Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 51


__ADS_3

Leon menemani istrinya sampai tertidur. Tanpa sepengetahuan istrinya, ia membuka sosial medianya. Ia merasa tidak tenang dengan keadaan ini, ia yakin ada kesalahpahaman di antara istrinya dengan istri bosnya.


Ia menghubungi bosnya lewat sosial media yang ia miliki. Ia memberi kabar bahwa ia dan istrinya baik-baik saja. Setidaknya ada kata maaf yang ia ucapkan. Lisia lagi sensi-sensinya, ia juga tidak bisa menyalahkan istrinya itu. Sikapnya yang memang keras kepala. Namun, rasa tanggung jawabnya masih besar. Bagaiman pun ia sudah mengabdikan hidupnya beberapa tahun ini bersama Rayyan Smith.


Rayyan yang tengah memegang ponsel pun langsung melihat ponselnya karena ada sebuah notif masuk. Melalui inbox, Leon memberikan pesan. Seketika, ia tersenyum. Ia langsung menemui Leon di rumah sakit yang diberitahu oleh tangan kanannya itu.


Leon yang sedang berdiri dan bersandar di dinding langsung menoleh ketika tahu bosnya menemuinya. Setibanya di sana, Rayyan langsung memukul dengan pergerakan pelan di bagian bahu, pria itu kesal pada bawahannya.


"Ada apa dengan kalian? Kalian marah padaku juga istriku, hah? Di mana istrimu? Rasanya ingin kumaki saja dia karena pergi terlalu lama, kenapa tidak bilang kalau kalian melakukan bayi tabung, hah?" Bukan pertanyaan yang dilontarkan melainkan unek-uneknya. "Kalian bilang hanya beberapa hari, istriku sampai memarahiku terus karena menyuruhku mencarimu, kamu buatku susah saja," omel Rayyan lagi.


"Maaf, Bos. Tapi sepertinya memang ada kesalahpahaman antara istriku dan istrimu, Bos. Bagaimana kabar Zaen?"


"Rewel, yang dipanggil terus mammy, bukan mommy. Kapan kalian pulang?" tanya Rayyan kemudian.


"Tidak bisa dalam dekat ini, Lisia masih harus menjalani perawatan. Tunggu sampai satu bulanan," tutur Leon.


"Apa? Satu bulan? Mana bisa meninggalkan kantor terlalu lama?"


"Tapi bagaimana lagi? Transfer sel telur sudah dilakukan dan tunggu sampai janin itu berkembang."


Rayyan hanya menghela napas panjang, kalau sudah begini pun mau bagaimana lagi? Terpaksa ia bekerja sendirian.


"Ku tunggu kabar baiknya, bujuk istrimu untuk mengabari Maura bilang kalau Zaen merindukan mammy-nya. Kalau begitu aku pulang, awas kalau kalian tidak kembali akan kubuat perhitungan denganmu!" ancam Rayyan.


***


Sepeninggalnya Rayyan, Leon pun kambali ke ruangan istrinya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Perlahan, ia akan membujuk istrinya untuk memberikan kabar kepada Maura juga Zaen.


Sementara Rayyan, pria itu langsung pulang menggunakan zet pribadinya. Dan tibalah ia di rumahnya. Kedatangannya langsung disambut istrinya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan mereka?" tanya Maura.


"Sudah, Lisia tengah menjalani perawatan. Mereka akan pulang satu bulan lagi."


"Satu bulan? Lama sekali?"


"Butuh waktu sampai janinnya berkembang, tapi Leon akan membujuk Lisia agar mau pulang. Sepertinya Lisia salah paham, kita bukannya tidak mengizinkan Zaen ikut 'kan? Tapi takut mengganggu mereka berdua," jelas Rayyan.


"Apa perlu aku menemuinya dan meminta maaf padanya?" kata Maura.


"Tunggu sampai bulan depan, kalau mereka tidak kembali juga kita susul mereka. Bila perlu kita ajak Zaen. Apa Zaen sudah tidur?" tanya Rayyan.


"Sudah, baru saja. Semoga Lisia kembali, aku tidak punya siapa-siapa selain kamu dan anak-anak," terang Maura.


"Istirahatlah, ini sudah terlalu malam. Aku harus ke ruang kerjaku dulu."


Para pekerja yang tengah tertidur pun langsung terbangun, begitu juga dengan Rayyan, pria itu kembali menemui istrinya.


"Ada apa?" Rayyan melihat istrinya di lantai. Wanita yang baru melahirkan itu menjadi drof karena anaknya telah hilang.


"Za-Zaen," lirih Maura. Keadaan lengah ini membuat Zaen hilang. Anak kecil itu diculik oleh seseorang.


Rayyan langsung menoleh ke tempat tidur, hanya menyisakan Ranzha di sana. Orang itu menginginkan Zaen karena anak laki-laki itu yang menjadi pewaris segalanya.


"Kurang ajar!" Rayyan menggertakkan rahangnya, siapa yang telah berani membawa anaknya pergi? Lalu, ia menghubungi anak buahnya selain Leon. Ia juga menghubungi orang tuanya.


Ajudan Smith pun segera meluncur ke kediaman putranya. Di rumah Rayyan langsung ricuh atas hilangnya Zaen. Dan Maura pun jatuh pingsan.


Waktu menunjukkan pukul 01.17. Tidak ada kata tunda menunda, Rayyan langsung menyuruh anak buahnya menyebar ke setiap pelosok. Bahkan, Smith sendiri pun turun tangan. Pria paruh baya itu tidak akan membiarkan siapa pun hidup lagi setelah melakukan kesalahan fatalnya ini.

__ADS_1


Jejak pelaku masih bisa dilacak. Smith membawa anjing peliharaannya untuk membantu menemukan pelaku.


"Darah," ucap Smith. Sepertinya pelaku yang membawa cucunya itu tengah terluka. Seketika, ia teringat akan tawanan yang disekap oleh Leon. Mungkin pria itu pelakunya. Anjing peliharaan Smith dilepaskan, anjing itu terus menggonggong sambil mengendus jejak yang diarahkan oleh majikannya.


Orang-orang Rayyan mengikuti ke mana anjing itu pergi. Melewati semak dan jalan berbatu.


Kabar berita itu langsung terdengar oleh Leon yang didapat dari anak buahnya langsung. Mendengar itu, Leon tidak terima. Ia putuskan untuk menemui Rayyan, beruntung, ia mendapatkan izin dari istrinya. Kepedulian Lisia masih teramat besar kepada Zaen yang ia anggap anaknya sendiri.


"Tetaplah tenang, aku akan menemukan Zaen," kata Leon. Sebelum pergi ia mencium kening istrinya. "Aku janji tidak akan lama lagi, jangan meragukan ku, aku pasti menemukan Zaen."


Lisia mengangguk, dalam hati ia berdoa semoga anak itu baik-baik saja.


***


Kakinya masih terikat oleh rantai sehingga mengeluarkan darah akibat mencoba melepaskan diri dari pasung yang sudah lumayan lama itu. Ya, ternyata Alex yang membawa Zaen pergi. Pria itu masih berniat melenyapkan anak yang tak berdosa itu. Meski ia tahu tidak akan mendapatkan apa-apa dari kematian Zaen. Setidaknya ada kepuasan karena sudah membuat Maura hancur. Maura yang ia anggap adalah Morena.


Kakinya pincang, berjalan dengan tertatih. Rasa sakit tidak ia pedulikan. Pencarian masih terus berjalan. Alex yang merasa kakinya berdarah dan meninggalkan jejak, seketika berhenti. Ia mengentikan darah yang keluar dari kakinya menggunakan kain yang membalut tubuh Zaen. Merobeknya menjadi dua bagian.


Zaen tidur nyenyak karena Maura baru selesai menyusuinya. Hingga akhirnya, tubuh Zaen mulai kedinginan akibat cuaca yang dingin, ditambah lagi kain yang membungkusnya hanya tinggal separu. Alex tidak peduli akan hal itu.


Jam terus berputar, sampai akhirnya pagi pun tiba. Leon pun baru sampai dan langsung menemui bosnya. Rayyan yang melihat pun terkejut dengan keberadaan Leon di sana.


"Aku datang untuk membantu menemukan Zaen." Jika ia tak berhasil menemukan anak itu, itu sama saja dengan awal mula kehancuran istrinya.


"Temukan anakku," kata Rayyan yang mempercayakan masalah ini kepada anak buahnya itu. "Lalu bagaimana dengan Maura? Aku tidak bisa ikut mencari karena kamu tahu sendiri bagaimana keadaan istriku," terang Rayyan.


"Siapa, Bos. Aku akan membawa Zaen kwmbali." Leon dengan yakinnya akan membawa Zaen kembali ke pangkuan majikannya.


Ia pergi kemana tuan Smith pergi, tujuannya adalah ke bukit yang di mana jejak darah itu tertinggal. Tak lupa Leon membawa senjatanya, bila perlu ia kan membunuhnya langsung di tempat tanpa ampun.

__ADS_1


__ADS_2