
Ceklek
Metha menoleh ke arah pintu, ternyata putra dan suaminya yang datang, dan mereka membawa nampan yang berisi sarapan.
"bunda!!!, bunda sudah ga lelah?" teriak Gio, dia segera berlari dan memeluk bundanya
"bunda sudah ga lelah kok sayang, ini bunda baru selesai mandi" jawab Metha sambil tersenyum
"coba liat tangan bunda" Gio memperhatikan tangan Metha lalu membolak balikkannya, Metha menoleh pada Evan, namun suaminya itu hanya mengedikkan bahu.
"kenapa sayang?" tanya sang bunda
"kata ayah, bunda lupa semplot anti nyamuk, telus bunda ndak bisa tidul, pasti badan bunda melah melah kan?"
Metha menoleh pada Evan, lalu pada putranya
"iya, semalam bunda lupa semprot anti nyamuk, terus bunda digigit nyamuk besar yang nakal"
"iya loh, nyamuknya tampan dan besar Gio" tambah Evan sambil menyengir
"nyamuk kan kecil yah, masa bisa kelihatan tampan atau cantik, ayah halu"
Evan melotot, bisa bisanya bocah kurang dari lima tahun itu mengatainya halu, bahkan Evan yakin Gibul sendiri tak tahu apa itu halu, ck, anak jaman now luar biasa....
"dari mana kamu dengar kata itu, artinya saja ayah yakin kamu ga tahu"
"tahu kok"
"apa coba artinya halu??" tantang Evan
"kata opa halu itu sama kayak suka menghayal"
"ish, opa tua lagi, awas aja nanti kalau kesini" gemas Evan, pasalnya sang papa selalu mengajari putranya hal hal yang bahkan tak terpikir oleh Evan.
"sudah ah, pagi pagi kok sudah berdebat, coba lihat, Gio sama ayah bawa apa?"
"salapan buat bunda, ayah yang masak, tadi ayah sampai nangis waktu kupas bawang" adunya gemas
"benarkah?"
"iya bunda, tadi juga ayah kasih gula halus ke nasi golengnya" Evan lagi lagi mendengus mendengar putranya mengadu kepada sang istri.
"Hahahaa, kenapa Gio ga kasih tahu ayah kalau itu gula halus?"
"sudah, tadi sudah Gio kasih tahu, sekalang ayo bunda coba nasi golengnya" ucap Gio antusias
Metha melihat tampilan nasi goreng itu menarik, tapi entah dengan rasanya, jaman sekarang kan penampilan selalu menipu, betul ga??
Satu sendok sudah masuk kedalam mulut Metha, dia menoleh pada Evan dan Gio yang sedang menanti komentarnya.
"enak kan sayang?" tanya Evan
"hm, sedikit kemanisan"
"tuh kan, ayah sih, coba Gio makan" bocah itu menyuap nasi goreng kedalam mulutnya dan...
"iya yah, kemanisan, tapi lumayan enak"
"cuma lumayan mbul? Ini tangan ayah sampai kena minyak, kamu cuma bilang lumayan?" tanya Evan
"kan kata bunda halus bicala jujul, ya kan bunda?" lagi lagi Metha tersenyum, putranya memang pintar
"sudah, ayah jangan bersedih, bunda akan tetap makan sarapan buatan ayah kok, kan ayah sudah capek buatnya"
"Gio juga yah, Gio akan makan salapan buatan ayah"
__ADS_1
"uh, ayah jadi terharu nih"
"tapi habis makan, kita main ke Mall ya yah, kan besok sole kita mau ke panti"
"ok deh"
"yeey" ucap Gio kegirangan,
Setiap senin sore mereka akan mengunjungi panti, selain doa bersama, mereka akan membagikan mainan, pakaian dan kebutuhan lainnya. Sebenarnya sudah ada orang suruhan Evan yang mengurus hal ini, namun untuk beberapa hal, Gio ingin turut serta menyiapkannya dan Evan selalu mendukung keinginan putranya, asalnya dalam hal baik.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Evan, Metha dan Gio baru saja tiba di Mall, rencananya hari ini mereka akan membeli beberapa alat tulis, seperti buku, pensil, spidol warna, buku gambar dll.
Mereka berjalan beriringan, tentu saja mereka menjadi pusat perhatian, apalagi si gembul Gio yang tampan dan menggemaskan.
"yah, kita ga usah beli mainan, kemalin opa belikan Gio banyak mainan, dalipada tidak dipakai, lebih baik di bawa ke panti, telus dibagikan kepada teman teman dan adik adik disana"
"anak ayah memang pintar, ayah setuju, Gio jangan lupa terus berbagi ya, kalau Gio punya sesuatu jangan lupa temannya dikasih" pesan Evan kepada si gembul
"iya ayah"
Metha tersenyum melihat Gio, anak itu memang mudah menangkap apapun yang di ajarkan mereka. Walau kadang agak bandel dan menyebalkan, tapi Gio adalah anak yang baik.
"itu tokonya yah, ayo cepat!!" Gio antusias menarik tangan Evan saat mereka sudah tiba di toko stationary, membuat Metha menggeleng kepala melihat tingkah bocah menggemaskan itu.
Evan mengambil troly lalu mulai berkeliling, tentu saja banyak barang yang mereka beli, apalagi si gembul yang ikut memilih barang barang tersebut. Dia mengambil beberapa pak buku gambar, buku tulis, pensil dan peralatan tulis lainnya.
"bunda, kalau ini bisa buat mewalnai?," tanyanya melihat cat akrilic,
"bisa sayang, cat itu biasanya dipakai untuk mewarnai lukisan" sahut Metha
"di panti siapa yang bisa melukis?" tanya Evan
"ga ada yah, kalau kak Lafa sama Nio, meleka pintal nyanyi, bukan melukis" jawab Gio
"ga usah yah, beli clayon saja buat adik adik belajal mewalnai"
"ok deh" jawab Evan, kemudian memasukkan beberapa pak crayon kedalam keranjang.
Mereka terus berkeliling hingga semua barang yang diperlukan terbeli. Setelah membayar semua barang tersebut, Evan meminta karyawan toko membawanya ke mobil, sementara mereka akan lanjut makan siang karena si gembul sudah merengek kelaparan.
"Gio mau makan apa?" tanya Metha kepada putranya, tidak banyak stand makanan yang buka karena masih masa pandemi.
"makan seafood bunda"
"selera kita memang sama, tos dulu dong" Evan dan Gio bertos ria, sementara Metha hanya mengikuti kemauan dua pria kesayangannya itu, menu makanan kesukaan Gio sama persis dengan Evan, bahkan saat Metha hamil, dia juga suka makan seafood.
Mereka berjalan menuju restoran yang menyediakan seafood serta makanan biasa, ketiganya masuk dan mencari tempat duduk.
"silahkan mau pesan apa?" tanya pelayan kepada mereka
"Gio pesan apa?"
"udang clispi, cumi asam manis, sama jus jeluk"
"kalau bunda?"
"bunda, emmm, ayam saus tomat sama jus alpukat saja"
"saya kepiting saus tiram ya, sama jus alpukat"
"baik, silahkan ditunggu sebentar"
Pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka
__ADS_1
"habis ini mau kemana?"
"tempat belmain apa buka bunda?"
"sepertinya masih, Gio mau kesana?" bocah gembul itu mengangguk
Setelah makan siang, mereka melanjutkan jalan jalannya menuju area permainan anak, ,
"yah, Gio mau main itu?" tunjuknya pada mesin capit,
"emang Gio bisa?" tanya Metha
"ayah yang akan main" jawabnya tanpa dosa sambil menunjuk ayahnya,
Lagi lagi aku yang kena, bathin Evan
Setelah menggesek kartu member pada mesin permainan, Evan mulai menggerakkan tombolnya dan
Srek.....cetak
Pencapit itu kembali kepinggir karena Evan tak berhasil mencapit bonekanya.
"ayah gimana sih, boneka kecil aja ga bisa ambil" gerutu si gembul
"lah, kenapa tadi nyuruh ayah hayo"
"kilain ayah tahu, tahu begitu kan tadi nyuluh bunda" jawabnya kesal
"bunda juga ga tahu kok, sudah ah, main yang lain saja" Evan beranjak menuju permainan berburu, dia bersiap dengan tembak ditanganya namun pada akhirnya "your failed" monitor berbunyi yang menandakan jika lagi lagi, Evan kalah
"ayah kalah lagi!" seloroh bicah cilik itu
"ish, bukan kalah mbul, cuma belum beruntung" sangkal Evan
"sama saja" jawabnya sambil memangku tangan, menandakan dia tengah kesal,
"sudah, sekarang Gio mau main apa? Ayo cari permainan lain" bujuk Metha,
Akhirnya si gembul memilih bermain balap mobil, kali ini Evan hanya mendampingi, dia tak mau disalahkan lagi oleh putranya jika kalah.
"ayah, ayo main sama Gio!"
"ga mau ah, nanti kamu nyalahin ayah lagi kalau kalah"
"kan sekalang kita tanding, nanti lihat, Gio apa ayah yang menang" tantang bocah kecil itu
"yang menang dapat hadiah apa?" tanya Evan usil
"cium dari bunda"
"ish, kalau cium dari bunda mah, ayah udah dapat setiap hari" ucapnya sambil melirik sang istri
"telus ayah mau hadiah apa? Ayah kan banyak duitnya, bisa beli sendiri"
"mana bisa begitu, kan permainan harus adil mbul, ayah juga mau hadiah kalau menang"
"ya udah deh, ayah minta apa kalau menang?"
"kalau ayah menang, kamu harus pijitin ayah, bagaimana?", bocah gembul itu nampak berfikir sejenak
"ok" ucapnya sambil mengangkat jempolnya
"telus kalau Gio yang menang, Gio dapat hadiah apa?" tambahnya
"Gio mau hadiah apa dari ayah?" tanya Evan serius
__ADS_1
"Gio mau adik, tiga!" ucapnya mantap