
Flora melihat makam Madina dia akan di kuburkan dengan peti
Akbar di sisi kanannya dia memakai setelan jas hitam
“Dia sudah gila”.ucap Akbar
Flora telah tahu apa yang menimpa Madina
Dia melihat peti Madina yang sudah berada di galian kubur
Flora menangis dia melempar setangkai bunga ke peti Madina
Walaupun Madina sudah jahat padanya dia tetap mencintainya sebagai seorang kakak pada adiknya dia menyanyanginya
“Dia tetap adik kita kakak mau bagaimana pun dia tetap adik kita”.ucap Flora
Akbar Flora mengerti maksudnya dan tersenyum ia melihat peti Madina
Bram ada di sana ia melihat peti Madina
Flora dan Akbar melihatnya
Harish datang ia membawa Flora yang tersenyum padanya dahulu dan pergi
Kini tersiksa Akbar dan Bram yang melihat peti Madina
“Di mana Ammar ?”.ucap Bram
“Dia sedang bersama papa saat ini”.ucap Akbar
“Maafkan dia Bram”.ujar Akbar melihatnya
Bram tersenyum padanya ia kembali melihat peti Madina
“Aku memaafkanya”.ucap Bram
Asya duduk di kamar bersama Anita yang menangis ia menenangkannya di sisinya
“Sabar ibu”.ucap Asya
Flora bergabung ia menenangkan ibunya di sisinya yang kiri
•••
Di ruang kantor Zayn
“Jadi begitu pah ?”.tanya Ammar
Ammar duduk di kursi sementara Zayn berdiri
Dia berbalik melihat anaknya
Tuk
Tuk
__ADS_1
“Masuk”.ucap Zayn
Akbar datang dan masuk membuka pintunya
Ammar berdiri
Ammar dan Akbar berpelukkan
“Aku akan membawa mama kalian beberapa hari agar ia pulih”.ucap Zayn
“Apapun keputusan papa kami akan dukung”.ucap Zayn
“Masalah yang ada di sini kami akan urus bersama”.ucap Akbar
Zayn tersenyum
Ia memeluk anak anak laki lakinya
•••
Bram bersama anak anaknya di taman bersama dengan Harish
“Jadi kau sudah memaafkanya ?”.ucap Harish
“Aku memaafkanya salahku juga karena aku pernah membuatnya terjebak dahulu”.ucap Bram
Harish tersenyum padanya
Harish merangkulnya mereka ke arah si kembar A yang tengah bersama Nina bermain
Ia berdiri
Harish memeluknya
“Aku sangat rindu denganmu”.ucap Nina
“Aku juga rindu denganmu.apakah kau sudah selesaikan tugas semestermu ?”.ucap Harish
Nina melihat Bram
Bram tersenyum
Harish tersenyum dia tahu sesuatu tentang Nina
“Kau tahu bahkan bicara depan umum saja ia sulit”.ejek Bram
Harish tertawa
Sementara Nina kesal
“Euhm sebenarnya aku sangat ingin bekerja dengan giat kau tahu kakak tapi sayangnya seseorang menyuruhku saat aku di rumah untuk mengurus anak anaknya !”.protes Nina tanpa henti
Bram dan Harish tertawa bersama
Nina malah semakin kesal dengan kedua kakaknya
__ADS_1
“Ayok anak anak kita pergi saja”.ucap Nina membawa si kembar
Nina pergi dengan si kembar
Harish dan Bram melihatnya tersenyum
“Kita harus mendidiknya secara bergantian”.ucap Bram
Harish nampak berfikir
“Aku akan setuju untuk itu”.ucap Harish
Bram terkekeh ia tahu apa yang ada di pikiran Harish
•••
Flora menenangkan Anita bersama Asya
“Sabar Mah sabar”.ucap Flora
“Masih ada aku”.ucap Flora
“Madina…dia…”.ucap Anita terpotong menangis
Anita sebisa mungkin tegar dia melihat menantu dan anaknya bergantian
Flora dan Asya menaruh kepala mereka di pundak Anita dan mengenggam tangan mereka kuat dengan tangan Anita
Ammar dan Akbar datang
Asya melihat suaminya
“Biar aku saja”.ucap Ammar
Asya menghela nafas melihat ibunya
Dia menyingkir kemudian
Dia pergi untuk menjaga anaknya Aaliyah
Ammar mengganti posisi Asya
Akbar ada di bawah dia melihat ibunya sambil menekuk lutut
Mereka semua menaruh kepala mereka kepada ibu mereka dan mengenggam tangan ibu mereka
Flora sangat sedih jika ibunya syok dia sangat khawatir dengan ibunya dia sangat memahami ibunya
Ammar memahami perasaan ibunya sebagai anak pertama ia tentu bisa merasakan ibunya tengah sedih
Akbar mengerti akan ibunya dahulu ibunya juga pernah seperti ini
Anita mengelus kepala anak anaknya bergantian
Mereka saling mengenggam tangan
__ADS_1
Zayn melihatnya dari jauh dan celah pintu