
"aku mau kamu yang makan ini, tidak ada penolakan, dan ini semua permintaan dedek bayi"
Benar kan dugaanku, lirih Evan dalam hati
"ganti yang lain aja ya yank" tawar Evan
"kan tadi udah dibilang ga ada penolakan, udah ah aku mau bayar dulu"
Metha menggandeng Gio menuju kasir, setelah membayar es krim dan mi samyang, mereka keluar dari supermarket. Dan melanjutkan perjalanan menuju rumah.
"es klimnya enak bunda, bunda mau?"
"buat Gio saja"
15 menit kemudian, mereka sudah sampai dirumah. Metha segera keluar dari mobil sambil menggandeng Gio yang masih memakan es krimnya.
"sekarang Gio mandi lalu tidur ya" perintah Metha diangguki si bocah gembul
Mereka masuk kedalam kamar, Metha membantu Gio untuk mandi, setelahnya dia menemani putranya untuk tidur siang.
Suara dengkuran halus sudah terdengar, artinya bocah gembul itu sudah terlelap. Metha segera masuk kedalam kamarnya dan melihat Evan yang baru keluar dari kamar mandi dengan memakai celana tiga perempat juga kaos polos.
"kamu mau mandi apa langsung istirahat yank?" tanya Evan
"mandi dulu mas, gerah" jawab Metha sambil melangkah menuju kamar mandi, sedangkan Evan merebahkan diri ke kasur, tubuhnya lumayan lelah setelah menyetir beberapa jam. Hingga tak terasa dia terlelap ke alam mimpi.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Tepukan halus dipipinya membuat Evan terjaga, perlahan dia mengerjapkan mata dan melihat Metha berada didepannya. Ah, wajah istrinya ini memang begitu cantik, bahkan jauh terlihat lebih cantik jika dilihat dari dekat.
"kamu belum istirahat?" tanya Evan dengan suara seraknya
"sudah"
"sekarang jam berapa?"
"jam 3 sore"
"wah, rupanya aku tidur lumayan lama ya" kekeh Evan
Evan terus memandangi sang istri, dia membawa Metha dalam pelukannya dan mengecup keningnya dengan sayang, Metha juga menatap Evan dengan tatapan lembutnya.
"ayo" ajak Metha
__ADS_1
"apa?? Kamu ingin? Udah ga tahan ya?" goda Evan
"ish, apaan sih" Metha mencubit perut Evan mendengar perkataan suaminya
"terus kalau ga ingin, kamu mau ngajak aku kemana yank?" tanya Evan sambil mengusap perutnya yang sakit
"makan mi samyang, sudah aku masak loh"
Glek
Evan menelan ludahnya kasar, kenapa istrinya masih mengingat hal itu. Matilah dia....
"kamu...sudah memasaknya?"
"sudah dong"
"ganti makanan lain aja ya yank" mohon Evan
"ga mau mas, ini semua permintaan dede bayi, kamu mau anak kedua kita ileran?" ancaman Metha sukses membuat Evan gelagapan
"eh......, ya jangan dong, masak anak Evan Anggika ileran, ga keren amat"
"ya kalau gitu, kamu makan dong mi nya"
"ya sudah ayo" ucap Evan, dia turun dari kasur hendak berjalan keluar
"eh, tunggu dulu" cegah Metha
"kenapa yank, kamu berubah pikiran?, alhamdulillah"
"ih bukan lah!!"
"terus??"
Metha berjalan menuju lemari dan mengambil sesuatu
"ini, kamu makan mi nya sambil pakai baju ini" Metha menyerahkan daster berwarna ungu muda kepada Evan, membuat pria itu melongo tak percaya
"yank, ini beneran aku harus pake ini?"
"iya"
"tap....."
__ADS_1
"ini anak kamu yang minta!!" tekan Metha, Evan kembali menghela nafas, ia akan kalah jika sudah menyangkut anak
Dengan lesu dia berjalan dibelakang Metha, tentunya dengan daster ungu yang sudah melekat ditubuh kekarnya. Bahkan baju itu terlihat kekecilan ditubuhnya, maklum saja, tubuh Metha itu langsing, sedangkan Evan kekar dan besar.
"hahahaha, ayah lucu" tawa Gio langsung terdengar ketika Evan berjalan menuju meja makan, bukan hanya Gio, bahkan jika ada orang lain yang melihatnya pasti akan tertawa karena Evan sudah mirip emak emak lambe gosip yang suka ngrumpi didepan kompleks, 😁
Evan merengut, untung saja papanya tidak tahu, jika Danu ada disini dan melihat dirinya saat ini maka matilah dia karena malu,
"duduk, terus makan mi nya" perintah si ibu ratu
Evan menatap horor makanan didepannya, pasalnya, mi yang akan dia makan terlihat menyeramkan, berbeda dari ekspektsinya yang hanya mi goreng berwarna merah, nyatanya faktanya lebih menyeramkan. Tak hanya berwarna merah karena cabai, tapi mi tersebut juga berwarna kecoklatan, entah sudah dicampur dengan apa oleh istrinya itu, yang jelas Evan ngeri untuk memakannya.
"yank, bentuknya kok begini?"
"iya, tadi aku kombinasiin sama bahan lain, tapi rasanya sama kok, makan aja"
Evan menatap Metha dan Gio bergantian, kemudian menyuap mi itu kedalam mulut. Seketika Evan melotot, rasanya sungguh pedas dan sangat manis, dan itu membuat perutnya eneg. Ingin sekali dia memuntahkan mi itu, sayangnya wajah binar Metha mampu mengurungkan niatnya.
Dengan perjuangan dan susah payah, Evan mencoba menghabiskan mi itu. Keringat sudah bercucuran, perutnya juga mulai terasa mulas, namun kebahagaian Metha tetaplah yang utama. Evan bahkan tidak sadar jika Metha diam diam memvideo kegiatannya lalu mengirimnya kepada sang mertua.
"yank, aku ga kuat lagi!" Evan berlari ke wastafle lalu memuntahkan isi perutnya. Sungguh dia tidak kuat lagi,
"mas, kamu ga papa?" tanya Metha sambil memijat tengkuk suaminya
Evan berdiri, wajahnya sedikit pucat dengan keringat yang masih mengalir di wajahnya.
"maaf yank, aku ga kuat lagi, kamu boleh minta apa saja asalkan jangan makan mi itu lagi" ucapnya sedikit lemas, jujur saja Evan tak bisa memakan makanan dengan kepedasan tingkat tinggi
"maaf, ayo duduk dulu, akan aku ambilkan air hangat"
Evan duduk kembali ke meja makan, dia menatap putranya yang asyik memakan sosis, entah kenapa sepertinya Gio tak kasihan melihat ayahnya menderita,
"ini air hangatnya mas" Metha menyerahkan segelas air hangat kepada suaminya, lalu dengan segera diminum oleh Evan,
"harusnya kamu bilang kalau ga sanggup, kan aku ga nyuruh kamu habisin mi nya" ucap Metha tanpa dosa, Evan menganga, setelah perjuangan panjangnya, baru sekarang istrinya mengatakan hal itu,
Tahu gitu aku cicipi doang, gemas Evan dalam hati
"bwahahahahahahaahah"
*********
Coba tebak, yang ketawa siapa??
__ADS_1