Berlian Yang Tersisih

Berlian Yang Tersisih
You Are My World


__ADS_3

Brak....


Jika kalian menebak itu bunyi kursi terjatuh akibat kekagetan Evan atas berita kehamilan Metha, atau Gio yang menggebrak meja karena senang adiknya sudah on going, maka jawabannya nol besar, nyatanya suara itu berasal dari si opa tua yang terjatuh akibat satu kaki kursi yang patah.


Semua orang dimeja makan bengong, bukan karena exited atas berita kehamilan Metha tapi karena si opa tua yang terjungkal ke belakang.


"keluarga ga ada akhlak, kalian akan diam berapa lama lagi melihatku, hah!" ucap Danu kesal, pinggangnya sudah nyilu, tapi mereka semua hanya menatapnya cengo. Heheh


"astaga, papa terjatuh" heboh Airin, Metha dan Evan pun ikut heboh, mereka semua berdiri dan menghampiri Danu lalu membantu pria itu berdiri, lain halnya dengan Gio yang justru semakin asyik memakan sosisnya. Maklum, anak anak kan ya....


"opa hebat, bisa patahin kursi cuma didudukin doang" bukan menolong, Gio malah memuji sang opa sambil mengangkat jempolnya, mungkin bocah gembul itu mengira aksi opanya itu keren, tanpa tahu kejadian sesungguhnya. 😁


"anak sama cucu, sama saja" kesal Danu


"lah, kok marah marah sih opa tua, kan udah ditolongin" jawab Evan


"telat, udah keduluan nyeri ini pinggang" Danu berjalan menuju ruang tamu sambil memegang pinggangnya,


"loh, papa ga lanjut makan?" tanya Airin


"udah ga selera, lagian kok bisa ada kursi rusak di villa ini, hei anak katak!" tunjuk Danu pada Evan, "kamu itu kaya, warisan dariku itu banyak, kamu juga sukses jadi pengusaha, masa beli kursi aja ga mampu, sampai orang tua harus jatuh dulu, dasar anak hakadur!" kesal Danu


"durhaka opa tua, lagian mana aku tahu kalau kursinya rusak, penjaga villa ga bilang apa apa, kalau tahu kan udah aku siapin kursi goyang anti gempa"


"ck, alasan saja kamu, liburan bikin ngeselin ini mah, harusnya bahagia kan, malah jatuh"


Ketiga orang dewasa itu hanya diam saling pandang, sementara Gio masih asyik makan makanannya.


"eh...tunggu dulu" ucap Evan membuat semua orang menoleh padanya


"honey, kamu bilang apa tadi? Adik Gio udah on going? Beneran kan?" tanya Evan yang baru ingat perihal kehamilan Metha


"ah iya sayang, apa benar kalau kamu isi lagi?" tanya Airin heboh, bahkan Evan dan Airin melupakan Danu yang masih kesakitan


"iya mas, ma" jawab Metha sumringah


"Aaaaaaaa" teriak Evan dan Airin, mereka berdua langsung memeluk Metha bergantian


"selamat sayang" ucap Airin


"makasih ma"


Evan memeluk istrinya lalu berjongkok dan memeluk perut sang istri


"makasih sayang, kamu sudah hadir di rahim bunda, ayah akan menunggu kamu dengan sabar, sehat sehat sampai lahir, ayah sayang kalian" Evan mengecup perut Metha yang masih datar


Danu berjalan tertatih, kemudian menghampiri menantunya, tanpa diduga dia langsung memeluk Metha dengan sayang.


"terima kasih sayang, terima kasih sudah membawa kebahagian pada keluarga kami" ucap Danu penuh haru, dia bahkan melupakan rasa sakitnya.


"makasih pa, tapi harusnya disini Metha yang mengucapkan terima kasih karena kalian mau menerima Metha dengan tulus, terima kasih sudah menerima semua kekurangan Metha pa" ucap Metha sambil membalas pelukan mertuanya.


"sudah sudah, opa tua jangan peluk istriku lagi, nanti dia engap, lebih baik opa tua duduk aja, sebentar lagi aku panggilkan tukang urut"


"ck, dasar posesif, ok, aku duduk" jawab Danu kesal, namun tetap mengikuti perintah putranya

__ADS_1


"Gio sini, diperut bunda sudah ada adiknya loh" teriak Evan,


Brak....


Gio langsung melompat dari kursi dan berlari ke arah bunda dan ayahnya


"adik Gio udah jadi?" tanyanya berbinar


"iya sayang, Allah sudah mengabulkan doa Gio, sekarang diperut bunda ada adiknya Gio, apa Gio bahagia?" tanya Metha


"Gio bahagia bunda, Gio akan jaga bunda dan tiga adik Gio" jawabnya polos, Metha menggaruk lehernya, mungkin Gio sudah terdoktrin ingin memiliki adik tiga, hingga dia mengira di perut bunda ada tiga adiknya.


"adiknya satu sayang" jelas Metha


"jadi adik Gio cuma satu?" tanyanya dengan nada kecewa


"iya, sama seperti Gio, lahirnya satu, nanti adiknya juga lahir satu, kalau Gio mau tiga, nanti kalau adik Gio udah lahir, ayah sama bunda akan buat adik Gio lagi" jelas Evan yang langsung mendapat pelototan oleh Metha,


"hehehe, peace" ucap Evan sambil mengangkat dua jarinya


"oh jadi gitu ya yah, ok deh ga papa adiknya Gio satu dulu, tapi benelan kan nanti dibuatin adik lagi?" tanyanya kembali riang


"ok" jawab Evan mantap, sementara Metha hanya bisa menghela nafas


"karena ini kabar baik, sebaiknya kita lanjutkan makannya ya, sayang makanannya masih banyak" ajak Airin


"ok, lets go makan lagi" ucap Evan dan Gio semangat


"hei, kalian mau melupakan aku?" teriak Danu kesal, bahkan mereka melupakan pria tua itu, hehe.


"anak katak, sini, bantuin saya berjalan"


"ck, ok.., mumpung mood aku lagi baik, ayo aku bantu berjalan"


Evan memapah papanya menuju ruang makan, dan menduduknya dikursi yang lain, Evan berniat kembali ke kursinya sebelum suara Danu mengurungkan langkahnya.


"hei, periksa dulu kaki kursinya, nanti kalau ternyata rusak juga kan papa bisa jatuh lagi" pinta Danu, Evan memutar bola mata malas, namun tak urung mengecek kaki kursi yang Danu duduki


"aman opa tua" ucap Evan,


"ok deh, ayo makan!!" teriaknya semangat


Evan kembali menghela nafas tapi tak lama kemudian dia tersenyum mengingat sang istri yang sudah berbadan dua lagi. Tentu saja Evan sangat bahagia, dia akan memiliki anak lagi, adiknya Gio.


"makan!, jangan senyum senyum sendiri, nanti kesambet" celetuk Danu, wajah Evan seketika berubah masam, bisa sekali opa tua itu membuat mood ambyar, untung sayang, kalau tidak..., ah sudahlah, suka suka opa tua ini.....


Mereka makan dengan santai dengan wajah berbinar, tentu saja kehadiran calon anggota baru keluarga ini membuat semuanya bahagia, tidak hanya Evan, Danu juga terlihat sangat bahagia. Dia kembali mengingat satu rahasia yang tidak pernah dia katakan pada istri, anak dan menantunya. Dulu, setelah melahirkan Evan, Airin mengalami pendarahan hebat, kelahiran Evan terpaksa prematur akibat Airin terjatuh dari kamar mandi. Setelah Evan lahir, dokter terpaksa mengangkat rahim Airin, jika tidak akan berbahaya bagi Airin, dengan terpaksa Danu mengiyakan keputusan tersebut, padahal dia ingin memiliki banyak anak, bahkan setelah Evan berumur lima tahun, Airin sempat mengatakan ingin memiliki anak lagi, namun Danu mengatakan cukup Evan saja, dia tak ingin melihat Airin kesakitan lagi, nyatanya itu hanya alibinya agar Airin tak tahu alasan yang sebenarnya. Tanpa sadar Danu mengusap sudut matanya, dia bahagia melihat keluarganya akan bertambah. Hingga usapan tangan Airin menyadarkannya dari lamunan,


"impianmu akan terwujud, maafkan atas ketidaksempurnaanku" ucap Airin pelan, Danu terkesiap, dia memandang lekat istrinya


"aku tahu semuanya, terima kasih sudah menjaga rahasia ini, aku bahagia memiliki suami sepertimu" gumam Airin dengan mata berkaca kaca, Danu kembali terharu, dia tak menyangka istrinya tahu hal ini, dia tersenyum melihat Airin, lalu menggenggam tangan istrinya.


"opa sama opa pacalan" celetuk Gio, membuat dua orang itu tersenyum kaku


Evan memandang lekat kedua orang tuanya, dia tahu jika orang tuanya sekarang sangat bahagia. Walau sering cekcok tapi dalam hati terdalamnya, Evan sangat menyayangi orang tuanya.

__ADS_1


"kalau sudah selesai, sebaiknya kalian istirahat ya, apalagi Metha harus banyak istirahat, jangan kelelahan dan banyak aktivitas ya sayang"


"iya ma"


"kalau begitu malam ini Gio tidur sama opa oma ya" ucap Evan


"kenapa yah, Gio kan mau tidul sama adik di pelut bunda" jawab Gio


"nanti kalau adiknya kena tendang sama Gio kan adiknya bisa sakit, jadi malam ini tidur sama opa oma ya, Gio sayang kan sama adik?"


Si gembul berfikir sejenak, kemudian mengangguk


"iya, malam ini Gio tidul sama opa dan oma saja, Gio ga mau adik di pelut bunda sakit kena tendang Gio"


"anak pintar"


"jangan dijenguk dulu, masih rawan" celetuk Danu


"ish, udah tahu opa tua"


Mereka semua tersenyum mendengar perdebatan ayah dan anak tersebut. Hingga tak terasa makan malam telah usai. Gio sudah masuk ke kamar dengan opa omanya. Metha dan Evan juga segera memasuki kamar mereka.


Grep


Evan memeluk Metha dari belakang, menaruh dagunya di leher Metha.


"makasih sayang, makasih banyak, makasih sudah mau mengandung anakku lagi, aku tahu melahirkan itu bertaruh nyawa, dan kamu rela bertaruh nyawa demi anak anakku"


"anak kita" ralat Metha


"iya, anak kita, kita akan membesarkannya sama seperti kita membesarkan Gio, memberinya kasih sayang dan cinta yang berlimpah, kamu adalah istri yang hebat dan bunda yang hebat untuk anak anak kita"


"dan kamu suami dan ayah yang tak kalah hebat untukku dan anak anak kita"


"aku bahagia memiliki kamu sebagai pendamping hidupku, terima kasih sudah menerimaku sayang, aku janji akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi untuk kalian"


Metha berbalik dan menatap lekat suaminya


"justru aku yang beruntung karena kamu mau menerima aku dengan tulus, menerima segala kekuranganku dan masa laluku, terima kasih sudah memilihku menjadi pendamping hidupmu, terima kasih" ucap Metha tulus, sekarang hidupnya sungguh bahagia, memiliki suami, mertua dan anak yang begitu menyayanginya, walau kadang Metha sedih karena kedua orang tuanya tak bisa melihatnya saat ini, tapi Metha yakin mereka juga bahagia melihat Metha dari surga.


" I love you" gumam Evan sambil menempelkan keningnya di kening sang istri,


" I love you more my husband"


Keduanya bertatapan, kemudian Evan mengecup lembut bibir candunya itu. Lalu memeluk istrinya dengan erat.


" you are my world, Metha Safira Maharani"


******


Gimana gimana bab ini, masih belum end ya, ada beberapa bab lagi menuju happy ending


Makasih like dan komennya kakak kakak, aku ga nyangka kalian masih setia menunggu up cerita ini, padahal aku mengira kalian sudah bosan dengan ceritanya, tapi nyatanya kalian masih setia. Makasih banyak loh,,,


Tunggu terus up nya ya, masih ada beberapa bab lagi hingga tamat

__ADS_1


Makasih


__ADS_2