Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 44


__ADS_3

Laju mobil bertambah karena Smith menyuruh supirnya untuk menghindar dari mobil di belakang yang terus mengikutinya. Beruntung, Smith memiliki supir yang mantan pembalap sehingga dengan cepat mobil yang ditumpanginya dapat menyalip beberapa kendaraan yang berada di depan. Satu persatu mobil dapat dilalui dengan baik.


"Good." Smith puas dengan kinerja supirnya. Mobil Lukas tertinggal jauh. "Sudah kubilang, bocah itu tidak ada apa-apanya. Berani-beraninya mengusik keluargaku!" Dari dulu, keluarga Said memang ingin menjatuhkannya. Namun, selalu tidak pernah berhasil.


"Sial!" rutuk Lukas sambil memukul kemudi, tapi ia tak menyerah, ia terus mengejar karena ini kesempatan untuknya mengambil anak itu yang kini sedang bersama omnya. Sedikit lagi mobilnya menyalip mobil yang ditumpangi oleh Smith.


"Joy, cepat sedikit!" perintah Smith pada supirnya.


"Pa, Mama takut." Elena ketakutan, apa lagi mobilnya terus berkelok menghindari kejaran Lukas.


"Pegang Zaen lebih kuat!" kata Smith pada istrinya. Ia pun ikut membantu mencekal tubuh istrinya, ia takut baby Zaen terlepas dari gendongan. Namun, bocah itu malah tertawa karena ia kira tengah bermain. Baby Zaen tidak ada takut-takutnya, bayi itu menyukai adrenalin membahayakan itu.


"Tuan, pegangan erat-erat." Joy menyalipkan mobil di tengah-tengah teronton. Mobilnya pun ikut miring karena jalan terlalu sempit. Keadaan yang membuat jantung seakan terasa mau copot, tubuh Elena bergetar dan jantungnya pun ikut berdebar. Hampir saja baby Zaen terlepas jika Smith tidak ikut menahan kepala bayi itu.


Keadaan jalan semakin gelap, mereka melalui jalan yang begitu sepi dan curam. Lukas pun masih mengejar. Joy mengakui keahlian orang itu dalam berkemudi. Mobil terus melaju hingga hujan pun turun dengan derasnya.


"Joy, hati-hati. Jalan pasti licin, kita mau kemana?" Elena melihat jalan sekitar, banyak pohon-pohon besar di sana.


"Tenanglah, Lukas masih mengejar." Smith menenangkan istrinya itu, terus mengusap bahu dan sesekali mengajak cucunya berinteraksi agar tidak menangis.


Jalan yang menikung serta licin dari jalan yang berlumut karena tidak pernah sama sekali jalan itu dilewati. Jurang yang sangat curam menambah keseraman di sekitar. Ban mobil sesekali tergelincir. Namun, itu tak membuat perjalanan terhambat. Pada akhirnya, jalan itu sangat terjal dan menikung. Melihat ke belakang terdapat jurang. Joy menancapkan gas sebisa mungkin. Akhirnya jalan terjal itu dapat dilalui.


Sayangnya, mobil yang dikendarai Lukas tak bisa menanjak sehingga mundur dan terperosot ke bawah jurang sana. Bisa dipastikan jika siapa pun yang terjun ke sana tidak akan selamat. Di bawahnya terdapat sungai yang mengalir deras akibat guyuran hujan.


Helaan napas terdengar sangat berat. Penumpang yang berada di dalam mobil Smith bernapas lega. Mereka dapat menghindari kejaran.


"Apa dia mati?" tanya Elena, karena ia melihat saat mobil Lukas kembali mundur.


"Aku rasa begitu, Nyonya," jawab Joy.


"Bukannya itu bagus? Kita tidak usah cape-cape menyingkirkannya." Timpal Smith sembari mencium baby Zaen. "Eh, anak ini lucu sekali. Sama sekali tidak takut dibawa ngebut," tuturnya lagi.


Baby Zaen malah tertawa girang, dan itu membuat Smith semakin terkekeh.


"Ini sudah malam sekali, kapan kita pulang?" tanya Elena.


"Tunggu sampai hujan reda," sahut Joy.


Tiba-tiba, baby Zaen merengek karena haus. Elena dan Smith tidak bisa menenangkan anak itu. "Pa, bagaimana ini? Zaen tidak berhenti menangis."

__ADS_1


"Apa tidak bawa susu?" Elena menggelengkan kepala sebagai jawaban. Smith sedang berpikir, lalu menoleh ke arah buah dada istrinya.


"Jangan aneh-aneh, punya Mama mana ada ASI-nya." Elena tahu apa arti tatapan itu. Suaminya hanya nyengir bak kuda.


"Dari pada rewel, biar Zaen tidur. Hujan gede, mana ada petir, apa Mama tidak merasa risih dengan tangisannya?"


Tidak ada cara lain selain memberikan buah dadanya. "Jangan lihat ke belakang!" Elena menatap sini supirnya yang karena pria itu tengah melihat ke belakang.


Joy langsung menghadap ke depan dan tak berani menoleh sedikit pun. "Joy, cari tempat berteduh yang lebih aman di sini serem juga, di bawah pohon besar pula," ujar Elena.


Tanpa menjawab, Joy melajukan mobilnya untuk mencari tempat yang lebih aman. Dan mereka tengah berada di atas bukit.


Beberapa jam kemudian, hujan sudah reda. Dan mereka bertiga tertidur dengan lelap di dalam mobil. Baby Zaen pun akhirnya tertidur meski merasa dibohongi karena tidak ada ASI-nya.


***


Di tempat lain.


Rayyan baru saja selesai mandi, dan Maura masih tertidur lelap. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi pada putranya. Mereka asik-asikan berdua sementara, orang tuanya dan anaknya tengah memperjuangkan hidupnya akibat dikejar-kejar dan hampir celaka.


Dengan santai, Rayyan menghisap rokoknya dan mengeluarkan asap dari lobang hidung dan mulut. Mencium rokok, Maura pun akhirnya terbangun setelah dibuat lemas oleh suaminya.


"Jam 6 pagi."


Mendengar jam 6, Maura segera bangun dan pergi ke kamar mandi tanpa mengenakan apa apun. Rayyan sampai geleng-geleng kepala. "Katanya malu, tapi lari-lari dalam keadaan tidak memakai baju pun jadi."


"Jangan berisik!! Aku denger loh!" teriak Maura.


Rayyan malah tertawa sampai terbahak-bahak. Tak lama kemudian, Maura kembali menggunakan jubah handuk dan buru-buru kembali memakai pakaiannya. Sudah terlalu lama ia meninggalkannya dan sebenarnya sejak semalam hatinya gelisah, karena ia tak pernah meninggalkan anaknya di malam hari.


Kalau tidak ingat akan kewajiban dan keinginan suaminya ia tak mungkin menitipkan anaknya kepada mertuanya.


"Serius mau pulang sekarang? Ini masih pagi loh."


"Aku gak tenang ninggalan Zaen, kamu cuek banget. Kamu gak sayang sama anakmu sendiri hah?"


"Iya, tunggu sebentar." Rayyan memakai pakaian lengkapnya dan segera pergi dari hotel.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah Smith, mereka tak menemukan anaknya. Kedua orang tuanya pun tidak ada. Maura sudah panik bahkan marah kepada suaminya.


"Kemana mereka membawa anakku? Apa kamu sekongkol menyuruh orang tuamu membawa anakku?" Mata Maura sudah menyalak marah, apa lagi asisten di rumah itu mengatakan bahwa tuannya belum pulang sejak semalam.


"Aku gak mau tau, kamu harus membawa anakku kembali." Maura bahkan memukul tubuh suaminya.


"Tenanglah, mana mungkin orang tuaku membawa pergi Zaen. Mungkin mereka mengajaknya bermain." Sebisa mungkin Rayyan menenangkan istrinya. Maura tetaplah Maura, jika sudah marah maka ia tidak mudah dibujuk.


"Enteng banget kalau ngomong, tenang-tenang ... Mana mungkin aku tenang?! Mereka membawa anakku."


"Zaen anakku juga, dan dia cucunya. Tunggu sebentar lagi."


"Dihubungi juga tidak aktif 'kan? Apa namanya kalau tidak membawa kabur anakku?"


"Kenapa selalu berprasangka buruk? Mereka tidak setega itu, sayang."


Maura benar-benar marah, bahkan ia tidak berucap lagi selain menangis. Ibu mana yang tidak khawatir?


***


Rayyan terus menenangkan istrinya. Maura duduk di sofa, sementara suaminya duduk di lantai sambil mendaratkan dagu di paha istrinya.


Tak berselang lama, suara mesin mobil terdengar. Maura segera beranjak untuk memastikan siapa yang datang.


"Anakku." Maura mengahmpiri dan mengambil Zaen dari pangkuan ibu mertua. Wanita itu menciuma anaknya. "Mommy janji tidak akan menitipkanmu lagi, Mommy khawatir sekali." Ciuman itu bertubi-tubi di wajah baby Zaen.


Namun, Zaen malah tertawa karena geli.


"Dari mana saja? Kenapa susah sekali dihubungi?" Rayyan memberikan pertanyaan tanpa jeda.


"Ceritanya panjang, intinya kita masih selamat," jawab Smith.


Rayyan langsung melihat ke arah putranya dan bergantian pada ibunya. "Sudahlah, sebaiknya kamu susui dulu Zaen," titah Elena pada Maura.


Maura langsung menyusui anaknya, baby Zaen sangat lahap karena memang sangat kelaparan. Bagaimana tidak? Semalaman Zaen tidak menyusu, hanya air putih yang dikonsumsinya.


Sedangkan Smith, langsung mengajak Rayyan pergi ke ruang kerjanya. Pria paruh baya itu memberitahukan apa yang telah terjadi, beruntung, Lukas masuk ke jurang sehingga mereka tidak perlu repot-repot untuk menghabisinya.


Meski begitu, mereka harus meyakinkan kalau Lukas benar-benar mati. Sampai kapan pun, Rayyan tidak akan memaafkan orang yang telah menganggu ketenangannya, termasuk saudara sendiri. Hanya Alex yang tersisa, tapi pria itu cukup menderita di dalam ruangan itu. Ia tak akan melepaskan Alex sampai pria itu mati dengan sendirinya.

__ADS_1


__ADS_2