
Metha mengantar Evan ke bandara, sebenarnya suaminya itu sudah melarang, entah kenapa Metha memaksa. Dia bahkan terus memeluk erat lengan sang suami,
"sayang, aku harus pergi sekarang" ucap Evan,
"ya sudah" Metha memang menjawab ya sudah, tapi tangannya masih memeluk erat lengan suaminya membuat Evan terkekeh
"bagaimana aku mau pergi kalau lenganku saja masih kamu pegang erat" goda Evan, Metha tersadar lalu melepaskan lengan Evan
"aku akan sangat merindukanmu" lirih wanita hamil tersebut
"hei, jangan sedih, aku akan berat meninggalkanmu jika begini"
"jangan lupa cepat kembali"
"tentu honey, aku akan segera kembali, jangan lupa rindukan aku!"
"tentu, aku pasti akan merindukanmu sayang"
Terdengar panggilan untuk penumpang, dengan berat hati Metha melepas kepergian sang suami. Setelah memastikan Evan masuk kedalam pesawat, Metha pulang bersama supir.
__ADS_1
"kita langsung pulang atau mau kemana bu?"
"kerumah papa pak"
"baik"
Metha memilih kerumah mertuanya, jika dirumah dia akan sendiri dan merasa kesepian, dengan adanya mertuanya setidaknya dirinya tidak merasa sendiri. Setelah 30 menit, Metha sampai dirumah Danu, dia segera masuk kedalam rumah.
"eh, ada menantu mama, sini masuk" ajak mama Evan
"kamu pasti kesepian kan?" tanyanya lagi, Metha hanya mengangguk
"baik ma, dia sehat dan kuat"
"syukurlah, kamu harus tetap rajin makan makanan bergizi jangan lupa susu dan vitaminnya"
"pasti ma, papa dimana ma?"
"biasa, dia main golf sama teman temannya, oh ya, mama punya kue kesukaan kamu, ayo kita makan bersama"
__ADS_1
Metha dan Airin menikmati waktu mereka dengan hangat, Metha sangat bersyukur memiliki mertua seperti mereka. Apalagi memiliki Evan, sungguh hidupnya begitu sempurna.
Berbanding dengan Metha, kini Shanum harus bekerja keras memulihkan perusahaannya. Dia meminta bantuan beberapa teman kuliahnya yang merupakan hacker, sayangnya hingga saat ini mereka belum ada yang berhasil. Frustasi....sungguh, Shanum ingin berteriak kencang saat ini, dalam sekejap hidupnya langsung berubah drastis. Bahkan bisa dikatakan saat ini dia sedang terpuruk, dan tidak ada yang membantunya, ayahnya sakit, Ryan pergi meninggalkannya. Sungguh malang bukan?. Lengkaplah sudah penderitaannya. Adapun tawaran dari Akmal adalah hal yang mustahil dia lakukan, menikah dengan orang yang tidak kita cintai sama saja menukar kebahagiaan diri sendiri, dan Shanum tak mau melakukan itu. Dia masih berharap bisa kembali bersama Ryan suatu hari nanti.
🍃🍃🍃🍃🍃
Metha duduk di dekat jendela kamarnya, dia memandang taman disamping rumah. Banyak bunga bunga mekar disana, sungguh indah. Tapi tak seindah dengan perasaannya, dia galau....sudah enam hari kepergian Evan, lima hari komunikasi mereka lancar, tapi sejak semalam Evan tidak bisa dihubungi padahal pria itu mengatakan akan pulang hari ini.
Resah? Tentu saja, Khawatir? Pasti, siapa yang tidak akan berfikiran negatif jika suami kita tidak bisa dihubungi sejak semalam. Apa mungkin??? Ah... Metha harus membuang jauh jauh pikiran buruknya. Dia harus yakin jika Evan pasti kembali, mungkin saja dia sedang rapat dengan klien, atau ponselnya kehabisan baterai, ya..mungkin itu yang terjadi pada suaminya. Bathin Metha
Dering ponsel membuyarkan lamunan Metha, dia segera mengambil benda pipih tersebut lalu mengangkatnya
"ya hallo..."
"Benarkah? Baiklah saya akan segera kesana"
Metha segera mengambil tas dan bergegas pergi setelah menerima panggilan tersebut.
****
__ADS_1
Kira kira apa yang terjadi hayo????