Berlian Yang Tersisih

Berlian Yang Tersisih
Maaf


__ADS_3

“Gi, jangan di cekik, nanti dia mati” pekik Rafa saat melihat Gio mencekik leher si anak ayam hingga anak ayam tersebut


mendelik,


Ya..., saat ini mereka tengah asyik memainkan anak ayam milik pak Slamet yang berada disamping rumah. Tubuh mungil 7 anak ayam itu memang kelihatan lucu, apalagi dengan warna yang menarik. Tentu saja hal itu membuat Gio gemas dan langsung mengambil anak ayam tersebut. Niat hati hanya ingin memegang, siapa sangka tanpa sengaja dia mencekiknya.


“Gio ga sengaja” ucapnya lalu melepaskan anak ayam tersebut, tak lama kemudian


Petok.....petok....


Awhhhkkkkk, bocah bocah itu berlari lantaran dikejar induk ayam. Teriakan tiga bocah tersebut membuat penghuni panti berhamburan keluar. Evan dan Metha pun tak kalah terkejut mendengar teriakan putra mereka.


Hahahahaha, beberapa anak menertawai tiga bocah yang tengah berlarian dikejar induk ayam.


“meleka dikejal ayam”


“lucu, ayo lari......lari.....”


Begitulah ucapan beberapa anak yang melihat kejadian lucu ini


“astagfirullah” pekik pak Slamet, dia dan Evan segera berlari dan menangkap induk ayam.


Metha dan bu Amira juga menghampiri mereka. Setelah induk ayam berhasil ditangkap, pak Slamet langsung mengurungnya dikandang tak lupa memasukkan serta anak ayamnya juga.


“kalian tidak apa apa?” tanya Metha khawatir


“tidak apa apa bunda” jawab Gio,


“kenapa bisa sampai dikejar induk ayam?” tanya pak Slamet


Gio dan dua temannya menunduk, mereka takut dimarahi karena berbuat salah


“ya sudah, ayo masuk dulu” ajak bu Amira, dia menggandeng Rafa dan Ilham sementara Gio digandeng Metha. Evan dan pak Slamet yang berada dibelakang mereka hanya menggelengkan kepala.


Saat ini mereka sudah berada diruang tamu, tiga bocah itu duduk bersampingan layaknya tersangka yang akan di adili.


“jadi siapa yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?” tanya pak Slamet

__ADS_1


“anak ayamnya lucu, jadi kami mainin, tapi Gio malah mencekik anak ayamnya jadi induknya malah”jelas Ilham


“Gio ga sengaja” belanya


Evan menatap Gio,


 “maaf” itulah kata yang keluar dari mulut si gembul


“untuk apa?” tanya Evan pura pura tak tahu,


“kalena mainin anak ayam pak Slamet” cicitnya pelan


“lalu?” lirikan Evan terlihat tajam dan itu membuat Gio takut, bukan ingin menakuti putranya, Evan hanya ingin mengajarkan Gio sikap tanggung jawab dan berani mengakui kesalahan yang diperbuatnya.


“pak Slamet, bu Amila, Gio minta maaf karena memainkan anak ayam kalian”


Pak Slamet dan bu Amira tersenyum melihat sikap Gio yang mau mengakui kesalahannya.


Metha melihat lutut putranya berdarah, mungkin karena terjatuh tadi saat dikejar induk ayam. Metha mengambil kotak obat yang tadi di bawa bu Amira lalu duduk didekat putranya. Sambil mengobati luka putranya dia bertanya


Gio dan dua temannya mengangguk


“mungkin niat kalian hanya ingin bermain karena mereka lucu, tapi apa kalian tahu kalau sebenarnya kalian menyakiti anak ayam tersebut?” tanya Metha lembut, Gio memandang bundanya


“maaf bunda, Gio tidak belamksud menyakiti anak ayamnya”


“Gio tahu kan, kalau bunda sangat menyayangi Gio?, bu Amira juga menyayangi Rafa dan Ilham?” bocah bocah itu mengangguk, “induk ayam itu juga sama, dia menyayangi anaknya, jika anaknya diganggu orang maka dia akan memberikan perlawanan, itulah kenapa kalian dikejar induk ayam” jelas Metha


“kami minta maaf” cicit Rafa dan Ilham


“ibu senang karena kalian berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, tapi lain kali kalau kalian ingin memainkan sesuatu sebaiknya kalian bertanya dulu, agar kalian tidak terluka seperti saat ini”


ucapan bu Amira langsung diangguki ketiga bocah itu. Setelah emgobati luka putranya, Metha mengobati luka Rafa dan Ilham.


“ya sudah, karena masalah ini sudah selesai, sebaiknya kita makan dulu” ajak pak Slamet


Semua penghuni panti sudah berada di ruang makan, mereka makan dengan riang.

__ADS_1


“itu punyaku!” pekik seorang anak


“tapi aku mau itu!” jawabnya


“anak anak jangan bertengkar, bukannya kalian sudah dapat makanan masing masing?” tanya bu Amira


“punya aku tadi jatuh bu”


Gio berdiri sambil membawa piringnya kemudian memberikan ayam gorengnya kepada anak laki laki itu. Dan sikapnya itu tak luput dari pandangan semua orang.


“terima kasih”


“sama sama”


Gio kembali duduk di mejanya


“ini makanlah punya bunda” Metha mengambil ayam gorengnya dan hendak menaruhnya di piring Gio, namun bocah itu menggeleng


“ga usah bunda, bunda makan saja ayam golengnya, kalau bunda mau ganti ayam goleng punya Gio, bunda ganti saja dengan adiknya Gio”


Metha menganga tak percaya dengan ucapan putranya, sementara Evan hanya tertawa.


Setelah selesai makan, Evan, Metha dan Gio pamit pulang. Dalam perjalanan Gio hanya diam, Evan melirik putranya yang duduk dipangkuan sang istri.


“sudah, kan Gio sudah minta maaf, pak Slamet juga udah maafin, jangan sedih lagi” ucap Evan, dia mengira Gio masih merasa bersalah masalah anak ayam itu


“bukan yah” jawaban Gio membuat Evan dan Metha saling tatap


“lalu Gio kenapa sedih?” tanya Metha


“Gio sedih, padahal Gio udah beldoa sama Allah, tapi kenapa adik Gio belum jadi? Kan Gio udah ga sabal main sama tiga adik”


Hahahahaha, Evan tak mampu menyembunyikan tawanya,


“jadi itu yang membuat Gio sedih? Jangan khawatir, ayah sama bunda akan segera buatkan adik Gio” ucapan Evan langsung mendapat pelototan Metha


“kalau gitu Gio mau lihat ayah dan bunda pas buat adik, Gio udah beldoa loh, tapi kok ga jadi jadi adiknya, siapa tahu aja ayah salah atau ga betul buatnya”

__ADS_1


__ADS_2