Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 11


__ADS_3

Di kediaman nyonya Merlin masih terjadi kericuhan. Andai, kalau perkelahian mereka tak dilerai oleh pengaman di rumah itu mungkin Alex sudah babak belur dihajar habis-habisan oleh Nolan. Alex marah karena Nolan berhasil mengalahkannya. Alex langsung pergi saat itu juga.


Bagian wajahnya memar akibat dihajar oleh Nolan. Pada saat dalam perjalanan, Alex dicegat oleh beberapa orang. Pria itu mengira kalau orang-orang itu suruhan Nolan atau Maura. Alex tak tinggal diam, ia langsung menghubungi anak buahnya saat mobilnya dicegat.


"Baik, Moren. Kamu sudah mulai berani padaku, dasar bocah bau kencur. Mau sok melawanku!" geram Alex. "Awas saja, ku bunuh anakmu itu!"


Dan terjadilah perkelahian antara anak buah Alex dan Rayyan saat itu. Semuanya sama-sama kuat sehingga perkelahian itu cukup lama. Sampai terdengar bunyi sirine polisi, mereka pun akhirnya bubar. Polisi itu mendapat kabar perkelahian dari warga dan Alex pun kembali babak belur akibat terkena bogeman mentah dari anak buah Rayyan Smith.


***


"Berani kau menyentuh putraku, maka akan ku putahkan kakimu!" geram Rayyan. Pria itu melihat langsung perkelahian yang terjadi di sana. "Leon, suruh anak buah kita berjaga di rumah nyonya Merlin, jaga 24 jam bila perlu," kata Rayyan.


Leon mengangguk dan akan segera melakukan perintah bosnya.


"Sudah ada kabar dari Maura atau Nolan?" tanya Rayyan kemudian.


Belum Leon menjawab, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. "Panjang umur, Bos. Nolan menghubungi," kata Leon. Pria itu langsung saja menerima panggilan dari Nolan, dan Nolan mengajak bertemu malam ini juga. Seusai pembicaraan itu, Leon menutup ponsel dan memberitahukan bahwa pertemuan akan berlangsung malam ini di sebuah restoran.


"Di restoran XX, nanti malam kita bertemu dengan mereka untuk membicarakan soal pembangunan itu," kata Leon.


"Hmm, pastikan semua lancar," jawab Rayyan.


Dan malam pun tiba.


Maura tengah berdandan, malam ini ia tampil dengan dress berwarna hitam tanpa lengan. Polesan make-up yang tidak berlebihan membuat aura cantik itu keluar.

__ADS_1


"Lisia, untuk kali ini kamu tidak usah ikut, jaga bby Zaen saja sama Arin," kata Maura. Arin sendiri adalah baby sitter baby Zaen yang tak lain adalah orang suruhan Rayyan sendiri. Tentu, itu tanpa sepengetahuan Maura sendiri.


Lisia hanya mengangguk, meski sebenarnya ia ingin ikut apa lagi ada Nolan di sana.


"Kamu terlihat cantik sekali," puji Lisia.


Maura terenyum. "Terima kasih, kamu juga cantik. Berusahalah biar Nolan melihat perjuanganmu, aku yakin suatu saat pria batu itu menyukaimu," ucap Maura.


Meski Lisia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Nolan, tapi Maura dapat melihat dari cara Lisia menatapnya. "Aku pergi dulu, Nolan sudah menungguku." Maura pun akhirnya meninggalkan Lisia.


Sementara Rayyan, pria itu pun sudah siap. Sejak tadi, Leon terus memperhatikan bosnya. "Sudah tampan, jangan ngaca terus," ujar Leon. "Sampai begitunya mau ketemu sama ibunya anak-anak." Leon tertawa membayangkan kalau bosnya punya anak lagi dari wanita itu, pasti lucu bukan? pikirnya.


"Jangan berisik, kita urus pekerjaan. Bukan wanita!" cetus Rayyan.


"Yakin?" tanya Leon. "Apa Bos tidak menyukainya? Maura cantik juga cerdas, bukannya wanita seperti dia idamanmu? Cuma dia yang menolakmu, apa lagi uangmu dia sudah sangat kaya jadi tidak mungkin melihatmu dari materi," jelas Leon.


Akhirnya, mereka pun berangkat ke tempat di mana mereka akan bertemu. Di sana, sudah ada Nolan dan Maura. Tatapan Rayyan langsung tertuju pada wanita cantik yang mengenakan baju hitam. Sama seperti dirinya yang mengenakan jas berwarna hitam. Rayyan dan Leon tiba di hadapan Maura juga Nolan. Mereka saling menjabat tangan.


Maura tak berani menatap wajah Rayyan, entah kenapa ia merasa malu bila mengingat kejadian satu tahun lalu. Karena ia sadar penuh atas kejadian itu, sedangkan Rayyan tidak karena ia tidak sadar akibat obat perangsang yang dikonsumsinya.


Mereka duduk di kursi masing-masing dan langsung membicarakan soal bangunan itu. Lama mereka bicara mengenai pekerjaan hingga tak terasa perencanaan itu akhirnya disepakati oleh kedua pihak. Maura setuju dengan niat Rayyan yang sangat baik, ia tak menyangka di balik kesombongannya tersimpan kepedulian terhadap rakyat kecil.


Segelintir, Maura penasaran akan sosok Rayyan. Seorang pria yang tak lain adalah ayah kandung putranya. Seusai pembicaraan itu, diakhiri dengan makan malam bersama. Sesekali, Maura mencuri pandang kepada Rayyan. Tapi sayangnya, pria itu tidak menoleh sedikit pun. Rayyan fokus dengan mekanannya. Sampai makan malam selesai, Maura dan Nolan pun akhirnya pamit.


"Terima kasih untuk semuanya, saya harap semuanya berjalan lancar," kata Rayyan di ujung perpisahan.

__ADS_1


"Sama-sama," balas Maura. Wanita itu pun akhirnya masuk ke dalam mobil bersama Nolan.


Rayyan dan Leon pun masuk, mobil yang ditumpangi mereka mengekor dari di belakang mobil Maura. Sesekali, wanita itu menoleh ke belakang. "Kenapa mereka masih mengikuti kita?" tanya Maura.


"Sepertinya mereka mengikutimu," jawab Nolan.


"Mengikutiku?" ulang Maura.


"Ya, aku rasa dia tidak percaya kalau kamu itu istriku. Kalau Rayyan tahu soal baby Zaen bagaimana? Kalau dia membawanya bagaimana?" tanya Nolan. "Kenapa tidak jujur saja kalau anak yang kamu lahirkan itu adalah anaknya?"


"Aku tidak tau siapa dia, kalau ternyata dia sudah menikah dan punya anak bagaimana? Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang, aku sudah bahagia sekarang bersama anakku," terang Maura.


Nolan tidak lagi menimpali pembicaraan mereka. Pria itu langsung saja membuka ponsel dan mencari nama Rayyan Smith. Seketika, nama Rayyan Smith muncul. Ia mencari tahu soal lelaki itu, tidak ada yang menunjukkan laki-laki itu sudah menikah. Malah foto-fotonya pun terlihat sendiri, terkadang bersama Leon.


"Apa kamu tidak tertarik padanya? Tidak ingin lebih tau soalnya?" tanya Nolan. "Aku rasa dia belum menikah, katakan semuanya sebelum terlambat, baby Zaen butuh sosok ayah, Maura. Sepertinya Rayyan pria baik-baik," kata Nolan.


"Jangan bahas masalah itu, aku belum siap," jawab Maura.


Mobil Rayyan masih mengikuti dari belakang. Ia hanya ingin memastikan bahwa Maura tiba di rumah dengan selamat. Namun, pada saat melewati jalan sepi. Mobil yang ditumpangi Maura berhenti mendadak.


"Ada apa, Pak?" tanya Nolan pada supir.


Supir itu menunjuk ke depan. Terlihat beberapa orang di sana. Mobil Maura dikepung hingga yang ada di dalam mobil tersebut bingung, siapa mereka? pikirnya.


Sedangkan mobil Rayyan, mundur beberapa meter dari mobil Maura.

__ADS_1


"Siapa mereka?" tanya Rayyan.


__ADS_2