
Metha dan Gio langsung berjalan ke ruang tamu, disana sudah ada laptop yang biasa mereka gunakan untuk zoom saat Gio belajar melalui daring. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, Metha segera menghidupkan laptopnya dan mulai masuk ke link zoom yang sudah dikirim ibu guru Gio.
"selamat pagi anak anak, bagaimana kabarnya hari ini?" tanya ibu guru Novia
"baik ibu guru" jawab beberapa anak secara bersamaan, kegaduhan sedikit terjadi karena suara mereka yang saling bersahutan
"sudah berdoa sebelum belajar?"
"sudah ibu gulu" jawab Gio mantap
"sudah sarapan semua kan?"
"sudah!!"
"bagus, sekarang kita belajar berhitung ya?"
Beberapa anak terlihat mengangguk, zoom yang terdiri dari 8 orang peserta itu terlihat menggemaskan, dimana wajah wajah lucu tanpa dosa itu terlihat berjajar rapi di aplikasi belajar tersebut
"ayo sekarang kita mulai belajar, satu ditambah satu ada berapa? Siapa yang bisa jawab angkat tangan!"
"saya, saya!!" jawab Gio tak kalah semangat dari teman temannya,
"ayo Gio, satu ditambah satu ada berapa?" ulang bu Novia
"ada empat bu gulu" Metha langsung melotot mendengar jawaban Gio, pasalnya putranya itu sudah bisa pertambahan, bahkan pertambahan dua dia sudah bisa. Kenapa anak itu malah menjawab empat. Danu dan Airin yang baru tiba, langsung duduk di sofa dekat mereka, opa dan oma itu ikut mengamati cucu kesayangan mereka saat belajar online.
"Gio, satu ditambah satu itu ada dua" jawab bu Novia
"kata ayah, bunda satu, ayah satu, sekalang sudah ada Gio 1, nanti akan ada 3 adik Gio, jadi satu ditambah satu ada 4" jawab Gio polos dan tanpa dosa
Metha mendelik,
__ADS_1
Astaga Evan, apa yang sudah kamu ajarkan pada anak kita, bathin Metha.
"hahahahah, cucu opa hebat, Gio pintar, itu namanya rumus reproduksi" ucap Danu sambil menunjukkan jempol pada cucu kesayangannya tersebut, sedangkan Metha hanya menepuk jidat dengan tingkah mertuanya.
"Gio, satu ditambah satu kan ada dua, Gio kan sudah tahu nak" ucap Metha pelan,
"kata ayah ada 4" jawabnya tak mau kalah sambil menunjukkan empat jarinya, ini semua ulah sang suami, Metha melirik laptop dan melihat guru Gio menahan tawa mendengar hal konyol yang dilontarkan putranya.
"ya sudah, ayo Gio dan semuanya coba angkat dua jari telunjuk kalian, dan hitung ada berapa?" tanya bu Novia
"dua!!" jawab mereka serentak, Gio nampak cemberut menggemaskan
"pintar, jadi satu ditambah satu itu ada dua, Gio sudah mengerti nak?" tanya bu Novia lembut. Bocah gembul itu hanya mengangguk,
Pelajaran berhitung masih berlanjut, Metha dan opa, oma itu masih setia menemani bocah gembul itu belajar. Hingga waktu menunjukkan pukul 9 pagi yang menandakan waktu pembelajaran sudah berakhir.
"kenapa cucu opa yang tampan ini cemberut hm?" tanya Danu sesaat setelah Gio selesai belajar online
"kata ayah Gio akan punya tiga adik, kata ayah adiknya ada di perut bunda, tapi kok diperut bunda ndak ada apa apanya?" tanyanya menggemaskan
"jadi Gio mau punya tiga adik?" Danu malah memprovokasi sang cucu
"iya dong, kata ayah, biar Gio banyak temannya, ayah juga bilang dulu ayah sendirian ga ada temannya karena opa pelit, ga mau kasih adik sama ayah"
"eh, mana ada! Opa bukan pelit, tapi opa menyayangi ayah Gio, makanya opa ga kasih ayah Gio adik"
"telus, kalau Gio punya adik altinya ayah sama bunda ndak sayang Gio begitu?? Kalau gitu Gio ga mau punya adik!!"
Skak, Danu kelabakan, dia tak menyangka jawabannya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, hahahaha
"eh... bu...bukan gitu maksud opa, maksud opa...em."
__ADS_1
Danu menoleh pada istri dan menantunya, berharap mendapat bantuan jawaban, nyatanya dua wanita itu hanya tertawa, matilah dia kalau sampai Gio tidak mau punya adik, pupus sudah harapannya memiliki banyak cucu.
"pokoknya Gio ndak mau punya adik, nanti ayah sama bunda ndak sayang Gio lagi!"
"lah, bukan begitu sayang, em maksud opa, dulu oma sakit, jadi ga bisa kasih ayah Gio cucu" jawab Danu asal
Airin mendelik mendengar jawaban suaminya,
"loh loh, kok jadi bilang aku sakit, aku sehat loh pa" jawab Airin sewot
Lagi lagi jawaban Danu membuatnya mati kutu
Yassalam, aku harus bagaimana, bathin Danu
"maksud opa, dulu itu mereka ga kasih adik buat ayah, karena opa ga mau oma kesakitan sayang" jawab Metha
"nah, itu maksud opa" jawab Danu cepat
"jadi kalau kasih adik ke Gio, nanti bunda kesakitan? Gio ndak mau bunda kesakitan, Gio sayang bunda, pokoknya Gio ga mau punya adik"
Lah, salah jawab lagi,.....Metha hanya menyengir ketika ditatap oleh papa mertuanya.
"sudah sudah, jangan berdebat lagi, sebaiknya kita makan siang dulu, Gio lapar kan? Oma tadi bawa opor ayam kesukaan Gio" bujuk Airin
"asyik, ayo kita makan oma, bunda"
"loh, opa ga di ajak nih?" tanya Danu memelas
"ndak, nanti opa makan opol Gio"
"ingat pesan bunda?" tanya Metha, Gio menghela nafas
__ADS_1
"ya sudah, opa boleh ikut makan, tapi opolnya satu saja, kata bunda ndak boleh makan banyak banyak, nanti sakit pelut"
Danu segera menggendong cucunya dan menciumnya gemas, mereka berempat berjalan menuju meja makan untuk makan siang bersama.