Berlian Yang Tersisih

Berlian Yang Tersisih
Nasi Goreng Buat Bunda


__ADS_3

Pagi ini terlihat berbeda, jika biasanya sang bunda yang menyiapkan sarapan, tapi kali ini ayahnya lah yang berada di dapur.


"ayah, bunda kemana? Kenapa ayah yang ada di dapul?" tanya Gio, kebetulan sekarang hari minggu.


"bunda kecepean Mbul, jadi pagi ini ayah yang akan masak sarapan" jawab Evan jujur


"Gio akan lihat bunda dulu" Gio bergegas ingin menemui bundanya, namun segera dicegah oleh Evan, tak mungkin ia mengijinkan Gio melihat bundanya yang sebenarnya kelelahan karena baru tidur sejam yang lalu akibat pertempuran panas mereka.


"jangan Mbul!!!" cegah Evan, Gio langsung menghentikan langkahnya mendengar larangan sang ayah. Dia menatap heran pria itu.


"kenapa yah, kenapa Gio ga boleh lihat bunda!?, mungkin bunda sakit?"


Evan mendekati putranya,


"bunda ga sakit kok, dia cuma kelelahan, semalam bunda ga bisa tidur karena banyak nyamuk, jadi biarkan bunda istirahat ya" bujuk Evan


"kenapa banyak nyamuk, bukannya di lumah ini tidak ada nyamuk kalena bunda selalu ajalkan Gio buang sampah ditempatnya, telus bunda selalu pakai semplotan anti nyamuk kalau mau tidul!"


"emm...itu...ah tadi malam bunda lupa ga semprot anti nyamuk, makanya dikamar bunda dan ayah banyak nyamuknya" jawab Evan beralasan


"gitu ya yah, tapi Gio mau lihat bunda dulu, pasti badan bunda melah melah kalena digigit nyamuk"


"eh..mbul, ga usah sayang, em....sebaiknya kita buat sarapan buat bunda gimana? Nanti kita antar ke kamar bunda kalau sarapannya sudah siap" bujuk Evan kedua kalinya, kulit bundanya memang merah merah, tapi bukan karena nyamuk, melainkan ulah ayahnya.


"emang ayah bisa masak enak" tanyanya meragukan Evan


"eits, jangan salah, begini begini, ayah mantan chef loh" ucap Evan bangga, nyatanya dia tidak pandai memasak juga sih.


Akhirnya dengan bujukan ayahnya, Gio mau menurut, dia dan Evan berencana membuat sarapan yang akan mereka berikan pada Metha.


Evan mengambil beberapa lembar roti, rencananya dia akan membuat sandwich.


"ayah mau buat apa??"

__ADS_1


"sandwich" jawab Evan tersenyum


"tapi Gio mau nasi goleng" jawabnya tanpa dosa,


"kamu ga bosen makan nasi goreng setiap pagi?"


Gio menggeleng, Evan menghela nafas. Akhirnya mereka tidak jadi membuat sandwich. Evan memasukkan kembali rotinya kedalam lemari, kemudian mengeluarkan telur dan sosis dari dalam kulkas.


"bunda tidak pelnah pakai bumbu itu" celetuk Gio saat Evan mengambil bumbu nasi goreng instan, kemudian Gio menunjuk sesuatu yang ternyata adalah tempat bawang merah dan bawang putih berada.


"iya, ayah paham" sahut Evan, dia mengambil beberapa biji bawang lalu mengupasnya.


"ayah malah sama Gio?" tanya putranya polos, Evan menggeleng, "telus kenapa ayah nangis?" aish, putranya ini memang menyebalkan, entah turunan dari siapa, ya jelas saja Evan menangis, ini pertama kalinya dia mengupas bawang dkknya, zaman sekarang kan semua serba praktis, kenapa malah dibuat susah, heran.


Gio melihat asal penyebab ayahnya menangis, lalu dengan menyebalkannya dia berkata.


"ayah cemen banget, cuma kalena bawang aja udah nangis" ledek Gio membuat Evan mendengus


"emang Gio bisa kupas bawang? Kamu sama aja dengan ayah, jangan sok bisa" sahut Evan tak mau kalah


"kamu bisa kupas bawang?" tanya Evan terheran


"bisa, ayah ga tahu kan kalau Gio ini hebat!" ucapnya narsis


"alah, cuma kebetulan aja paling"


"kata opa, ayah memang ga bisa apa apa" Evan mendelik mendengar ejekan putranya


"enak aja, bilang sama opa tua kamu itu, ayah ini pintar, dari sd sampai kuliah selalu juara satu, dan ayah juga jadi pengusaha sukses, buktinya bisa belikan kamu apa saja" sombong Evan


"tapi ayah ga bisa bikin bunda suka sama ayah waktu SMA" jawabnya santai


"kata siapa? Buktinya sekarang bunda sayang banget sama ayah"

__ADS_1


"kata opa lah, opa juga bilang kalau ayah kalah sama om Lian"


Ish, si opa tua pake cerita hal ini segala, bisa turun reputasi ayah terbaik kesayangan bunda kalau begini, gerutu Evan dalam hati


"bilang sama opa tua kamu, ayahlah pemenangnya, buktinya ada kamu, ayah hebat kan bisa bikin kamu!!" Evan menaik turunkan alisnya


"lebih hebat bunda yang bisa segalanya, bunda bisa cuci baju, cuci piling, masak, sapu lumah, ajalin Gio belajal, dan banyak lagi, ayah cuma bisa kelja, kupas bawang aja ayah nangis, nih, sudah semua, sekalang ayah buat bumbunya, kita buat salapan yang enak buat bunda"


Ish, kalau bukan anak sendiri, udah aku pites terus aku cocol ke sambel deh, gumam Evan gemas


Dengan cekatan Evan meracik bumbu nasi goreng, dia memasukkan bawang merah dan bawang putih serta beberapa bumbu lain ke dalam ulekan. Setelah bumbu halus, Evan memasang teflon diatas wajan dan menambahkan sedikit minyak, kemudian menumis bumbu tersebut.


"yah, itu gula halus" ucap Gio


"eh, iyakah? Kenapa bisa ada gula halus disini? Ayah kira ini garam"


"itu gula halus, bunda pakai untuk buat donat gula kesukaan Gio"


"ish, kenapa dicampur disini, kan ayah jadi salah kasih" gerutu Evan


"makanya, ayah jangan cuma tahu kelja, ayah halus tahu semua hal, balu ayah akan jadi supelhero kayak Malvel"


"ayah ga perlu jadi Marvel, ayah sudah jadi superEvan buat kamu dan bunda, buktinya ayah selalu ada kalau Gio dan bunda butuh ayah, ayah selalu melindungi Gio sama bunda, iyakan?"


"iya juga sih, ayah emang hebat kok, tapi akan lebih hebat kalau bisa semua hal"


Evan menghela nafas, tak akan menang berdebat dengan putra seyangannya ini. Entah sifat siapa yang menurun pada Gio, seingatnya dulu dia tidak semenyebalkan putranya ini. Hehe


Nasi goreng plus telur ceplok dan sosis sudah siap, dua pria beda usia itu segera membawanya ke kamar Metha, wanita kesayangan mereka.


******


Cerita ini hambar ga sih?

__ADS_1


Maaf lama up, karena bikin cerita tanpa konflik itu takut ga disukai pembaca, ya kan? Makanya aku bingung mau melanjutkan atau meng end kan cerita ini, menurut kalian begimana???


__ADS_2