
Metha melotot sementara Evan menganga, bagaimana bisa Gio mengatakan ingin melihat orang tuanya membuat adik, benar benar konyol. Apa iya si jabrid akan on fire jika diintip Gio, ada ada saja.
"Gio boleh kan lihat ayah dan bunda membuat adik?" ulangnya polos
"Gio mau lihat gaya kuda terbang, aw.." Evan meringis mendapat cubitan istrinya, sungguh sakit....
"sudah sudah, nanti lagi bicara soal adik ya, sebentar lagi kita sampai dirumah, Gio capek kan?" ucap Metha, bocah itu mengangguk
"nanti sampai dirumah langsung istirahat ya, bunda lihat Gio sudah mengantuk" sambung Metha, Evan hanya melirik anak dan istrinya sekilas
Pinter banget istriku membujuk si Gibul, emang tahu bener kalau suaminya lagi pengen, haha, sayang...sebentar lagi aku akan bikin kamu susah jalan, gumam Evan dalam hati
Akhirnya setelah beberapa menit, mereka sudah tiba di rumah. Namun raut wajah Evan mendadak masam ketika melihat mobil orang tuanya. Dan benar saja, dua orang tua itu terlihat duduk diteras,
"ck, biang rusuh ngapain sih kesini" gumam Evan pelan
"jangan gitu ih, mereka itu orang tua kamu loh mas" tegur Metha
"kalau si opa tua udah disini, alamat yank, aku ga bisa gempur kamu lama lama"
Metha hanya menatap jengah suaminya, untung saja Gio tertidur, jika tidak, anak itu pasti akan ikut bertanya banyak hal.
"waduh, kok cucu tampanku udah tidur sih, sia sia nih nunggu sampai jamuran" keluh Danu
"lagian siapa yang suruh nunggu disini, udah tahu ini udah malam" sahut Evan
"mas" tegur Metha, dia tak enak hati pada mertuanya, ya walaupun selalu saja begitu setiap mereka bertemu, Evan hanya diam sambil menggendong Gio dan membawanya ke kamar
"ayo masuk ma, pa, kenapa ga masuk dari tadi?" tanya Metha
"cari angin" jawab Danu,
"tuan rumah ga ada, ya ga masuk lah yank" sahut Evan
"kalian itu bisa tidak, kalau ketemu ga debat" ucap Airin
"ga debat ga seru" sahut Danu, dia masuk kerumah Evan dan duduk diruang tengah, Metha langsung ke dapur untuk membuatkan minum,
"opa, oma" panggil Gio, mereka menoleh ke arah cucunya
"loh, kok udah bangun?" tanya Airin menghampiri cucunya
"tadi ayah lempar Gio ke kasul" adunya polos, apalagi dengan wajah bantalnya yang menggemaskan
__ADS_1
Evan yang baru menuruni tangga langsung mendapat tatapan tajam dari papanya,
"beraninya kamu lempar cucuku, mau kamu yang saya lempar ke gunung bromo!" ucap Danu ngegas
"mas, bener kamu lempar anak kita?" tanya Metha yang baru datang dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman
"yank, jangan dengar kata opa tua ini, kamu tahu kan perjuangan aku bikin Gio itu ga gampang, masa iya udah jadi malah aku lempar lempar, tadi aku ga sengaja nginjek mainan Gio, terus..."
"jadi Gio beneran kelempar?" sungut Metha kesal
"nah, bener kan, pelakunya udah ngaku" sahut Danu
"pa, jangan mulai deh" ucap Airin yang jengah dengan perdebatan suami dan putranya, dia masih memangku cucunya
"ish, opa tua, jangan jadi provokator deh, tadi itu ga sengaja" sahut Evan
"lagian ceroboh amat sih, bisa bisanya nginjek mainan sampai ngelempar anak sendiri, ayah durhaka" seloroh Danu, membuat Evan semakin kesal,
Opa tua rese, kalau gini bisa kehilangan jatah aku mah, bathin Evan
"Gio ga papa kan?" tanya Metha khawatir
"ga papa bunda, untung aja Gio mendalat di kasul jadi ga sakit"
"malam ini Gio tidurnya sama bunda aja ya, jangan sama ayah, nanti dilempar lagi" ucap Danu memprovikasi
"iya opa, nanti malam Gio tidul sama bunda ya bun?" tanya Gio
"iya sayang" jawab Metha
"lah yank mana bisa gitu, kan biasanya Gio tidur sendiri" bantah Evan
"ngalah sama anak kenapa sih" sahut Danu sewot
"ish, ngikut aja opa tua, jangan jadi provokator deh, mau punya cucu lagi ga sih" kesal Evan
"sudah, jangan debat terus, ayo pa kita pulang sekarang, mama pusing dengan perdebatan kalian" ajak Airin
"opa sama oma ga mau nginep sini?" tanya Gio
"lain kali aja ya sayang, besok oma ada arisan"
"ok deh"
__ADS_1
"jangan lupa malam ini Gio tidur sama bunda ya" ingat Danu, Gio hanya mengangguk
Setelah kepergian orang tuanya, Evan dan Metha masuk kedalam kamar, jangan lupakan bocah gembul yang Evan gendong, plus wajah masamnya.
"Gio tidur dikamar sendiri ya" bujuk Evan, Gio hanya menggeleng
"ayah temani sampai tidur mau?" lagi lagi Gio menggeleng,
"ayah bacakan dongeng?"
"ndak mau" sahutnya kesal
"udahlah mas, malam ini aja biarkan Gio tidur sama kita" sahut Metha
"Gio mau sama bunda aja" ucap cepat si gembul
"terus ayah tidur dimana?" tanya Evan dengan wajah dibuat melas
"dikamal Gio"
"disini aja ya sama Gio dan bunda" bujuknya lagi
"ndak boleh ayah, bukannya kata ayah, kita halus nulut sama olang tua, belalti ayah juga halus nulut sama ucapan opa, ya kan bunda?" tanya Gio polos, Metha hanya mengangguk sambil menahan senyum
*Sial, gara gara provokator ga bertanggung jawab itu, aku jadi tidur dewekan, padahal udah semangat empat lima, awas aja nanti opa tua, akan aku balas...... gumam Evan dalam hati
🍃🍃🍃🍃*
Evan meratapi nasibnya sendiri, Kamar Gio terhubung dengan kamar Evan dan Metha, jadi dengan jelas dia bisa mendengar jika dua belahan jiwanya belum tidur dan sesekali mereka tertawa.
Evan belum bisa memejamkan mata, dengan sabar dia menunggu sang putra tidur, sayangnya harapan itu sepertinya masih belum bisa terlaksana, ah... menunggu itu memang menyebalkan bosqyu... apalagi si jabrid dengan tak tahu dirinya bergerak gelisah karena ingin. Sial, lengkap sudah deritanya...
Detik, menit dan jam berlalu, sekarang sudah pukul 12 malam, matanya masih terjaga dan tentu saja si jabrid siap siaga terjaga. Suara anak dan istrinya tak terdengar lagi, dengan semangat empat lima Evan turun dari ranjang dan berjalan kekamarnya. Dilihatnya keduanya terlelap, Evan mendekati Metha, dengkuran halus terdengar dari tubuh sang istri, yang artinya Metha sudah tidur.
Tak mau dikalahkan keadaan, Evan berbaring dibelakang sang istri, mencium ceruk lehernya dan mengecupnya lembut. Tangannya bergerak mencari sesuatu yang paling dia suka, dan beberapa saat terdengar lenguhan dari bibir manis istrinya. Evan tersenyum, ia tahu istrinya sudah bangun, dengan segera ia mengangkat tubuh itu dan membawanya ke kamar Gio.
"kamu emang ga bisa nahan semalam saja ya mas" suara Metha terdengar berat, pasti dia masih mengantuk
"aku pengen banget yank, kamu ga kasihan sama jabrid?"
Tanpa kata Evan mengecup bibir Metha, ********** lembut dan pelan. Terbuai dengan perlakuan suaminya, Metha membalasnya. Mereka sama sama melakukan foreplay pada pasangannya, hingga tanpa sadar mereka telah siap menyatu. Bak pasangan pengantin baru, keduanya menikmati malam panas mereka, berbagai gerakan dan gaya mereka lakukan, keduanya saling memuaskan. Hingga satu jam kemudian, keduanya akan mencapai puncak, hingga
"bunda!!!!!"
__ADS_1