Berlian Yang Tersisih

Berlian Yang Tersisih
Suami Siaga


__ADS_3

Evan selalu menjadi suami siaga bagi Metha. Apalagi diperkirakan Metha akan melahirkan minggu minggu ini, kehidupan mereka begitu damai apalagi sejak mereka tidak berurusan dengan Ryan dan Shanum lagi.


Evan yang paling semangat menanti kehadiran sang buah hati. Diam diam dia menyuruh pengawal menjaga Metha juga keluarganya. Dia tak mau kecolongan jika ada yang akan mencelakai mereka. Toh uangnya tidak akan pernah habis hanya untuk membayar pengawal. Hehe


"sayang, aku sudah bilang, jangan keluar kamar, kalau butuh apa apa bilang sama aku!" ucap Evan, pria itu bahkan hanya mengenakan kolor dan berlari dari kamarnya saat tak melihat Metha dikamar


"jangan lebay deh mas, aku cuma ke dapur ambil air minum, lagipula kamu ingat pesan dokter kan, aku harus banyak bergerak"


"kamu kalau dibilangin susah banget sih yank aku kan khawatir sama kamu, apa kamu ga khawatir sama anak kita?" gerutu Evan


"dih, mana ada, aku khawatir lah sama anak kita, tapi aku bisa menjaga diri kok, kamu jangan terlalu berlebihan kayak gitu"


Evan mengerucutkan bibirnya, istrinya selalu seperti itu, padahal kemarin siang dia mengeluh sakit pinggang setelah memaksa ingin kepasar hanya untuk membeli jajanan lupis.


Tanpa aba aba Evan menggengdong Metha lalu membawanya ke kamar


"mas apaan sih, turunin aku" pekik Metha


"kamu ga pernah nurut sama aku, jadi gini caraku bawa kamu biar istirahat"


"iya iya, aku akan istirahat tapi turunkan aku" benar, Evan menurunkan istrinya tapi diranjang


"sekarang mau makan apa?" tawar pria itu

__ADS_1


"tadi udah nyemil roti tawar sama susu coklat kok"


"ih, ga boleh, itukan cuma seujung kuku kalo dimakan kamu sama anak kita, pokoknya harus makan nasi"


"eh eleh, kayak lagu aja bang seujung kuku"


"serius ihhh"


Metha malah terkekeh melihat Evan cemberut, suaminya memang selalu bawel pada dirinya. Tapi jujur, Metha suka dengan perhatian Evan


"kenapa malah senyum senyum, jadi mau makan apa?"


"nasi pecel yang diujung gang boleh?" tanya Metha ragu, pasalnya Evan selalu memilihkan makanan untuknya


"ga terlalu sih, kan biasanya mas juga sering makan itu?"


"ga ingat pernah makan itu, kalau pedes cari makanan lain aja ya, kasihan anak kita"


"ish, kalau gitu ngapain nanya mau makan apa!" sewot Metha


"lah kenapa jadi marah, kan aku cuma takut makanan itu pedes, ga baik buat anak kita"


"ya udah, aku mau makan nasi kuning" Evan tersenyum mendengar permintaan istrinya yang lebih sehat

__ADS_1


"tapi yang didepan SMA kita dulu, ingat kan?" tanya Metha, seketika senyum Evan luntur


"kan jauh yank" keluhnya


"niat ga sih nawarin aku makan? Tadi nasi pecel takut pedes, nasi kuning kejauhan, kalau gitu, mas aja yang masak nasi kuningnya, pake sambal goreng kentang, serondeng dan ayam krispy" skakmat, Evan menggaruk tengkuknya sambil meringis, terakhir dia memasak seminggu yang lalu, opor ayam dan hasilnya opor gosong, 😁😁, ini malah minta nasi kuning wadidaw..... berat ey...


"ya udah, aku pergi ke depan SMA kita aja yank, jangan ngambek lagi, nanti aku belikan juga kacang hijau jahe kayak biasanya"


Metha langsung tersenyum, Evan selalu tahu makanan kesukaannya


"gitu dong, kalau nawarin jangan nanggung, kan makin sayang" ucap Metha lalu mengecup sekilas bibir suaminya dengan gemas


"kok bentar doang yank?"


"udah sana jalan, nanti keburu aku kelaparan"


"eh iya, ya udah aku jalan sekarang" Evan langsung memakai celana panjang dan kaos kemudian bergegas membeli pesanan istrinya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Disebuah kota kecil, di Solo. Seorang pria tengah memahat ukiran pada kayu. Dia sedang membuat lemari pesanan pelanggannya. Sudah hampir delapan bulan dia menekuni pekerjaan ini, yang sebenarnya menjadi bakat terpendamnya. Pria tersebut adalah Ryan. Berbekal sisa tabungan yang dia miliki, dia berangkat ke kota ini, menyewa sebuah rumah sederhana dan membuka rumah furniture, yang membuat berbagai perabot rumah seperti lemari, meja makan, buvet, rak dll. Hidup Ryan bisa dikatakan lebih damai dari sebelumnya. Walau hatinya masih dihuni oleh Metha, tentunya dengan rasa bersalahnya juga.


Benar, pepatah mengatakan jika penyesalan selalu datang belakangan, dan Ryan merasakan itu. Setiap hal kecil yang dia lakukan selalu mengingatkannnya pada Metha, kopi yang setiap pagi dia minum, nasi pecel yang sering dia makan dipagi hari, kue molen, dan brownies. Semuanya mengingatkan Ryan pada Metha, dulu setiap lagi selalu ada kopi di meja makan, sarapan sudah tersedia, handuk untuk mandi, air hangat saat dirinya pulang lembur, selalu disiapkan oleh Metha. Tapi saat ini dia harus menyiapkannya sendiri. Hidup menyendiri membuat Ryan semakin sadar akan kesalahannya. Dan dia bertekad harus menjadi pria yang sukses, dia harus menebus semua kesalahannya dulu, beruntung dengan keahlian yang dia miliki, semakin hari semakin banyak pelanggan yang memesan hasil tangannya. Bahkan sudah ada yang dari luar kota, bisa dikatakan Ryan cukup sukses menjadi seorang pengrajin dan pengusaha kecil.

__ADS_1


Aku merindukanmu Met, apa kamu baik baik saja? Seksrang pasti kandunganmu sudah besar, beruntungnya Evan memilikimu. Aku menyesal Met, jika saja aku tidak terlena, mungkin aku orang yang paling bahagia bisa hidup denganmu, lirih Ryan


__ADS_2