
Gemerlapnya lampu disco memancarkan warna yang begitu memukau, alunan musik berirama membuat siapapun ingin mengoyangkan pinggul. Seorang laki-laki tengah dikerubuni gadis-gadis. Parasnya yang tampan serta beruang membuatnya disuaki gadis-gadis liar.
Club yang menjadi tempatnya bersenang-senang. Alex menciumi gadis-gadis liar itu, hidupnya yang seperti itu membuatnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk membunuh kakak dari ibunya sendiri. Nyonya Merlin meninggal sehingga seluruh warisan telah dibagikan, dan ternyata mendiang ibunya mendapatkan beberap persen dari kekayaan nyonya Merlin tersebut.
Meski hanya mendapatkan beberapa itu sedikit melupakan maksudnya untuk menyingkirkan baby miliarder itu. Sejenak, ia menghibur diri selagi punya uang. Hidupnya yang menjadi buronan hanya bisa keluar di malam hari. Sial siapa yang tahu? Alex tak hanya menjadi buronan polisi, Rayyan Smith pun tengah mencari keberadaannya karena telah mengusik keluraganya, terlebih pada Zaen Smith anak semata wayangnya.
Orang-orang berbaju hitam serta tak lupa dengan kacamata ciri khas-nya, segilintir orang-orang dari Rayyan Smith telah dikerahkan. Sekarang, mereka fokus mencari keberadaan Alex setelah Said mati. Rayyan ingin menyikirkan siapa pun yang membuatnya tidak nyaman.
Bahkan, Leon sendiri pun langsung turun tangan mencari keberadaan Alex. Ia tahu dari Maura akan keberadaan hidupnya, hidupnya tak jauh dari gemerlap malam dan para wanita sehingga ia langsung mencarinya di tempat hiburan.
Tatap tajam matanya menangkap sesosok yang dicari, pria yang dicarinya ternyata tengah bersenang-senang. Sebentar, ia memberikan waktu terakhir untuk Alex. Hari kesenangan ini adalah hari terakhir untuknya menikmati dunia malam. Sesekali, Leon pun meneguk minumannya sambil menyesap rokok. Ia tak tergoda dengan gadis liar di sana, karena tujuannya bukan itu.
Leon pria baik-baik, tak pernah ia menjajakkan tubuhnya pada gadis liar yang tak memiliki harga diri. Leon merasa jijik saat didatangi gadis dengan sebarapa pun cantiknya wanita itu.
"Pergi-pergi! Jangan mengangguku!" usir Leon pada wanita yang tengah menghampiri.
"Ih ... Galak sekali!" cetus gadis itu sembari berlalu.
Tatapan Leon fokus pada lelaki tengik itu, ia tak boleh lengah. Namun, pada akhirnya tatapan Alex pun bertemu dengannya. Dengan santai, Leon mengeluarkan asap rokok dari mulut dan hidung. Merasa hidupnya terancam karena tahu akan kesalahannya, Alex segera beranjak dari tempatnya. Gadis-gadis itu mencoba menahan kepergiannya, tapi ia harus segera pergi.
Sorotan tajam Leon membuatnya yakin bahwa pria itu akan berulah kepadanya, terlebih kini ia tahu siapa laki-laki itu. Alex sudah tahu akan pernikahan Maura dan Rayyan, itu sebabnya ia menghindar dari seorang Leon.
Tahu Alex pergi, Leon menggerakkan tangannya kepada anak buahnya. Menyuruh mereka untuk mengikuti kemana pun Alex pergi, dan ia sendiri akan menyusul.
Alex kembali menggunakan topi serta penutup wajah, keberadaannya tidak boleh diketahui. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan kecepatan penuh. Tapi sayang, usahanya untuk melarikan diri sepertinya sia-sia. Orang-orang yang disuruh Leon berhasil mengikutinya. Pada saat itu juga mobil yang dikendarai Alex disalip oleh mobil anak buah Leon.
__ADS_1
Orang-orang bertubuh besar itu langsung mendobrak kaca pintu mobil Alex. Seketika, kaca itu pecah dan orang itu langsung menarik tubuh Alex untuk segera keluar. Tanpa mengulur waktu, orang itu langsung memberikan bogeman mentah tepat di wajah dan perut Alex. Karena seorang diri, Alex pun tak bisa melawan.
Tak berselang lama, orang-orang Alex datang dan mereka pun berkelahi. Pada saat lengah, Alex mencoba melarikan diri. Pria itu segera menaiki mobilnya. Tapi sayang, aksinya yang melarikan diri tak kesampaian. Leon keburu datang dan melumpuhkan kaki Alex dengan satu kali tembakkan.
"Bawa dia," suruh Leon pada anak buahnya.
Dengan kaki pincang serta berlumur darah, Alex diseret dan dibawa masuk ke dalam mobil Leon. Alex berhasil dibawa, Leon membawanya ke rumah tua dan menyekap pria itu.
***
Tubuh Alex terikat dengan posisi terduduk. Pria itu meringis menahan sakit dibagian kaki. Leon pun akhirnya datang dan langsung mengguyur tubuh Alex. Wajah yang tertunduk itu akhirnya terangkat dan menatap tajam ke arah Leon. Sayangnya, ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu sudah tidak bisa menikmati hidup, Alex. Inilah akibatnya bagi orang yang telah mengusik Rayyan Smith," ujar Leon. "Kita akan bersenang di sini dengan tikus-tikus," ujar Leon lagi.
Leon kembali menggerakkan tangannya, menyuruh anak buahnya mengeluarkan tikus got dari kandangnya. Tikus got itu dikeluarkan tepat di dekat Alex. Bau amis dari tubuh Alex tercium tikus got itu. Tikus besar itu merayap dari kaki sampai ke tubuh. Alex merasa sangat jijik akan binatang yang menjijikkan itu. Tak hanya di situ, anak buah Leon memasukkan tikus kedalam celana milik Alex.
Tapi sayang, tidak ada yang mendengar rontaannya. Semua orang meninggalkannya. Bahkan tikus itu mengigit kaki Alex yang masih mengeluarkan darah. Jeritan Alex menggema, pria itu kesakitan. Apa lagi dengan tikus yang berada di dalam celananya.
Leon sengaja meninggalkan Alex, ia memberi hukuman sebelum Rayyan datang dan akan lebih menyiksa pria itu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Nenek Merlin adalah orang yang paling disayang Maura. Apa pun akan ia lakukan untuk membalaskan rasa sakit hati istrinya. Meski nenek Merlin bukan neneknya, tapi Maura begitu menyyanginya lebih dari apa pun.
***
Di kediaman Rayyan.
Rayyan telah bersiap-siap, laki-laki itu akan menemui Alex di rumah kumuh tak berpenghuni itu. Pada saat ia memakai jaket, Maura menghampiri.
__ADS_1
"Mau kemana malam-malam begini?" tanya Maura.
"Aku ada urusan sebentar, aku tidak akan lama," jawab Rayyan.
"Tapi ini sudah malam," kata Maura lagi. Melihat jam di dinding menunjukkan pukul 22.15.
"Tidak akan lama, sebelum jam 12 malam aku akan pulang. Aku harus menemui Leon, dia sudah berhasil membekuk Alex," jawab suaminya.
Maura pun akhirnya merelakan kepergian suaminya, jika mengenai pria serakah itu Maura membiarkan suaminya menghajarnya. Bila perlu menyiksanya terlebih dulu.
"Aku pergi dulu." Rayyan mencium kening istrinya terlebih dulu sebelum pergi, lalu menghampiri bany Zaen yang sudah tertidur nyanyak di kasur. "Tunggu aku pulang, dan siapkan dirimu." Rayyan mengedipkan mata, sampai pada akhirnya ia mendapatkan cubitan di bagian perut dari istrinya.
Ketagihan akan kenikmatan surga dunia membuat Rayyan ingin kembali menyelami lautan milik istrinya. Jika dulu ia menolak sentuhan para wanita tapi sekarang ia merasa ketagihan, ingin dan ingin lagi.
Rayyan pun akhirnya pergi dan Maura mengantarnya sampai ke depan.
"Mau kemana dia?" tanya Lisia tiba-tiba dari arah belakang Maura. Maura tengah melambaikan tangan ke arah suaminya yang sudah berada di dalam mobil.
"Menemui Leon," jawab Maura.
"Leon di mana memang?" tanya Lisia.
"Apa kamu merindukannya? Kangen ya tidak ada laki-laki itu di sini? Tenang, mereka hanya pergi sebentar," goda Maura.
"Apaan sih?! Siapa juga yang kangen?" Lisia segera pergi meninggalkan Maura.
__ADS_1
Dan Maura terbahak. "Sudahlah, lupakan Nolan," teriaknya.