Berlian Yang Tersisih

Berlian Yang Tersisih
Tragedi


__ADS_3

"sayang!!!!!"


Evan berlari menghampiri Metha yang sudah meringis kesakitan,


"sakit!!!!"


"darah, sayang kamu berdarah!!!" teriak Evan panik, dia segera menggendong Metha dan memasukkannya kedalam mobil.


"sayang tahan ya, kamu masih dengar suaraku kan???"


Metha mengangguk lemah, mencoba tetap sadar meski tubuhnya terasa begitu lemah.


Sementara di samping rumah, Gio menangis melihat mobil orang tuanya pergi.


"bunda, ayah.......jangan tinggalkan Gio" lirihnya, sambil berjalan dengan lutut terluka, Gio berusaha mengejar mobil ayahnya


Suasana begitu sepi karena saat ini adalah jam kantor. Pembantu mereka tidak menetap, satpam perumahan kebetulan berkeliling. Dengan kaki pincang dan tertatih, Gio terus berusaha mengejar mobil orang tuanya yang sudah tak terlihat. Akhirnya bocah itu berjongkok, lututnya yang terasa perih membuatnya tak mampu berjalan lagi.


"nak sedang apa kamu disini? Astaga, lututmu terluka, ayo ikut tante!"


...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...


"suster!!!!" Evan berteriak saat memasuki lobi rumah sakit , beberapa suster langsung membawa brangkar dan membantu Metha untuk segera dibawa ke UGD, wanita itu sudah kehilangan kesadarannya.


"pasien pendarahan, segera hubungi dokter kandungan" ucap salah seorang suster,


"pak, anda dilarang masuk" cegah suster saat Evan hendak mengikuti mereka masuk


"tapi saya mau menemani istri saya sus!!"


"ini sudah aturan rumah sakit pak, silahkan tunggu diluar"

__ADS_1


Frustasi, khawatir, sedih, cemas, itulah yang Evan rasakan saat ini, dia tak bisa berfikir dan hanya doa yang terus dia panjatkan dalam hati.


Tak lama dokter keluar dari ruang gawat darurat


"suami pasien??"


"saya dok!!"


"kami harus melakukan tindakan operasi karena pasien terus mengalami pendarahan, kondisi janin juga melemah" jelas dokter


"la...lakukan yang terbaik dok, tolong selamatkan istri dan anak saya!!"


"kami akan berusaha semaksimal mungkin"


Evan tak bisa membendung air matanya, dia merasa gagal melindungi istri dan calon anaknya, seharusnya dia mengikuti kata hatinya untuk tidak pergi, benar dugaannya...perasaannya yang tidak enak telah terbukti, dan saat ini dia benar benar takut.


Evan terdiam dengan pandangan kosong, dia tak henti berdoa demi keselamatan Metha dan calon bayinya.


"Gio"


Evan sadar dari lamunannya, dia telah meninggalkan Gio sendirian, semoga putranya baik baik saja, ia segera mengambil ponsel dan menghubungi orang tuanya.


📞 "Hallo Van, ada apa?"


📞 "ma, aku ada dirumah sakit, Metha terjatuh, dia mengalami pendarahan dan sekarang sedang di operasi"


📞 "astaga, bagaimana hal itu bisa terjadi? Kalian ada dirumah sakit mana? mama akan segera kesana"


📞 "kami dirumah sakit Medika, tolong mama kerumah dulu, aku melupakan Gio, tadi aku terlalu panik, hingga lupa padanya, dia pasti sendirian sekarang" ucap Evan dengan rasa bersalah


📞 "mama akan segera menjemput Gio, kamu jaga Metha disana, mama dan papa akan segera menyusul"

__ADS_1


Pikiran Evan melayang, dia khawatir pada Gio, namun tidak bisa meninggalkan Metha sendirian. Sungguh, dia merasa gagal menjadi suami dan ayah.


Semoga kamu baik baik saja nak, lirih Evan


Dia terus menunggu didepan ruang operasi, sudah hampir satu jam, namun dokter tak kunjung keluar, kekhawatiran Evan terus bertambah karena mamanya tak kunjung datang, apa terjadi sesuatu pada putranya? pikiran negatif sempat mengisi kepalanya, namun segera ia tepis. Hanya doa yang dapat ia panjatkan saat ini, ia yakin Allah akan selalu menjaga orang orang tersayangnya.


Ceklek.......


Dokter keluar dari ruang operasi


"bagaimana kondisi istri dan anak saya dok?"


"alhamdulillah operasi berjalan lancar, kami berhasil menghentikan pendarahan pasien dan bayinya juga terlahir dengan selamat, dia berjenis kelamin perempuan"


"alhamdulillah, apa saya bisa melihat istri dan anak saya dok?"


"setelah istri dan anak bapak dibersihkan, anda dipersilahkan masuk"


"terima kasih banyak dok"


"sama sama pak, kalau begitu saya permisi dulu"


Ada kelegaan dihati Evan, tak henti dia mengucap syukur atas kondisi Metha dan putrinya.


"Van...." Evan menoleh pada Airin dan Danu yang baru saja tiba, namun tidak ada putranya, kemana dia?


"ma, pa, dimana Gio??"


Dua orang paruh baya itu terdiam dan saling pandang


"ma, pa, ada apa? Dimana putraku???"

__ADS_1


"Gio..... Gio hilang"


Deg


__ADS_2