Berlian Yang Tersisih

Berlian Yang Tersisih
Hukuman Untuk Ayah


__ADS_3

"buktinya adik Gio kayak kacang, bisa jadi ayah atau bunda adalah manusia kacang!"


Cit....duk


Dahi Metha menghantam dashboard saat Evan reflek mengerem mendadak. Pria itu terlalu kaget dengan pernyataan sang anak.


"sayang, kamu ga papa?" tanya Evan khawatir sambil memegang dahi Metha


"kenapa mengerem mendadak sih, sakit nih dahiku" keluh Metha memegang dahinya


"ayah kalau ga bisa nyetil jangan bawa mobil!" ucap si gembul dari belakang


"ini juga salahmu, mana ada manusia kacang, yang ada ayah ini manusia perkasa"


"buktinya adik Gio kayak kacang!"


"ma....."


"sudah sudah, jalankan lagi mobilnya, nanti keburu ada yang mau lewat, untung saja sepi" putus Metha mengakhiri perdebatan anak dan suaminya


"yank, Gio itu anakku kan?" tanya Evan ketika sudah menjalankan mobilnya,


"jadi kamu meragukan anakmu!!!" ucap Metha dengan nada tinggi


"bu....bukan gitu yank, emmm, aku cuma heran dengan tingkah Gio yang emmm......" jawab Evan gelagapan


"kamu lihat wajahnya!" tunjuk Metha pada Gio, bocah itu duduk tenang dengan wajah yang menyebalkan menurut Evan, "Bahkan semuanya mirip kamu, bisa bisanya kamu meragukan anakmu sendiri, atau jangan jangan kamu juga meragukan anak yang aku kandung ini!!" sewot Metha


"yank, aku....em...aku ga pernah meragukan anak kita, kamu kan tahu aku cinta kamu sejak dulu, kamu segalanya buat aku, hidupku, bahagiaku, aku..."


"hukum saja bunda" ucap Gio memanasi


Evan melirik Gio, dia kesal pada bocah gembul itu,


Anak ini, benar benar deh, bisa bisanya dia bikin aku berada disituasi genting begini, ahhgggg.....


"yank, maafin aku" rengek Evan


"benar kata Gio, kamu harus dihukum" Metha menyeringai, kapan lagi ada kesempatan menjahili suaminya...


"tos dulu bunda" Metha dan Gio bertos ria membuat Evan menghela nafas,


"kalian tega sekali pada ayah"


"enaknya hukuman apa yang kita berikan pada ayah, Gio?"


"suruh ayah menari di mall" Evan melotot, anaknya ini memang menyebalkan


"tidak, tidak, ayah ini pengusaha terkenal, bagaimana kalau ada rekan bisnis atau anak buah ayah, mau ditaruh dimana muka ayah, cari hukuman lain saja" tolak Evan


"suruh pakai daster di mall bunda" lagi lagi Evan menggeram kesal, ide Gio sungguh tak masuk akal


"bisa tidak, kamu diam saja" pinta Evan pada putranya, "kalian belanja sepuasnya aja ya yank" bujuk Evan memelas


"kalau cuma belanja, aku bisa sendiri"


"yank, jangan tega gitu sama aku, bagaimanapun aku suami kamu loh"


"suami yang ga ngakui anaknya" sindir Metha

__ADS_1


"yank, sumpah ya, Gio dan anak dalam perut kamu itu anakku, aku buatnya pake banyak gaya, tidur, berdiri, nung...." Metha menutup mulut suaminya, bahaya jika ucapan itu diteruskan, apa suaminya itu tak sadar jika ada Gio diantara mereka


"ayah lebay" ejek Gio


"diam aja kamu mas, jalankan mobilnya menuju mall"


"kamu ga akan hukum aku seperti ucapan Gio kan?" tanya Evan paranoid


"kita lihat saja nanti"


Evan kembali menghela nafas, dia memilih diam dan menjalankan mobilnya menuju mall


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Mereka telah tiba di pintu masuk mall, Evan terlihat tak semangat, berbeda dengan dua orang tersayangnya.


"kita makan dulu" pinta Metha, mereka menuju ke salah satu restoran cepat saji


"Gio mau makan apa?"


"banana flout, nasi goleng sama jus anggul"


"aku ga ditanya yank?"


"kamu pesan sendiri saja" ketus Metha


Setelah mereka memesan, ketiganya diam. Metha asyik dengan Gio dan tidak menghiraukan Evan. Membuat laki laki itu kembali menghela nafas.


"silahkan" ucap pelayan setelah menyajikan makanan di meja


Beberapa saat kemudian, makanan yang disajikan sudah ludes dilahap,


"yank, hukumannya dirumah saja ya"


"ga bisa dong, harus disini"


"yank"


"udah ah, jangan merengek seperti anak kecil, ikuti saja kita" Evan pasrah, dia terpaksa mengekori istri dan anaknya.


Akhirnya mereka tiba di depan sebuah barbershop


"yank, kamu ga akan botakin rambut aku kan?"


"masuk!!"


"ga mau yank"


"cemen" cibir bocah gembuk yang ada disampingnya


"boleh ga Gio aku pites??" seolah melupakan perintah Metha, Evan justru mengatakan hal lain


"pites aja, tapi aku pastikan setelahnya kamu akan jadi dendeng ragi"


Hening,


"masuk ke dalam" bak anak kecil yang takut pada ibunya, Evan masuk kedalam barbershop


Terlihat Metha berbicara dengan salah satu kapster, entah apa yang dia bicarakan, dalam hati Evan berdoa agar Metha tak meminta sang kapster menggundul kepalanya.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan kapters, Metha mengajak Gio keluar, sedangkan Evan sudah diminta duduk dikursi dan akan segera di potong rambutnya.


"mas, tadi istri saya bilang apa?"


"saya diminta tidak mengatakan apapun kepada anda pak"


"ish, kalau begitu saya ga mau potong rambut"


"pesan istri bapak, kalau bapak tidak mau potong rambut, jangan berani pulang kerumah lagi"


Nyali Evan menciut, dia tidak berani meninggalkan kursinya. Kapster mulai menggerakkan alat cukur membuat Evan semakin was was. Detak jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Dia bahkan tidak berani menatap cermin didepannya. Entah mengapa waktu terasa berlalu dengan lambat. Hingga


"selesai pak"


Evan menatap cermin dan dia lumayan tercengang dengan model rambutnya, sang kapster memotong rambutnya dengan gaya short and spiky, dan itu membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda


"sudah selesai?" tanya Metha yang datang sambil menenteng beberapa paper bag.


"sudah bu"


"terima kasih" ucap Metha tersenyum


"ini, ganti bajumu dengan ini" Metha berucap seraya memberikan paper bag kepada Metha


"bukan daster kan yank?"


"ck, ga usah banyak tanya, pakai saja"


Evan kembali pasrah dan masuk dalam kamar mandi, tak lama Evan keluar dengan memakai celana tiga perempat serta kaos polo berwarna hitam polos dan sepatu kats. Tampilannya seperti remaja, namun tak menghilangkan kesan manly.


"ayah tampan ya bun?" puji Gio


"tentu saja, dia kan ayah Gio"


"kalian berdua membuatku jantungan"


Metha dan Gio Evan tersenyum kemudian menghampiri Evan,


"ayo kita jalan jalan lagi" ajak Metha sambil menggandeng lengan Gio dan Evan


Mereka jalan bertiga menyusuri beberapa toko pakaian, mainan dan terakhir ke time zone. Seperti lupa waktu, mereka baru selesai pukul 5 sore. Lalu memilih untuk pulang.


Baru tiba dirumah, mereka langsung disambut oleh opa dan oma tua.


"ada angin apa kamu merubah gaya rambutmu, udah mau punya dua anak jangan berlagak kayak remaja"


"iri bilang bos!" cibir Evan


"kalian sudah lama?" tanya Metha kepada mertuanya


"lumayan"


"ya sudah ayo masuk" mereka semua berjalan menuju kedalam rumah, hingga


"Evan!!!"


********


Kira kira siapa yang memanggil Evan hayo....

__ADS_1


__ADS_2