
Pagi ini suasana villa terasa berbeda. Aura kebahagiaan lebih kentara, tentu saja semua karena kabar bahagia yang mereka terima kemarin.
Airin sudah berkutat didapur dibantu pelayan, sementara Danu dan Gio tengah duduk di taman sambil memberi makan ikan. Jika kalian bertanya dimana Evan dan Metha, maka jawabannya mereka masih dikamar. Bukan karena belum bangun, tapi karena mereka tengah berdebat. Saat tahu Metha kembali hamil, Evan langsung berubah menjadi suami posesif dan siaga.
"aku ini ga sakit mas, masa harus dikamar terus sih!" keluh Metha kesekian kalinya, mereka sejak tadi hanya berdebat tanpa ada solusi
"kita belum periksa kandungan ke dokter, kita belum tahu kondisi bayinya bagaimana, jadi kamu ga boleh banyak gerak, aku takut kamu kayak dulu lagi" jawab Evan santai, dulu saat hamil Gio, Metha pernah pendarahan, tapi untung saja janinnya kuat, jadi tidak terjadi apa apa kala itu. Namun sejak saat itu Evan dihantui kegelisahan, dia bahkan jarang ke kantor hanya untuk mengawasi dan menemani Metha.
"jangan berlebihan mas, wajar kalau wanita hamil mengalami flek, lagipula ini kehamilan kedua, aku sudah tahu apa saja yang harus dilakukan"
"ck, nurut dulu kenapa sih yank, aku kan cuma khawatir, takut kejadian kayak dulu terulang lagu, jadi aku minta kamu nurut sama aku" tegas Evan, Metha hanya menatap malas suaminya.
"ok, ok, tapi ga harus mengurung diri dikamar mas, aku pengen ketemu Gio"
"ok, tapi kamu ga boleh melakukan pekerjaan apapun"
"baiklah suamiku yang posesif"
Evan justru terkekeh, semua dia lakukan hanya demi kesehatan Metha dan calon bayinya.
"pantesan kamu tambah berisi yank, kok aku ga sadar kalo kamu hamil"
"aku juga baru tahu dua hari yang lalu, karena ga sengaja lihat kalender di atas nakas"
"aku bahagia banget yank" Evan kembali memeluk Metha, wangi istrinya ini memang candu baginya,
"aku juga bahagia, bahkan aku ga pernah membayangkan akan sebahagia sekarang, kamu datang saat aku benar benar terpuruk, kamu selalu memberiku semangat, kamu selalu ada disaat apapun, aku sungguh beruntung memiliki suami sepertimu" ucap Metha dengan mata berkaca kaca, "aku ga tahu apa jadinya hidupku kalau kamu ga kembali, apalagi saat ini aku sudah ga punya siapa siapa"
"ssttt, jangan bicara seperti itu, semua yang terjadi adalah takdir, dengan masa lalu kita bisa menjalani masa sekarang, masa lalu juga mengajarkan banyak hal yang berharga, dan aku bersyukur karena masa lalumu akhirnya kita bisa bersama, tentunya semua itu tak lepas dari yang namanya takdir"
"iya, kamu benar, dan aku bersyukur atas semuanya, terima kasih mas" Metha memeluk Evan sayang
"sudah ah, kenapa jadi melow, sebaiknya kita turun, mungkin sarapannya sudah siap"
Mereka bergandengan tangan menuruni tangga dengan senyum mengembang di wajah masing masing.
__ADS_1
"pagi ma" sapa Metha pada mertuanya
"hai, kalian sudah turun?"
"maaf ma, aku ga bantuin mama bikin sarapan" ucap Metha sungkan
"ga papa sayang, mama paham kok, lebih baik kamu duduk saja, sarapannya sudah siap" Metha segera duduk menuruti perintah mertuanya
"Van, kamu panggil papa dan Gio ya, mereka ada ditaman lagi kasih makan ikan"
"iya ma"
Selang beberapa saat, Evan datang bersama Gio dan Danu. Ketiga pria ini langsung duduk di meja makan.
"bunda!!!" teriak Gio
Hap
"duh, anak bunda udah ganteng, tadi mandi sendiri apa dimandiin oma?"
"mandi sendiri dong bunda, Gio udah besal, sebental lagi mau punya adik"
"Gio lapal bunda" rengeknya manja
"ya sudah ayo duduk terus sarapan"
Metha menduduknya Gio di kursi, disusul Evan dan Danu
"opa, awas jatuh lagi, duduknya yang betul" ucap Gio seperti mengejek
"kamu ngejek opa?" jawab Danu sedikit kesal
"cuma ingatin opa aja, jangan sampai jatuh lagi, nanti kayak tadi malam, opa jelit jelit waktu di pijat" ledek bocah gembul itu
"ck, anak sama ayah sama saja"
__ADS_1
"buah jatuh tak jauh dari pohonnya" jawab Evan bangga, "jadi tadi malam opa jerit jerit waktu dipijat?" tanya Evan pada Gio
"iya" jawab Gio sambil mengangguk, "opa juga kentut ulang ulang" tambah Gio tanpa dosa
"Hhahahahahah" , tawa Evan pecah seketika, sedangkan wajah Danu sudah merah karena malu
"opa tua pasti malu tuh" ledek Evan,
"kentut itu mahal asal kamu tahu, orang ga kentut aja bisa masuk rumah sakit" sanggah Danu, Evan akan menyaut tapi keduluan Metha
"mas, jangan ledek papa lagi" ucap Metha membuat Evan langsung diam
"sudah, sebaiknya kita sarapan dulu" ucap Airin
Setelah sarapan, rencananya mereka akan berkeliling melihat perkebunan teh. Sayangnya rencana harus batal akibat ke posesifan Evan.
"kita kan udah planning ke kebun teh mas, masa ga jadi sih"
"itu kan waktu belum tahu kamu hamil, jadi sekarang rencana berubah"
"kita ga jadi jalan jalan?" sambung Gio yang turut bertanya
"kita di villa aja ya sayang" bujuk Evan pada Gio
"bosan ayah, udah jauh jauh kesini, cuma di villa aja"
"kita bisa panggan ikan sama jagung" ucap Evan
"yang benar saja!, ini masih pagi, ngasih ide kok ga kreatif" gumam Danu
"atau kita mancing ikan di kolam aja" usul Evan lagi
"maksud kamu mancing anak ikan? Kamu kan tahu ikan dikolam krucil krucil!" balas Danu lagi
"ini salah, itu salah, terus gimana?" tanya Evan frustasi
__ADS_1
Metha dan Airin hanya diam melihat perdebatan ayah dan anak tersebut, sedangkan Gio malah asyik manatap keduanya
"Gio mau pulang aja, disini ga selu!!" putus bocah gembul tersebut.