
Bagaikan maling tertangkap basah, Lisia begitu gelagapan dan salah tingkah. Ia menggeserkan tubuh sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. Menjauhi Nolan beberapa sentimeter. Sedangkan Nolan mendengus kesal, ia merasa terganggu akan kedatangan orang itu. Lagi-lagi, masuk tanpa mengetuk pintu.
Leon kembali datang karena merasa ada sesuatu yang tertinggal. Tapi tak jadi ia ungkapkan karena posisi mereka membuatnya mengurungkan niatnya. Ia tak bisa mencegah perasaan Lisia yang sudah terlajur mencintai Nolan. Lagi pun, siapa dirinya?
"Kenapa? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Lisia.
"Mana data karyawan? Lama sekali, aku menunggu dari tadi," kata Rayyan di belakang Leon. Dan Leon pun menoleh ke arah sumber siara.
"Maaf, aku belum mengirimkannya," sahut Lisia. Ia kembali duduk menghadap layar laptop dan segera mengirimkan data karyawan.
Nolan pun menggeserkan tubuhnya memberi ruang untuk Lisia. Tapi, lagi-lagi Nolan membantu dan posisi mereka kembali dekat. Leon yang melihat itu langsung pergi dari ambang pintu, disusul oleh bosnya.
Leon berjalan begitu cepat, dan Rayyan mengejarnya sampai sedikit berlari karena ingin mensejajarinya. "Kamu kenapa? Marah melihat mereka sangat dekat? Mereka hanya sedang bekerja," ujar Rayyan.
"Marah kenapa? Aku hanya lapar makanya aku pergi," jawab Leon membalikkan fakta. Ia tidak suka dengan kedekatan mereka karena Nolan sepertinya ingin mendekati Lisia. Bukankah selama ini pria itu dingin dan cuek, bahkan ia tak peduli pada gadis itu. Namun, tiba-tiba saja datang dengan sikap yang berbeda membuatnya merasa curiga.
"Bos, sebaiknya aku pergi. Kita melupakan sesuatu," kata Leon. Alex masih berada di tempat itu dan ia harus segera menemuinya. Alex masih pincang dan timah panas itu masih bersemayam di kakinya, jika dibiarkan mungkin akan membusuk dengan luka yang tak diobati sama sekali.
"Aku akan menemui Alex, di sini ada Nolan dan Lisia yang membantumu," imbuh Leon lagi. Rayyan hanya mengangguk, penyelidikan ini akan ia selesaikan sendiri dan membiarkan Leon pergi menemui Alex, ia takut pria itu kabur.
***
Rayyan sudah berada di ruangannya, mengecek satu persatu CV karyawan. Ada salah satu CV karyawan yang bukan orang sini. Ia pun melihat data secara langsung, ia ingin karyawan di sini benar-benar orang sini. Ia harus tetap waspada karena lawan selalu menghalalkan segala cara untuk menghancurkannya.
Setiap perusahaan yang dikelola olehnya selalu berkembang pesat, dan itu membuat saudara-saudara yang iri padanya akan selalu mengganggu. Melihat data karyawan serta fotonya, wajahnya seperti orang asing yang memang bukan kewarganegaraan di sana. Karena penasaran, ia pun menghubungi Lisia dan menyuruhnya untuk membawa orang asing itu.
Kenapa orang asing itu bisa bekerja di perusahaannya? Apa ada niat tertentu? Dan siapa yang sudah menerima karyawan itu? pikirnya.
Tak berselang lama, Lisia dan Nolan datang untuk mengklarifikasi soal ini. Lisia menjelaskan bahwa orang itu sudah tinggal di sana sejak lama. Karena terjebak dan tak memiliki uang sehingga ia harus menetap di sana dan mencari pekerjaan. Lisia memang kenal dengan orang itu, makanya ia menerima pria asing itu.
__ADS_1
"Apa selama bekerja dia bekerja dengan baik?" tanya Rayyan.
"Iya, tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan. Semua aman terkendali," jawab Nolan yang ikut bersama Lisia untuk menjelaskan keadaan.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak mempermasalahkan keberadaannya. Selama dia bekerja dengan sungguh-sungguh tidak masalah. Semua aman terkendali dengan baik, perusahaan di sini kalian yang urus, terutama denganmu." Rayyan menunjuk Nolan.
Nolan mengangguk karena Rayyan mempercayakan semuanya padanya. Rayyan juga tidak mengizinkan istrinya berkecimpung di dunia bisnis, tugasnya hanya mengurusnya juga baby Zaen.
Lisia celingak-celinguk mencari seseorang di dalam sana. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan orang itu. Tanpa diketahui, Leon sudah pergi karena harus melihat tawanan yang tengah tersiksa di ruangan tertutup tanpa cahaya di sana.
Saat Lisia mencari seseorang dengan kedua matanya, Nolan menyadari akan hal itu. Kenapa ia tidak suka dengan kedekatan mereka? Apa ia mulai peduli dengan gadis yang selama ia acuhkan? Karena tidak ada lagi urusan di sana, Lisia mau pun Nolan keluar dari ruangan itu.
"Sa," panggil Nolan.
"Ya," jawab Lisia. Gadis itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Nolan.
"Pulang kerja mau kemana dulu?" tanya Nolan kemudian.
"Pergi sebentar denganku, mau tidak?" ajak Nolan.
Lisia nampak berpikir, padahal, itu yang diharapkannya sejak dulu bukan? Kenapa ajakan itu seakan tak berarti? Apa perasaannya mulai memudar seiring berjalannya waktu? Tiba-tiba, kepala gadis itu menggeleng memberi jawaban.
"Kenapa? Apa kamu ada janji?" tanya Nolan.
"Tidak, aku hanya rindu kamarku. Maaf, aku tidak bisa mengantar," jawab Lisia.
"Ya sudah, kalau gitu nanti kita pulang bareng ya? Kamu 'kan gak bawa mobil," ajak Nolan.
"Tidak usah, Leon akan mengantarku pulang," tolak Lisia. Kenapa menjawab seperti itu? Ia tak ada janji dengannya bukan? Bahkan Leon sendiri tidak terlihat batang hidungnya. Harusnya ia senang kalau Nolan mulai mendekatinya, ini malah menolak dan berbohong.
__ADS_1
"Oh, gitu ya. Padahal kita satu arah, satu rumah juga. Kenapa mesti Leon yang harus mengantarmu pulang? 'Kan ada aku," kata Nolan.
"Nolan kenapa sih? Kok dia aneh, tiba-tiba saja mengajakku. Apa aku yang aneh? Harusnya aku seneng," batin Lisia
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu," pamit Lisia.
***
Hari sudah mulai sore, jam kantor pun telah usai. Rayyan sudah pulang lebih dulu. Dan sekarang tinggal Nolan dan Lisia.
"Yakin tidak mau bareng denganku?" tanya Nolan.
"Tidak, aku menunggu Leon," jawab Lisia berbohong, berjanjian pun tidak. Mana mungkin Leon datang dan mengantarnya pulang.
"Ya sudah, aku duluan." Nolan yang memang sudab berada di dalam mobil pun langsung melajukkan mobilnya. Karena Lisia diantar pulang oleh Leon, ia tidak langsung pulang. Ia akan ke rumah Maura terlebih dulu, ia juga merindukan baby Zaen.
Sampai ia tiba di sana, tak lama mobil Leon pun sampai secara bersamaan dengan Nolan. Pria itu mengernyitkan dahi. "Bukannya dia akan mengantar Lisia?" ucap Nolan yang masih berada di dalam mobil. Akhirnya, ia pun keluar.
Leon juga keluar dari mobilnya, ia baru saja pulang dari tempat Alex disekap. Di sana, ia mengeluarkan peluru dari kaki Alex. Namun, ia tak melepaskan Alex begitu saja. Pria itu masih terkurung di dalam sana. Leon menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan kasar. Lalu menyapa Nolan.
"Ada perlu?" tanya Leon kemudian.
"Mampir saja, aku mau ketemu baby Zaen," jawab Nolan. "Aku ke dalam dulu," pamitnya.
Selepas kepergian Nolan, Leon melihat ke dalam mobil pria itu. Tidak ada siapa-siapa. Ia pun menyusul ke dalam rumah.
"Kamu gak jadi antar Lisia pulang?" tanya Nolan basa-basi Padahal ia senang jika Leon tak bersama gadis itu.
Pertanyaan dari Nolan membuat Leon bingung. "Antar Lisia? Ya ampun, aku lupa," jawab Leon. "Aku pergi dulu kalau begitu, dia pasti menungguku," sambungnya. Leon sengaja berbohong, ia yakin kalau Lisia pun membohongi Nolan.
__ADS_1
"Apa Lisia sudah mulai move on?" pikir Leon. "Aku harus ke kantor, siapa tau dia memang menungguku." Dengan percaya diri ia segera pergi, benar atau tidaknya itu urusan nanti.