
Evan mengendarai mobilnya menuju rumah, dia akan selalu pulang lebih awal jika tidak ada pekerjaan lagi seperti hari ini.
Mobil Evan sudah memasuki halaman rumah, sungguh bahagia setiap kali sudah sampai dirumah, ada anak istri yang selalu menyambutnya ketika datang. Dan benar, baru saja keluar dari mobil, ia melihat Metha menggendong Gio di teras rumah, bahkan bayi gembul itu seakan tahu kedatangan ayahnya, dia tertawa ke arah Evan.
"hallo anaknya ayah, tidak nakal kan hari ini?"
"tidak ayah" Metha yang menjawab dengan suara anak kecil,
"ayo masuk, ayah akan mandi dulu lalu bermain dengan Gibul"
Gibul adalah panggilan sayang Evan pada putranya yang artinya Gio gembul 😁
Metha sudah menyiapkan makan siang, memang untuk urusan makanan, keperluan Evan juga Gio Metha selalu menyiapkannya sendiri, ART dirumah mereka hanya akan membersihkan rumah dan pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan tiga hal tersebut.
"anak ayah sudah lapar ya?" tanya Evan saat melihat Metha menyuapi Gio
"iya nih yah, udah ga sabar pengen makan, sebaiknya ayah juga makan" ucap Metha
Evam segera mengambil nasi dan lauk, kemudian seperti biasa, dia makan sambil menyuapi istrinya.
"kita jalan jalan yuk, kemana gitu, udah lama kan kita tidak jalan jalan" ujar Evan, memang sudah lama mereka tidak keluar bersama, apalagi sejak kehadiran si Gibul
"boleh lah, bosan dirumah terus" sahut Metha senang
"bagaimana kalau kita ke Mall, mungkin sambil belanja kebutuhan Gio, aku lihat diapersnya tinggal sedikit"
"ih, ayah tahu banget sih, bunda aja hampir lupa" jawab Metha tersenyum, suaminya memang selalu peka dalam segala hal yang menyangkut kebutuhan putranya,
"ya sudah setelah makan siang, kita siap siap ya, Gibul mau kan jalan jalan?"
Bayi gembul itu bertepuk tangan seakan tahu maksud pertanyaan ayahnya.
🍃🍃🍃🍃🍃
Suasana Mall tidak begitu ramai, Evan mendorong stroler baby Gibul yang empunya terlelap nyenyak disana, bersama Metha disampingnya. Mereka memasuki Mall,
"kita kesana dulu yuk" ajak Evan, menunjuk ke toko perhiasan
"kenapa kesini?"
"ya mau beli perhiasaan lah"
"buat siapa?" tanya Metha heran
"buat bundanya Gibul" Evan segera mendorong stroler putranya memasuki toko perhiasaan, diikuti Metha yang sebenarnya enggan masuk ke sana.
"selamat datang tuan dan nyonya, ada yang bisa dibantu?" tanya karyawan toko
__ADS_1
"saya mau lihat perhiasaan terbaru di toko ini"
"baik, tunggu sebentar tuan" karyawan tersebut segera berlalu
"mas, ngapain kesini segala?"
"ck, udah dibilang mau belikan kamu perhiasan kok"
"buat apa? Yang dirumah aja belum pernah dipakai"
"ya ga apa apa, disimpan saja" jawab Evan santai
"ish, buang buang duit aja" gerutu Metha, Evan hanya tersenyum, istrinya memang berbeda dengan perempuan lain, ia bahkan heran kenapa istrinya tidak seperti para istri rekan rekannya yang selalu meminta perhiasaan.
"ini tuan silahkan?"
Karyawan tersebut memperlihatkan satu set berlian berisi kalung dan gelang, jujur Metha suka melihatnya, tapi buat apa juga beli lagi jika tidak akan terpakai, toh dia bukan pengoleksi perhiasan mahal seperti itu.
"ini berapa harganya mbak?"
"835 juta nyonya" Metha mendelik, mahal sekali, bahkan bisa membeli emh kira kira 2 truk diapaers Gibul 😆😆
"saya ambil yang ini" sahut Evan, dia sudah mengeluarkan dompet dari saku celananya tapi ditahan oleh Metha
"mas, sayang banget uangnya, itu mahal loh"
"dih, sombong"
"sepertinya istri anda tidak suka dengan perhiasan itu tuan Evan, bagaimana kalau untuk saya saja" sahut seseorang membuat mereka menoleh ke belakang,
"nona Rachel?"
"kita bertemu lagi tuan Evan" Rachel mendekat ke arah Metha dan Evan, dengan penampilan yang masih sama, menggoda....
"hallo nyonya Evan" Rachel mengulurkan tangannya, Metha menerima uluran tangan wanita itu, setelah berjabat tangan, Metha mengambil sesuatu dari tas Gio dan menyemprotkannya di tangannya, membuat Rachel dan lainnya menganga.
"maaf, kita harus jaga kesehatan dan kebersihan bukan? Sekarang masih harus waspada virus covid 19" jawabnya santai, Evan tersenyum samar sedangkan Rachel terlihat menahan amarah
"jadi perhiasaannya bagaimana tuan?" tanya karyawan toko sambil menahan senyum atas kejadian barusan.
"bungkus saja mbak" bukan Evan yang menyahut tapi Metha, karyawan tersebut tersenyum kemudian membungkus perhiasan itu. Setelah membayarnya, mereka keluar dari toko dengan Rachel yang masih mengekor di belakang mereka.
"ini anak tuan Evan?" tanya Rachel melihat bayi di stroler
"kan bisa dilihat jika bayi itu mirip suami saya, kenapa masih bertanya?" jawab Metha
"ah, sepertinya anda tidak menyukai saya nona" tanya Rachel langsung, Metha hanya tersenyum, dia sudah mendengar cerita Evan tentang kliennya yang bernama Rachel.
__ADS_1
Evan memang selalu menceritakan semua hal kepada Metha begitupun sebaliknya, karena kejujuran adalah kunci utama sebuah hubungan. Dan itu membuat keduanya jarang bertengkar dan selalu hangat.
"itu hanya perasan anda saja nona"
"kalau begitu, apa saya bisa bergabung dengan kalian setelah ini?" tanya Rachel tanpa malu
"maafkan kami nona Rachel, kami ingin menghabiskan waktu kami bertiga saja" jawab Evan, selain memang risih dengan kehadiran Rachel, dia juga tidak mau kehilangan jatah karena istrinya merajuk... Hiya hiya...
"bukankah dengan pergi bersama kita akan semakin akrab, kita baru saja menjalin kerjasama dan akan sering bertemu kedepannya, bukankah begitu tuan Evan?" kekeh Rachel
"semua akan di kerjakan anak buah saya nona, saya hanya akan meninjaunya sesekali" sahut Evan
"ah, saya kira anda akan terjun langsung, sayang sekali" ucap Rachel kecewa
"kalau begitu kami duluan nona Rachel" Metha dam Evan meninggalkan Rachel yang masih berdiri di tempatnya, keduanya berjalan menuju tempat supermarket di lantai dua
"kenapa kamu senyum senyum sendiri honey?"
"jadi seperti itu rupa rekan bisnismu mas, lain kali lebih pintarlah menerima rekan bisnis" cibir Metha
"sebelumnya aku tidak tahu jika wanita itu yang menjadi rekan bisnisku sayang"
"jika kau berani macam macam, kau tahu kan apa yang akan aku lakukan?" ancam Metha
"kau tahu bukan, aku ini pria setia"
"hm, semua kemungkinan bisa saja terjadi bukan?, dan aku tidak mau mengulang hal pahit dua kali, jika sampai itu terjadi maka...." Metha menatap horor suaminya, membuat Evan bergidik ngeri
"a..apa?" tanya Evan gagap
"maka aku akan membuat jabridmu mati!" Evan menelan ludah mendengar ancaman Metha, jika jabridnya mati, otomatis dia juga akan mati bukan?
"itu tidak akan pernah terjadi, dan si jabrid akan tetap hidup dan berdiri di satu jalur" Evan merangkul Metha sambil mendorong Gibul yang masih asyik didunia mimpi. Metha hanya tersenyum, dia tahu jika Evan pria setia dan dia hanya berharap jika Evan tak akan menjadi Ryan kedua.
Hari ini mereka menikmati kebersamaan dengan bahagia dan penuh canda tawa.
*****
Q : thor katanya masalah akan segera berakhir? Kok masih panjang cerita pelakornya?
A : tinggal beberapa bab, dan akan sesi happy, bukan ending, karena masih belum ending
Q : kalau belum ending, pasti akan ada masalah baru dan konflik baru
A : ish, makanya stay terus, sesi happy terus kok sampai happy ending
Q : promise???
__ADS_1
A : of course, hahaha