Berlian Yang Tersisih

Berlian Yang Tersisih
Sarapan


__ADS_3

Hidup memang tidak ada yang tahu akan berakhir seperti apa. Sama seperti akhir kisah Ryan dan Metha. Kesalahan yang pernah Ryan berikan memang tidak akan pernah bisa dilupakan, tapi semua ini adalah bagian hidup yang tidak bisa di hindari. Metha sudah memaafkan Ryan jauh sebelumnya. Bahkan Metha tak menyangka Ryan akan menghembuskan nafas terakhirnya hanya demi menolongnya. Pengorbanan Ryan tentu tidak akan dilupakan oleh Metha juga Evan. Bahkan Evan sengaja membangun sebuah panti asuhan untuk Ryan sebagai bentuk terima kasih mereka pada mantan suami Metha tersebut. Mereka juga rutin melakukan doa bersama setiap minggu yang khusus ditujukan pada mendiang almarhum Ryan.


Jika ada kebahagiaan, pasti ada penderitaan.


Jika ada suka, pasti ada duka.


Jika ada kelahiran, pasti ada kematian.


Kehidupan Metha begitu penuh warna, walau sempat berduka atas kepergian ayahnya setahun lalu, berkat dukungan suami juga mertuanya dan Gio sebagai penguatnya, Metha ikhlas melepas kepergian sang ayah.


Tiga Tahun Kemudian


"Bunda, Gio lapal" ucap Gio yang baru tiba di meja makan, bayi gembul itu berubah menjadi anak gembul yang menggemaskan. Wajahnya perpaduan wajah Evan dan Metha, sedangkan tubuhnya mewarisi sang ayah. Di usianya yang hampir genap empat tahun, Gibul sudah bersekolah Paud, tapi karena masih pandemi, dia bersekolah dari rumah.


"iya, ini sarapan kakak sudah siap" jawab Metha, dia langsung memberikan sepiring nasi goreng plus telur ceplok di hadapan putranya, ya...Gibul memang sulit menahan lapar, dan itu sering membuat orang orang sekitarnya gemas.


Sret,


Evan menggeser piring berisi nasi goreng milik putranya lalu tanpa dosa memakannya, membuat empunya melongo


"ayah itu nasi goleng Gio" ucapnya cadel


"eh, iyakah? Ini bukan punya ayah?" tanya Evan dengan tampang tanpa dosa, dan lihatlah wajah di Gibul, dia sudah menggembungkan pipinya dan itu mirip seperti bakpao


"bunda, ayah nakal" adunya pada Metha, Metha hanya menggeleng, Evan memang senang sekali menggoda putranya.


"utu tu tu tu, ngadu nih" ledek Evan,


Bocah gembul itu turun dari kursinya, dia langsung duduk dipangkuan sang ayah, lalu memakan sarapannya, walaupun sering adu mulut dengan ledekan masing masing, tapi keakraban dan kehangatan keduanya sangat terasa.


"ih, siapa yang suruh makan sarapan ayah?" tanya Evan pura pura merajuk


"ini kan punya Gio, kalau ayah mau, minta sama bunda" jawabnya dengan mulut penuh sambil mengunyah

__ADS_1


Evan mencium pipi bulat itu, anaknya selalu menggemaskan,


"anak siapa sih ini, gemes banget deh ayah, boleh gigit pipi Gio ga?"


Gio menatap ayahnya lalu menggeleng


"ini sarapannya ayah" Metha meletakkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok diatasnya.


"terima kasih bunda sayang" wanita itu hanya tersenyum, Metha yang melihat suaminya agak kesulitan untuk makan karena memangku sang anak, langsung mengambil alih piring itu, dia menyuapi Evan dan dengan senang hati Evan menerima suapan istri tercintanya.


"bunda culang" ucap bocah itu menggemaskan,


"pasti anak bunda mau disuapi juga kan?" tanya Metha dan dengan semangat bocah itu mengangguk


"mau itunya juga bunda" tunjuknya pada telur mata sapi milik sang ayah


"ga boleh, kan itu punya ayah mbul, tadi kan kamu sudah dapat" cegah Evan,


"Gio, ingat kan kata bunda?" ucapan Metha membuat bocah itu menunduk, lalu mengangguk. Evan dan Metha tersenyum


"jadi Gibul ingat pesan bunda?" tanya Evan,


"apa?" tanya Evan lagi


"kita tidak boleh selakah, tidak boleh meminta atau mengambil punya olang lain"


"pintar anak ayah, jadi sekarang bagaimana?"


"Gio minta maaf bunda, ayah, Gio ga mau minta punya ayah lagi"


Lagi lagi Evan dan Metha tersenyum, bukan tidak ingin memberikan telur itu pada Gio, mereka hanya mengajarkan Gio untuk tidak serakah, bukan pelit, tapi lebih baik sesuai porsi, karena makan berlebihan juga tidak baik bagi kesehatan bukan?.


"pintarnya anak bunda, ya sudah sekarang ayo bunda suapi lagi, habis ini kita sekolah dirumah ya"

__ADS_1


Gio mengangguk semangat.


Kehidupan Metha dan Evan memang berwarna sejak ada Gio, mereka juga mendidik Gio dengan kesederhanaan, bahkan setiap minggu mereka sengaja mengajak Gio ke panti asuhan agar anak itu berbaur dengan anak anak panti. Siapa sangka justru Gio dengan mudah langsung akrab dengan mereka, bahkan tanpa ragu mengajak mereka makan dan bermain bersama.


Evan dan Metha begitu bangga, karena di usia putra mereka yang belum genap 4 tahun, Gio tumbuh menjadi anak yang ceria, ramah, bahkan tak segan mengakui kesalahan jika berbuat salah. Dia juga tidak membeda bedakan teman temannya yang ada di panti, bahkan sering Gio berinisiatif memberikan mainannya kepada mereka. Apalagi jika dia dibelikan banyak mainan oleh ayahnya atau opanya, Gio pasti akan memilih beberapa mainan yang akan dia berikan kepada teman temannya dipanti.


Selesai sarapan, Metha dan Gio mengantar Evan sampai ke depan pintu, itu menjadi rutinitas mereka setiap pagi,


"ayah kerja dulu ya?" pamit Evan


"iya ayah, cali uang yang banyak ya, nanti beli mainan yang banyak buat teman teman panti"


Evan berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Gio,


"iya, ayah akan cari uang yang banyak, Gio doakan ayah yah, semoga kerjaan ayah selalu lancar supaya ayah dapat uang yang banyak"


"iya ayah" bocah gembul itu mengambil tangan Evan lalu menciumnya begitupun dengan Metha


"ayah kerja dulu"


"hati hati ayah" Evan masuk kedalam mobil, sedangkan dua harta berharga Evan itu melambaikan tangan hingga mobil yang dia kendarai meninggalkan pekarangan rumah.


"sekarang waktunya Gio sekolah, ayo kita ke ruang tamu"


"ayo bunda!!!"


******


Hai hai kakak, aku come back lagi, maaf karena othor habis sakit, jadi baru bisa up.


Semoga kalian suka dengan cerita ini


Oh ya, ada yang mau ngasih Gio telur ceplok ga??? 😁😁

__ADS_1


__ADS_2