
"Gio...... Gio hilang"
Duarrrr
Jantung Evan terasa diremas, baru saja dia mendapat angin segar tentang kondisi Metha dan putrinya, kini harus kembali menelan kepahitan atas hilangnya Gio.
"tuan, anda sudah bisa menemui istri dan putri anda, mereka sudah dipindahkan ke ruang perawatan" suara suster membuat Evan tersadar dari lamunannya,
"Van, kamu harus merahasiakan tentang Gio kepada Metha, kamu tahu sendiri kan kondisinya masih lemah apalagi dia baru saja menjalani operasi, jika dia mengetahui berita ini maka akan berpengaruh pada psikisnya dan itu akan berakibat pada produksi asinya, kasihan jika sampai putrimu tidak mendapatkan asi"
"aku tahu ma, tapi aku juga bingung harus mengatakan apa, Metha tidak mudah dibohongi dan alasan apa yang harus aku katakan, kita bahkan tidak memiliki saudara dekat jika aku mengatakan menitipkan Gio padanya, Metha pasti tidak akan percaya" lirih Evan
"papa sudah mengerahkan anak buah papa untuk mencari Gio, jika dalam 2 x 24 jam Gio tidak ditemukan, kita bisa lapor polisi"
"sebaiknya kita temui Metha dulu, dia akan semakin curiga jika kita terlalu lama menemuinya, kamu masuklah lebih dulu"
Dengan perasaan campur aduk, Evan melangkahkan kaki. Membuka pintu dan melihat wanita yang menjadi istrinya itu memejamkan mata, wajahnya terlihat sedikit pucat. Evan melangkah pelan mendekati Metha
"mas!!" gumam Metha lemah, wanita itu membuka mata
"sayang, bagaimana kondisimu?"
"aku merasa lebih baik, putri kita sudah lahir, dia mirip denganmu" ucap Metha tersenyum
Evan menatap wajah putrinya yang terlelap di box bayi, wajahnya begitu mirip dengannya, dia juga persis Gio ketika baru lahir. Evan tak kuasa menahan tangis, selain terharu, dia juga sedih atas keadaan keluarganya saat ini.
"kamu belum mengadzaninya"
Evan tersenyum, mengangkat bayi itu lalu mengumandangkan adzan dan iqomah ditelinga putrinya.
"mas, tadi sebelum jatuh, aku mendengar teriakan Gio, dia baik baik saja kan?"
Evan diam tak menjawab, sekarang dia tahu penyebab jatuhnya sang istri. Evan menatap Metha sendu, dia merasa sangat bersalah saat ini.
"Gio pasti bersama mama dan papa kan mas?"
__ADS_1
Lagi lagi Evan diam, lidahnya kelu bahkan untuk memberikan jawaban bohong sekalipun.
"mas, ada apa?, Gio baik baik saja kan?" Evan bergeming, dia hanya memandang wajah sang putri tanpa berani menatap istrinya.
"jawab mas!!, kenapa kamu hanya diam, lihat aku, tatap mataku, katakan jika anak kita baik baik saja!!!" teriak Metha,
Airin dan Danu masuk ke dalam saat mendengar teriakan Metha.
"ma, pa, dimana Gio??"
Mereka semua diam,
"kenapa kalian semua diam, aku tanya dimana putraku??"
"tenangkan dirimu Met, kami sudah menyuruh orang orang papa untuk mencarinya"
"jadi putraku hilang? Gioku hilang?"
Metha berusaha membuka selang infus yang menancap ditangannya, dia juga berusaha turun dari ranjang
"biarkan aku pergi, aku mau mencari putraku!!"
"kamu jangan egois, lihat kondisi kamu sekarang, lihat juga ada putri kita yang membutuhkanmu!!!" ucap Evan dengan nada tegas
Metha memandang semua orang,
"lalu aku harus diam saja saat tahu putraku hilang? Kalian bahkan berada disini, lalu siapa yang akan mencari putraku? Kenapa kamu diam saja mas, harusnya kamu mencari Gio!!!" teriak Metha histeris, Danu segera memanggil dokter, Airin mengambil si bayi, sementara Evan memeluk dan menenangkan istrinya.
"aku akan mencarinya sayang, aku janji akan menemukan Gio, aku mohon kamu jangan seperti ini, kasihanilah putri kita"
"aku khawatir padanya, bagaimana kalau terjadi hal buruk padanya, cari dia mas, cari dia..... " ucap Metha melemah kemudian tak sadarkan diri setelah dokter memberikan obat penenang, ini lebih baik daripada wanita itu memaksa mencari Gio dan mengabaikan kondisinya.
"tolong jangan buat pasien tertekan, ini kurang bagus untuk psikisnya dan akan berpengaruh pada kondisi tubuhnya juga"
"maafkan kami dok, kami akan menjaganya lebih baik lagi"
__ADS_1
"baiklah, saya permisi dulu"
Setelah dokter pergi, Evan mengecup kening Metha dan putrinya.
"aku titip Metha, aku akan mencari Gio disekitar rumah"
"baiklah, semoga cucuku segera ditemukan"
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Evan sampai dirumahnya dan segera melihat CCTV. Semua kegiatan dari pagi hingga Metha dan Gio mengantarnya ke teras ada disana. Hingga ada video yang menampilkan putranya naik ke kursi entah akan mengambil apa, tak disangka kursi itu goyang dan membuat Gio jatuh ke tanah. Lututnya mengenai batu dan mengeluarkan darah. Disana juga terlihat Gio yang berusaha bangun, dia berjalan tertatih, bahkan suaranya saat menyebut nama ayah dan bunda terdengar jelas.
"putraku terluka, ya Allah kenapa aku tak mengingatnya, dimana anakku sekarang? Kemana aku harus mencarinya"
Evan segera mengendarai mobilnya, dia bertanya kepada satpam dan meminta rekaman CCTV komplek. Dalam rekaman CCTV yang menunjukkan pukul setengah sembilan itu, Evan melihat putranya terus berjalan dengan langkah pincang, beberapa menit kemudian Gio duduk ditanah. Lalu ada seorang perempuan dan anak kecil sekitar 4 tahun yang menghampiri Gio. Perempuan itu terlihat berbicara dengan Gio kemudian membawa Gio pergi.
Sayangnya wajah si perempuan menghalangi CCTV, hal itu membuat Evan tak mengetahui seperti apa wajah wanita itu.
Evan kembali menyusuri jalanan, berharap akan mendapat petunjuk atau bahkan menemukan putranya.
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Evan belum berhasil menemukan Gio. Ingin kembali ke rumah sakitpun ia takut. Metha pasti akan lebih khawatir jika dia kesana tanpa Gio. Dan hal itu akan semakin memperburuk kondisi mental istrinya. Jadi Evan memutuskan untuk pulang kerumah.
Mobil Evan baru memasuki halaman, dia bahkan tidak menyadari jika ada dua orang yang menunggunya di teras. Pikirannya kosong bahkan pandangannya pun sama, dia berjalan menunduk
"selamat malam tuan"
Evan mendongak, dia menatap dua orang tersebut, hingga pandangannya tertuju pada perempuan yang dia kenal,
Deg....
********
Siapakah tamunya Evan???
__ADS_1
Kira kira mereka yang menyelamatkan Gio atau bukan???