Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 10


__ADS_3

Di kediaman Merlin.


Nolan baru saja tiba di sana, ia langsung mencari keberadaan Maura. wanita itu tengah bermain bersama putranya, Nolan tersenyum saat melihat interkasi ibu dan anak itu. Baby Zaen sangat menggemaskan, lalu ia menghampiri lebih dekat. Namun, saat itu juga Lisia datang dan ikut bergabung. Gadis itu membawa cemilan dan meletakkannya di atas meja.


"Maura?" panggil Nolan.


"Ya," jawab Muara.


"Betul, kalau kamu sepakat mendirikan pembangunan itu? Tadi aku bertemu dengannya di restoran," tutur Nolan.


"Aku belum memberikan izin, tapi setelah aku pikir-pikir niat dia bagus. Dia mendirikan gedung itu untuk kemajuan rakyat kecil, dia tidak mempermasalahkan tanah itu. Tanah itu tetap milik Morena," jawab Maura.


"Jadi kamu sepakat bekerja sama dengannya? Itu artinya kamu akan terus berurusan dengannya, kalau sampai dia tau soal ..."


"Tidak apa-apa, lambat laun dia pasti tau," pungkas Maura.


Lisia yang tidak tahu arah pembicaraan mereka hanya mendengarkan saja tanpa menyimak.


"Dia ingin bertemu dengan kita, kapan kamu ada waktu?" tanya Maura.


"Kapan pun aku bisa, semua terserahmu," jawab Nolan.


"Hmm, baiklah. Nanti aku coba jadwalkan pertemuan." Ucap Maura sembari menggendong baby Zaen.


"Keponakanku, sini, aku belum gendong dia hari ini," kata Nolan. Pria itu menggendong baby Zaen, balita mungil itu sangat aktif sehingga Nolan sedikit kewalahan.


"Sudah cocok punya anak, kenapa tidak cepat menikah saja? Kalau memang sudah ada calon kenapa menunggu lama?" tanya Maura.


Lisia yang mendengar langsung menoleh, ia berharap, ia yang dipilih sebagai istri dari Nolan.


"Tidak, aku lebih suka seperti ini. Ada baby Zaen jadi aku tidak kesepian," jawab Nolan.


"Dasar, jangan suka mempermainkan wanita," ujar Maura lagi. Candaan mereka terus berlanjut tanpa mereka sadari, bahwa di rumah itu kedatangan tamu yang tak diinginkan.

__ADS_1


Masih keluarga nyonya Merlin, orang itu adalah cucu dari adik nyonya Merlin sendiri. Kekayaan yang dimiliki nyonya Merlin sangat banyak sehingga menjadi rebutan. Orang itu tetap minta bagian harta dari orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Orang itu tidak rela jika warisannya jatuh kepada baby Zaen anak dari Morena.


"Nolan ...," teriak orang itu yang bernama Alex.


Seketika, Maura dan Nolan mendengar teriakan itu. Maura menghela napas panjang, mau apa orang serakah itu datang lagi? pikirnya.


"Biar aku yang temui dia, paling minta uang," kata Nolan.


"Jangan beri uang lagi, biarkan dia kerja sendiri," kata Maura yang sudah geram.


Nolan mengangguk, lalu menyerahkan baby Zaen kepada ibunya. Ia langsung menemui Alex.


"Ada apa? Tidak perlu teriak-teriak!" kata Nolan yang tengah menuruni anak tangga.


"Aku butuh uang, kenapa kamu tidak menerima panggilan dariku, hah?! Jangan menghindariku, di mana Morena? Aku butuh uang sekarang juga," tuturnya lagi.


"Ada apa menyebut namaku? Harta bagianmu sudah habis," jawab Maura tiba-tiba.


Alex langsung tertawa. "Mana mungkin? Belum juga separuh aku minta bagian orang tuaku, kamu itu pelit, aku ingin bertemu nenek kalau begitu," ujar Alex.


"Pergilah, kalau mau uang itu kerja jangan hanya mengemis," kata Maura.


"Untuk apa kerja kalau harta sudah banyak, hah? Buang-buang waktu, jangan bilang uang bagianku kamu dirikian gedung itu," kata Alex mengenai bangunan yang tengah dibangun oleh Rayyan. Yang Alex tahu bangunan itu didirikan oleh Maura. "Kamu jangan licik Moren, diam-diam buat perusahaan baru tanpa sepengetahuanku."


Keributan itu terdengar langsung oleh nyonya Merlin, diusianya yang sudah tua ia hanya ingin kedamaian antara keluarganya itu. Tanpa diketahui olehnya, ternyata yang menyebabkan kematian Morena adalah Alex sendiri. Dan pria itu kesal karena pembunuhan yang dilakukan gagal. Padahal, Morena yang dianggapnya sekarang memang sudah mati. Morena yang sekarang adalah Maura.


"Nek," ucap Alex.


Merlin berjalan dengan pelan, kesehatannya memang sudah menurun tapi ia harus melerai antara Alex dan Maura yang akhir-akhir ini sering bertengkar.


Alex sok baik, pria itu langsung membantu memapah nenek tua itu. Alex masih cucunya juga, bahkan hidup sebatangkara. Maura memutar bola mata jengah, ia tahu akal bulus pria itu.


"Duduk sini, Nek Kabar Nenek bagaimana?" tanya Alex basa-basi.

__ADS_1


"Nenek baik, kamu kenapa selalu teriak-teriak kalau kesini? Tidak bisa nada bicaramu itu turunkan sedikit? Kuping Nenek sakit rasanya."


Tak lama dari situ, Lisia datang sambil menggendong baby Zaen. Balita itu terbangun dari tidurnya. Dan Alex langsung mendekat bahkan mengambil alih baby Zaen.


"Anak haram ini sudah besar ya?" celetuk Alex.


Maura yang mendengar itu langsung marah dan mengambil baby Zaen. "Jangan sentuh anak-ku! Dia bukan anak haram," cetus Maura.


Alex tertawa. "Apa namanya kalau bukan anak haram? Lahir tanpa seorang ayah apa itu bukan anak haram?" Alex tidak suka pada bocah itu karena baby Zaen yang menjadi pewaris. "Lihat saja, akan aku singkirkan anak ini," batin Alex.


"Kalian jangan bertengakr terus," kata nenek Merlin. "Beri apa yang dia mau, Nenek ingin dia pergi," katanya lagi.


"Nenek mengusirku?" tanya Alex.


"Untuk kali ini tidak, aku tidak akan memberikan uang sepeser pun, aku tidak sudi!" Maura marah karena kesal anaknya dibilang anak haram. Biarkan saja pria itu kelabakan.


Alex langsung murka, bahkan dia hendak memukul Maura. Untung ada Nolan, pria itu langsung sigap menangkal tangan Alex yang sudah melayang ke udara.


"Berani kau!" ujar Alex dengan mata yang menyalak. Dan terjadilah perkelahian di antara Alex dan Nolan pada saat itu.


Nyonya Merlin pun akhirnya benar-benar drof melihat kejadian itu. Semuanya jadi kacau setelah cucunya kembali dan melahirkan seorang anak. Kemarahan Alex sering meletup-letup, bahkan selalu meminta uang.


Baby sitter baby Zaen langsung menghampiri dan mengambil baby Zaen. Mendengar keributan itu membuat balita itu menangis. Kejadian itu langsung terdengar di telinga Rayyan.


Rayyan mengepalkan tangan karena marah saat tahu ada orang yang berani mengganggu ketenangan anaknya. Ia rasa musuhnya bertambah. "Terus awasi gerak-gerik di sana," ucap Rayyan pada pengasuh baby Zaen.


"Ada apa?" tanya Leon.


"Singkirkan orang yang sudah berani mengganggu ketenangan anakku," kata Rayyan. "Namanya Alex, dia masih kerabat nyonya Merlin aku tidak peduli dia saudara Maura atau bukan," ujar Rayyan lagi.


Leon mengangguk mengerti. "Aku rasa keberadaan Maura di sana tidak aman, apa tidak sebaiknya kita bawa mereka?" usul Leon.


"Aku sudah merencanakan semuanya, Leon. Tunggu sampai hunian untuk mereka selesai, tinggal beberapa persen lagi," jawab Rayyan.

__ADS_1


Pria itu sedang menyiapkan rumah untuk anaknya, ia ingin saat itu tiba semuanya sudah siap. Ia tak akan membiarkan anaknya hidup tanpa sosok ayah.


__ADS_2