
Seorang pria tengah kesal karena anak buah yang disuruhnya ternyata telah kalah, ia tak menyangka karena Rayyan sekarang telah menjadi seorang mafia kelas kakap. sepeninggalnya ke Amerika membuat diri pria itu bermetamorfosa dan tidak pernah terbayangkan sama sekali olehnya.
Rahang pria itu mengeras karena ia sudah tidak sabar ingin melenyapkan bayi itu. Kehancuran Rayyan adalah membuat anaknya mati, apa pun akan ia lakukan untuk membunuh bayi yang bernama Zaen Smith itu. Kedatangannya ke tanah air belum diketahui oleh Rayyan.
Lukas, anak dari mendiang tuan Said telah kembali untuk membalaskan dendam kematian ayahnya. Sudah sejak lama ia memendam kebencian pada saudara sepupunya itu. Dan kali ini ia ada alasan untuknya membuat perhitungan padanya.
Tiba-tiba saja ia melempar sebuah gelas ke dinding, gelas itu pecah seketika dan berserakan di lantai. gadis yang tengah bersamanya pun sampai terkejut. wanita itu mncoba menenangkannya dengan sebuah ciuman di bibir, menghisap bibirnya dengan bringas. Sampai pria itu terbawa suasana.
Hingga terjadilah percintaan di antara mereka. Lukas sendiri memiliki rahasia, tak hanya Rayyan yang memiliki anak hasil di luar nikah. Rahasia yang ia tutupi ternyata tak luput dari pengetahuan Rayyan Smith.
Melawan Rayyan Smith ia tak akan pernah menang, apa lagi sekarang pria itu sudah menjadi seorang mafia yang sudah tidak lagi disembunyikan olehnya.
Percintaan itu terus berlanjut sampai keduanya bermandikan keringat. Saekan tidak ada kepuasan, Lukas melakukannya lagi dan lagi.
Erang demi erangan menggema di ruangan itu, sayangnya aktivitas mereka harus terganggu oleh sebuah kaca jendela yang pecah yang diakibatkan ada yang melempar batu ke arah ruangan percintaan itu berlangsung.
Lukas melepaskan diri dari tubuh pasangannya, mencabut kapal selamnya yang sudah bersemayam beberapa jam lalu. Ia mendengus kesal, siapa yang sudah berani mengganggu aktivitasnya?
Pria itu mengintip dari sisi gorden, tanpa mengenakan sehelai benang pun, bahkan kepemilikkannya pun masih menegang. Tanpa mempedulikan junior yang masih menginginkannya bersarang di lubah sempit dengan penuh rasa kenikmatan yang tiada tara.
Di luar sana tidak terlihat siapa pun, nampak sepi. Lalu, ia melihat kearah batu yang tergeletak di atas lantai, batu itu berbalut kertas. Lukas mendapatkan surat kaleng dari orang misterius.
"Kau akan mendapatkan balasan yang setimpal karena telah mengusik kehidupanku!!!"
Lukas membanting batu dan kertas itu kesembarang arah, sampai-sampai wanitanya pun terkejut akibat suara yang ditimbulkan.
***
__ADS_1
sementara di tempat lain, dua pria tengah bekerja sama untuk membalaskan perbuatan Lukas. Leon dan Nolan telah berhasil melacak keberadaan orang itu. Jika Leon pintar dalam perkelahian, tapi tidak untuk Nolan. Pria itu pintar dengan otaknya. Dari hasil rekaman cctv membuat Nolan berhasil melacak orang-orang itu. Mereka memang berkewarganegaraan asing.
Nolan melacak dari data penerbangan hari ini, dan dinyatakan bahwa mereka baru sampai hari ini. Leon yang tahu akan musuh bosnya yang berada di luar negri hanya ada satu. Yaitu, Lukas. anak dari tuan Said.
Leon dan Nolan langsung mengerjai Lukas yang tengah bersenang-senang bersama seorang wanita. Dan wanita itu pun berhasil dilacak oleh Nolan. Sehingga mereka bisa tahu di mana keberadaan Lukas malam ini.
Bagi Leon, Lukas hanya bagaikan tikus kecil yang berani-beraninya mengganggu ketenangan bosnya bersama keluarganya.
Kedua laki-laki itu akan kompak jika dalam pekerjaan, tapi tidak dengan wanita. Karena sepertinya Nolan sudah mulai menyukai Lisia, sehingga mereka harus bersaing secara sehat.
Karena sudah berhasil mengerjai baji*gan tengik itu mereka pun putuskan untuk segera pulang. Dengan membawa kendaraan masing-masing, mereka pun berpisah dengan tujuan yang berbeda.
Leon lebih dulu sampai karena tempat Lukas tidak terlalu jauh dari kediaman bosnya. Leon kembali merenung, memikirkan gadis yang telah meninggalkan bekas bibirnya di kemejanya. Sampai-sampai kemeja itu digantung di dalam lemari karena ia buat itu sebagai kenang-kenangan.
Leon terkekeh sendiri saat mengingat kejadian saat mati lampu di kantor. Gadis itu telah berhasil membangkitkan kepercayaan seorang Leon yang dulunya sebagi musafir cinta.Masa lalu yang kelam telah menutup hatinya untuk seorang wanita. Wanita yang pernah ia cintai telah meninggal dunia.
_
_
Nolan pun baru sampai di kediaman nyonya Merlin. Ia sampai pada pukul 03.45. Rumah masih dalam keadaan gelap, mungkin Lisia pun masih mendengkur. Karena lelah ia pun segera beristirahat walau hanya beberapa jam saja. Karena pagi ini, lebih tepatnya pada pukul 7 pagi ia harus segera kembali pada rutinitasnya.
Sampailah, waktu menunjukan pukul setengah 7. Nolan baru saja membuka matanya, ia rasa cukup untuknya beristirahat. Meski matanya masih merah karena perih. Ia segera beranjak untuk membersihkan diri.
Setelahnya mandi, ia segera pergi ke ruang makan untuk bersarapan. Ternyata, tidak ada Lisia di ruang makan itu. Hanya ada pelayan yang sedang membersihkan meja makan karena mungkun itu bekas Lisia sarapan.
"Lisia kemana, Bi?" tanya Nolan yang baru saja mendudukan diri di kursi di sana.
__ADS_1
"Non Lisia sudah berangkat, Tuan. Baru saja." Si bibi kembali melanjutkan aktivitasnya yang sedang membersihkan meja makan dan merapihkan bekas makan Lisia dan membawanya ke dapur.
_
_
Nolan segera berangkat ke kantor. Namun, ia melihat mobil Lisia masih terparkir di garasi. Membuat itu ia berpikir kalau Lisia dijemput oleh Leon. Poinya sudah diambil star oleh laki-laki itu. Mau tak mau ia harus menerima itu semua.
Sampailah Nolan di kantor, ia melihat keberadaan Leon di ruangan Lisia lewat kaca yang menjadi pembatas ruangannya. Lisia dan Leon nampak anteng di dalam sana tanpa terganggu oleh siapa pun. Mereka berdua lebih akrab setelah kejadian kemarin. Dan Leon benar-benar membuat Lisia merasa nyaman saat bersamanya.
Sesekali, tawa Lisia terdengar karena ruangannya berdampingn dengan ruangan Nolan. Kejadian itu membuat Nolan menjadi tidak nyaman dalam bekerja, ia malah uring-uringan dan tidak berkonsentrasi. Akhirnya, ia putuskan untuk mencari angin segar.
Lisia melihat Nolan melintas, tidak ada yang berubah pada laki-laki itu. Cuek dan masih bersikap dingin, bahkan tak menyapa sama sekali saat pria itu sampai. Tidak mungkin pria itu tidak meihatnya bukan?
"Apa dia tidak melihat keberadaan kita?" tanya Lisia sambil menoleh ke arah Leon.
Leon hanya mengangkat kedua bahu sebagai jawaban. Nyatanya, ia sendiri tahu bagaimana keadaan pria itu, apa lagi kalau bukan cemburu? Ia yakin kalau Nolan sudah memiliki rasa pada Lisia. Tapi ia tidak peduli karena posisinya ia tidak merebut gadis itu darinya.
Ia serahkan pada Lisia sendiri, kepada siapa pun gadis itu memilih maka ia akan mencoba menerimanya meski sakit sekali pun.
***
Pagi ini, Maura terlihat sibuk sekali. Wanita itu benar-benar menjadi ibu rumah tangga. Dari mengurus baby Zaen, ia juga mengurus suaminya. Menyiapkan pakaian kerja Rayyan juga. Namun, itu tak membuatnya mengeluh karena cape, Maura sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sejak kecil.
"Ray, apa benar kalau Alex sudah terkurung? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Maura yang sambil merapihkan dasi suaminya.
"Jangan pikirkan dia, yang penting kamu dan baby Zaen baik-baik saja, orang sepertinya memang harus mendapatkan perlakuan itu biar jera. Setidaknya ia tidak melakukan hal di luar nalar, aku masih bisa memaafkan kesalahannya yang lain, tapi dia sudah membuat orang-orang tersayangku menjadi tidak tenang, sudahlah aku pergi ke kantor dulu." Rayyan mencium kening istrinya sebelum pergi dan segera pergi ke kantor.
__ADS_1