
"Gio mau adik, tiga!"
Uhuk uhuk uhuk.
Metha yang sedang menyedot minumannya langsung tersedak, minta adik sih boleh saja, tapi kalau tiga secara bersamaan kan juga ga mungkin, dikira kucing yang melahirkan langsung mbrojol tiga sekaligus.
"katanya Gio ga mau punya adik, kok sekarang malah minta adik tiga?" pancing Evan sambil melirik sang istri
"iya, kata opa, kalau Gio punya adik, nanti Gio bakal punya teman main"
"katanya ga mau bunda sakit?" lanjut Evan bertanya
"kata oma sakitnya cuma sebental, lagian Gio juga pengen punya teman main bola kayak Aldian (anak tetangga sebelah yang sepantaran dengan Gio), jadi ayo balapan, kalau Gio menang pokoknya Gio mau adik, tiga"
"kalau Gio minta adik, bukan ke ayah mintanya, tapi ke bunda" jawab Evan sambil menahan senyum
"bunda, Gio minta adik, tiga" ucapnya merayu sang bunda
"siapa yang suruh Gio minta adik tiga?" tanya Metha berpura pura, padahal dia tahu siapa yang menghasut putranya itu, kalau buka duo opa oma, pasti suaminya.
"opa dong!!"
Sudah ku duga, bathin Metha
"kan lucu kalau Gio punya adik tiga, nanti ada teman main bola, telus Gio juga mau adik pelempuan biar temenin bunda masak"
"gimana bunda? Mau kan kasih Gio hadiah?" ucap Evan memanas manasi, Metha menghela nafas
"Gio, kalau Gio ingin punya adik, Gio minta sama Allah, Gio berdoa biar Allah cepat kasih Gio adik ya, karena hanya Allah yang bisa mengabulkan permintaan Gio" jelas Metha, tentu semua adalah kehendak Allah, meskipun dia juga ingin memiliki anak lagi, tapi jika Allah belum memberi rejeki maka tidak akan jadi.
"iya bunda, Gio selalu beldoa sama Allah bial Allah cepat kasih Gio adik"
__ADS_1
"anak pintar, sekarang main dulu sama ayah ya"
"ok bunda, ayo yah, sekalang kita beltanding"
Gio begitu antusias memainkan balap mobil dengan Evan,
"yeay....Gio menang, bunda, Gio akan beldoa telus bial Allah cepat kasih Gio adik"
"iya nak" jawab Metha
"jadi ga sabar buat adik" celetuk Evan, yang langsung mendapat lirikan tajam dari Metha
"sekarang mau kemana lagi?" tanya Evan
"pulang yah, Gio capek"
"ok, ayo kita pulang"
"sudah siap?" tanya Evan, sore ini mereka akan pergi ke panti, barang barang bawaan sudah siap didalam bagasi
"sudah yah" jawab Gio bersemangat
Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena hanya butuh waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke panti. Gio tampak bersemangat, bagaimana tidak, disana dia akan bertemu Rafa dan Ilham, bocah sepantaran dirinya yang tinggal di panti sekaligus teman dekatnya.
Panti Asuhan Kasih Ayah, adalah panti asuhan yang Evan dirikan untuk mengenang almarhum Ryan.
Senyum Gio mengembang, tatkala mobil Evan memasuki halaman rumah bercat putih tersebut. Didepan teras, sudah berdiri bu Amira dan pak Slamet, serta beberapa bocah yang menyambut kedatangan mereka.
"Lafa, Ilham" teriak Gio, dia segera turun dari mobil saat mobil berhenti tepat di teras rumah.
"Gio" ucap Rafa dan Ilham tak kalah senang, mereka bertiga langsung pergi ke samping rumah untuk bermain.
__ADS_1
"apa kabar bu, pak" sapa Metha dan Evan
"Alhamdulillah, kabar kami baik nak Evan, Metha, bagaimana dengan kalian?"
"alhamdulillah kami juga baik bu"
"ya sudah, ayo masuk" ajak bu Amira
Mereka berempat masuk dan duduk di ruang tamu,
"bagaimana keadaan panti bu?" tanya Metha
"alhamdulillah semuanya lancar" jawab pak Slamet
"syukurlah kalau begitu, jika ada apa apa segera hubungi kami" ucap Evan,
"tentu, kalian tidak udah khawatir, semua terkendali dengan baik, bahkan sangat baik" jawab bu Amira tersenyum, mereka kemudian mengobrol lalu dilanjutkan dengan melihat anak anak panti di taman tengah.
Pak Slamet dan bu Amira dulunya adalah sepasang pemulung yang sering mencari rongsokan di depan cafe Metha. Dan kebetulan saat itu Metha melihat mereka, Metha menawarkan kepada pak Slamet dan bu Amira untuk tinggal dan mengurus anak anak di panti yang baru mereka bangun. Bu Amira dan pak Slamet yang tidak memiliki anak, dengan senang hati menerima tawaran tersebut, sejak itulah mereka menjadi pengurus panti.
Evan juga menempatkan empat orang pembantu untuk membantu mengurus panti. Tiga orang penjaga keamanan, serta beberapa pengasuh anak yang membantu bu Amira mengurus bocah bocah disana. Awalnya di panti hanya ada 15 anak, sekarang sudah ada 33 anak, ada yang sudah sekolah Sd, ada yang TK Paud, balita bahkan bayi.
Evan dan Metha selalu memastikan semua kebutuhan anak anak panti terpenuhi dengan baik, setiap dua hari sekali ada orang suruhan Evan yang mengecek kebutuhan panti, mulai dari kebutuhan makan, perlengkapan sekolah, baju, susu, dan yang lain lain.
*******
Ketika para orang dewasa tengah asyik bermain dan bercanda dengan anak anak, hingga melupakan tiga bocah yang saat ini sedang bermain.
"Gi, jangan di cekik, nanti dia mati!!" pekik Rafa
*******
__ADS_1
Kira kira apa yang dilakukan Gio dan kedua temannya??