Berlian Yang Tersisih

Berlian Yang Tersisih
Pulang


__ADS_3

"Gio mau pulang aja deh, disini ga selu!!!" semua orang menoleh pada bocah menggemaskan itu


"loh, kok malah ngajak pulang. Bukannya Gio yang minta liburan?" tanya Metha


"kalau cuma didalam villa kan, sama aja dengan di lumah bunda, lebih baik pulang saja"


Benar juga kata Gio, ini mah bukan liburan kalau cuma di kekep dalam villa, bathin Metha


"jadi Gio mau pulang?" tanya Danu memastikan, dan Gio mengangguk


"ya sudah, sebaiknya kita kemas kemas dulu, terus pulang" jawab Evan dengan santainya


"jadi kita beneran pulang?" tanya Airin tak percaya


"iya ma, Gio kan minta pulang" lanjut Evan


"baiklah kalau itu mau kalian, mama akan berkemas sekarang" Airin pergi menuju kamar untuk mengemas barang barangnya


"jadi kita kemari cuma untuk makan malam dan sarapan?" tanya Danu tak percaya, "kalau begitu ngapain jauh jauh ke villa, tinggal pergi ke warteg depan komplek kan bisa" sambungnya dengan nada sebal


"lagian yang ngajak situ siapa?" cibir Evan


"ck, ga seru kamu, percuma punya anak kaya tapi pelit" Danu menekankan kata pelit membuat Evan melototkan mata


"hei opa tua, anak tampanmu ini tidak pelit, aku kaya kalau anda lupa!, jangankan liburan di villa, liburan di amazon juga aku bisa bayarin kalau anda mau"


"cih, kamu mau orang tuamu jadi makanan anaconda?, dasar anak katak ga ada akhlak!!!"


"hahaah, kirain situ ga tau apa itu amazon"


"ck, gini gini saya selalu juara umum kalau kamu ingin tahu" ucap Danu sambil membusungkan dada, "sudah dasarnya pelit, bilang aja pelit!"


"ck, coba lihat sikon dulu dong, menantumu yang cantik ini lagi hamil, kalau terjadi sesuatu sama calon cucumu bagaimana?" Metha diam diam pergi menuju kamar untuk berkemas, dia jengah dengan perdebatan konyol suami dan mertuanya.


"terlalu lebay" cibir Danu


"hihihi" mereka menoleh ke arah suara kikikan, rupanya Gio tengah terkikik melihat ayah dan opanya


"cucu opa yang tampan, apa ada hal lucu sehingga kamu cekikikan seperti itu?" tanya Danu gemas


Gio menganggukkan kepalanya,


"apa? Kasih tau opa dong"


"ish, sudah tua sok imut" cibir Evan


"syirik aja ferguso!!", jawab Danu, dia tak menghiraukan Evan yang berlalu entah kemana, Danu berjalan mendekati sang cucu kesayangannya itu lalu membungkukkan diri agar sejajar dengan Gio


"jadi, apa yang membuat cucu opa tampan ini terkikik?"


"opa mau tahu, apa mau tempe?" jawab Gio dengan watadosnya,

__ADS_1


Ish, ini anak nurun siapa sih, kok menyebalkan sekali, umurnya aja belum lima tahun udah menyebalkan, gimana kalau udah dewasa, pasti kayak ayahnya, gumam Danu dalam hati


"mau tahu pake banget" jawab Danu semangat


"opa kepo!!"


Skak,


Danu mendengus sebal, malulah si opa tua ini... , udah tua kalah sama bocah..heheh


"jadi mau kasih tahu apa ga?!!!"


"opa kok sewot"


Arrrgggg, Danu mengerang frustasi dalam hati, boleh tidak sih, melempar bocah ini ke kandang sapi?


"ya sudah, opa ga tanya lagi" ucap Danu sambil bersedekap dada


"ih, ngembekan, aku bilangin ayah bial opa dibelikan balon" kekeh si bocah, "balonku ada lima......lupa lupa walnanya....." Gio malah bernyanyi seakan meledek sang opa


Bunuh aku, bunuh aku.....erang Danu dalam hati


"loh, papa kenapa wajahnya gitu?" tanya Airin yang baru tiba sambil membawa koper besar


"ga.."


"opa malah sama Gio" celetuk bocah itu, bahkan Danu belum menjawab pertanyaan istrinya


Airin mendekati cucunya,


"kenapa opa marah sama Gio?" tanya Airin


"opa kepo, pengen tahu kenapa Gio cekikikan"


"cuma karena itu?" tanya Airin tak percaya, sungguh dia merasa suaminya melebihi anak anak, ia melirik suaminya yang nampak cemberut


"opa jangan suka malah malah, nanti darah tinggi"


"kamu nyumpahin opa darah tinggi!" ucap Danu tak terima


"Gio cuma ingatkan, opa sendili yang bilang begitu"


"apa sih, heboh banget?" tanya Evan yang baru turun sambil membawa koper mereka


"tahu ah, ga anak ga cucu, semuanya bikin emosi!!"


"pasti kalah debat sama Gio" tebak Evan sambil terkekeh, Metha juga ikut terkekeh


"tahu ni papa kamu, makin hari makin sensitif aja" celetuk Airin yang membuat Danu semakin kesal, apalagi dirinya dibilang sensitif, kata yang lebih tepat ditujukan pada wanita.


"kalian semua me....nye....bal....kan" gumam Danu

__ADS_1


"apa????, jadi menurut papa, mama menyebalkan?" tanya Airin dengan nada menyeramkan


Aduh salah ngomong nih, bisa puasa kalau begini, keluh Danu dalam hati


"bu..bukan gitu ma" jawab Danu gelagapan


"sama aja!!"


"sudah sudah, sebaiknya kita pulang sekarang, lanjutkan pertengkaran kalian dirumah saja"


Akhirnya perdebatan mereka berakhir, dan memilih pulang kembali ke Ibukota. Danu dan Airin naik mobil yang berbeda dengan Evan. Karena mereka memang membawa mobil sendiri.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


"bunda, kita ke Mall yuk, Gio ingin makan es klim" gumam si bocah ditengah perjalanan


Metha melirik ke arah Evan, meminta persetujuan.


"nanti mampir di supermarket dekat rumah aja ya bul, bunda pasti kecapean kalau masih ke Mall, kasian adik bayinya juga"


"adik sama bunda capek?" tanya Gio pada bundanya, Metha mengangguk


"ya sudah ke supelmalket aja yah"


"baiklah, nanti kita mampir ke supermarket"


Perjalanan beberapa jam telah mereka lewati dan kini mereka sudah berada di parkiran supermarket untuk membeli es krim permintaan Gio.


"Gio mau es krim apa?"


"yang bentuk sponbob bunda"


"baiklah, tapi satu saja ya"


"ok" jawab Gio senang, Metha mengambil es krin permintaan putranya


"masih ada yang ingin dibeli?" tanya Evan yang baru menghampiri mereka


Mata Metha tak sengaja menangkap bungkusan warna merah, lalu dengan semangat dia berjalan ke arah bungkusan itu diikuti Evan dan Gio.


"yank, jangan beli itu, itu pedes loh" larang Evan saat Metha akan mengambil mi samyang


"bukan aku mas yang akan makan ini" jawab Metha santai


"terus, mau beli buat siapa?" tanya Evan heran, perasaannya mendadak tak enak melihat senyum miring istrinya, jangan sampai hal yang dia pikirkan terjadi,


"aku mau kamu yang makan ini, tidak ada penolakan dan ini permintaan dede bayi!"


Skak,


Benar kan dugaanku, lirih Evan dalam hati

__ADS_1


__ADS_2