Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 17


__ADS_3

Belum Maura menjawab, tiba-tiba saja ... Satu peluru menembus jendela sehinga menimbulkan suara yang begitu nyaring. Akibat suara tembakan itu membuat baby Zaen terbangun dan menangis karena terkejut.


Rayyan langsung memeluk Maura saat tembakan itu melesat di jendela. Tak lama dari situ, suara tembakan terdengar lagi. Rayyan melepas pelukkannya dan meraih tubuh mungil baby Zaen. Bayi itu menangis sangat kencang. Entah siapa yang melepaskan tembakan di jendela kamar Maura.


Tak lama, Nolan datang menemui Maura dan Rayyan. "Di luar ada yang menyerang, tapi anak buahku sebagian sudah menjaga," ucap Nolan.


"Bawa mereka, aku akan menyelesaikan masalah ini," kata Rayyan. Ia memberikan baby Zaen pada Maura, setelah itu ia menghubungi seseorang. "Kerahkan semua anak buah, cari siapa yang sudah berani menembak kamar Maura," ujar Rayyan di ujung panggilan.


Rayyan tidak tahu dari mana arah peluru itu, sepertinya seorang sniper yang telah melakukannya. Bahkan senapan yang kedap suara hanya menimbulkan suara kaca pecah yang begitu mengganggu gendang telinga.


Setelah menghubungi seseorang, Rayyan menyusul Nolan dan Maura. "Tempat ini tidak aman, aku rasa Alex datang menyerang," kata Rayyan.


"Alex?" ucap Maura.


"Iya, Alex. Orang yang mencegat kita kemarin adalah anak buah Alex," tutur Nolan.


Wajah Maura terlihat takut, ia mendekap baby Zaen. "Aku rasa dia ingin melukaimu," kata Nolan.


"Itu tidak akan aku biarkan!" timpal Rayyan.


Seketika, di tempat itu terjadi kericuhan. Para asisten berlari ketakutan karena banyaknya orang yang datang, dan mungkin itu orang-orang yang di suruh Rayyan.


"Kamu ikut denganku," ajak Rayyan pada Muara.


Wanita itu menoleh ke arah Nolan, dan pria itu mengangguk memberi isyarat bahwa ia mengizinkannya pergi bersama Rayyan.


"Ada jalan lain selain pintu depan?" tanya Rayyan.


"Lewat samping, pintu itu langsung terarah ke jalan," jawab Maura.

__ADS_1


"Ya, kita lewat sana. Anak buahku sudah menunggu, kamu harus tetap hati-hati," ucap Rayyan. "Jangan jauh-jauh dariku," sambungnya lagi.


***


Rayyan berhasil keluar membawa Maura juga baby Zaen. Dan untuk penghuni di rumah itu masih berada di sana. Orang-orang Alex tidak mungkin melukai mereka, incarannya hanya Maura juga baby Zaen. Rayyan dapat memprediksi bahwa Alex ingin melenyapkan pewaris nyonya Merlin.


Maura masih mendekap baby Zaen, kejadian barusan membuat tubuhnya bergetar. Rayyan yang mengetahui langsung meraih tubuh Maura dan mengeratkannya di tubuhnya. Maura seakan menyembunyikan diri di dada bidang laki-laki itu. Mereka, kini sedang dalam perjalanan. Entah kemana Rayyan akan membawanya pergi, ia percaya bahwa laki-laki ini ingin melindunginya.


"Bagaimana dengan Zaen?" tanya Rayyan kemudian.


"Baik, dia sudah tidur," jawab Maura. Ibu dan anak itu berada dalam pelukkan Rayyan Smith.


"Kita kemana, Tuan?" tanya supir.


"Tempat paling jauh, kita bisa ke villa yang ada di pulau milikku," jawab Rayyan.


Supir itu tak lagi bertanya karena ia tahu tempatnya. Mungkin butuh waktu waktu sekitar 3 jam untuk sampai di sana, karena tempat itu jauh dari pemukiman.


Maura merubahkan posisi setelah memberikan Zaen pada ayahnya, dan ia sendiri menyandarkan kepala di sandaran jok. Pulang kerja, tentu membuat Maura merasa lelah dan butuh istirahat, hingga tak terasa, wanita itu akhirnya tidur. Dan Rayyan memangku baby Zaen tanpa melepaskannya.


Setelah menempuh jarak jauh dan membutuhkan kurang lebih 3 jam, akhirnya tibalah mereka di villa milik Rayyan yang terdapat di sebuah pulau terpencil di kota sana. Rasanya tidak tega membangunkan Maura, sehingga akhirnya, Rayyan tidak membangunkan wanita itu. Ia sendiri yang menggendong Maura ke dalam villa. Dan baby Zaen sendiri di pangku oleh orang yang bertugas di villa itu.


Semua sudah di atur oleh Leon, bahkan tempat tidur untuk Maura dan baby Zaen sudah tersedia di dalam villa itu. Rayyan merebahkan tubuh Maura di tempat tidur yang sangat empuk, dan baby Zaen tidur di kereta bayi yang disiapkan oleh Leon. Rayyan ingin membuat mereka nyaman saat bersamanya.


Tak lupa, peralatan baby Zaen pun sudah tersedia. Dari popok sampai susu formula pun sudah tersedia. Karena tak ingin mengganggu tidur Maura, Rayyan membuatkan susu untuk baby Zaen. Rayyan sendiri tidur di sana, hanya saja ia tidur di sofa dekat dengan kereta bayi baby Zaen.


Baru saja, Rayyan akan beristirahat. Tiba-tiba, baby Zaen merengek. Mungkin dikarenakan haus. Cepat-cepat, Rayyan memberikan susu agar baby Zaen kembali tenang. Baby Zaen menyusu sedangkan Rayyan merebahkan diri di sofa. Akhirnya, ia dapat beristirahat dengan tenang.


***

__ADS_1


Keesokan paginya.


Rayyan mengerjapkan mata, pria itu terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kehangatan di tubuhnya. Ia menyadari bahwa ternyata sebuah selimut telah membungkus tubuhnya. Rayyan tersenyum tipis, ini pasti karena Maura, pikirnya. Tapi, di mana mereka?


Rayyan beranjak, lalu melihat ke arah tempat tidur baby Zaen. Kereta bayi itu terlihat kosong, Rayyan panik dan segera keluar dari kamar. Ia merasa lega saat melihat Maura yang sedang berkutat di dapur. Entah apa yang dilakukan wanita itu? Tapi, di mana anaknya?


Rayyan kembali mencari, sampai-sampai ia mengitari seisi ruangan. Namun, tak dapat menjumpai baby Zaen. Sampai ia mendengar seseorang yang menirukan suara anak kecil. Rayyan hafal betul suara itu, siapa lagi kalau bukan Leon. Dan benar saja, Leon tengah bersama baby Zaen di taman. Menjemur baby Zaen dibawah hangatnya mentari.


"Bos," ucap Leon.


"Kapan kamu sampai?" tanya Rayyan kemudian. Ia langsung mengajak baby Zaen mengobrol.


"Tadi pagi," jawab Maura. Wanita itu membawakan dua cangkir kopi untuk Rayyan juga Leon. "Tidurmu nyenyak sekali, sampai aku tidak berani membangunkanmu," kata Maura lagi.


"Hmm, aku juga merasa seperti itu," sahut Rayyan. "Aku mandi dulu kalau begitu," ucapnya pada Maura. "Leon, aku titip mereka sebentar. Jaga baik-baik jagoanku," katanya pada Leon.


"Tenang saja, aku akan menjaga bayi lucu ini," jawab Leon.


***


Beberapa saat, Rayyan telah kembali dengan wajah segar. Ia ikut mendudukan diri di sebelah Maura. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, sehingga kedatangannya pun tak disadari oleh Maura.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tidak sabar menjadi istriku?" pertanyaan itu membuat lamunan Maura buyar. Reflek, Maura langsung mencubit perut Rayyan. Sampai pria itu mengaduh.


Tidak ada yang berubah dari wanita itu, Maura tetap galak seperti dulu.


"Mau kucubit lagi?!" tanya Maura dengan mata melotot.


Terdengar suara kaki melangkah, dan itu membuat Muara dan Rayyan menoleh ke arah siapa yang datang.

__ADS_1


Deg


Jantung Rayyan hampir saja copot saking terkejutnya.


__ADS_2