dengan erat, tak lupa mencium wajah wanita itu terus menerus
"terima kasih sayang, terima kasih karena sudah mengandung anakku, aku mencintaimu"
"aku juga mencintaimu mas, dan kita akan membesarkan anak kita bersama sama"
Setelah semua derita yang Metha alami, kini kehidupannya berada di fase kebahagiaan bersama dengan Evan, suaminya.
******
Ryan masih memacu tubuhnya, keringat mengalir di wajah dan tubuhnya. Sebuah nama selalu tergumam dari mulutnya. "Metha" itulah nama yang ia sebut saat bercinta dengan Shanum, bahkan Ryan melakukannya dengan sangat lembut, sepertinya dia membayangkan sedang melakukan hal itu dengan Metha, Shanum berusaha menahan air matanya, nyatanya tetap saja lolos, dia menangis dalam diam. Sungguh hatinya begitu sakit mendengar semua ini, namun inilah resiko yang harus ia terima, setelah merasakan kebahagiaan sesaat yang dia renggut dari orang lain, kini dia merasakan karmanya.
__ADS_1
Setelah Ryan memutuskan memulai kembali semua dari awal, Andre memaksa mereka untuk menandatangi berkas pernikahan. Kini mereka berdua telah resmi menikah secara hukum dan agama. Andre juga telah kembali ke Canada, dia memutuskan menikmati masa tuanya dirumah mendiang istrinya. Dia menyerahkan perusahaan kepada Ryan, selaku menantunya, suami Shanum. Dia berharap putri dan menantunya akan hidup bahagia, tapi bukan kebahagiaan yang Shanum dapatkan, inilah awal dari derita kehidupannya, awal luka yang dia alami karena perbuatannya sendiri.
Semua ini gara gara wanita si****n itu, lihat saja Met, kau akan membayar semua luka yang aku alami saat ini, ucap Shanum dalam hati