
Benar kata Evan. Malam harinya Gio datang bersama orang tuanya sambil menenteng kresek belanjaan.
"bunda!!!!" teriaknya menghampiri Metha
"anak kesayangan bunda darimana hm?"
"dari mall, tadi diajak opa" Gio menjawab sambil mengangkat kresek yang ada ditangannya
"Gio sudah makan?" kali ini Evan yang bertanya
"sudah lah, masa iya jam segini belum makan, saya ini orang yang pengertian, masak harus nunggu ritual en.....aw....."
Danu meringis akibat sikutan istrinya....
"kalau ngomong di filter....fil.... ter" geram Airin, hampir saja Danu mengatakan kata kramat...apa dia tidak sadar jika ada Gio diantara mereka, bisa bahaya jika bocah gembul itu mendengarnya dan bertanya apa itu ritual enak enak
"tadi sudah makan sama opa dan oma yah"
"oh ya? Makan apa sama opa oma?"
"ayam klispi"
"cuma dibelikan makan itu?" tanya Evan melirik papanya
"ck, saya bukan orang pelit asal kamu tahu, lagian anakmu sendiri yang minta makanan itu!"
"iya, iya percaya kok" ucap Evan tak memperpanjang perdebatan mereka
"ya sudah sekarang Gio masuk kamar lalu tidur, sudah malam" bukan Evan dan Metha, tapi perintah itu datang dari opa tua
"baik opa, lagian Gio juga sudah ngantuk, ayo bunda temani Gio tidul"
"ya sudah kalau begitu, opa sama oma pulang dulu, kami juga mau en....aw" lagi lagi Danu meringis, kali ini dia mendapat cubitan dari istri tercinta, Evan terkekeh melihat orang tuanya, sedangkan Metha tak merespon lebih ucapan mertuanya karena papa mertuanya memang selalu gamblang kalau berbicara
"kami pulang dulu ya" pamit Airin
"hati hati ma, pa" ucap Metha diangguki oleh Airin
Setelah kepulangan orang tuanya, Evan dan Metha membawa Gio kekamar.
"yah, bacain dongeng ya" pinta Gio
"baiklah, putra ayah yang tampan mau ayah bacakan dongeng apa?"
"supelhero"
"baiklah, seperti perintah tuan muda" Gio terkekeh mendengar panggilan tuan muda dari ayahnya. Evan mulai bercerita, sedangkan Metha mengelus punggung putranya. Tak berselang lama, terdengar dengkuran halus yang menandakan jika Gio sudah tidur. Mereka bergantian mengecup kening Gio lalu keluar kamar.
...🍃🍃🍃🍃🍃...
Hari ini Metha dan Evan akan ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Sejak tahu dirinya hamil, Metha memang belum sempat periksa. Maka dari itu, hari ini Evan memintanya untuk periksa ke rumah sakit untuk memastikan jika calon anak mereka sehat.
"jadi kita mau lihat adik bayi?" tanya bocah menggemaskan itu,
"iya, tapi nanti setelah Gio belajar sama bu guru dan teman teman ya"
"baik bunda" jawabnya semangat,
__ADS_1
Pukul 07.30 Metha dan Evan menemani Gio untuk belajar daring. Mood memang sangat berpengaruh untuk melakukan kegiatan, buktinya hari ini Gio nampak lebih semangat, sepertinya bocah itu sudah tak sabar ingin melihat adik dalam perut bundanya.
Pukul 10.00 pembelajaran selesai dan mereka bersiap menuju rumah sakit.
"yah, wajah adik nanti mirip Gio kan?" tanyanya polos
"hm, iya dong kan Gio kakaknya" jawab Evan sambil menyetir
"asyik!!" teriaknya girang
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Mobil Evan sudah berada diparkiran rumah sakit. Mereka turun dan masuk kedalam. Tentu saja tujuannya poli kandungan. Tak sedikit mata yang memperhatikan mereka, terutama si gembul yang menggemaskan. Siapapun pasti akan jatuh cinta jika melihat Gio, selain tampan, pipinya yang chabi membuatnya terlihat menggemaskan.
Sesuai aturan, mereka ikut mengantri setelah melalukan pendaftaran. Sebenarnya Metha sudah janjian dengan dokternya. Tapi bagaimanapun aturan tetaplah aturan, siapa yang datang duluan, akan dilayani lebih dulu.
Sekitar 30 menit akhirnya nama Metha dipanggil,
"apa kabar Metha?" tanya dokter Nina, dia adalah dokter kandungan yang menangani Metha waktu hamil Gio dulu.
"alhamdulillah baik dokter"
"ini pasti Gio ya, wah sudah besar dan tampan ya"
"tentu saja tampan dok, lihatlah ayahnya yang sangat tampan ini" ujar Evan narsis, dokter Nina melirik Metha sambil menahan tawa membuat perempuan itu memerah menahan malu atas tingkah suaminya
"ya, kalian berdua memang tampan" puji dokter paruh baya itu, "baiklah, sekarang ukur tensi dan berat badan dulu ya" Metha mengangguk, dengan telaten dokter Nina dibantu suster memeriksa Metha, setelah pemeriksaan itu selesai, dokter meminta Metha berbaring di ranjang. Suster mengoleskan clear ultrasond gel atau gel yang biasa diolehkan ke perut untuk melakukan USG. Setelahnya dr Nina menggerakkan transducer di atas perut Metha.
Evan dan Gio terlihat sangat antusias, mereka memperhatikan layar minitor hampir tak berkedip,
"ini, lihat kan ada bulatan kecil seperti kacang, nah itu adik Gio" jelas dokter
"jadi adik Gio kacang?" tanyanya dengan raut wajah heran
Ke empat orang dewasa itu menahan tawa mendengar pernyataan Gio
"bukan kacang sayang, adik Gio masih kecil jadi terlihat seperti kacang, tapi nanti jika sudah besar akan jadi adik bayi" terang dokter Nina
"jadi adik Gio masih kecil dan kayak kacang?"
"iya" lagi lagi dokter Nina menjawab
Gio menoleh pada ayahnya
"kenapa ayah ga kasih makan bunda yang banyak, lihat kan, adik Gio jadinya sepelti kacang" ucapnya sambil berkacak pinggang,
Evan tak menjawab, dia menoleh pada dr Nina, wanita paruh baya itu paham harus berbuat apa.
"Gio, adik kamu saat ini memang masih kecil sayang, itu dikarenakan adik Gio yang baru hadir di perut bunda, tapi setiap harinya akan tumbuh semakin besar, kan adik Gio akan berada diperut bunda selama sembilan bulan"
"jadi adik Gio kecil bukan karena ayah ga kasih makan bunda?"
Pertanyaan itu sukses membuat Evan melotot, membuat tiga wanita disana tertawa
"tentu bukan sayang, adik Gio kecil karena baru tumbuh, dulu Gio juga seperti itu" jelas dr lagi,
"ga kelihatan wajahnya dong!"
__ADS_1
"kalau Gio mau lihat wajah adik, nanti ya, kalau usia kehamilan bunda sudah masuk empat bulan, Gio mau kan nanti lihat wajah adik?" Gio mengangguk paham, namun wajahnya sedikit menunjukkan kebingungan
"tapi sehat semua kan dok?" tanya Evan
"sehat kok, dan kalau dilihat usianya sudah 6 minggu atau satu bulan setengah"
"Tapi kenapa saya tidak mengalami gejala apa apa dok?"
"karena setiap kehamilan itu tidak sama Met, kadang memiliki gejala pada umumnya seperti morning sickness, mual, pusing, tapi juga ada yang tidak mengalami gejala apa apa seperti kamu, ada pula suami yang mengalami gejala seperti ibu hamil, yang biasa disebut kehamilan simpatik"
"pantas saja saya lancar setiap malam dok" celetuk Evan yang langsung mendapat cubutan dari Metha, Evan hanya menyengir tanpa dosa membuat dr dan suster kembali menahan tawa.
"saya resepkan vitamin ya, silahkan ditebus ke apotik depan" tambah dr Nina
"baik dok"
"jaga kesehatan, jaga pola makan, lebih bagus juga mengkonsumsi susu kehamilan"
"baik dok terima kasih, kalau begitu kami permisi" pamit Metha
"silahkan"
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Evan baru selesai menebus vitamin untuk istrinya, dia langsung menuju kursi tunggu menghampiri Metha dan Gio
"ayo, ini vitaminnya" Evan menyerahkan vitamin itu pada Metha, mereka berjalan keluar, Evan mengambil mobil diparkiran sementara Metha dan Gio menunggu di lobi rumah sakit.
Metha dan Gio segera masuk kedalam mobil saat mobil Evan sudah berada didepannya.
"mau makan dulu yank?"
"boleh deh, aku juga sedikit lapar" Metha melirik ke belakang, tempat dimana Gio duduk dengan tenang, namun yang membuatnya heran, sejak tadi Gio hanya diam
"Gio kenapa?" tanya Metha kepada putranya, Gio hanya menggeleng membuat Metha menoleh ke belakang,
"Bunda lihat sejak tadi kamu diam saja, apa Gio sakit?" tanya Metha khawatir, Evan juga melihat putranya dari kaca spion,
"Gio ada masalah?" tany Evan
"ga ada!"
"lalu Gio kenapa?"
"Gio lagi mikir, apa mungkin dulu ayah atau bunda adalah manusia yang telkena kutukan"
Metha dan Evan kompak menatap putranya,
"kenapa Gio berfikir seperti itu, mana ada orang yang terkena kutukan, kamu ada ada saja" ucap Evan, entah kenapa bisa putranya memiliki pemikiran jaman dahulu kala, apa mungkin ini ajaran opa tua?
"buktinya adik Gio kayak kacang, bisa jadi ayah atau bunda adalah manusia kacang"
******
Wkwkwkwk, Gio ada ada saja....
Maaf baru up kakak kakak, semoga sehat selalu ya.....
__ADS_1